April 03, 2020
Virus Corona atau Bukan, Ya?: Pengalaman Merawat ODP di Rumah

Sebuah pembelajaran dalam merawat ODP di rumah, sesuatu yang mungkin akan menjadi “the new normal” bagi kita.

by Ida
Lifestyle // Health and Beauty
CoronaVirus_Social Distancing_COVID19_KarinaTungari
Share:

Sejak 18 Maret, saya mulai membantu merawat “Melati” yang mengalami gejala seperti gejala hari ke-5 dalam infografik di bawah ini ini. Melati adalah asisten rumah tangga (ART) yang bekerja dan tinggal di rumah teman saya, “Ratna”, yang baru kembali dari luar negeri tiga hari sebelumnya. Ratna sendiri waktu itu sedang menjalani swa-karantina sejak tiba, tetapi risiko berkontak dengan Melati tentu tetap ada. Demi menjaga integritas isolasi diri Ratna karena dampaknya juga akan ke mana-mana bila terlanggar, maka saya memutuskan membantu merawat Melati di rumah Ratna.

Artikel ini saya tulis untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran dalam merawat orang yang mungkin terpapar virus corona (COVID-19) di rumah, yang saya duga akan semakin banyak terjadi. Di masa biasa, tentu ini hal biasa. Tetapi di masa darurat kesehatan seperti ini, merawat orang sakit yang gejalanya bisa jadi COVID-19 (tapi belum tentu, tapi….) menjadi sedikit lebih menantang.

Tentu saya menyadari bahwa pengalaman saya dalam merawat Orang dalam Pemantauan (ODP) ini sangat terbatas pada beberapa konteks. Melati orang dewasa (karena merawat anak-anak atau lansia pasti berbeda), Melati masih bisa bangun dan bergerak sendiri meski lemas, Melati bisa baca tulis, dan Melati punya kamar serta kamar mandi sendiri yang tidak dipakai oleh orang lain. Kami juga beruntung karena memiliki akses ke berbagai sumber daya. Tetapi, dalam semangat berbagi, mudah-mudahan beberapa pembelajaran bisa bermanfaat untuk orang lain.

Sesaat setelah kejadian

  • Tenangkan pasien dan jelaskan sejelas mungkin tentang protokol isolasi dalam rumah yang harus dijalankan. Gunakan bujuk rayu yang bisa ia pahami agar penderita tetap tenang dan mau menjalankan isolasi. Saat ini terjadi, Melati dalam keadaan histeris, ingin pulang ke kampung dan sudah siap dengan barang yang sudah dipak, karena “ingin mati di kampung saja.” Ingat bahwa pasien pasti sudah mengakses berbagai pemberitaan tentang COVID-19. Lalu, tiba-tiba ia merasakan gejala seperti yang diberitakan. Tentu Melati bingung dan panik. Kita harus tetap tenang, sesulit apa pun itu.

Baca juga: Rentan di Berbagai Sisi: Nasib Perempuan di Tengah Pandemi

  • Segera beri pasien termometer. Tidak perlu termometer tembak karena mahal dan lebih dibutuhkan oleh fasilitas kesehatan dan fasilitas umum. Termometer biasa saja, tetapi beri contoh cara menggunakannya dari jarak aman. Minta pasien melakukannya dan bacakan hasilnya. Pasien yang bisa memeriksa temperaturnya sendiri sangat membantu perawatan ke depannya.
  • Segera beri pasien masker untuk digunakan setiap ia keluar kamar. Beri pengertian padanya agar tidak dulu menggunakan area yang dipakai bersama seperti dapur, ruang keluarga, atau ruang makan. Sebisa mungkin, beri alasan yang jelas kenapa pasien tidak boleh dulu ke area-area itu.
  • Segera lengkapi atau isi ulang kamar mandi dengan berbagai produk pembersih diri agar pasien bisa menggunakannya dengan mudah.
  • Segera berkonsultasi dengan dokter melalui berbagai layanan jarak jauh yang tersedia, misalnya HaloDoc. Saya juga berkonsultasi dengan dokter umum langganan yang kebetulan sangat responsif di WhatsApp. Dari HaloDoc dan dokter umum itu, sarannya sama: Bila penderita tidak sesak napas, sebaiknya tidak pergi memeriksakan diri ke dokter dulu.
  • Segera lengkapi obat-obatan yang dianjurkan dokter lewat konsultasi itu: Paracetamol, obat radang tenggorokan, dan obat pelega pernapasan. Siapkan juga suplemen yang bisa jadi memberi rasa nyaman, misalnya madu, kurma, dan cairan penghangat badan yang disukai pasien. Berikan pada pasien sesuai anjuran.
  • Segera laporkan kondisi ini pada Dinas Kesehatan (Dinkes) atau Puskesmas di wilayah kita, bisa juga melalui hotline yang tersedia. Dalam situasi yang saya alami, laporan harus jelas menceritakan bahwa ada seorang ODP di dalam rumah yang menyebabkan risiko penderita menjadi lebih besar.
  • Segera lengkapi kebutuhan pasien terhadap air minum yang mudah diakses olehnya.
  • Segera bersihkan seluruh rumah: Sedot, pel, dan lap semua permukaan dengan disinfektan. Saat itu, saya langsung membeli cairan antiseptik dan botol-botol semprot serta membuat campurannya tersedia dan gampang digunakan.

Baca juga: Jangan Tekan Kecemasan: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Krisis Corona

  • Jangan lupa, kita sendiri langsung pakai masker dan cuci tangan setiap habis memegang barang atau setiap satu jam sekali.
  • Dalam situasi saya, saya pun langsung menyiapkan ruangan tempat saya nantinya istirahat, kerja, dan tidur. Ganti semua seprei dan bersihkan juga ruangan tersebut sebelum digunakan serta buat agar senyaman mungkin. Ingat, kita butuh istirahat, butuh kerja, dan sebisa mungkin mengisolasi diri di ruangan itu. Langsung persiapkan mental kita bahwa situasi ini akan berlangsung cukup lama.
  • Segera putuskan hal-hal menyangkut logistik harian di rumah, terutama makanan (pagi, siang, malam), air minum, dan cucian baju. Saat itu, saya langsung memutuskan pesan rantangan harian untuk seisi rumah dan segera membeli galon air mineral tambahan untuk berjaga-jaga. Juga segera mencari info jasa cuci baju terdekat.



  • Pada hari ke-3 setelah gejala Melati muncul, kami didatangi petugas puskesmas yang melakukan tes COVID untuk Melati, Ratna, dan saya sendiri. Tes ini dilakukan karena laporan kami masuk sebagai prioritas tes, terutama karena ada riwayat penghuni yang baru kembali dari luar negeri. Sampai dengan tulisan ini dibuat, yaitu hari ke-16 sejak gejala, hasil tesnya belum ada.

Setiap hari selama merawat

  • Membuat jadwal sangat membantu saya menjalani rutinitas harian selama merawat Melati. Contoh jadwal yang saya buat seperti di bawah ini. Ingat, kita juga punya kesibukan lain selain merawat penderita. Supaya kita tidak kewalahan, punya jadwal sangat membantu memandu hari-hari saya. Oh ya, di rumah ini ada kucing, jadi merawat kucing adalah bagian dari jadwal saya.

  • Memeriksa temperatur secara rutin sangat penting dilakukan. Selama merawat, saya memeriksa temperatur di pagi, siang, dan malam hari. Kalau perlu, catat perkembangan suhu pasien agar kita bisa melaporkannya pada dokter secara akurat. Juga tanyakan tentang kelancaran atau kesulitan bernapas. Pada Melati, saya harus jelas menanyakan apakah kesulitan napasnya di hidung (karena tersumbat) atau di dada (karena sesak).
  • Rutin berkonsultasi dengan dokter bila gejala pasien bertambah atau tidak berubah.
  • Bersihkan seluruh rumah setiap hari meski areanya tidak dipakai. Alat-alat seperti penyedot debu tentu sangat membantu bila ada. Saya sendiri menyedot, mengepel, dan mengelap dengan disinfektan setiap pagi. Rasanya ini memberi ketenangan diri juga.

Baca juga: Penerapan ‘Social Distancing’ Tak Merata, Masih Dipandang Sebelah Mata

  • Pisahkan pakaian kotor dalam kantong khusus dan pastikan aman bagi orang yang membantu mengantar jemput cucian tersebut bila menggunakan jasa cuci baju.
  • Jaga tata tertib isolasi rumah dan kebersihan, terutama cuci alat makan minum dan cuci tangan setiap habis memegang sesuatu, setiap habis mengambil kiriman paket dan membukanya, setiap sebelum makan, setiap habis dari kamar mandi, dan setiap satu jam sekali. Selama kita belum tahu status COVID penderita, lebih baik kita perlakukan ia seperti COVID positif.
  • Perhatikan makan, minum, dan obat pasien. Setiap memberi makan, ingatkan untuk meminum obatnya.
  • Ajak pasien ngobrol, meski dari balik pintu tertutup. Melati tentunya bingung, ketakutan, sedih, dan semuanya bercampur menjadi satu. Kondisi mentalnya bisa jadi sama buruknya dengan kondisi fisiknya. Kita harus memberinya semangat, mengajak ngobrol hal-hal yang positif, dan yakinkan ia bahwa kita merawatnya dengan senang dan ikhlas.
  • Bantu pasien agar tetap bisa berhubungan dengan keluarganya atau orang-orang dekatnya. Bantu isikan pulsa teleponnya atau bantu ia mengirimkan kabar atau rutinitas lainnya seperti biasa. Dalam kasus Melati, ia rutin berkirim wesel lewat kantor pos pada keluarga. Karena ini, sekarang saya jadi tahu bahwa wesel pos bisa dikirim secara daring melalui aplikasi Pos Giro Mobile.
  • Jaga kesehatan kita dan perhatikan makan, minum, istirahat, dan olahraga bagi diri kita sendiri.
  • Kita pasti akan lelah dan frustrasi. Kenali rasa itu agar kita bisa mengatasinya.

Saat ini, kondisi Melati sudah membaik, meski kami belum tahu status COVID-nya, positif atau negatif. Ratna pun telah selesai menjalani masa isolasinya, sehingga kami sudah bisa berbagi tugas. Dari panduan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS, sebetulnya di hari ke-7 setelah gejala pertama kali muncul atau di hari ke-3 setelah gejala demam, batuk, atau lainnya hilang, isolasi di dalam rumah bisa diakhiri. Tetapi kami tetap berjaga-jaga sampai sekarang. Tentunya sambil berharap-harap cemas hasilnya nanti negatif.

Semoga kita semua dapat melewati masa ini dengan selamat dan baik, Sambil tetap menjaga diri dan sesama sebaik yang kita bisa, dengan apa yang kita punya. COVID atau bukan COVID.

Ida bukanlah nama sebenarnya. Ida ingin menjaga privasi Melati. Sehari-harinya, Ida berusaha menjadi orang baik.