Women Lead
July 05, 2021

Narasi Gender dan Seksualitas dalam Drama “Boys Love” Thailand

Munculnya beragam serial boys love memudarkan sekat identitas gender dan seksualitas. Pun, memberi pandangan alternatif terhadap LGBT+ kepada masyarakat heteronormatif.

by M. Scessardi Kemalsyah
Culture
Share:

Beberapa waktu lalu, salah satu aplikasi belajar terbesar Indonesia mengundang satu artis Thailand, Bright Vachiraweet, untuk hadir di acaranya. Hal ini cukup mengejutkan mengingat artis bernama asli Vachiraweet Chivaaree ini terkenal bukan karena membintangi film-film bergenre konvensional, melainkan pemeran utama dari serial TV asal Thailand berjudul 2gether yang bergenre boys love (BL). Bagaimana tidak mengejutkan? Pemeran utama serial TV yang membawa cerita terkait hubungan LGBT+ ternyata bisa mendapat popularitas di Indonesia, yang bahkan perkara pernikahan sesama jenis di negara lain bisa jadi bahan perundungan.

BL sendiri merupakan sebuah genre dari Jepang yang berkisar pada cerita-cerita romantis dalam hubungan antara dua pria dan merupakan sebuah fenomena transnasional dalam budaya queer. Biasanya, genre BL a la Asia Timur memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari film-film maupun serial bertemakan LGBT+ lainnya. Contohnya, penggambaran tokoh utama dengan soft masculinity dan hubungan homoerotik, penggambaran perkembangan hubungan antara tokoh secara “spiritual”, dan penggambaran peran seme-uke (top-bottom) yang masih menekankan maskulinitas dan femininitas tokoh..

Penggambaran semacam ini berbeda dengan produk-produk BL di Thailand. Industri film/serial TV Thailand berupaya mengaburkan batas-batas antara hubungan heteronormatif dan queerness melalui kehadiran serial-serial BL. Penggambaran dan pembangunan cerita BL di Thailand dilakukan dengan tidak berfokus pada narasi-narasi homoerotis dan homososial dan mengabaikan peran seme-uke yang mengontraskan peran gender secara kaku. 

Baca juga: 5 Serial ‘Boys Love’ yang Bikin Pipi Merona dan Mata Basah

Hasilnya adalah cerita-cerita yang lebih menunjukkan proses-proses pembentukan dan pembangunan karakter. Penekanannya ada pada hubungan antara dua tokoh laki-laki yang tampak cis-gender, dan tetap menginklusi adanya hubungan heteronormatif, walaupun tidak menjadi fokus utamanya agar lebih bisa diterima masyarakat

Pembentukan cerita semacam ini terkait dengan proses glokalisasi, di mana suatu aspek global dilokalkan dengan memerhatikan kultur yang ada. Melalui proses ini, penggambaran cerita hubungan non-heteronormatif menjadi lebih diterima untuk didiskusikan alih-alih ditolak mentah-mentah. Contohnya adalah dua judul BL yang cukup terkenal yaitu The Love of Siam (2007) dan Lovesick (2014). 

The Love of Siam berhasil diterima, dengan menunjukkan pembangunan hubungan romantis antara dua siswa cis-gender, dibarengi dengan keberadaan nilai-nilai keluarga yang lekat dengan budaya Thailand. Sementara, Lovesick juga berhasil dengan memindahkan fokus dari hubungan heteronormatif ke pembentukan hubungan romantis antara dua tokoh utamanya untuk menunjukkan fluiditas mereka. 

Hal yang muncul adalah semakin memudarnya sekat-sekat identitas gender dan seksualitas yang bisa memberi gambaran baru bagi masyarakat awam mengenai LGBT+ dan melawan industri serial Thailand yang cenderung heteronormatif.

Selain dua judul ini, ada juga SOTUS (2016), 2gether: The Series (2020), A Tale of Thousand Stars (2021), dan judul-judul lainnya yang sama-sama menggambarkan hubungan antara dua laki-laki yang tampaknya cis-gender tanpa menyebutkan peran gendernya. Penggambaran ini seolah-olah melawan stereotip di Thailand yang biasanya lebih menerima penggambaran tokoh feminin. 

Baca juga: ‘Gaya Sa Pelikula’: Potret Kaya Kehidupan Gay dan Peliknya Persoalan Melela

Selain itu, tidak ditemukan perkataan yang mengidentifikasi identitas secara spesifik tetapi lebih kalimat-kalimat umum yang menunjukkan adanya perasaan emosional-romantis terhadap orang lain terlepas dari gendernya.

Meskipun demikian, fenomena kehadiran drama bergenre BL memiliki dampak negatifnya tersendiri. Hal ini terkait erat dengan penggambaran tokoh-tokoh cis-gender secara masif dan komersil, yang kemudian melestarikan diskriminasi dalam kelompok LGBT+ itu sendiri. 

Dalam komunitas LGBT+, masih ditemui diskriminasi khususnya terkait body image dan ekspresi gender seseorang di mana masih ada standar tertentu untuk menjadi bagian dari komunitas LGBT+. Contohnya, memiliki tubuh ideal, perawakan yang manly, dan semacamnya. Hal ini ironis mengingat gerakan terkait LGBT+ sering kali menuntut penerimaan dan inklusivitas. Tampaknya perlu pemanfaatan drama BL untuk memperbaiki kondisi ini.

Baca juga: ‘Diary of Tootsies’: Lawan Stigma terhadap HIV Lewat Drama Komedi

Drama I Told Sunset About You (2020) dan I Promised You the Moon (2021) menjadi contoh perkembangan genre BL yang lebih inklusif. Drama yang dibintangi oleh “Billkin” Putthipong Assaratanakul sebagai Teh dan “PP” Krit Amnuaydechkorn sebagai Oh-Aew bisa dibilang menjadi standar emas dari film maupun drama bergenre BL, khususnya di Thailand. 

Selain teknis sinematografi dan alur cerita yang penuh simbolisme, drama ini tampaknya lebih inklusif dibandingkan drama-drama BL lainnya. Drama ini berhasil menunjukkan queerness-nya dengan menunjukkan identitas Oh-Aew yang tidak dijelaskan mendetail identitas gender dan seksualnya/non-biner. Selain itu, drama ini juga berhasil menggambarkan pergolakan-pergolakan batin Teh terhadap orientasi seksualnya terkait dengan nilai-nilai sosial yang ada serta penerimaan dirinya untuk memberikan pengalaman yang lebih emosional, sekaligus menunjukkan pergeseran fokus yang sama dari hubungan heteronormatif bagi penonton untuk bisa lebih memahami hubungan yang non-heteronormatif.

M. Scessardi Kemalsyah adalah mahasiswa Hubungan Internasional di UGM. Ia bisa dihubungi lewat surel [email protected]