Women Lead
June 17, 2021

Tubuhku Bukan Milikku: Perkara Ruwet Dipaksa Berjilbab

Karena beberapa kali menghadapi orang yang menyuruh berjilbab, saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan saya tak pernah bisa diterima seutuhnya.

by Wirantika Huttami Putri
Issues // Politics and Society
Hijab Women 50 Thumbnail, Magdalene
Share:

Saya sadar bahwa tubuh ini bukan milik saya seutuhnya sejak duduk di bangku kelas 6 SD, sekitar sebelas tahun silam. Saat itu, saya dengan sadar memilih pakaian serba maskulin dengan celana, kaos, dan rambut terikat.

Alasannya karena saya nyaman dengan penampilan tersebut. Mulanya tak ada komentar aneh, sampai kemudian Bapak dengan tegas melarang saya berdandan seperti itu. Di mata Bapak, anak perempuan sebaiknya memakai rok ke mana-mana. Kata-kata Bapak selalu terngiang di telinga saya, ”Bapak punya sepasang anak, satu lelaki, satu perempuan, bukan laki-laki semua.” Masa-masa saya dipaksa memakai rok ini pun terasa berat lantaran saya tak pernah suka bergaya feminin. Bukan saya banget pokoknya.

Namun, saya cuma bisa pasrah. Bahkan, demi menyenangkan orang tua, saya memutuskan untuk memakai jilbab walau kadang dilepas sesekali. Sesuai dugaan, ibu saya senang bukan kepalang karena melihat anak perempuannya tampak patuh pada perintah agama. Meskipun saya sendiri masih tak habis pikir, kenapa orang selalu mengaitkan kualitas keimanan seseorang dari apa yang mereka kenakan. Padahal, berjilbab sebagai identitas fisik dan jilbab sebagai kewajiban penutup aurat adalah dua hal yang bisa jadi sangat berbeda. Identitas fisik bisa mengendur tergantung konteks tempat dan waktu, ini berbeda dengan identitas agama. Ujung-ujungnya, Ibu harus menelan pil pahit karena saya kembali pada jati diri saya sebagai perempuan yang berdandan santai, tidak menutupi rambut saya dengan jilbab.

Baca juga: Jilbab Bukan Kewajiban, Tapi Saya Tetap Memakainya

Dipaksa Berjilbab

Memasuki dunia perkuliahan, saya mulai berani mengekspresikan diri sendiri. Saya mengecat rambut, memiliki beberapa piercing, namun tetap konsisten untuk berpakaian sesuai dengan apa yang saya inginkan. Karena gaya saya yang demikian, saya selalu mendapati pertanyaan soal ekspresi gender saya. Akan tetapi, saya tak pernah ambil pusing.

Saya percaya, setiap orang bebas memilih untuk berekspresi perihal penampilannya, tanpa perlu dilekati berbagai macam stigma. Namun, kepercayaan saya ini sedikit goyah karena berpacaran dengan salah satu orang yang mengharuskan saya untuk memakai jilbab ke mana-mana. Ia tak ragu memarahi saya habis-habisan jika saya ketahuan melepas jilbab saat pergi kuliah di kampus. Kenaifan saya saat itu membuat saya cuma bisa diam diatur-atur olehnya. Namun, lama-lama saya tak tahan juga dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut.

Syukurlah, saya bertemu lagi dengan kekasih baru yang menerima saya tanpa menuntut harus berpenampilan seperti apa. Pada awalnya, ia sedikit kaget dengan penampilan saya yang mirip bunglon, sering berubah sesuai keinginan hati. Namun perlahan, saya mencoba memberi pengertian, dan ia pun menerimanya dengan lapang.

Lantas, apakah semua lancar begitu saja? Oh tentu saja tidak, saudara-saudara. Faktanya, saya kurang mendapatkan respons positif dari ibu pacar saya karena kepala saya tak ditutupi jilbab. Ah, lagi-lagi soal penampilan. Karena sering diatur begini, saya sempat menyalahkan diri sendiri yang rasanya tidak pernah bisa memenuhi harapan dari orang-orang yang saya temui.

Baca juga: Stop Nilai Diri dan Perempuan Lain dari Penampilan Fisik

Saya pun marah pada diri sendiri, kenapa semua orang yang saya kenal mempermasalahkan penampilan saya, tubuh saya? Kenapa penampilan dijadikan ukuran moral dan religiositas seseorang? Kenapa begitu sulit rasanya diterima sebagai diri sendiri? Beruntung, masa-masa penuh pergulatan dan menyalahkan diri sendiri ini tak berlangsung lama. Saya sudah bisa berdamai dengan semua kerisauan itu.

Saya juga memahami satu hal: Kita tak bisa mengatur pendapat orang lain soal kita. Jika orang tua saya, mantan kekasih, atau ibu kekasih saya mau melihat saya berjilbab, itu karena mereka punya nilai sendiri di hidupnya. Yang keliru adalah ketika nilai itu dipaksakan menjadi nilai yang harus diamini oleh orang lain. Mestinya jika nilai yang saya yakini berbeda dengan orang kebanyakan, itu tak harus jadi soal. Meskipun faktanya, tak semua orang punya kesadaran yang sama soal pengakuan atas nilai masing-masing ini.

Baca juga: Atas Nama Kemuakan pada Patriarki, Maka Kulepas Jilbabku

Akhirnya, pada hari-hari yang melelahkan, saya masih sering mempertanyakan perihal apakah setiap orang bisa diterima seutuhnya menjadi diri yang ia inginkan? Seperti yang pernah teman saya bicarakan, “We evolved, dear. People evolved,” dan saya percaya itu.

Lantas, dengan segala bentuk perubahan yang terjadi, apakah kita bisa diterima seutuhnya? Entahlah. Namun, yang saya yakini dan juga membantu saya untuk terus berjalan sampai hari ini adalah saya harus menjadi orang pertama yang menerima segala bentuk perubahan yang ada dalam diri saya. Saya juga percaya, selalu ada banyak orang di luar sana yang mau sama-sama belajar dan menerima saya tanpa memandang dari penampilan saja.