November 11, 2019
Susanti Rendra dan Misi Masyarakatkan Hubungan Seks yang Menyenangkan

Prihatin dengan ketidaktahuan seputar seks, pengusaha Susanti Renda kemudian berbisnis instrumen cinta alias sex toys.

by Hera Diani, Redaktur Pelaksana
Wo/Men We Love
Susu_LaciAsmara
Share:

Dedikasi dan komitmen pengusaha Susanti Rendra terhadap hak semua orang, terutama perempuan, atas seks yang baik dan menyenangkan sungguh luar biasa. Saking semangatnya, pemilik laciasmara.com itu tidak segan-segan bertanya urusan seks kepada orang yang baru saja dikenalnya.

“Lu masturbasi kagak?”

“Umur berape lu begituan pertama kali?”

“Lu kagak usah sembarangan sana sini, pake vibrator udeh.”

Ada yang jengah, ada yang pipinya bersemu merah, tapi tak jarang juga yang semangatnya ikut membuncah, karena perbincangan semacam ini masih saja dianggap tabu dan merusak moralitas.

“Menurut gue seks itu sangat menyenangkan. Tapi banyak sekali perempuan yang enggak kenal zona erotisnya sendiri,” ujar Susanti, 39, yang akrab dipanggil Susu itu.

“Banyak sekali yang curhat ke gue bahwa mereka kagak bisa orgasme padahal udeh bertahun-tahun kawin,” tambahnya, selalu dengan logat Betawi yang kental. Susu memang akamsi (anak kampung sini) Tebet, walaupun orang tuanya asal Jawa.

Keprihatinan ini salah satu faktor utama Susu mendirikan bisnis toko daring “instrumen cinta” yang menyediakan aneka alat “untuk membuat kehidupan seks lebih berwarna.”

“Paling gak, lu jadi bisa mengenal tubuh lu sendiri dengan instrumen ini,” ujarnya.

Baca juga: Masturbasi, Kenikmatan yang Dicaci

Boleh dibilang, Laci Asmara ini satu-satunya distributor sex toys yang legit, kalau kata anak sekarang, dengan dokumen importir dan distributor yang lengkap dan sahih serta barang-barang berkualitas.

Namun perjalanan untuk menjadi distributor ini cukup berliku dan membentur banyak birokrasi, sampai Susu sempat ingin menyerah di tengah jalan.

Perjalanan bermula pada 2012, saat ia baru pulang dari Dubai setelah beberapa tahun bekerja di agensi periklanan di sana. Susu enggan kembali bekerja kantoran dan ingin berbisnis sesuatu yang ia sukai dan membahagiakannya. Terpikirlah untuk usaha menjual instrumen cinta tadi. Saat itu ia memang sudah mengoleksi sejumlah vibrator.

Mulailah Susu melakukan survei pasar dan ia tambah prihatin dengan kualitas barang yang seharusnya sangat dijaga keamanannya karena berhubungan dengan alat vital.

“Di website-website barang yang dijual sama semua. Terus belinya mesti hush hush kayak beli narkoba,” ujarnya.

“Di daerah Kota ada di gerobak-gerobak. Waduh itu kalau kepanasan gimane, bisa memuai dan sebagainya. Barangnya juga gak jelas kualitasnya.”

Copyright @nuramua, Make Up Artist acara Ngossek.

Selama setahun, Susu secara serius mempelajari cara-cara importasi serta legislasi terkait. Ia berdiskusi dengan pengacara, penyelidik pribadi, sampai pensiunan bea cukai. Yang terakhir mengatakan bahwa selama 25 tahun ia bekerja di bea cukai, belum pernah menghadapi pengalaman (importir vibrator).

“Tapi setelah gue telusuri, enggak ada peraturan yang secara spesifik melarang vibrator,” ujar Susu.

Ia kemudian berkeliling lembaga-lembaga pemerintahan terkait, dengan membawa beberapa instrumen cinta. Yang ia temukan, tidak ada aturan yang jelas mengenai produk ini, dan ketidakjelasan legislasi ini membuat Susu dilempar ke kantor-kantor yang berbeda.

“Gue sempat dibilang, ‘Ibu ini mau berbisnis ini, memang gak punya Tuhan?’. Gue jawab, ‘Pak, apakah kantor ini lembaga agama?’. Bapak itu diam, lalu ngasih setumpuk dokumen cara importasi,” ujar Susu, yang bersuamikan pria asal Italia.

