November 11, 2019
Kepahlawanan Perempuan Abad 21 Seperti Apa?

Pahlawan hari ini bisa berasal dari ruang untuk mengabdikan hidup, gagasan, atau karyanya untuk kemajuan bangsa dan kemakmuran rakyat.

by Rini Mardika
Issues // Politics and Society
CutNyakDien_Pahlawan_Indonesia_HutRI_sejarah
Share:

Sejarah Indonesia tidak bisa ditulis tanpa wajah perempuan. Sejarah mencatat, dari sejak kolonialisme pertama kali menginjakkan kaki di tanah air, kaum perempuan sudah ambil bagian dalam perlawanan.

Mulai perlawanan Ratu Kalinyamat terhadap Portugis, Nyi Ageng Serang melawan Belanda, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia yang memimpin perjuangan rakyat Aceh, hingga Martha Christina Tiahahu yang mengobarkan perlawanan anti-kolonial di Maluku. Dan masih banyak lagi.

Namun penulisan sejarah resmi hanya menyebut sedikit nama perempuan. Kalau kita lihat daftar pahlawan nasional kita hingga 2017, dari 169 pahlawan nasional, hanya ada 12 yang perempuan.

Selain itu, narasi sejarah selalu menempatkan perempuan hanya selalu di “pinggiran”, pada peran-peran pendukung dalam revolusi kemerdekaan: dapur umum, palang merah, telik sandi tidak resmi, dan lain-lain.

Mengapa bisa demikian? Lalu bagaimana membaca dan menempatkan kepahlawanan perempuan dalam abad 21 ini?

Historiografi perempuan

Ada masalah dalam metode penulisan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu terlalu berwajah maskulin atau berpusat pada laki-laki. Narasi sejarah tentang pahlawan selalu berkutat pada pejuang-pejuang yang angkat senjata memerangi serdadu-serdadu penjajah. Teks sejarah arus utama, buku pegangan sekolah, hingga cerita rakyat dianyam sehingga perjuangan terkesan sahih apabila mengangkat senjata terhadap penjajah.

Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan, sejarah Indonesia mengedepankan kontribusi perjuangan bersenjata. Akibatnya, kalaupun ada perempuan yang tercatat dalam sejarah yang sangat maskulin itu, maka itu hanya pejuang-pejuang perempuan yang menggunakan jalan angkat senjata melawan kolonial, seperti Cut Nyak Dien, Cuk Mutia, Nyi Ageng Serang, dan Christina Martha Tiahahu.

Sementara strategi perjuangan melawan kolonialisme itu beragam, dari aksi massa atau aksi mogok, perjuangan politik, diplomasi, hingga perjuangan bersenjata. Orang pun menggunakan beragam cara untuk berjuang: lewat tulisan, teater, musik, medis/kesehatan, sastra, olahraga, pengajaran, lukisan/mural, pers, dan lain-lain.

Baca juga: Karlina Supelli Soal Kartini dan Perlawanan Perempuan Hari Ini

Padahal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, ada banyak perempuan yang berjuang dengan beragam cara. Sebut saja Siti Sundari, perempuan yang menonjol dalam pergerakan buruh awal abad 20, terlibat Kongres Pemuda 1928, dan jurnalis perempuan berpena tajam. Atau SK Trimurti, yang pernah keluar masuk penjara karena tulisan-tulisannya yang sangat tajam menohok jantung kolonialisme.

Kemudian, kalau bicara gagasan nasionalisme sebagai embrio cita-cita mendirikan negara merdeka bernama Indonesia, kita tidak bisa melupakan nama tokoh perempuan: Kartini.

Seperti dicatat Asvi Warman, pada 1903, Kartini sudah bicara tentang bangsa Hindia yang harusnya setara dengan bangsa Belanda. Meskipun gagasan tentang Hindia dalam pengetahuan Kartini belum sama persis dengan Indonesia sekarang. Sebab, saat itu Indonesia sebagai identitas politik dari sebuah bangsa yang diperjuangkan belumlah dikenal.

Tantangan abad 21

Zaman berubah dan berkembang. Gagasan tentang nasionalisme, termasuk kepahlawanan bangsa, juga berubah. Pertama, kita hidup dalam dunia yang makin terglobalisasi. Orang menyebutnya “perkampungan global” (global village), yang mendorong integrasi ekonomi dan konektivitas antar-wilayah menggerus batas bangsa-bangsa. Kebebasan kapital, sebagai prasyarat akumulasi kapital, tidak mau dirintangi oleh batas-batas nation.

Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi informasi telah menggulung apa yang disebut “efek jarak jauh” (time-space distanciation). Bangsa-bangsa yang jauh di belahan dunia sana bisa menjadi sangat dekat di dunia maya.

Semua perkembangan baru ini membawa konsekuensi. Banyak intelektual yang menganggap bangsa sebagai “artefak sejarah”. Nasionalisme dianggap  sebagai gagasan usang alias ketinggalan zaman.

Ironisnya, meskipun dunia semakin maju dengan globalisasi dan teknologi informasi, perempuan masih dibelenggu budaya kolot patriarki.

Kedua, penjajahan telah bersalin rupa dengan wajah baru, yakni neoliberalisme. Penjajahan sekarang tidak melulu memobilisasi serdadu dan meriam, tetapi menyelinap melalui perjanjian kerja sama ekonomi, undang-undang, atau paket-paket kebijakan.

Agenda-agenda kolonialisme di masa lalu, seperti perebutan sumber daya alam, tenaga kerja murah, dan pasar, sekarang mewujud dalam agenda neoliberalisme. Neoliberalisme ini membawa dampak buruk terhadap rakyat, termasuk perempuan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, konflik sumber daya yang disertai kekerasan, hingga kerusakan ekologi. Perempuanlah yang paling rentan menjadi korban politik upah murah, pekerjaan tidak tetap (kontrak), dan eksploitasi buruh migran.

Baca juga: Perempuan yang Timbul Tenggelam dalam Narasi Peralihan Rezim

Dua perkembangan penting di atas tentu saja mengubah persepsi banyak manusia abad 21 tentang bangsa. Bangsa tidak bisa lagi dibayangkan sebagai komunitas yang tetap, sebab globalisasi mendorong mobilitas dan konektivitas lintas-bangsa semakin cepat.

Begitu juga dengan persepsi ancaman. Tidak bisa lagi ancaman itu selalu dianggap ekspansi fisik dari luar batas teritorial sebuah bangsa atau Negara, tetapi bisa muncul melalui kebijakan ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Kepahlawanan hari ini

Bagi saya, pahlawan adalah mereka yang menyerahkan hidupnya untuk kemerdekaan, kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsanya. Seorang pejuang didorong oleh kecintaan dan ide luhur untuk kemajuan bangsanya. Dia berjuang tanpa mengharap pamrih.

Karena itu, untuk menggambarkan kepahlawanan perempuan hari ini, kita harus mendekonstruksikan historiografi Indonesia yang terlalu maskulin, agar memberi tempat kepada keterlibatan dan peran perempuan. Agar kepahlawanan tidak melulu dari ukuran perjuangan bersenjata atau kehadiran di medan peperangan.

Kita juga perlu mendefinisikan peran dan kontribusi perempuan dalam konteks berbangsa dan bernegara hari ini. Kontribusi itu bisa berbentuk pengabdian yang tulus, kontribusi pikiran dan gagasan, hasil karya yang berguna, maupun prestasi yang mengharumkan nama bangsa.

Seorang pahlawan hari ini tidak mesti lahir dari medan perang, tetapi bisa berasal dari ruang tempat orang-orang mengabdikan hidup, gagasan, atau karyanya untuk kemajuan bangsa dan kemakmuran rakyat.

Karena itu, dalam konteks Indonesia hari ini, agar perempuan bisa berkiprah dalam memajukan bangsa, perempuan harus lebih berpartisipasi dalam kehidupan publik. Konstruksi sosial yang masih menempatkan perempuan di ranah domestik, sebagai pengurus rumah tangga, harus dianggap sebagai anggapan anti-kemajuan dan anti-nasionalisme.

Perempuan juga harus disokong untuk bisa mengembangkan dirinya. Untuk ini, negara harus hadir membuka akses pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi seluas-luasnya.

Terakhir, perempuan harus terlibat dalam politik, agar bisa berkontribusi dalam merumuskan dan memutuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kemajuan bangsa dan kemakmuran rakyat.

Rini Mardika adalah Sekretaris Jenderal Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini.