January 27, 2023
Magde PCR

Mengenal ‘Sologamy’, Keputusan Menikah dengan Diri Sendiri

Jika umumnya menikah dilakukan berpasangan, sologamy justru menikahi diri sendiri, sebagai bentuk ‘self love’.

Aurelia Gracia
  • August 4, 2022
  • 8 min read
  • 208 Views
Mengenal ‘Sologamy’, Keputusan Menikah dengan Diri Sendiri

Entah sejak kapan, episode sembilan musim keenam Sex and the City (1998-2004) sangat membekas di memori saya. Mungkin kalimat yang diutarakan Carrie Bradshaw (Sarah Jessica Parker), terkait keinginan melajang cukup empowering. Ia seperti menyadarkan, kalau perempuan berhak untuk memilih dan pilihannya pantas dihargai.

“Aku udah menghabiskan lebih dari US$2300 untuk merayakan pilihan Kyra. Mulai dari kado pertunangan, pernikahan, pergi ke Maine untuk acara pernikahannya, dan tiga kado buat anak-anaknya. Terus dia mempermalukanku gara-gara menghabiskan US$485 untuk diriku sendiri?” gerutu Carrie, yang baru kehilangan sepasang sepatu Manolo Blahnik di rumah temannya.

“Itu semua, kan kado,” kata Charlotte York (Kristin Davis). “Kalau kamu menikah atau punya anak, pasti dia menghabiskan sejumlah uang buatmu.”

Terus kalau aku enggak menikah atau punya anak, gimana? Aku layak dipermalukan?” tanya Carrie. “Coba pikir deh. Kalau kamu single, setelah lulus kuliah, enggak ada satu pun momen di mana orang lain merayakanmu.”

Pernyataan Carrie ada benarnya. Sebagian besar momen dalam hidup memang cenderung dirayakan dengan kehadiran orang lain. Misalnya menikah dan punya anak. Namun, perayaan itu enggak pernah benar-benar terfokus pada diri sendiri, terutama kalau hidup melajang. Anggapannya, apa yang perlu dirayakan? Toh enggak ada pilihan besar yang diambil.

Namun, anggapan itu dibantah oleh Kshama Bindu, 24, perempuan India. Ia memutuskan sologamy—menikahi dirinya sendiri, untuk mendedikasikan dirinya pada self-love.

Melansir BBC, Bindu menyatakan, keputusannya itu merupakan komitmen. Agar selalu hadir untuk dirinya, dan membantunya berkembang menjadi sosok yang paling hidup, cantik, dan bahagia.

“Buatku, pernikahan itu bentuk penerimaan diri secara utuh. Jadi, ini caraku menerima diri apa adanya, terutama kelemahan fisik, mental, dan emosional,” ucapnya.

Bindu melangsungkan pernikahannya pada Juni lalu, di sebuah kuil di Vadodara, India.  Seperti pernikahan pada umumnya, ia melakukan ritual sebelum hari bahagianya. Contohnya mengoleskan tubuh dengan campuran minyak dan kunyit, serta menyelenggarakan sangeet—musik dan tarian sebagai rangkaian pembuka dari perayaan pernikahan.

Lalu di hari pernikahannya, Bindu mengenakan baju pengantin berwarna merah, lengkap dengan hena di tangan dan vermilion powder di belahan rambut. Pun ia memutari api yang dianggap suci sebanyak tujuh kali, sebagai bagian dari adat. Kemudian pergi ke Goa, India selama dua minggu untuk bulan madu.

Lagi-lagi, pilihan Bindu mengingatkan saya pada karakter Carrie. Di akhir episode tersebut, ia menyatakan dirinya sologamy kepada temannya, lewat sambungan telepon.

“Aku ingin kamu tahu, aku akan menikahi diriku sendiri. Aku terdaftar di Manolo Blahnik,” tuturnya.

Baca Juga: Lajang, Lajang, Lajang, Tenggelam

Apa itu Sologamy

Meskipun menikahi diri sendiri belum begitu familier di masyarakat, Bindu bukan perempuan pertama yang melakukan keputusan tersebut. Pada 1993, ada Linda Baker, seorang dental hygienist di Los Angeles, Amerika Serikat.

