‘Unpopular Opinion’: Benarkah ‘Lifter’ yang Marah di Gym itu Salah?
Video perempuan lifter Nyimas Laula yang memarahi pengguna gym lantaran melintas di area latihan memicu perdebatan di media sosial. Sebagian warganet menilai reaksinya berlebihan, sementara yang lain berpendapat kemarahannya tidak bisa dilepaskan dari aspek keselamatan ketika seseorang tengah melakukan angkatan maksimal.
Dalam hitungan jam, pembahasan bergeser dari kronologi kejadian menjadi diskusi yang lebih luas mengenai etika di gym, budaya latihan kekuatan, hingga penggunaan kamera di ruang bersama.
Enggak cuma itu, beberapa warganet juga out of context menyerang Nyimas secara personal. Ia menjadi sasaran body shaming, slut shaming, serta berbagai komentar yang menghina penampilan serta kehidupan pribadinya. Gelombang perundungan tersebut akhirnya mendorong Nyimas menutup akun Instagram pribadinya belakangan.
Aku sama sekali tidak mengenal perempuan tersebut. Namun, beberapa orang menghubungiku melalui pesan pribadi di TikTok dan meminta tanggapan karena kami sama-sama berprofesi sebagai jurnalis. Pertanyaan itu justru membuatku berpikir: Mengapa profesinya yang jadi sorotan utama? Bukankah isu yang lebih penting adalah perdebatan tentang etika berbagi ruang di gym?
Menurutku, polemik ini tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah Nyimas bereaksi terlalu keras atau tidak. Yang lebih menarik adalah mengapa satu tindakan yang sama bisa memunculkan penilaian yang sangat berbeda.
Perdebatan itu menunjukkan setiap orang datang ke gym dengan pengalaman, kebiasaan, dan tujuan yang enggak selalu sama. Ada yang melihatnya semata sebagai tempat olahraga, ruang untuk berlatih secara serius, ruang kerja sebagai pelatih, atau sekadar “studio” untuk produksi konten.
Perbedaan cara memaknai fungsi gym membuat ekspektasi antar-pengguna kerap bertabrakan. Menurutku, di situlah letak persoalan yang sesungguhnya. Untuk memahaminya, kita perlu melihat bagaimana norma-norma di gym terbentuk dan mengapa tidak semua orang memaknainya dengan cara yang sama.
Baca juga: Dari ‘Insecurity’ ke Kapitalisasi: Bagaimana Pilates hingga ‘Gym’ Agresif Sasar Perempuan
Kesenjangan Pemahaman Norma Gym
Perbedaan norma membuat satu tindakan dimaknai secara berbeda. Bagi sebagian pengguna gym, melintas di depan seseorang yang sedang mengangkat beban hanyalah aktivitas biasa. Namun, bagi banyak lifter, terutama yang terbiasa berlatih powerlifting atau Olympic weightlifting, area platform dipandang sebagai zona yang sebaiknya tidak dilintasi ketika seseorang sedang angkat beban. Kebiasaan tersebut berkembang bukan sekadar sebagai etika, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan.
Dalam latihan kekuatan, konsentrasi merupakan bagian dari teknik. Gangguan sekecil apa pun dapat memengaruhi ritme latihan dan meningkatkan risiko cedera. Karena itu, banyak anggota komunitas memilih menunggu beberapa detik sebelum melintas di depan platform. Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkannya, tetapi kebiasaan tersebut terbentuk dari pengalaman dan dipahami sebagai bentuk saling menghormati.
Masalahnya, norma semacam itu tidak selalu diketahui pengguna gym yang datang untuk berolahraga secara rekreasional. Mereka mungkin menganggap berjalan di depan platform sama seperti melintas di area lain. Ketika dua kelompok dengan kebiasaan berbeda berbagi fasilitas yang sama, tindakan yang bagi satu orang terasa biasa bisa dimaknai sebagai sikap yang tidak menghargai oleh orang lain. Perbedaan tafsir inilah yang kerap memicu perdebatan.
Situasi menjadi semakin kompleks seiring berkembangnya budaya dokumentasi di gym. Telepon genggam dan tripod kini hampir sama lazimnya dengan lifting belt atau wrist straps. Akibatnya, pembahasan tidak lagi sebatas etika saat berlatih, tetapi juga menyentuh persoalan privasi, perekaman video, dan kenyamanan pengguna lain.
Perubahan itu mendorong sejumlah pusat kebugaran di Inggris memperketat aturan penggunaan kamera. Dalam artikel Influencer Alert: Cameras Banned in Some U.K. Gyms (2023), Mike Warkentin menjelaskan PureGym, yang memiliki lebih dari 340 cabang, melarang penggunaan kamera sehingga anggota tidak lagi diperbolehkan swafoto maupun merekam video latihan.
Sementara itu, Virgin Active memberi hak kepada anggota untuk meminta kreator konten menghapus foto atau video apabila mereka ikut terekam tanpa persetujuan. Fitness First juga mewajibkan setiap orang yang muncul dalam video memberikan persetujuan sebelum direkam.