Semua dokumen yang diterimanya kemudian ia pelajari dengan saksama. Susu kemudian membuat badan usaha dan memasukkan permintaan surat izin impor serta semua dokumen yang diperlukan. Akhirnya izin itu ia dapatkan dan Susu pun mulai mengimpor barang dari produsen di Swedia, karena barang-barangnya “entry level, harganya cukup terjangkau, dan bentuknya lucu, tidak vulgar dan tidak intimidating.”

Tapi muncullah masalah baru: barang-barangnya ditahan karena banyaknya kerancuan dan kebingungan. Susu dituduh melanggar Undang-Undang Pornografi sampai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ia bersikukuh dan berargumentasi dengan dokumen-dokumen yang sudah ia kantongi. Ia meminta penjelasan, pasal mana yang ia langgar. Sampai empat bulan kemudian, ia mendapatkan surat jawaban resmi untuk proses pengeluaran barang.

“Memang harus banyak sabar, tapi gue gak pernah mau melanggar aturan, termasuk ngasih duit yang bukan-bukan. Prinsip gue, perusahaan mesti lakukan yang benar dari awal. Kalau dari awal ada yang salah atau dilanggar, ke sana-nya repot,” kata Susu.

Ia pun tidak segan berargumen dengan petugas pemerintahan, yang sempat mempertanyakan fungsi dari instrumen cinta tersebut.

“Gue bilang saja, kalau mau mempersalahkan fungsi, berarti gak bisa impor ketimun, wortel, atau jari lo juga mesti dihukum!” ujarnya sambil terkekeh.

Baca juga: Laci Asmara: Tak Perlu Risi Masturbasi

Bukan urusan moral

Pada 2014, laman Laci Asmara diluncurkan dan usahanya berjalan baik sejak itu. Respons dari konsumen sangat positif, ujar Susu, dan banyak sekali yang bertanya macam-macam seputar seks.

“Gue terharu, katanya ada yang terbantu dengan masalah ejakulasi dini. Lalu para cowok juga mengatakan, ‘Makasih, gak capek lagi.’ Rupanya karena budaya kita perempuan mesti pasif di tempat tidur, semua beban jadi ke laki-laki,” ujarnya.

Demografi pembeli telah bergeser, kata Susu, dari 75 persen laki-laki (sebagian membeli untuk pasangan perempuan) menjadi 60 persen perempuan. Pasarnya pun meluas, tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh Indonesia.

Susu mengatakan ia masih terkaget-kaget dan prihatin dengan pertanyaan-pertanyaan dan curhat para konsumen dan calon konsumen.

“Ada yang takut vaginanya kuat banget setelah pake bola Kegel, takut jari pasangan bisa patah. Gue sampai gak bisa tidur dengan pertanyaan-pertanyaan ini dan akhirnya tanya-tanya ke dokter juga,” ujarnya.

Ketidaktahuan dan kurangnya pendidikan seks yang komprehensif kemudian mendorong Susu dan Magdalene, dengan dukungan mitra-mitra lain, untuk memproduksi serial video YouTube Ngossek (Ngobrol Seputar Seks). Dengan Susu dan Ida Swasti dari Nipplets sebagai pembawa acara, video-video ini membahas ketabuan seputar seks bersama narasumber yang ahli, dan responsnya sungguh positif.

Sex is a smelly, sweaty kind of activity but sangat menarik dan menyenangkan. Vibrator itu kayak side dish dari steak. Menu utamanya tetap steak, tapi kita gak bisa makan daging doang dong,” ujarnya.

“Tapi tetap, tidak ada yang bisa menggantikan kehangatan, emosi, dan komunikasi saat berhubungan seks dengan pasangan,” kata Susu yang sudah menikah selama 14 tahun.

Berikutnya, Susu ingin produk-produknya masuk ke apotek dan toko farmasi dengan aturan yang jelas.

“Barang harusnya diregulasi, biar jelas alurnya. Ketauan kalo diregulasi,” ujarnya.

“Ini gak ade urusan sama moral, tapi privasi dan rekreasi pribadi.”

Ilustrasi dari Laci Asmara.

Hera Diani, seperti banyak orang Indonesia lainnya, memiliki dua nama dan ia senang karena perempuan Indonesia tidak perlu menggunakan nama belakang ayah dan suami mereka. Ia pecinta budaya populer, namun kritis terhadap aspek-aspek buruk budaya tersebut, seperti konten-konten yang mengandung pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, serta The Kardashians.