Pernikahan tersebut berlangsung di hari ulang tahun Baker ke-40. Di hadapan keluarga, tujuh orang bridesmaids, dan 75 orang teman-temannya, janji suci itu diucapkan kepada dirinya sendiri.

“Linda, apakah kamu berjanji untuk bersikap baik pada diri sendiri, menghormati diri sendiri dalam keadaan sakit dan sehat, sampai kamu wafat?” tanya aktor Ron Cummins, yang meresmikan pernikahan Baker.

“Ya, aku berjanji,” jawabnya.

Setelah Baker, sederet perempuan lainnya mengambil pilihan yang sama. Ada Sophie Tanner, sologamist asal Inggris. Sama seperti Bindu, ia menikahi dirinya sendiri dengan alasan self-love yang enggak kalah penting dengan percintaan dalam hubungan asmara.

Namun, apakah untuk mewujudkan self-loveseseorang perlu menikahi dirinya sendiri?

Dalam Diana and beyond: White femininity, national identity, and contemporary media culture (2014), penulis Raka Shome mengatakan, isu kesehatan mental cenderung direpresentasikan oleh perempuan kulit putih dari kelas menengah dan menengah atas.

Hal itu menandakan formasi baru dalam feminitas kulit putih. Karenanya, mayoritas self-marriage dilakukan oleh perempuan kulit putih. Mereka cenderung memperhatikan kebahagiaan, kesehatan, pemenuhan diri, dan kesadaran untuk merealisasikan potensi yang dimiliki. Bahkan, Bindu adalah perempuan India pertama yang memilih sologamy.

Pilihan itu dipandang sebagai upaya mengembangkan keberhargaan diri, sebagai cara melawan rasa tidak aman. Pertanyaannya selanjutnya, apakah sologamy dilegalkan di mata hukum dan agama?

Baca Juga: Apa itu Poliamori: Saat Kamu Mencintai Lebih dari Satu

Meskipun ada upacara yang dilakukan oleh para sologamist, pernikahan ini tidak diakui secara legal. Krishnakant Vakharia, pengacara senior di Pengadilan Tinggi, mengatakan kepada One India. “Sologamy tidak legal,” ujarnya, menanggapi pernikahan yang dilakukan Bindu.

Alasannya, undang-undang dalam agama Hindu menggunakan terminologi “salah satu dari pasangan”, yang artinya harus ada dua orang dalam hubungan, untuk meresmikan pernikahan.

“Sologamy tidak akan pernah lolos dari pengawasan hukum,” imbuh Vakharia.

Adapun upacara yang dilakukan hanya berupa perayaan, yang umumnya dilakukan dalam pernikahan tradisional. Misalnya cincin, kue pernikahan, gaun, dan seseorang yang mengesahkan pernikahan. Pun tidak ada keharusan untuk merayakannya dengan pesta bersama kerabat, sologamist memiliki pilihan untuk melakukannya secara privat.

Walaupun demikian, angka self-marriage menikah terus meningkat. Terutama selama pandemi. Salah satu penyebabnya adalah sejumlah orang yang menyadari, mereka ingin merasa bahagia. Ditambah tidak ingin kesepian atau merasa sendiri, hanya karena tidak sedang berada dalam hubungan romantis.

Dilansir Insider, pandemi membuat sebagian orang lelah dengan kencan yang dilakukan melalui Zoom. Sementara ada banyak waktu luang yang digunakan untuk lebih mengapresiasi dan meningkatkan belas kasih pada diri sendiri.

Karena itu, pemahaman tentang self-love semakin terbentuk hingga memutuskan untuk menikahi diri sendiri. Tapi, bukan berarti seseorang yang terlibat dalam pernikahan tersebut dilarang membangun relasi romantis dengan orang lain.

Contohnya Cris Galera, model asal Brazil yang usia self-marriage-nya hanya bertahan tiga bulan. Pada Desember 2021, ia memutuskan bercerai dengan dirinya sendiri setelah bertemu sosok spesial. Galera mengatakan, sosok tersebut membuatnya percaya akan cinta.

“Saya bahagia selama pernikahan tersebut,” tuturnya, dikutip dari News24.

