Women Lead
December 17, 2020

Laki-laki Anti-Kekerasan terhadap Perempuan: Ubah Perilaku dan Geser Paradigma

Tidak hanya perubahan perilaku saja yang diperlukan agar laki-laki bisa membantu mencegah kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga perubahan paradigma.

by Karen Graaff
Issues
Share:

Kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu tindak kriminal yang banyak sekali terjadi di berbagai penjuru dunia. Di Afrika Selatan tempat saya melakukan penelitian misalnya, Laporan Medical Research Council mengatakan 25 persen perempuan pernah diperkosa.

Banyak strategi dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan yang cenderung lebih berfokus pada korban. Ada yang memberi dukungan kepada  perempuan setelah ia mengalami serangan, tetapi ada juga yang justru menyarankan perempuan untuk mengganti pakaian atau menjaga gerak-gerik supaya terhindar dari kekerasan seksual.

Strategi intervensi semacam ini saja tidak cukup sehingga perlu ada penelusuran terhadap strategi alternatif. Salah satu kemungkinannya adalah secara khusus melibatkan laki-laki untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. Inilah fokus dari penelitian doktoral saya, yang utamanya menelaah dampak keterlibatan laki-laki.

Menghadapi Kejantanan dengan Cara Berbeda

Penelitian saya didasarkan pada beberapa riset lain, yang mengatakan bahwa berfokus pada maskulinitas—norma sosial yang ingin laki-laki capai guna “membuktikan” kejantanan mereka—bermanfaat dalam mengurangi penggunaan kekerasan oleh laki-laki di masa depan.

Maskulinitas mencakup beberapa aspek seperti laki-laki adalah pihak yang mencari/menyediakan uang dalam sebuah hubungan atau keluarga. Aspek lain? Laki-laki lebih “membutuhkan” seks dari perempuan, dan anggapan bahwa laki-laki lebih agresif.

Baca juga: 5 Tanda Kamu Punya Maskulinitas Rapuh

Beberapa pihak menganggap norma ini biologis, atau sesuatu yang khas laki-laki. Tapi, riset mengatakan bahwa tidak selalu seperti itu. Sejumlah organisasi di Afrika Selatan dan dunia telah memulai perhatian terhadap norma-norma sosial yang mengelilingi laki-laki ketika mereka beranjak dewasa. Penelitian saya berfokus pada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Afrika Selatan yang menerapkan lokakarya terkait hal ini.

Organisasi seperti yang saya teliti biasanya menyelenggarakan lokakarya untuk membedah kembali, apakah sifat agresif merupakan bawaan sejak lahir, ataukah hanya sesuatu yang didorong untuk dilakukan para laki-laki. Mereka juga mengedukasi laki-laki peserta lokakarya untuk mengenal bentuk kekerasan terhadap perempuan dan mengajak mereka menghentikannya.

Hasil studi terhadap strategi intervensi seperti ini cukup positif. Setelah mengikuti lokakarya hingga selesai, para peserta laki-laki mengaku mengurangi penggunaan kekerasan. Mereka juga lebih menghargai perempuan dan hak-haknya.

Baca juga: Peran Laki-laki dalam Isu Kesetaraan Gender

Selain di Afrika Selatan, hasil positif seperti ini juga ditemukan di negara lain seperti Brasil dan India, yang juga telah menerapkan intervensi serupa.

Kekerasan Terhadap Perempuan: Mengubah Perilaku

Penelitian saya sendiri menemukan, kunci keberhasilan utama terletak pada struktur lokakarya yang diselenggarakan. Para peserta mengatakan bahwa keberadaan kelompok kawan yang mendukung (supportive peer group) amatlah penting dalam mendorong mereka mengurangi penggunaan kekerasan.

Sejalan dengan itu, para fasilitator lokakarya (mayoritas laki-laki) bertindak sebagai teladan positif bagi anggapan alternatif terhadap kejantanan yang didiskusikan di lokakarya. Teladan positif ini, oleh peserta laki-laki, berulang kali disebut sebagai faktor paling penting yang membantu mereka mengubah perilaku dan mengurangi kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Baca juga: Menyelesaikan Kasus KDRT dari Sisi Pelaku

Tapi, saya menemukan satu kekurangan. Lokakarya seperti ini memang berdampak pada perilaku tertentu, namun tidak ada dampak sama sekali pada sikap mendasar yang kerap mendorong terciptanya perilaku itu.

Sebagai contoh, para laki-laki setuju bahwa menggunakan kekerasan terhadap perempuan adalah salah. Tapi, mereka tidak melihat bahwa ketidaksetaraan gender itu sendiri adalah masalah.

Mereka mungkin menegaskan tak akan memperkosa perempuan. Tetapi, mereka tetap beranggapan penyebab pemerkosaan adalah pakaian atau gerak-gerik perempuan. Jadi, beberapa perilaku memang digarisbawahi sebagai bermasalah, tapi fakta bahwa laki-laki didorong untuk menggunakan kekerasan masih dipandang sebelah mata.

Menggeser Paradigma

Secara umum, lokakarya yang khusus berfokus pada laki-laki dapat memainkan peran dalam mengurangi tingkat kekerasan. Selain itu, melibatkan laki-laki dalam upaya mengurangi kekerasan adalah langkah penting. Pasalnya, pendekatan ini tidak hanya semata-mata menyalahkan laki-laki sebagai biang kekerasan, tetapi justru memungkinkan mereka menjadi bagian solusi.

Dengan begini, anggapan bahwa laki-laki tidak punya kendali atas penggunaan kekerasan juga dibedah. Laki-laki justru dilihat sebagai penyumbang aktif dalam mengurangi kekerasan. Saat ini dampaknya memang masih terbatas (satu lokakarya biasanya hanya mampu menampung 10-20 laki-laki) tetapi potensi keberhasilannya menjanjikan.

Beberapa penyesuaian masih diperlukan guna memberi perhatian lebih terhadap sikap mendasar atas ketidaksetaraan gender yang lebih susah diubah.

Membatasi beberapa bentuk kekerasan sudah jelas merupakan langkah positif, tetapi perubahan paradigma (yang mendasari kekerasan itu) dapat jauh mengurangi kekerasan dan kekerasan berbasis gender sekaligus.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Karen Graaff adalah pengajar Sosiologi di Stellenbosch University.