Hampir dua tahun, Nova, 70, rutin latihan angkat beban di gym sebanyak tiga kali seminggu. Kebiasaan ini dimulai saat Nova mengeluh kesakitan pada pinggang kanan, ketika mengangkat barang. Kemudian, dokter bedah digestifnya juga mengatakan otot perut Nova lemah, sehingga daya tahan ototnya perlu ditingkatkan.
“Memang dulu saya cuma jalan kaki dan yoga. Sebelum pensiun malah jarang banget olahraga,” ungkap Nova.
Setelah menemukan tempat gym yang cocok—khusus lansia di bilangan Tangerang Selatan, Nova mengalami tantangan saat latihan. Ia kesulitan karena bebannya terlalu berat, berdampak langsung ke pinggang sebelah kanan.
Namun, Nova berprogres. Dari beban sebesar satu kilogram, kini ia kuat mengangkat beban tiga kilogram.
“Sekarang saya kuat angkat belanjaan. Rasanya juga lebih gembira, karena latihan ramai-ramai. Jadi saling support,” cerita Nova.
Nova tidak sendirian. Di Amerika Serikat, anggota fasilitas kebugaran berusia 65 tahun ke atas tumbuh 8,6 persen sepanjang 2025, dan lansia menjadi kelompok dengan pertumbuhan tercepat, dikutip dari Health & Fitness Association 2026. Tren ini bukan hal baru. Jumlah anggota gym AS berusia 55 tahun ke atas naik dari 8,5 juta pada 2006 menjadi 13,5 juta pada 2016.
Di Indonesia, jumlah calon anggotanya terus bertambah. Lansia mencapai 11,97 persen penduduk pada 2025, dengan DI Yogyakarta tertinggi, dikutip dari Survei Penduduk Antar Sensus 2025, angkanya mencapai 17,83 persen.
Baca Juga: Dari ‘Insecurity’ ke Kapitalisasi: Bagaimana Pilates hingga ‘Gym’ Agresif Sasar Perempuan
Bukan Hanya Memperkuat Fisik
Tiga bulan terakhir, Nina, 34, pelatih kebugaran khusus lansia, menyaksikan antusiasme kliennya untuk hidup sehat dan bugar. Ia melihat para lansia rajin latihan dan mau mencoba berbagai gerakan baru, meski menghadapi tantangan tersendiri.
“Alasan mereka nge-gym kan beragam. Ada yang fungsi sendinya sudah terbatas, atau lagi recovery setelah sakit. Tapi ada juga yang koordinasi fisiknya masih bagus, pengen bisa main sama cucu, dan nyari teman-teman yang semangat untuk sehat,” cerita Nina.
Keberagaman kondisi fisik ini menjadi tantangan bagi Nina ketika mengajar. Sebab, ia memfasilitasi klien untuk melakukan gerakan bersama. Namun, perbedaan mobilitas antara lansia, membuat Nina perlu memberikan perhatian ekstra. Terutama jika gerakan tersebut membuat tubuh mereka sakit.
Fokus latihan lansia terletak pada fungsionalitas—duduk, berdiri, berjalan, keseimbangan, dan mobilitas. Ini membuat program latihan lansia berbeda dengan usia produktif. Mereka tidak membutuhkan banyak variasi latihan, melainkan gerakan repetitif untuk memperkuat anggota tubuh.
Misalnya squat. Awalnya, lansia menggunakan kursi dan memegang tembok sebagai bantuan. Perlahan, mereka dilatih sampai bisa melepas keduanya, kemudian diberikan beban.
“Itu yang bikin aku tertarik jadi personal trainer bagi lansia. Aku ingin mereka lebih kuat dan bugar kalau beraktivitas sehari-hari,” ucap Nina.
Pola ini sejalan dengan pedoman global. Menurut pedoman WHO 2020, orang berusia 65 tahun ke atas dianjurkan melakukan aktivitas “multikomponen” yang menggabungkan keseimbangan, koordinasi, dan penguatan otot, minimal tiga hari per minggu. Selain itu, WHO menganjurkan minimal 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu dan penguatan otot dua hari atau lebih per minggu.
Sebenarnya, olahraga ini bukan hanya memperkuat fisik, melainkan meningkatkan kualitas hidup para lansia.
Afni Sasmita, 41, pemilik Senja Fit—sebuah pusat kebugaran khusus lansia di bilangan Tangerang Selatan—berusaha memfasilitasi ini. Ia membangun interaksi sosial di dalam kelas, yang termasuk dalam program latihan.