Realitasnya, sologamy memang merayakan kelajangan. Dalam tulisannya di Huffington Post, Tanner mengatakan, membahagiakan diri sendiri adalah kemampuan penting yang perlu dipelajari. Namun, mencintai—bahkan menikah dengan orang lain, tetap sah untuk dilakukan.

“Setelah merasa aman dan puas, berarti kamu mengetahui apa yang pantas didapatkan. Kamu juga lebih siap menjalin hubungan yang lebih baik dan memuaskan,” tulisnya. “Kamu hanya bisa mencintai orang lain, setelah kamu tahu cara mencintai diri sendiri.”

Berlawanan dengan Galera, Tanner berpendapat, tidak ada kata cerai ketika seseorang menikah dengan diri sendiri. Menurutnya, mengakhiri hubungan artinya sama saja dengan mengakhiri hidup. “Artinya, kamu udah enggak bisa hidup dengan dirimu lagi,” tegasnya.

Baca Juga: Mereka Pilih Menjomblo 25 Tahun, Kenapa?

Apakah Sologamy Cuma untuk Perempuan?

Setiap orang memiliki alasan masing-masing untuk melakukan sologamy. Ada yang ingin hidup bahagia dengan nilai-nilai yang diyakini, hingga menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bermakna.

Namun, ada juga yang trauma dengan pengalamannya menjalin relasi romantis bersama orang lain, atau melawan stigma yang biasanya melekat dalam diri seorang lajang.

Menurut peneliti Janeen Baxter dari University of Queensland, Australia, menyatakan kepada publik tentang status pernikahan ataupun berpasangan diri sendiri, merupakan cara untuk mendobrak stereotip gender tradisional.

Pasalnya, hingga saat ini masyarakat belum mampu melihat perempuan sebagai individu seutuhnya. Tanpa dikaitkan dengan relasi romantis mereka, atau statusnya dalam keluarga.

“Menentang relasi sebagai ciri identitas itu jadi bentuk menolak peran gender tradisional,” ujar Baxter kepada ABC Australia.

Walaupun bukan menikahi dirinya sendiri, dalam wawancaranya bersama British Vogue, aktor Emma Watson menggunakan istilah ‘self-partnered’. Kemudian, model Victoria’s Secret, Adriana Lima, juga merayakan self-partnering sebagai bentuk komitmen terhadap dirinya sendiri. Lewat istilah tersebut, mereka ingin menunjukkan kemerdekaannya sebagai perempuan.

“Ini sebuah simbol. Saya berkomitmen untuk diri sendiri dan kebahagiaan saya sendiri. Saya menikah dengan diri saya,” tulisnya dalam sebuah unggahan di Instagramnya.

Kendati demikian, bukan berarti sologamy dikhususkan untuk perempuan. Buktinya, pada 1996, pebasket NBA Dennis Rodman menikahi dirinya sendiri. Ia mengenakan gaun dan cadar. Atau Ru—yang tidak menyebutkan nama belakangnya. Ia memandang sologamy sebagai gaya hidup, dan menikahi dirinya sendiri sebagai upaya untuk bersikap baik pada diri sendiri.

Dalam wawancara bersama I Married Me, Ru menyatakan laki-laki yang memilih self-marriage cenderung lebih sedikit. “Mereka sulit mengakui kekurangan atau kelemahannya. Laki-laki enggak terbuka seperti perempuan ketika menunjukkan keraguannya,” katanya.

Sebab, memutuskan untuk sologamy berarti menunjukkan, bahwa kita menghargai diri sendiri. Sekaligus mengakui hal tersebut tidak dilakukan sebelumnya.

Pun Baker, sosok pertama yang memutuskan sologamy, mengaku pernikahannya bukan bermaksud sebagai tindakan feminisme. Ia memandangnya sebagai pilihan, untuk melakukan sesuatu demi dirinya sendiri, tanpa menunggu orang lain untuk direalisasikan.

Keputusan ini juga bukan langkah mengkritisi pernikahan, atau pasangan yang hidupnya bahagia. Sologamy merupakan perubahan cara berpikir terkait pilihan gaya hidup. Sebab, setiap orang punya pilihan untuk mencapai kebahagiaan. Jadi, mencintai dan selalu memilih diri sendiri hanyalah salah satu caranya.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 


Editor:  Aurelia Gracia
Aurelia Gracia
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.