Women Lead
November 18, 2021

Mai di Bulan Juli

Mai berhenti sekolah, dia tidak dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah pertama.Tak lama kemudian, kabar perkawinannya sampai ke telingaku.

by Ferena Debineva
Culture // Prose & Poem
ChildMarriage_Pernikahan_Anak_Karina Tungari
Share:

Untuk sahabat kecilku,

Namanya Mai, hanya itu yang aku ingat dari panggilannya. Aku tidak mengingat nama lengkapnya, mungkin Maisaroh, mungkin yang lain. Namun, ingatan tentang dia tidak bisa hilang.

Mai adalah gadis kecil periang yang lahir pada Juli. Aku tidak ingat tanggal persisnya, tapi aku mengingatnya karena menurutku sungguh aneh memiliki nama Mai tapi lahir di bulan Juli. Usia Mai sama denganku, hanya terpaut tiga bulan saja. Dia lahir di sebuah desa bernama Sukamandi di Ciasem, Subang. Ayahnya bekerja untuk kami, menjaga dan mengelola tambak udang serta ikan bandeng.

Sukamandi, desa yang biasa kutempuh sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari Jakarta pada akhir pekan. Desa yang air nya merupakan air payau: Sangat cocok untuk iklim tambak, tapi tidak untuk mandi. Mungkin itu alasannya mengapa nama desa tersebut adalah Sukamandi, karena tak ada rasa kesat selepas mandi, melainkan licin seperti dipenuhi sabun. Mengingat Mai dan desa Sukamandi membawa ingatanku jauh ke waktu-waktu kami kecil dulu.

Baca juga: Parasit di Inang Muda

Aku hanyalah anak kota yang hidup dan besar di kota Jakarta. Akhir pekan merupakan waktu yang aku tunggu-tunggu, waktu aku menjumpainya di sana. Rumah kami di Sukamandi bersebelahan. Setiap pagi-pagi buta, Mai membantu ayahnya mengangkat perangkap udang di tambak atau yang biasanya disebut bubu. Selepas itu, kami berjongkok di belakang rumah, memilah berbagai jenis udang berdasarkan ukuran. Ada udang windu, udang api, juga udang pancet. Terkadang ada macam-macam ikan juga yang turut serta, mulai dari ikan belanak, ikan kiper, ikan glodok, ikan mujair, kepiting, yuyu, bahkan kadang-kadang ikan kakap juga masuk dalam bubu yang dipasang dengan lentera di malam sebelumnya.

Setelah memilah-milah udang, kami biasanya menggowes sepeda kami ke pelelangan ikan sambil melihat ikan-ikan lain yang ditawarkan para petani tambak. Ikan-ikan yang nantinya akan dibawa ke Muara Karang yang nantinya akan temui dengan harga sepuluh kali lipat dari harga yang kami jual disini.

Sore hari, kadang kala aku akan mampir ke rumahnya untuk mengajaknya bermain. Mai akan menyambutku dengan senyum sembari menggembala kambingnya kembali kendang. Aku akan mengajaknya bermain karet, menonton televisi, atau bermain ke surau dekat rumah kami. Jika lelah, kami akan duduk di warung dan memesan es orson, sirup jeruk berwarna oranye dengan es batu besar di plastik es, dan jajanan ringan lainnya.

Baca juga: Aku Bohong pada Ibu

Mai adalah teman kecil favoritku, meskipun kami hanya bertemu pada saat akhir pekan saja. Dari Mai aku belajar menangkap kepiting. Dia menertawaiku ketika aku ketakutan karena dikejar rombongan soang, menemaniku mengambil buah takokak untuk disayur bersama daun singkong. Dia juga yang membantuku memompa air mandi yang berat sekali, mengumpulkan biji karet dan mengajariku bermain, serta terbahak-bahak ketika aku gagal menyalakan api di tungku  rumahnya.

Aku bahkan belum bercerita tentang perawakan Mai. Ia berbadan kecil dan tingginya hampir sama denganku. Rambutnya pendek sebahu dan berponi tipis di depan. Bibirnya tipis, namun senyum selalu merekah. Mungkin sebenarnya dia terheran-heran melihat anak kota sepertiku yang tidak bisa apa-apa.

Saat kami di bangku sekolah dasar, aku bertanya tentang bagaimana dia pergi ke sekolah. Suatu hari, kami bersepeda melewati dua desa: Sukatani dan Sukamaju. Dia bercerita dengan mata yang berbinar-binar setiap kali membicarakan sekolah. 