Di sini, pelatih kebugaran sekaligus berperan sebagai fasilitator. Mereka meminta lansia menceritakan aktivitas terkini, pengalaman mengikuti workshop, ataupun kelas interaktif.
“Jadi secara nggak langsung, para lansia juga melatih beban kognitif. Tujuannya untuk menghindari demensia dan Alzheimer,” terang Afni.
Dalam Use of Physical and Intellectual Activities and Socialization in the Management of Cognitive Decline of Aging and in Dementia: A Review (2012), akademisi Myuri Ruthirakuhan, Angela C. Luedke, dan Angela Tam, dkk., menyatakan hal serupa.
Menurut mereka, olahraga dapat mengurangi risiko muncul dan berkembangnya Alzheimer. Begitu pun dengan interaksi sosial, yang juga bisa meningkatkan kualitas hidup, kepercayaan diri, serta prognosis pasien.
Afni melihat faktor itu melatarbelakangi para lansia kini aktif bergerak. Di Senja Fit, ada 34 orang lansia dari usia 60 tahun hingga 85 tahun. Meski belum tentu semuanya rutin berolahraga, karena faktor kesehatan.
Baca Juga: ‘Aging Society’ dan Kesejahteraan Lansia yang Dipandang Sebelah Mata
Keterbatasan Akses
Meski ada kesadaran untuk hidup sehat dan bugar, realitasnya akses ke pusat kebugaran merupakan privilese yang belum tentu dimiliki para lansia. Sebab, berolahraga di gym membutuhkan biaya tak sedikit.
Di Senja Fit, lansia perlu mengeluarkan kocek sekitar Rp979 ribu untuk 24 sesi. Sementara di jaringan pusat kebugaran, biaya membership dan pelatih kebugaran sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 juta.
Maria, 63, ibu rumah tangga yang mengandalkan uang pensiun untuk bertahan hidup, mengurungkan pergi ke gym. Ia tak memiliki dana untuk mengakses fasilitas tersebut, karena kebutuhan hidup semakin meningkat.
“Buat sehari-hari aja dicukup-cukupin, gimana mau ke gym?” katanya.
Demi menjaga kebugaran, Maria berjalan kaki setiap pagi selama 30 menit. Ditambah mengikuti senam dari YouTube.
Selain biaya langganan, akses ke gym juga membutuhkan waktu dan ongkos. Sampai artikel ini ditulis, hanya ada kurang dari 10 pusat kebugaran khusus lansia di Jabodetabek. Artinya, aksesibilitas ke pusat kebugaran masih terbatas.
Baca Juga: Lansia di Indonesia Sulit Hidup Nyaman di Masa Pensiun
Belajar dari Singapura
Di Singapura, pemerintah menurunkan hambatan biaya itu secara langsung. Warga berusia 65 tahun ke atas mendapat masuk gratis ke gym dan kolam renang publik.
Lansia 60 tahun ke atas juga bisa mengikuti program CALM, yang mengajarkan latihan beban secara bertahap, dari karet latihan dan beban bebas hingga pengenalan mesin gym. Pada 2022, dikutip dari Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda Singapura, sebanyak 150.000 lansia tercatat ikut program dan kompetisi.
Pemerintah Singapura juga menyatakan masih menambah kapasitas. Dalam jawaban tertulis di parlemen pada Februari 2026, Kementerian Kesehatan menyebut pihaknya memperluas fasilitas latihan kekuatan di komunitas, termasuk fitness corner di kawasan HDB, taman umum, dan gym.
Sementara dari penelusuran saya, di Indonesia, belum ada program pemerintah yang setara dengan gym berbasis latihan beban bagi lansia.
Meski demikian, bukan berarti lansia tak bisa berolahraga di rumah untuk menjaga kesehatan. Nina mengatakan, orang-orang di sekitar lansia bertanggung jawab untuk mendorong kesadaran tersebut. Namun, mereka juga perlu rajin berolahraga, supaya kondisi tubuh yang baik menjadi contoh. Bahkan memotivasi lansia untuk ikut bergerak.
“Harapannya lebih mudah mengajak orang tua olahraga bersama. Pelan-pelan dikasih pemahaman, penguatan otot itu penting,” kata Nina.
Sementara menurut Afni, lansia bisa memanfaatkan konten kebugaran di media sosial. Namun, perlu dilakukan bersama anggota keluarga ataupun caretaker.
“Perlu diingat, orang tua punya kondisi kesehatan berbeda. Kalau nggak yakin bisa mendampingi, lebih baik mencari operator yang punya kapabilitas untuk program ini,” ujar Afni.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















