Women Lead
November 20, 2021

Pacaran Beda Usia Jauh: Normal tapi Kok Dibayangi Stigma?

Kronofilia atau tertarik pada orang yang terpaut usia jauh sah-sah saja. Sayangnya di Indonesia, tak semudah itu.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Lagu lawas Taylor Swift All Too Well yang rilis ulang pekan lalu, konon mengurai kisah percintaannya dengan sang mantan, Jake Gyllenhaal. Saat mereka pacaran pada 2010, usia Swift baru 20 tahun, sedangkan Gyllenhaal 29 tahun. Tak ada masalah berarti dalam relasi romantis mereka pada mulanya. Swift dikenalkan pada keluarga dan sirkel pertemanan Gyllenhaal, menyanyi bersama di mobil yang mereka kendarai, lalu menari sambil berpelukan. Singkatnya, penyanyi AS itu bahagia. Ia jatuh cinta.

Pertanyaannya, kenapa usia hubungan mereka cuma bertahan tiga bulan? Swift merasa Gyllenhaal malu dan menyembunyikan dirinya. Gyllenhaal menghindari kontak fisik dan ogah menatap mata Swift seperti biasanya di tempat umum. Dari All Too Well, kita juga tahu, Gyllenhaal mencampakkan Swift dengan dalih perbedaan usia. “Andai usia kita tak terpaut jauh, hubungan ini akan baik-baik saja,” kata Swift menirukan ucapan mantan dalam video versi 10 menitnya tersebut.

Tentu saja cuma mereka yang tahu alasan kandasnya hubungan itu, meski dari lagu ini, kita dapat plot twist, alasan beda usia bisa jadi cuma akal-akalan Gyllenhaal. Toh, hari ini kita melihat aktor berusia 40 tahun itu memacari perempuan yang lebih muda 15 tahun darinya, model Jeanne Cadieu.

Jadi, benarkah pacaran atau bahkan menikah dengan mereka yang berusia lebih tua atau lebih muda menyumbang faktor ambyarnya hubungan di tengah jalan?

Baca juga: Sudah Tidak Ada Cinta dalam Hubungan, Perlukah Dilanjutkan?

Kecenderungan itu Bernama Kronofilia

Psikolog Selandia Baru John Money menjelaskan, kronofilia adalah preferensi hubungan cinta atau hasrat seksual yang berjarak usia. Maksudnya, individu hanya akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan jika berhubungan dengan mereka yang berbeda usia, entah lebih tua atau muda.

Terkait perbedaan usia ini, dalam makalah bertajuk The Puzzle of Male Chronophilias (2016) karya Associate Professor bidang Psikiatri, Universitas Toronto, Michael Seto disebutkan, usia pasangan memang jadi salah satu faktor penentu saat memilih pasangan. Usia ini tak dibatasi sebagai usia kronologis alias usia sebenarnya. Namun, usia yang mengacu pada kematangan fisik, seksual, dan psikologis. Usia seksual tercermin dalam ukuran dan bentuk tubuh, karakteristik seksual sekunder, dan lainnya. Ini juga mencakup level kecerdasan, kebaikan, dan selera humor yang menyenangkan.

Dari penuturan Seto, usia itu pada akhirnya tak lebih dari sekadar angka, karena sekalipun umur bertambah tua, bisa jadi usia kematangan fisik dan psikologi tak otomatis bertambah. Karena itu kita melihat ada banyak pesohor yang juga menjalani romantis dengan mereka yang lebih tua atau muda tanpa menemukan masalah yang berarti.

Nick Jonas menikahi Priyanka Chopra pada 2018. Liam Payne, personil One Direction pacaran, kohabitus dengan juri X Factor Cheryl Cole, lalu memiliki anak bersama. Dua pasangan ini sama-sama terpaut usia 10 tahun. Angelina Jolie dan Brad Pitt juga sempat bersama bertahun-tahun kendati usia mereka punya selisih hingga 11 tahun. George Clooney lebih ekstrem, menikahi Amal Amaluddin yang lebih muda 17 tahun darinya. Kalau contoh-contoh ini kurang familier denganmu, mari kita lihat Nabi Muhammad yang menikahi Khadijah, perempuan dengan usia 25 tahun lebih tua.

Dari contoh yang beragam di atas (perempuan menyukai sosok lebih muda, lelaki menyukai sosok lebih tua, dan seterusnya), ini menandakan terma kronofilia selalu berkembang. Di dunia kesehatan dan psikologi, kronofilia bercabang banyak. Ada ephebophilia misalnya digunakan untuk menyebutkan individu dewasa yang punya preferensi pada remaja. Sejumlah media kerap menyaru istilah ini dengan pedofilia—kata yang belakangan punya citra negatif karena selalu diasosiasikan dengan pelecehan seksual. Selain ephebophilia, ada pula teleiophilia atau gerontofilia, yakni tertarik pada mereka yang lebih tua. 

Baca juga: Sabotase Relasi: Tanda-tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Masalah Stigma

Lalu apakah kronofilia normal? Jawabannya bisa iya bisa tidak, tergantung dari sudut pandang apa.

Dari segi pengetahuan, Seto menyebutkan, semua kecenderungan tersebut bisa dibedakan dan didiagnosis. Dalam pedofilia misalnya, ada tanda-tanda yang bisa dilihat sejak usia prenatal dan kanak-kanak, seperti masalah perkembangan saraf, pernah mengalami cedera kepala, dan IQ lebih rendah. Para peneliti juga menemukan, pria pedofilia memiliki perbedaan sel putih otak mereka di area yang terlibat dalam jaringan yang membantu memproses rangsangan seksual.

Karena itulah, ia menyarankan agar tak mudah menyebut ini sebagai penyakit atau menjadikannya celah untuk menyeret mereka dalam perkara hukum. Kecuali tentu saja untuk pedofil yang merugikan dan melakukan tindak kekerasan pada anak-anak di bawah umur. Ini sekaligus membawa kita pada jawaban “tidak normal”, yang bergantung norma dan hukum yang berlaku di masing-masing tempat.

Baca juga: Pacaran dengan Anak Mama, Mending Lanjut atau Sudahi?

Di Indonesia, hubungan romantis antara mereka yang terpaut usia dinilai normal dan tak melanggar hukum, selama sesuai dengan UU Nomor 16 Tahun 2019, yakni 19 tahun. Di AS, seberapa tua usiamu dan pasangan, sepanjang sudah lebih dari 18 tahun maka sah-sah saja kamu menikah atau tinggal bersama.

Jika hukum tak melarang, masih ada norma dan kepatutan yang berlaku di tengah masyarakat. Norma dan kepatutan ini kekal karena media dan tontonan kita juga mengajarkan hal serupa. Menurut mereka, mustahil jika pria berusia 23 tahun jatuh cinta dengan perempuan 45 tahun, pun sebaliknya. Mereka lantas distigma miring sebagai individu yang punya motif tersembunyi mengencani pasangannya yang beda usia jauh. Biasanya karena motif harta duniawi.

Padahal buat saya, asal dilakukan dengan consent, tak berelasi dengan anak-anak di bawah umur, tak masalah kamu jatuh cinta dengan siapapun. Soal cinta kok dilarang-larang, kamu kan bukan Polisi Siber. #Eh

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan kelompok minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.