Women Lead
June 15, 2021

‘Emotional Eating’: Mengapa Kita Banyak Makan Saat Stres?

Mengapa sebagian orang mengelola emosi mereka dengan banyak makan, sementara yang lainnya tidak?

by Laura Wilkinson, dkk.
Lifestyle
Penolakan Cinta_Break Up_Patah Hati_KarinaTungari
Share:

Kalau kamu penikmat serial F.R.I.E.N.D.S, kamu bakal sering melihat adegan pemainnya yang menghibur diri saat patah hati dengan makan seember es krim. Ide ini barangkali klise, dan tak semua orang punya chopping mechanism dengan menghabiskan makanan penuh gula tersebut. Namun, ada kecenderungan sebagian orang yang cenderung mencari penghiburan lewat makanan kala galau melanda.

Kecenderungan ini penting karena kebiasaan memakan untuk mengatasi perasaan negatif adalah alasan untuk makan secara berlebihan, dan mungkin terkait dengan obesitas serta kelebihan berat badan. Semakin banyak orang sekarang memiliki berat badan berlebih dan menderita obesitas, dengan perkiraan terkini menunjukkan, pada 2012, 2.7 juta orang dewasa di seluruh dunia akan terpengaruh oleh obesitas, dan berisiko menderita masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2 dan kanker.

Jadi, mengapa sebagian orang mengelola emosi mereka dengan makanan sedangkan ada juga yang tidak?

Satu konsep psikologis yang membantu menjelaskan fenomena ini adalah orientasi keterikatan orang dewasa terhadap seseorang. Jadi tergantung seberapa takutnya seseorang yang diabaikan orang yang dicintainya, maka seseorang bisa dikatakan memiliki kegelisahan atas keterikatan dengan orang tersebut. Ketika kita mengalami kegelisahan ini (baik dalam tingkat yang parah atau tidak), maka hal ini menandakan seperangkat harapan-harapan tentang bagaimana seseorang harus memperlakukan orang lain dalam sebuah hubungan personal. Konsep ini diadopsi dari cara kita berperilaku saat kita masih kanak-kanak dan hal ini bisa menandakan gaya keterikatan yang berbeda-beda.

Baca juga: Sains Jelaskan Kenapa Sebagian Orang Gampang Marah Saat Lapar

Dalam sebuah penelitian gabungan menunjukkan, semakin tinggi kegelisahan mereka terhadap keterikatan dengan seseorang, maka semakin mereka menunjukkan kebiasaan makan yang buruk, dengan dampaknya berpengaruh pada body mass index (BMI). Dua penelitian lainnya juga telah menunjukkan, pasien yang menjalani operasi penurunan berat badan, cenderung memiliki tingkat kegelisahan yang lebih tinggi, dan perbedaan ini bisa dijelaskan dengan kecenderungan seseorang untuk makan banyak.

Kegelisahan akan Keterikatan dengan Orang Lain


Dalam waktu yang cukup lama, kita sudah mengetahui orang yang memiliki kegelisahan tinggi akan keterikatannya dengan orang lainnya akan memiliki kecenderungan untuk memperhatikan hal-hal yang membuat kesal yang menjadikan mereka sulit untuk mengendalikan emosi mereka ketika sedang kesal. Hal ini terjadi karena orientasi keterikatan berada pada tempat yang paling utama. Dinamika dan perasaan terkait dengan hubungan jangka panjang kita yang paling penting, termasuk pada masa awal kehidupan kita, menjadi acuan yang memandu perilaku kita dalam hubungan kita selanjutnya dengan orang lain dan juga ketika kita berada dalam situasi yang membuat stres.

Ketika kita kecil dan mendapatkan perhatian lebih dari pengasuh kita, yang salah satunya adalah membantu kita mengatasi masalah hidup, maka kita mengembangkan orientasi keterikatan yang sehat. Untuk orang-orang yang merasa dirinya nyaman dengan keterikatannya dengan orang lain, mereka bisa mencari dukungan dari orang lain atau menghibur diri sendiri ketika ada hal yang negatif dalam kehidupan muncul. Salah satu yang mereka lakukan adalah berpikir tentang cara-cara yang dipakai pengasuh mereka atau orang-orang terdekat mereka dalam situasi sulit tersebut.

Baca juga: Makanan dan Stereotip Gender: Apa Salahnya Laki-laki Tak Minum Kopi?

Namun, cara-cara yang tidak konsisten–ketika pengasuh terkadang merespons kebutuhan yang satu tapi tidak merespons kebutuhan yang lain–akan menimbulkan kegelisahan terhadap keterikatannya dengan orang lain dan ketakutan bahwa kebutuhannya tidak akan terpenuhi. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, dukungan dari pihak lain kemudian dicari tapi dianggap tidak bisa dipercaya. Orang-orang dengan tingkat kegelisahan yang tinggi juga tidak bisa menghibur diri mereka sendiri dengan keterikatan mereka terhadap orang-orang terdekat.

Baru-baru ini kami mencoba apakah manajemen emosi yang buruk ini dapat menjelaskan kenapa orang dengan tingkat kegelisahan yang tinggi punya kecenderungan untuk makan banyak saat cemas. Yang lebih penting, kami menemukan, orang dengan tingkat kegelisahan yang tinggi lebih sulit untuk melepaskan diri dari hal-hal yang membuat mereka kesal atau memaksa mereka melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan ketimbang bersedih. Emosi negatif ini kemudian bisa dikelola dengan makanan dan hal ini bisa berakibat pada indeks BMI yang lebih tinggi.

Namun, penting untuk dicatat, hal ini merupakan satu faktor di antara banyak faktor lainnya yang bisa memengaruhi mengapa orang bisa makan banyak yang kemudian berimbas pada indeks BMI yang lebih tinggi.

Kita tidak bisa mengatakan kegelisahan akan keterikatan seseorang dengan orang lain, memicu perilaku makan berlebih hingga naik berat badan. Mungkin saja makan berlebih dan kenaikan berat badan memengaruhi orientasi keterikatan kita, atau mungkin bisa keduanya.

Mengatur Pola Makan


Ada dua pola yang tampaknya menjanjikan bagi orang yang gelisah supaya bisa tetap mengontrol pola makan mereka. Hal ini melibatkan kemampuan untuk menentukan orientasi keterikatan yang spesifik dan atau meningkatkan kemampuan mengatur emosi secara umum.

Untuk menentukan orientasi keterikatan, seseorang bisa menerapkan teknik psikologi “security priming.” Teknik ini didesain untuk membuat orang berperilaku seolah-olah bisa mengatasi semua kesulitan dalam hidup. Dampaknya menguntungkan, seperti terlibat dalam perilaku yang mengutamakan hubungan sosial. Sebuah penelitian menunjukkan, perilaku tersebut berkaitan dengan asupan cemilan. Ketika mereka ditanya untuk mengambarkan hubungan yang baik, mereka akan makan lebih sedikit dibanding ketika mereka ditanya untuk menggambarkan hubungan yang buruk dalam kehidupan (meskipun penelitian ini masih berada pada tahal awal dan butuh untuk diperluas).

Baca juga: Puasa dan Perundungan Terhadap Si Gemuk

Terkait cara mengatur emosi, penelitian baru-baru ini menjelaskan pentingnya orang-orang yang suka makan karena sedang emosi untuk fokus pada kemampuan mereka mengatasi stres. Ini lebih penting ketimbang membatasi asupan kalori mereka. Penelitian ini tidak melihat secara khusus mereka yang juga memiliki kegelisahan terhadap keterikatan dengan orang lain, sehingga penelitian lebih lanjut perlu dilakukan.

Tentu saja, dalam sebuah dunia yang ideal, setiap orang akan memiliki pengalaman berelasi dengan orang lain yang akan membantu membangun rasa aman ketika berhubungan dengan orang lain, dan mungkin saja hal ini adalah pendekatan lainnya yang masih tersembunyi–yaitu dengan memfasilitasi hubungan interpersonal yang lebih baik untuk semuanya.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Laura Wilkinson adalah Dosen Psikologi, Universitas Swansea; Angela Rowe merupakan Pembaca dalam Psikologi Kognitif Sosial, Universitas Bristol; Charlotte Hardman Dosen di bidang Appetite and Obesity, Universitas Liverpool.