Women Lead
October 06, 2021

Masturbasi Perempuan: Bagaimana Orang Tua Menyikapi Ini?

Banyak orang tua panik dan langsung menghakimi begitu anaknya kedapatan bermasturbasi, apalagi bila anaknya itu perempuan.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Masturbasi_Masturbating_Self Pleasure_SarahArifin
Share:

Saya masih berusia 14 tahun ketika pertama kalinya melakukan masturbasi. Dengan edukasi seks yang minim, saya enggak mengerti kalau aktivitas itu yang biasanya disebut laki-laki sebagai onani. Pun jarang mendengar dari perspektif perempuan, saya kira masturbasi diperuntukkan dan hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

Awalnya saya pikir masturbasi berbahaya, ternyata ada manfaatnya bagi kesehatan fisik dan emosional. Tapi semua itu langsung saya kesampingkan, karena merasa tidak normal dan tidak ada remaja perempuan yang membicarakannya.

Tentu hal ini saya sembunyikan bertahun-tahun, layaknya sebuah aib. Namun, saya bernapas lega ketika sebuah artikel Seventeen mengungkapkan 18 perempuan remaja, menceritakan pengalamannya masturbasi. Hampir semuanya merasa malu dan bersalah, tidak dapat menceritakannya ke orang lain lantaran dianggap tabu, berasal dari keluarga religius, dan takut ketahuan orang tua.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya menyimpulkan banyak anak perempuan beranggapan, kepuasan seksual hanya didapatkan lewat hubungan seksual dengan seseorang. Kenyataannya, hubungan seksual belum tentu menjamin perempuan mendapatkan kepuasan. Bahkan, ada yang berpikir bahwa kepuasan perempuan itu tidak penting karena yang utama adalah bagaimana melayani dan memuaskan laki-laki. 

Dalam artikel TIME, Katherine Rowland, jurnalis dan penulis The Pleasure Gap: American Women and the Unfinished Sexual Revolution, mengungkapkan dari 120 perempuan heteroseksual di Amerika Serikat, kebanyakan cenderung mengabaikan kepuasannya sendiri dan menganggap pasangannya lebih perlu diprioritaskan. Ini mengurangi hak perempuan yang seharusnya diterima ketika berhubungan seksual.

Sebenarnya kepuasan seksual dapat diperoleh dengan mengeksplorasi tubuh sendiri, yakni lewat masturbasi, sehingga perempuan juga memahami tubuhnya serta apa yang dibutuhkan dan diinginkan, sebelum berhubungan dengan pasangan.

Baca Juga: 6 Tips dan Cara Masturbasi sehat untuk Perempuan

Sayangnya, anak perempuan yang membutuhkan edukasi terkait hal ini sering kali tidak mendapatkannya.

Pasalnya, orang tua menganggapnya tabu untuk dibicarakan, tidak mengerti cara menyampaikan ke anak, merasa sendirian karena di lingkungan pertemanannya tidak ada yang membicarakan, ragu untuk bertanya ke seksolog, dan keterbatasan informasi di mesin pencari akibat topik ini dianggap vulgar.

Selain itu, cara media menyajikan berita terkait masturbasi turut menyumbang alasan mengapa anak perempuan menganggap masturbasi adalah sebuah kesalahan, merasa dirinya kotor setelah melakukan, dan enggan menceritakan kepada orang tuanya.

Faktanya, media sering menciptakan mispersepsi dengan mengaitkan masturbasi sebagai aktivitas berbahaya. Pada anak, sejumlah media kerap membingkai berita dan mengaitkan masturbasi dikaitkan dengan kerentanan kecanduan aktivitas tersebut dan konsumsi konten pornografi. Tak pelak, banyak orang tua yang panik saat mendapati pertama kali anak mereka melakukan masturbasi. Kepanikan ini bisa memicu tindakan orang tua yang justru menciptakan salah persepsi soal masturbasi tersebut, membatasi pengetahuan anak, hingga menimbulkan perasaan bersalah anak yang sebenarnya tak perlu muncul.

Lantas, bagaimana seharusnya orang tua menyikapi anak perempuannya yang menginjak remaja saat ia kedapatan melakukan masturbasi atau ingin tahu soal itu?

  1. Validasi Kebutuhannya

Berdasarkan penelitian berjudul “Arch Sex Behave” (2002) oleh I. Larsson dan C.G. Svedin,  25 persen dewasa muda, baik laki-laki maupun perempuan mulai memikirkan tentang seks pada usia 11-12 tahun. Sementara dalam sebuah studi di AS yang dimuat di The Conversation disebutkan, 58 persen anak perempuan berusia 14-17 tahun telah melakukannya.

Artinya, wajar jika anak perempuan di usia remaja memiliki gairah seksual dan ingin memenuhi kebutuhannya. Dengan memvalidasinya, anak akan memahami hal ini sebagai suatu hal yang wajar. 

