Women Lead
October 30, 2020

Lihat Lebih Dekat: Pengakuan Seorang Mantan Transfobia

Seorang yang tadinya memiliki transfobia berubah menjadi rasa salut dan respek setelah mengenal transpuan lebih jauh.

by Reza Egodde
Issues
Share:

Belakangan ini, banyak kasus transfobia yang terjadi di Indonesia. Mungkin kasus-kasus tersebut tidak terlalu banyak diangkat oleh media massa,  namun lebih banyak diberitakan oleh media sosial khususnya di Twitter oleh para aktivis dan relawan yang bergerak di bidang kemanusiaan, juga oleh situs-situs berita internasional.

Salah satu kasus transfobia yang mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat luas adalah kasus perundungan di mana Ferdian Paleka, seorang YouTuber di kota Bandung melakukan prank kepada beberapa transpuan dengan memberikan mereka sebungkus makanan berisikan sampah. Ada juga kasus pembakaran Mira, transpuan yang dibakar hidup-hidup di Jakarta setelah dicurigai mencuri dompet seorang sopir truk.

Sungguh ngeri rasanya mendengar kejadian tersebut. Walaupun mereka transpuan, namun mereka tetap manusia, sama seperti kita. Mereka mempunyai keluarga, teman, dan bagian dari masyarakat Indonesia. Sungguh memilukan pula mengetahui ada orang lain yang tega merenggut hak hidup seseorang dengan seenaknya tanpa mempertimbangkan apa konsekuensi yang akan ditimbulkan setelah melakukan hal tersebut. Tindakan diskriminatif di Indonesia memang masih banyak terjadi terhadap kaum minoritas.

Sedikit cerita sejak kecil, saya mempunyai stigma terhadap transpuan. Stigma tersebut muncul dari masyarakat di sekitar saya tinggal. Tiap kali ada salah satu transpuan yang mengamen di depan rumah, otomatis saya langsung lari ke dalam rumah. Terkadang ketika saya bertemu mereka di angkutan umum pun, saya sering kali menjaga jarak dan berusaha menghindari tatap muka dengan mereka.

Stigma yang aku dapatkan ini berasal dari masyarakat yang merasa bahwa transpuan itu aneh, tidak wajar, dan merupakan orang yang sering bertindak vandal ketika mereka tersinggung sehingga saya kerap menjauhi mereka.

Transfobia saya berlangsung sejak SD hingga SMP. Saat saya duduk di bangku SMK, stigma jelek terhadap transpuan yang saya miliki mulai perlahan terkikis seiring saya belajar banyak tentang kesenian dan keberagaman budaya serta gender. Saya mulai bertemu banyak sekali orang dengan latar belakang yang berbeda. Dari sanalah saya mulai belajar menghargai dan menghormati suatu keberagaman.

Baca juga: Semangat Dora dan Ajeng Lawan Diskriminasi terhadap Transpuan

Pengenalan dan penerimaan terhadap keberagaman semakin dalam ketika saya menginjak dunia kerja, dan kebetulan saya bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkecimpung dalam advokasi orang dengan HIV & AIDS. Saya bertemu lebih banyak lagi orang dengan latar budaya berbeda, agama beragam termasuk agama yang tak pernah saya ketahui sebelumnya, juga seksualitas atau orientasi seksual yang bervariasi. Di tempat kerjalah saya bertemu kawan-kawan transpuan atau waria, mengenal dan bekerja dengan mereka, berkomunikasi, hingga bercanda dan tertawa bersama mereka.

Transfobia hilang

Perlahan-lahan, rasa takut yang saya punya terhadap mereka mulai memudar. Malahan sekarang, saya merasa salut dan memberi respek mereka. Di balik cercaan, hinaan, dan stigma yang mereka hadapi selama ini, mereka memilih berani menjadi diri mereka sendiri.

