Women Lead
November 05, 2021

Sabotase Relasi: Tanda-tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Meski relasinya sedang berjalan mulus, sebagian orang percaya itu akan gagal suatu hari. Karenanya, mereka sengaja merusak relasi sendiri.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Bagi banyak orang, menjalani relasi yang baik-baik saja dan sesuai ekspektasi adalah hal yang wajar, bahkan diidamkan. Namun, tidak demikian untuk sebagian orang. 

Dalam Talkspace, Ashley Laderer bercerita, ia pernah berhubungan dengan seorang laki-laki dan mereka sangat jatuh cinta kepada satu sama lain. Bahkan, Laderer berpikir ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan pacarnya itu. Namun suatu hari, ia meminta sang pacar meninggalkannya tanpa sebab yang jelas. Entah bagaimana, dalam benak Laderer terlintas pacarnya itu toh akan memutuskan dia cepat atau lambat. 

Pengalaman serupa pun diceritakan pengajar dan peneliti Psikologi dari University of Southern Queensland, Australia, Raquel Peel dalam kesempatannya berbicara di TEDx. Ia berkata, “Saya menganggap orang-orang dalam relasi saya akan berujung meninggalkan saya dan semua relasi saya akan gagal.” 

Sikap seperti yang ditunjukkan Laderer juga kerap terlihat pada sebagian orang yang dihadapkan pada tawaran pasangannya untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius. Alih-alih senang dan bersemangat menyambutnya, mereka justru takut mengiyakan hal itu dan perlahan-lahan melakukan aneka tindakan yang merusak relasinya sendiri. Perilaku seperti ini dapat dikatakan sebagai upaya sabotase relasi.

Baca juga: Bosan dengan Pasangan, Perlukah Kita Lanjutkan Hubungan?

Apa itu Sabotase Relasi?

Pada dasarnya, sabotase relasi adalah salah satu bentuk sabotase diri, yakni tindakan-tindakan disengaja yang seseorang lakukan untuk merusak diri atau pencapaiannya, atau mencegah suatu rencana untuk berjalan dengan baik. 

Kepada Metro, terapis dan anggota Counselling Directory Kirsty Taylor mengatakan bahwa perilaku sabotase diri dapat merusak suatu relasi saat tindakan seseorang menghambatnya dalam berkomunikasi secara sehat dengan pasangan. 

“Acap kali orang-orang [yang menyabotase relasinya] memulai suatu pertengkaran, menjadi sangat mengontrol pasangannya, atau bersikap menjauh,” kata Taylor.

Taylor menambahkan, pada diri orang yang menyabotase relasinya, sering kali ditemukan self fulfilling prophecy. Artinya, ia tahu ada hal buruk yang sebenarnya ia coba hindari, tetapi dengan melakukan tindakan-tindakan sabotase tadi, ia justru mendorong hal tersebut terjadi. 

Sebagai contoh, kamu sering berpikir hubunganmu tidak akan berhasil karena pacar akan selingkuh atau dia tidak benar-benar mencintaimu. Meski sebenarnya hal itu tidak terjadi dan hubungan kalian baik-baik saja, kamu terus berlaku seolah-olah itu terjadi atau merasa ada hal-hal tertentu yang mengindikasikan pacarmu mendua. Akibatnya, kamu mulai mengontrol pacarmu dan membatasi ruang geraknya dalam pergaulan atau pekerjaan. Karena tindakanmu itu, pacarmu tidak tahan dan akhirnya memutuskanmu. Lantas setelah hubungan berakhir, kamu berpikir, “Tuh, bener kan, dia enggak cinta sama aku.” walau sebenarnya selama kalian masih berpacaran, pacarmu itu tidak pernah berpikir demikian.

Contoh kasus ini menyiratkan adanya masalah kepercayaan. Hal tersebut menjadi salah satu dari tiga pola umum dalam sabotase relasi yang Peel temukan setelah melakukan riset yang berangkat dari pengalaman personalnya itu. Dalam The Conversation, Peel mengungkapkan, kurangnya rasa percaya pada pasangan mendorong seseorang tak sepenuh hati menjalankan relasinya sehingga menghambat keberhasilan hal tersebut.

Di samping masalah kepercayaan, pola lain yang Peel temukan adalah sikap defensif dan kurangnya kemampuan berelasi pada orang-orang penyabotase relasi. 

Pada orang defensif, ada kecenderungan untuk terus membuktikan dirinya benar dan melindungi self-esteem-nya. Setelah mengalami dirinya disalahpahami dan dikritik orang lain, salah satu responden riset Peel menjadi defensif dan berkata, “Aku melindungi diriku dari rasa sakit di relasi romantis dengan membangun tembok dan tidak melepaskan pelindungku.”

Sementara, kurangnya kemampuan berelasi, yang bisa disebabkan ketiadaan role model atau pengalaman berelasi sehat, juga dapat berperan dalam hancurnya suatu relasi. Responden Peel lainnya berkata bahwa ia menahan diri dalam relasi karena merasa kurang pengalaman, kurang contoh relasi baik (dari orang tuanya), dan sikap kekanakan yang tidak kunjung dia perbaiki dalam menjalani berbagai relasi. 

