Women Lead
July 30, 2021

Label Perempuan Baik-baik Bukan Pembatas Ruang Gerak

Perilaku yang tidak sesuai dengan standar feminitas masyarakat menciptakan label “perempuan baik-baik”, padahal ini tidak dapat mendefinisikan seseorang.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
label perempuan baik-baik
Share:

Seorang ibu sering menasihati anak perempuannya agar tidak pulang larut malam. Alasan yang pertama kali disebutkan bukan karena keamanan, tapi enggak enak kalau dilihat tetangga. Katanya, nanti dicurigai melakukan perbuatan tidak benar dan takut jadi perbincangan ibu-ibu komplek.

Di sisi lain, kita sering dengar betapa mudahnya masyarakat melabeli “bukan perempuan baik-baik” kepada mereka yang merokok, menindik anggota tubuh, berpakaian terlalu terbuka, pergi atau bekerja di bar, dan aktif secara seksual di luar pernikahan. Dianggap “liar” dan dipandang sebelah mata menjadi risiko yang harus ditanggung.

Penilaian itu bukan hanya menimpa perempuan lajang, melainkan para ibu. Ibu tunggal dikonstruksikan sebagai “ancaman” bagi perempuan bersuami, karena dianggap penggoda dan akan merusak rumah tangganya. Sementara sebagai istri dan ibu, perempuan harus memenuhi tiga peran untuk memenuhi tuntutan masyarakat patriarki, yakni perawan, ibu, dan pelacur, seperti dinyatakan filsuf Prancis Olivia Gazalé dalam bukunya Le Mythe de la virilité (2017).

Dalam tiga peran tersebut, perempuan harus mengurus anak dengan baik, menjaga bentuk tubuh pascamelahirkan, dan mencintai suami sepenuh hati. Ketidakmampuan memenuhi salah satu tuntutan itu akan mengurangi kepercayaan diri perempuan, padahal bukan perkara mudah untuk melakukan ketiganya dalam satu waktu.

Baca Juga: Perempuan Nyatakan Perasaan: Bicara Sekarang Atau Tertekan Selamanya

Penetapan standar feminitas oleh masyarakat saja rasanya tak masuk akal. Secara fisik, perempuan dinilai cantik apabila sesuai standar kecantikan, seperti para model iklan parfum atau sabun mandi. Sementara perilaku, perempuan dianggap tidak bermoral apabila bertato atau tidak dapat menjaga keperawanan untuk calon suaminya kelak.

Lantas, apabila kita melakukan suatu hal kontradiktif dengan standar tersebut, apakah otomatis merepresentasikan diri sebagai “bukan perempuan baik-baik”? 

Internalisasi Nilai Masyarakat

Tanpa disadari, standar feminitas yang ditetapkan masyarakat menjadi acuan perempuan dalam menjalani hidup, agar didefinisikan sebagai “perempuan baik-baik”, secara fisik, psikologis, sikap, maupun perilaku. Pemenuhan standar tersebut hanya memuaskan masyarakat patriarki dan menjauhi diri dari stigma.

Dalam bukunya berjudul Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan (2020), psikolog Ester Lianawati menyatakan, perempuan telah meyakini hasil konstruksi budaya misoginis sebagai nilai dirinya. Internalisasi nilai masyarakat ini justru mengesampingkan kebutuhan dan keinginan perempuan, atas apa yang ingin dicapai.

Sayangnya, masih banyak perempuan mengamini budaya misoginis dan membatasi dirinya agar semata-mata tidak dianggap menyimpang. Sepertinya semua perempuan diharapkan bersifat lemah lembut, penyayang, tidak banyak berkomentar, selalu mengutamakan perasaan, dan secara mentah menerima situasi yang ada. Ini merupakan citra dari masyarakat patriarki yang membatasi ruang gerak perempuan.

Miris melihat perempuan masih sulit mengekspresikan dirinya, hanya karena berlawanan dengan ekspektasi yang dilanggengkan masyarakat. Keraguan dalam mengutarakan pendapat pun harus dihadapi, lantaran tidak ingin dianggap terlalu tegas dan berani, atau takut menerima komentar negatif dan disalahkan, setelah mengubah gaya penampilannya jadi lebih maskulin.

Baca Juga: Mengapa Dunia ini Masih Berbahaya Bagi Perempuan?

Padahal bukan hanya laki-laki atau perempuan, tapi semua orang berhak memprioritaskan dirinya, tanpa mempertimbangkan dampak keputusannya bagi orang lain, dengan catatan keputusan itu hanya berdampak pada dirinya sendiri. Internalisasi ini telah membungkam perempuan dan menjauhkan mereka dari dirinya.

Reinterpretasi Diri

Dalam penelitian berjudul “Happiness Is Everything, or Is It? Explorations on the Meaning of Psychological Well-Being” (1989), psikolog asal Amerika Serikat, Carol D. Ryff menyatakan, setiap individu dapat menginterpretasikan ulang pengalaman dan keadaan dirinya. Tindakan ini akan membantu mengenali diri kita yang sesungguhnya dan melepas dominasi masyarakat dalam konstruksi feminitas, sehingga mengembalikan makna kehidupan dan terkoneksi dengan diri sendiri.

Menurut Ryff, penginterpretasian ini merupakan salah satu cara agar perempuan mencapai kesejahteraan diri, dengan menerima segala “ketidaksempurnaan” pada dirinya. Ketidaksempurnaan itu bukan hanya keterbatasan kemampuan diri, tetapi segala standar feminitas masyarakat yang tidak dapat dipenuhi.

Baca Juga: Bagaimana Caranya Menjadi Perempuan?

Misalnya, anggapan perempuan lebih baik berada dalam pernikahan toksik dibandingkan bercerai lalu jadi janda. Jika berkaca pada tuntutan masyarakat, kita melihat tidak ada opsi lebih baik dalam situasi tersebut. Namun, melihat dari aspek kesejahteraan diri, perempuan tahu ia memiliki kesempatan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Sebagai perempuan, hidup kita bukan milik masyarakat, terlebih ada di tangan mereka. Kita harus berani mengambil kekuasaan atas diri sendiri dan mendobrak standar feminitas yang ditetapkan, dengan nilai-nilai pribadi dalam diri. Lagipula, keberhargaan kita bukan didefinisikan oleh keberhasilan memenuhi tuntutan sosial, melainkan apa yang dimiliki. Toh melawan standar masyarakat, apalagi membebaskan diri dari jeratan tersebut, tidak membuat kita sebagai “bukan perempuan baik-baik.”

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.