Kita mungkin bisa berkamuflase atau memakai topeng agar bisa diterima oleh masyarakat. Namun, mereka memilih bertarung menghadapi kenyataan yang pahit ini dengan menjadi diri mereka sendiri walaupun konsekuensinya terkadang mereka harus diasingkan atau dianggap aneh oleh masyarakat.

Di balik cercaan, hinaan, dan stigma yang transpuan hadapi selama ini, mereka memilih berani menjadi diri mereka sendiri.

Saya mulai berpikir, terkadang seseorang itu merasa takut terhadap sesuatu karena ketidaktahuan mereka, karena mereka tidak mencoba mencari tahu atau “berkenalan” dengan hal yang mereka takuti. Rasa takut tersebut juga tak akan hilang dengan sendirinya, pasti butuh waktu untuk bisa menerima dan berdamai dengan hal yang kita takutkan. Transgender adalah sama-sama manusia seperti orang kebanyakan. Mereka adalah bagian dari masyarakat, mempunyai hak-hak yang tidak boleh kita rampas.

Berinteraksi dengan transpuan juga membuat saya belajar untuk menangkap realitas dengan lebih akurat, khususnya terkait pengalaman hidup dan sifat-sifat mereka yang kerap dipersepsikan buruk oleh masyarakat. Dari pengalaman ini juga, saya melatih diri untuk lebih terbuka terhadap setiap kemungkinan untuk memiliki hubungan dekat dengan lebih banyak orang, menjadi seseorang yang tidak terlalu terkunci oleh ekspektasi peran atau stereotip gender.

Di samping itu, hidup berdampingan dengan transpuan membuat saya berkesempatan untuk belajar dari, mengajarkan, dan memberi dampak terhadap populasi atau komunitas yang belum pernah saya temui sebelumnya. Saya juga jadi bisa memberdayakan diri dan berperan aktif dalam membuat dunia yang lebih baik: Yang menerima perbedaan dan melawan prasangka serta diskriminasi dengan pengertian, dukungan, dan kepedulian.

Baca juga: Hendrika Mayora Transpuan Pertama yang Jadi Pejabat Publik

Saya berefleksi, dengan peran aktif melawan diskriminasi terhadap transpuan ini, kita sebenarnya juga dapat menjadi alasan bagi teman, saudara, anak-anak, teman kerja, atau siapa pun yang kita kenal untuk menemukan nilai lebih dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, mereka juga bisa mengembangkan kepercayaan dirinya.

Seiring dengan itu, kita mungkin bisa memicu perubahan dalam kehidupan anak muda saat mereka mendengar kita melawan kata-kata yang merendahkan komunitas tertentu, atau saat kita mendukung mereka. Dari perbuatan tersebut, mereka mungkin akan merasa memiliki teman untuk dituju. Alih-alih menjadi putus sekolah, menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit dan kesepian, atau mencoba bunuh diri akibat diskriminasi sosial, kita bisa memberdayakan anak-anak muda dan komunitas yang terpinggirkan di masyarakat ini.

Seperti kata pepatah, “don’t judge book by its cover”, cobalah untuk mencari tahu dulu, berkenalan, berkomunikasi langsung dengan para transpuan atau kelompok yang sering direpresentasikan buruk, baru memutuskan untuk menyukai atau membenci hal tersebut. Apabila kita tidak bisa suka terhadap mereka, setidaknya kita bisa tetap bersikap baik dan menghargai keberadaan mereka sebagai bagian dari masyarakat. Pasalnya, kebaikan tidak akan membebankan apa pun kepadamu, tapi malah dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

Reza Egodde adalah seorang gay, penulis lepas, dan sukarelawan di Puzzle Indonesia. Punya ketertarikan dalam hal advokasi orang-orang dengan HIV dan AIDS, kebebasan beragama, dan komunitas LGBTQI+. Di waktu senggangnya, ia senang membaca buku, bernyanyi dan bermain piano, hiking, hunting tempat untuk fotografi, atau surfing di internet, main games, dan menonton film.