Beragam kebijakan tersebut menunjukkan penggunaan kamera di gym bukan lagi persoalan sepele. Semakin banyak orang mendokumentasikan aktivitasnya, semakin besar pula kebutuhan akan aturan yang mampu menyeimbangkan kepentingan seluruh pengguna.
Kebijakan itu memang tidak berkaitan langsung dengan polemik yang melibatkan Nyimas Laula. Namun, kemunculannya menunjukkan isu penggunaan kamera dan etika di gym juga dihadapi banyak pusat kebugaran di berbagai negara. Dengan demikian, perdebatan yang muncul di Indonesia bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perubahan budaya gym di era media sosial.
Baca juga: ‘Feminine Muscle’: Perempuan ‘Gym’ Boleh Berotot tapi Tetap Harus Langsing
Camera Courtesy
Di tengah perubahan tersebut, muncul istilah camera courtesy yang semakin sering digunakan di komunitas kebugaran. Istilah ini memang bukan konsep akademik yang memiliki definisi baku, tetapi praktiknya merujuk pada etika berbagi ruang ketika aktivitas latihan dan dokumentasi berlangsung secara bersamaan. Intinya bukan menentukan siapa yang lebih berhak atas ruang gym, melainkan mencari titik temu antara kebutuhan merekam latihan, keselamatan saat berolahraga, dan hak pengguna lain untuk menikmati ruang yang sama tanpa merasa terganggu.
Perubahan norma itu juga disoroti jurnalis Joe Stone dalam artikel The New Rules of Gym Etiquette: Don’t Film Yourself, Never Mansplain – and Keep Your Top On yang diterbitkan The Guardian pada April 2025. Salah satu narasumbernya, personal trainer Nick Finney, menjelaskan penggunaan kamera kini menjadi bagian dari rutinitas banyak anggota gym, baik untuk mengevaluasi teknik maupun berkomunikasi dengan pelatih. Menurutnya, persoalan muncul ketika kamera tidak lagi digunakan sebagai alat belajar, tetapi mengubah ruang bersama menjadi ruang produksi konten yang mengabaikan kenyamanan pengguna lain.
“Saya benar-benar tidak menyukai hal itu,” kata Nick Finney, personal trainer yang pernah melatih Robbie Williams dan Jennifer Lopez.
“Ada alasan yang sah untuk merekam diri sendiri, misalnya mengecek teknik gerakan atau mengirim video kepada pelatih online agar mereka bisa mengevaluasi latihan kita. Namun, memasang tripod di gym yang sedang ramai hanya untuk membuat konten TikTok berisiko membuat orang lain merasa tidak nyaman, terutama mereka yang sejak awal sudah gugup datang ke gym dan tentu tidak ingin terekam kamera.”
Finney menambahkan, jika seseorang memang ingin membuat konten kebugaran, sebaiknya memilih area gym yang lebih sepi sehingga tidak banyak orang lain masuk ke dalam rekaman. “Kalau ada orang di sekitar yang kemungkinan akan ikut terekam, akan lebih sopan jika meminta izin kepada mereka sebelum mulai merekam.”
Pandangan serupa disampaikan Josh Davies, salah satu pendiri OMNI Wellness sekaligus kepala pelatih di Aimee Victoria Long. Ia mengingatkan penggunaan kamera tidak boleh menggeser fungsi gym sebagai ruang bersama.
“Kalau kamu memilih merekam latihan di gym, itu sepenuhnya hakmu. Namun, bukan berarti orang lain bertanggung jawab untuk selalu menghindari frame kameramu. Kalau seseorang perlu mengambil alat dan posisi kameramu justru menghalangi, itu menjadi tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab mereka.”
Pengalaman itu terasa dekat denganku. Aku juga rutin merekam latihan, sebagian digunakan untuk mengevaluasi teknik, sisanya untuk membuat konten. Pun, selama bertahun-tahun berlatih, aku lebih sering melihat anggota gym saling memberi ruang beberapa detik ketika seseorang sedang menyelesaikan set, lalu aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Bagiku, itulah bentuk camera courtesy yang paling sederhana. Bahwa setiap orang memahami konteks dan menyesuaikan diri tanpa merasa paling berhak atas ruang tersebut.
Pada akhirnya camera courtesy seharusnya dipahami sebagai etika yang berlaku dua arah. Pembuat konten perlu memastikan kamera tidak menghalangi pengguna lain, memilih waktu atau posisi yang tepat, serta meminta izin bila orang lain berpotensi ikut terekam. Di sisi lain, pengguna gym juga dapat menghargai situasi ketika seseorang sedang menyelesaikan set atau merekam latihan untuk evaluasi teknik. Dengan saling memahami kebutuhan masing-masing, gym dapat tetap menjadi ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi semua orang.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