Suatu hari, aku mengajaknya berlibur ke kota bersama ibu. Mata kecilnya membuka lebar membelalak menatap mobil-mobil yang ramai berlalu lalang di depan rumahku. Aku mengajaknya berbelanja ke supermarket besar di dekat rumah. Aku sibuk memenuhi troli belanjaan kami dengan makanan-makanan ringan yang biasanya Mai tidak temui di desanya. Setelahnya, kami agak menyesal karena harus tergopoh-gopoh membawa barang belanjaan yang berat sekali. Namun, senyum tidak lepas dari wajah kami.

Baca juga: Gea dan Ranting Pohon Kemenyan

Lulus dari sekolah dasar, Mai memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah menengah terdekat berjarak minimal 30 menit dari rumahnya, yang ia tempuh dengan mengayuh sepedanya semakin jauh lagi, melewati tambak, sungai, dan hamparan sawah, dan jalan terjal yang berlubang tentunya. Menggowes sepeda kecilnya berpacu dengan truk-truk besar pembawa barang di sepanjang jalur Pantai Utara. Sementara itu, waktu berkunjung kesana semakin terbatas, tentunya karena sekolahku juga setiap hari disibukkan dengan tugas dan pekerjaan rumah, ditambah jalanan Jakarta yang macet. Aku merindukannya, tapi tugasku lebih menguras tenagaku dan semangatku menemuinya.

Berbulan-bulan lamanya aku tidak sempat menghampirinya, terlena dengan gemerlap mal, hiruk pikuk jalanan, lalu-lalang mobil, dan basa-basi percakapan. Hanya sesekali aku menerima kabarnya. 

Tahun berlalu, aku mendengar kabarnya hanya sekilas. Mai berhenti sekolah, dia tidak dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah pertama. Jaraknya yang terlalu jauh dan memakan waktu, serta tuntutan untuk membantu keluarganya memaksanya kembali ke rumah. Tak lama kemudian, kabar perkawinannya sampai ke telingaku. Musim panen sudah lewat, dan perkawinannya sudah terselenggara.

Keheranan muncul, bagaimana mungkin teman seusiaku sudah menikah, sedangkan aku masih menggunakan seragam putih-biru. Kudengar kabarnya ia menikah agar suaminya juga dapat membantu keluarganya bekerja.

Seketika aku ingin kembali ke sana, menemuinya, hanya untuk berharap semuanya itu tidak terjadi. Mai menyambutku di rumahnya, dengan senyum, dengan binar mata yang meredup. Tidak ada lagi ceritanya tentang sekolah atau tentang bermain bersama teman-temannya. Sore itu, dia menolak ajakanku bermain, aku kembali rumah dengan gundah, meninggalkan desa itu dengan muram. Sepanjang perjalanan, aku mengenang kisah-kisah lama saat masa panen, saat membakar ikan di dekat saung sambil mengumpulkan kayu bakar, atau saat mencoba madu dari pohon bakau.

Satu tahun setelahnya baru aku kembali, ketika mendengar kabar Mai melahirkan anak pertamanya. Cerita mengenai proses kelahirannya sangat menyakitkan hati, seperti hampir mati, katanya. Aku membayangkan tubuhnya yang kecil dikoyak-koyak.

Sesampainya disana, aku bergegas ke rumah Mai. Tirus wajahnya dan lelah tidak lagi dia bisa sembunyikan. Senyumnya semakin tipis, binar matanya tidak lagi nampak. Dia sedang menggendong dan mengayunkan bayinya, kain melilit di bahu kirinya. Sementara bayinya di gendongan masih menangis, belum ingin lelap.

Bagaimana tubuh semacam itu menanggung beban sebesar itu?

Aku berjalan pulang dan mengunci diriku di kamar. Suara tokek di malam hari tidak lagi membuatku kesal. Sepanjang malam aku terjaga menatap langit-langit kamar.  Cerita-ceritaku tentang sekolah tidak lagi menyenangkan. 

Cerita-ceritaku tentang gedung-gedung tinggi, mobil-mobil bagus, mal-mal yang gemerlap, terkubur bersama harapan Mai. Harapan yang hilang di antara senyum tipisnya yang memanggilku lembut, ketika aku berpamitan untuk kembali ke kotaku “Hati-hati di jalan, Fera”

Selamat tinggal, Mai-kecilku. 

Ingatan tentangmu abadi dalam ceritaku.

*cerita ini kupersembahkan untuk Mai dan untuk anak-anak perempuan lain yang direnggut masa sekolahnya karena perkawinan anak.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Ferena Debineva adalah founder dan chairperson SGRC (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies). Tulisannya kebanyakan adalah curhatan yang terlalu serius.