Namun, orang tua perlu menjelaskan bahwa hubungan seksual bukan satu-satunya cara seseorang menerima kepuasan seksual, dan melakukannya terlalu dini kemungkinan membuatnya menyesal memilih keputusan tersebut.

Lebih dari itu, anak perempuan sebaiknya memahami masturbasi adalah bentuk aktivitas seksual paling aman, karena tidak berisiko kehamilan atau penularan infeksi seksual, sehingga tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatannya.

Baca Juga: Pentingnya Membentuk Keluarga Berperspektif ‘Sex Positive’

  1. Tidak Menghakimi Anak

Alih-alih memarahi, orang tua yang mendapati anak perempuannya sedang masturbasi dapat menanyakan apa yang sedang dilakukan dengan sikap tenang.

Mengutip Parents, komunikasi yang dibangun harus berdasarkan sikap menghargai agar anak. Orang tua perlu mendengar perspektif anak saat melakukan masturbasi dengan empati: Memahami bahwa anak adalah manusia yang baru berkembang dan mengenal aktivitas seksual yang masih belum tahu banyak hal dan butuh pengarahan. Dalam menunjukkan empati ini, orang tua bisa menyampaikan pandangan dan pesannya dengan bahasa yang dimengerti anak dan juga melibatkan bahasa tubuh yang tidak membuat anak merasa dihakimi.

Selain mengetahui perspektif anak, obrolan tersebut akan membawa orang tua mengetahui kejujuran dan mengutamakan kenyamanan anaknya, apakah ia bersedia menyampaikan opininya terkait masturbasi dan apa yang dipahami.

3. Beri Pemahaman tentang Pandangan Masyarakat

Setiap keluarga punya nilai sendiri yang mempengaruhi pandangan mereka terkait masturbasi. Ini bisa bersumber dari keyakinan agama atau budaya.

Meski suatu keluarga mempunyai pandangan terbuka mengenai pengetahuan seputar seksualitas dan tidak langsung mengecap buruk hal-hal terkait seks, anak akan tetap mungkin berhadapan dengan pandangan berbeda atau penghakiman dari orang lain di luar keluarganya jika ketahuan melakukan hal itu. 

Misalnya, saat dia berbincang dengan temannya soal masturbasi--yang oleh keluarganya tak dinilai sebagai hal tabu--, ia bisa saja mendapat reaksi negatif, dipermalukan, atau disalahkan oleh temannya yang percaya masturbasi adalah hal terlarang apa pun alasannya. Atau ketika anak membaca di media online atau media sosial yang framing bahwa masturbasi itu sepenuhnya berbahaya. Ini bisa membelokkan persepsinya tentang masturbasi sehingga ia pun tumbuh tidak mengenal tentang eksplorasi tubuh sendiri dan kenikmatan seksual.

Karenanya, pembekalan tentang beragam perspektif soal masturbasi dan budaya di masyarakat penting agar anak siap menghadapi reaksi yang berbeda dari keluarganya. Mengetahui hal ini juga bisa membuat anak lebih kritis saat menerima informasi yang memuat miskonsepsi tentang masturbasi.

Baca Juga: Keputihan Itu Normal, Stop Pakai Produk Pembersih Vagina yang Tak Perlu

  1. Jelaskan Efek dari Masturbasi

Masturbasi memang memberi kepuasan dan kenikmatan tersendiri bagi seseorang. Aktivitas ini bisa menghasilkan hormon dopamin yang menyebabkan perasaan senang, dan endorfin yang mengurangi stres dan meningkatkan mood. Ini bisa menjadi hal yang turut disampaikan orang tua kepada anaknya untuk memahami lebih lanjut tentang efek masturbasi. 

Kendati ada sisi positifnya, orang tua tetap perlu mengingatkan anak bahwa hal tersebut tidak boleh sampai mengganggu aktivitas sehari-hari si anak. Tidak ada batasan intensitas yang pasti atau saklek untuk melakukannya. Namun, anak perlu diberitahu juga bahwa masturbasi bukan satu-satunya cara untuk melepaskan stres atau meningkatkan mood. 

  1. Buka Obrolan Lebih Jauh Soal Pendidikan Seks

Ketika orang tua mendapati anaknya melakuan masturbasi, ini bisa menjadi momen awal untuk memberikan pendidikan seks lebih lanjut. Memang semestinya hal ini sudah diajarkan sejak dini mulai dari mengenali anggota tubuh sendiri atau menjaga privasi dengan tidak membiarkan orang lain menyentuh organ tubuh tertentu tanpa seizin anak. Namun seiring perkembangan usia dan pemikiran anak, orang tua bisa menambah pengetahuan baru soal seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai kemampuan kognitif anak dan pengalaman anak tersebut. 

Misalnya, bicarakan soal kenapa saat menginjak remaja, mulai muncul dorongan seks pada anak; apa konsekuensi dari melakukan aktivitas seksual (baik sendiri maupun dengan orang lain nantinya); hal apa saja yang mesti dihindari dan lakukan untuk menjaga kesehatan reproduksi, dan lain sebagainya.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.