Ada pun beberapa hal yang bisa mengindikasikan seseorang menyabotase relasinya seperti dikutip dari VeryWell Mind adalah kecenderungan untuk selalu mencari jalan keluar dari relasinya; sering melakukan gaslighting; cepat gonta-ganti pasangan; kecemburuan berlebih; sikap mengkritik terus menerus; dan sering menghindar.

Baca juga: Cemburu: Kapan Ini Wajar, Kapan Jadi Tak Sehat?

Kenapa Orang Menyabotase Relasi Sendiri?

Akar dari perilaku menyabotase relasi adalah rasa takut yang tinggi pada diri seseorang kendati ia sangat menginginkan relasi intim. Rasa takut itu bisa berupa kekhawatiran akan ditinggalkan pasangan saat sedang rapuh-rapuhnya, atau justru takut untuk lebih intim dengan pasangannya. Pada orang yang takut untuk lebih intim, ada pemikiran bahwa hubungan lebih serius dengan pasangan bisa mengorbankan identitas atau kemampuan mereka untuk membuat keputusan sendiri.

Ketakutan dalam berelasi ini bisa bersumber dari pengalaman masa lalu terkait gaya kelekatan insecure yang dibentuk dalam hubungan orang tua-anak. Dalam risetnya yang diterbitkan jurnal Family Perspectives (2019), Rachel Slade menyatakan bahwa individu dengan gaya kelekatan anxious seringkali takut ditinggalkan dan senantiasa berusaha menyenangkan pasangannya supaya hal yang ia takuti itu tidak terjadi. Namun, usahanya itu tanpa disadari melibatkan tindakan-tindakan tidak sehat yang menekan pasangan, sehingga ujungnya, individu itu malah menyabotase relasi sendiri. 

Kecenderungan untuk menyabotase relasi juga tampak dari orang dengan gaya kelekatan avoidant. Ia tak benar-benar berusaha menjaga dan “berinvestasi” dalam relasinya, tidak menampakkan kerapuhan dan kedekatan emosional, sehingga hal tersebut berpengaruh buruk terhadap kepuasan dalam hubungan.

Seiring dengan terus gagalnya relasi-relasi yang sebagian orang ini jalin, keyakinan mereka bahwa mereka tidak penting dan tidak berharga semakin kuat. Ini memicu lebih banyaknya perilaku tidak sehat yang menyabotase relasi-relasi berikutnya, dan siklus itu pun berlanjut.  

Selain trauma masa kecil, menurut terapis Talkspace Christine Tolman, sabotase relasi juga bisa terjadi karena ada kebosanan. “Dalam relasi jangka panjang yang bahagia mungkin tidak ada fluktuasi emosional sebagaimana pada awal relasi, dan sebagian orang bisa saja mencari kesenangan dengan melakukan sabotase [relasi],” ungkapnya. 

Bagaimana Cara Mengatasi Ini?

Ada beberapa hal yang patut kamu perhatikan bila kamu merasa punya kecenderungan menyabotase relasi.

Pertama, menurut Peel, penting bagimu untuk menghindari relasi dengan seseorang yang kamu tahu tidak akan berjalan baik. Sebagian orang mungkin memilih untuk berpacaran dengan “yang ada saja” dibanding menjadi jomlo dan di-shaming orang sekitarnya. Ketika ia sembarang berpacaran dengan seseorang, akan semakin besar kemungkinannya terjadi konflik atau hal di luar ekspektasinya, yang kemudian menjadi alasannya untuk mengkritik, mengontrol, bahkan berusaha mengubah pasangannya. Ini adalah hal-hal yang ujungnya hanya akan menghancurkan relasi.

Kedua, kamu bisa mulai belajar mengenali pemicu-pemicu dan akar ketakutan dalam berelasi. Kemudian, kamu perlu mengomunikasikannya dengan pasangan supaya tidak terjadi kesalahpahaman atau konflik. Setelah terbuka akan masalah ini, dengan pendampingan pasangan, kamu bisa mulai berusaha untuk membuat hal-hal tersebut tidak lagi memicu ketakutanmu, yang berpotensi membuatmu menyabotase relasi. 

Ketiga, kamu perlu menerapkan self-care dan self-compassion atau sikap baik dan penuh kasih terhadap diri sendiri. Sering kali, mereka yang menyabotase relasinya memiliki penilaian diri rendah atau merasa tak layak dicintai. Menurut psikoterapis Allison Abrams dalam Psychology Today, self-compassion ini penting dilakukan karena tanpanya, akan sulit bagimu untuk sungguh-sungguh mencintai orang lain.  

Terakhir, bila perilaku sabotase relasi ini terus terjadi dan membuat dirimu makin merasa buruk, kamu bisa mencari pertolongan terapis profesional. Mereka bisa membantumu menyelesaikan masalah yang mungkin bersumber dari masa lalumu, sebelum kamu lanjut berhubungan jangka panjang dan serius dengan orang lain. Jika perlu, kamu bisa melakukan terapi ini bersama pasanganmu untuk mempelajari cara mengelola pemicu masalahmu dan mengatasinya.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop