Lifestyle

Kasus Rendang Babiambo: Banyak Muslim Mabuk dan Zina tapi Tolak Makan Babi

Buat banyak umat Muslim, babi itu haram. Titik. Sementara, zina dan minum alkohol masih bisa ditoleransi karena…

Avatar
  • June 15, 2022
  • 6 min read
  • 1567 Views
Kasus Rendang Babiambo: Banyak Muslim Mabuk dan Zina tapi Tolak Makan Babi

Belakangan, umat Muslim heboh gara-gara twit Ustaz Hilmi Firdausi di akunnya @Hilmi28, soal rendang babi restoran Babiambo. Menurut pengurus Pondok Pesantren Yatim Dhuafa Assa’adah itu, apa yang dilakukan Sergio, pemilik restoran sudah kelewat batas. Pasalnya, kata dia, rendang kental dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah alias adat yang bersandar pada syariat Islam. Sehingga, halal haram makanan tak bisa lagi ditawar-tawar.

Cuitan Hilmi memicu banyak komentar, dari warga biasa hingga elit pejabat. Politisi Partai Gerindra Fadli Zon bilang, menjual makanan khas suku Minang dengan daging babi telah melukai perasaan orang sana. Ketua DPRD Kabupaten Solok Dodi Hendra berkomentar, konsep restoran Babiambo menghina budaya masyarakat Minangkabau yang erat dengan agama Islam.

 

 

Puncak dari polemik ini, Sergio sampai dipanggil oleh polisi dan diminta meminta maaf pada warga atas tindakannya ini. Sergio bingung bukan main. Masalahnya Babiambo saja sudah tutup sejak dua tahun lalu dan ia beroperasi hanya tiga bulan saja. Kok bisa-bisanya, isu itu baru “digoreng” sekarang?

Itu baru kebingungan pertama yang timbul dari gonjang ganjing rendang daging babi. Kebingungan kedua, jika memang rendang terkait erat dengan falsafah suku Minang, kenapa sebelum ada kasus ini, rendang babi banyak dikonsumsi dan tak memicu polemik agama? Toh, orang Minang sendiri saja tidak semuanya alias 100 persen Muslim. Jadi pasti ada penyesuaian bahan makanan di dapur mereka sendiri.

Enggak hanya itu, kalau mau kepo dengan jenis makanan tersebut, kita bisa cari resepnya di internet. Ketik saja “Resep rendang daging babi” di Google, niscaya kamu akan mendapatkan sekitar 3.100.000 hasil pencarian (per 15 Juni 2022) lengkap dengan gambar bahkan rekomendasi video Youtube. Kalau sudah begin, lalu apa akar masalah sebenarnya?

Baca Juga:  Pork is Meat, Not a Battlefield

Tahta Tertinggi Dosa adalah Daging Babi

Segala perdebatan soal rendang daging babi ini mungkin salah satunya bisa dilihat dari tahta daging babi dalam kerangka dosa Muslim (dipahaminya jangan serius-serius banget ya). Pernah enggak, sih kamu melihat orang yang mengaku Islam, salat lima waktu, ngaji juga ngegas, tapi pacaran dan zina alias premarital sex tetap jalan? Pasti pernah, dong. Jumlah Muslim yang kaya gini banyak. Kamu bahkan bisa menemukannya selama masih duduk di bangku sekolah.

Saya sendiri misalnya selama sekolah dan kuliah sudah khatam mendengar cerita saudara atau teman yang punya teman hobi sewa kamar, kalau kata anak sekarang, mah staycation lah. Kalau enggak bisa sewa tempat ya pilihan paling murah ya melakukannya di kosan atau rumah pacar.

Awalnya saya kaget. Apalagi cerita itu pertama kali saya dapatkan dari saudara saya yang saat itu masih duduk di bangku 2 SMA yang teman-temannya kebanyakan “Muslim taat”. Dari cerita saudara, entah mengapa saya jadi makin banyak terpapar cerita serupa tentang so called Muslim taat yang suka zina. Saya bahkan sudah tidak heran lagi ketika saya mendengar penuturan mahasiswa baru yang sempat saya ajak ngobrol dalam wawancara.

“Sepertinya anak-anak SMA zaman sekarang, sudah pada ngelakuin (having sex) semua, Kak. Umur segitu kan lagi suka nyoba-nyoba,” begitu katanya.

Dosa zina itu baru satu hal dan nampaknya so called Muslim taat ini masih punya keberanian untuk melakukan dosa lain. Minum alkohol misalnya. Dalam artikel The Guardian, Khaled Diab pergi ke Oktoberfest (festival yang diselenggarakan selama dua minggu) pada 2011 di Taybeh, Palestina. Dalam festival itu, ia melihat bagaimana Muslim Palestina, ekspatriat, dan orang Israel menikmati segelas bir sambil menyaksikan penari tradisional Dabke, musik modern, komedi, dan pertunjukan teater.

Memang, di desa kecil ini ada bir halal, bir Taybeh namanya, tapi tidak sedikit pula Muslim yang memutuskan tetap minum bir yang beralkohol saat festival ini. Kalau sudah begini, ya urusan dosa dan ketakutan tidak diterimanya amalan selama 40 hari ke depan bukan jadi masalah. Yang terpenting setelah minum, kita harus bertobat alias salat lagi minta ampunan Allah SWT. Toh, Allah itu Maha Penyayang dan Maha Pemaaf. Masa hamba-Nya yang mau salat dan minta ampunan tidak diampuni dosanya?

Baca Juga:   Valentine’s Day Memang Patut Diharamkan!

Sayangnya hal ini tidak berlaku dengan makan babi. Dibandingkan berzina dan minum alkohol, makan daging babi dipandang sebagai dosa besar. Saya masih ingat perbincangan saya bersama teman-teman di restoran. Saat itu, ia yang beragama Kristen menawari saya makanan khas Korea yang mengandung babi. Sebagai Muslim karbitan yang enggak taat-taat amat, saya menyetujui tawarannya. Mendengar respons saya ini, salah satu teman yang seiman dengan saya sontak berujar.

“Astagfirullah Asti, dosa itu!”

Mendengar dia mengucap istigfar sambil menggeleng-gelengkan kepala, jujur saja bingung luar biasa. Pasalnya, teman saya ini suka sekali minum bir atau soju dan sudah berpacaran sampai tahap berhubungan intim. Minum alkohol dan berzina dosa, dan kalau memang ingin berdosa kenapa harus setengah-setengah, pikir saya.

Kebingungan ini juga dialami oleh Katleen, istri dari Khaled Diab, jurnalis dan penulis berdarah Belgia Mesir. Dalam tulisan Diab di The Guardian, ia menceritakan kebingungan Katleen terhadap fobia babi yang dimiliki Muslim. Selama bertahun-tahun, Katleen terus bertanya-tanya mengapa banyak Muslim minum alkohol dan melakukan tindakan non-ortodoks lainnya, tetapi tidak pernah mau menyentuh daging babi.

Di Indonesia sendiri, fobia babi ini bahkan sampai pada tahap di mana seseorang menanyakan apakah makanan yang akan mereka makan dimasak dengan alat masak yang sama dalam mengolah daging babi.

Untuk menjawab kebingungan ini, Diab kemudian menanyakan salah satu temannya yang merupakan orang asli Kairo, Mesir, Abdou. Abdou mengatakan fobia babi ini kemungkinan terjadi karena faktor psikologis.

“Saya pikir semua pembicaraan yang kita dengar di masa kanak-kanak tentang bagaimana babi dibesarkan di daerah zebala (sampah) dan bagaimana mereka memakan sampah membuat kita muak,” kata Abdou.

Hal yang sama juga dikatakan oleh adik laki-laki saya yang seorang Muslim taat. Dia bilang sejak kita duduk di bangku sekolah, kita selalu diajarkan tentang keharaman daging babi dan bagaimana daging babi berbahaya bagi kesehatan kita. Babi adalah binatang kotor yang mendatangkan penyakit dan segala kemudaratan.

Baca Juga: Makanan dan Stereotip Gender: Apa Salahnya Laki-laki Tak Minum Kopi?

Dari pernyataan Abdoe dan adik, saya jadi semakin kepo. Saya lalu memutuskan untuk membaca terjemahan Alquran dari Kementerian Agama untuk melihat kejelasan redaksional larangan ketiga hal ini. Dari sinilah saya sedikit dapat pencerahan. Jika mengacu pada terjemahan Alquran, minuman beralkohol atau khamar tidak secara eksplisit dilarang tapi hanya bersifat imbauan tegas.

Zina pun kalau dilihat dari terjemahan Surat Al-Isra ayat 32, digambarkan sebagai tindakan keji dan buruk yang harus dihindari. Penggambaran ini kemudian tidak diikuti dengan kata larangan keras secara eksplisit.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Jika kita masukan dalam konteks Bahasa Indonesia dan mengacu langsung pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “jangan” bisa berarti “hendaknya tidak usah”. Jadi masih ada celah bagi para Muslim untuk melakukannya. Berbeda halnya dengan daging babi. Lewat Surat An-Nahl ayat 115, keharaman daging babi secara jelas dituliskan. Ayat ini bahkan sudah diawali dengan kata “Diharamkan bagimu“.

Dengan kata lain, orang Muslim jadi enggak bisa ngeles lagi tentang dosa yang bakal mereka terima kalau berani makan daging babi. Jadi enggak heran lagi deh kalau babi menempati tahta tertinggi. Tahta tertinggi dosa yang harus dihindari tiap Muslim melebihi dosa zina dan minum alkohol.


Avatar
About Author

Vasti Zahra Minerva

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *