Women Lead
October 08, 2021

Pasangan Narsistik, Apa Saja Tandanya dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pasangan narsistik bisa melakukan kekerasan yang berdampak panjang bagi kita. Sehingga, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak awal dan mengantisipasinya.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Pada 22 Agustus lalu, model dan pembawa acara Amber Rose curhat melalui Instagram Story tentang relasinya dengan Alexander “AE” Edwards yang dimulai sejak 2018 silam. Dalam unggahan tersebut ia menulis, “When ur in love with a narcissist…Ur brain tells you to run when ur heart says stay. Unanswered questions, gaslighting, stonewalling, deflecting, projecting. I wish it was easy for me to 'fix him', but that's not for me to do. The pain cuts so deep, especially when there are children involved.

Tulisan tersebut dibuatnya setelah mengklaim Edwards berselingkuh dengan 12 perempuan. Lebih lanjut di dalamnya ia menyebutkan, ia akan selalu mencintai Edward tetapi dia sadar tidak bisa menyembuhkan laki-laki itu, hanya Edward Lah yang bisa melakukannya. “I knew I had to set myself free publicly or I would’ve stayed forever never receiving the love I craved and begged for…”

Pengalaman berpasangan dengan orang narsistik juga pernah dialami hipnoterapis klinis dan pakar pemulihan trauma Ronia Fraser, dan diceritakannya dalam Stylist. Ia mengatakan, pada awal-awal menjalin relasi dengan mantannya, segalanya terasa indah, terlebih karena mantannya itu menghujaninya dengan berbagai kebaikan (yang kemudian Fraser sadari merupakan love bombing, strategi manipulasi seseorang dalam relasi romantis). 

Selang sebulan, mantannya itu mulai bersikap dingin dan jahat kepadanya. Mantannya bilang ada perempuan lebih layak baginya daripada Fraser, kerap nyuekin pesan-pesan yang Fraser kirim, membuat Fraser berulang kali merasa bersalah atas hal yang tidak dilakukannya.

Walau sudah menerima berbagai perlakuan buruk mantannya, Fraser masih lama bertahan dengan harapan bila ia lebih mencintai mantannya itu, situasi akan berubah. Namun yang terjadi, Fraser semakin kehilangan dirinya sendiri dan teman-temannya, dan merasakan kecemasan berlarut-larut yang menyebabkan gangguan fisik.

Sampai akhirnya, Fraser sadar dirinya telah jauh tersesat. Ia pun bersusah payah memulihkan dirinya.

“Kekerasan narsistik mencakup manipulasi, taktik mengikis identitas seseorang dan brainwashing, menyebabkan post-traumatic stress disorder (PTSD). Karena traumanya mendalam, proses pemulihannya pun akan panjang,” tulis Fraser.

Ia juga menyebutkan, meski kekerasan narsistik bukan hal asing lagi di media sosial, hal ini masih jadi jenis kekerasan yang paling jarang disadari dan dipahami. Karena itu, seringkali korban lama terjebak dalam relasi toksik dengan pasangan narsistiknya sebagaimana Fraser alami.

Baca juga: Tingkah Laku Polri-TNI: Dari Flexing sampai Narsistik

Mengenal Sosok Narsistik

Fraser mendefinisikan kekerasan narsistik sebagai bentuk kekerasan emosional yang dilakukan seseorang dengan sifat kepribadian narsistik. Pelaku kekerasan ini adalah sosok-sosok yang punya masalah self esteem dan ingin menghindari rasa malu sebisa mungkin.

Dalam The Healthy, psikolog Elinor Greenberg menyatakan, dalam rangka menghindari malu, orang narsistik bisa menggunakan metode ekstrem, termasuk merendahkan orang-orang di sekitarnya, berlagak lebih hebat, atau sangat sensitif akan sesuatu yang bagi orang lain tak menjadi keresahan. 

Akan tetapi, sikap berlagak paling hebat tak melulu ada dalam diri orang narsistik. Artikel “Why some narcissists actually hate themselves” di BBC  memberi perspektif lain. Di sana disebutkan, ada dua jenis narsistik: “vulnerable” dan “grandiose”. Orang narsistik jenis pertama punya self esteem rendah, sementara yang kedua justru berlebihan.  

Menurut studi dari New York University, yang lebih mungkin disebut narsistik sesungguhnya adalah orang-orang yang “vulnerable” karena mereka senantiasa mencari afirmasi dan perhatian untuk meningkatkan citra mereka di mata orang-orang. Sementara, grandiose narcissists dianggap peneliti riset ini lebih ke arah psikopati karena mereka menunjukkan empati sangat rendah terhadap sekitarnya, dengan melulu mengunggulkan diri sendiri dan berusaha dominan.

Baca juga: Kekerasan dalam Pacaran: Bukan Tanggung Jawab Kita untuk Perbaiki Pasangan

Alih-alih memandang orang narsistik sebagai sosok dengan self love berlebihan, profesor di California State University, Los Angeles dan psikolog klinis Ramani Durvasula mengatakan, “Narsisisme tidak pernah tentang self love, ini hampir sepenuhnya tentang membenci diri sendiri.” Ini tak lepas insecurity dan rasa malu sebagaimana diungkapkan Greenberg tadi.

Ada pun tanda-tanda lain yang kerap terlihat dari orang dengan sifat narsistik adalah:

  1. Sering melebih-lebihkan pencapaian dan statusnya
  2. Kerap iri terhadap orang lain
  3. Terobsesi dengan kepandaian, kekuasaan, kecantikan/kegantengan, atau kesuksesan
  4. Butuh pujian terus menerus
  5. Senang memanfaatkan orang lain demi kepentingannya
  6. Tak ragu melewati batasan atau melanggar aturan untuk menang
  7. Suka menyalahkan orang lain dan menginvalidasinya
  8. Percaya mereka spesial dan hanya bisa dipahami orang-orang yang sama spesial dengannya

Perlu dicatat ada garis antara orang yang punya kepribadian narsistik dengan berperilaku narsistik. Dalam Psychology Today disebutkan, orang dengan kepribadian narsistik yang jadi patologi menunjukkan berbagai tanda tadi dalam frekuensi, intensitas, dan durasi jauh lebih tinggi dari yang berperilaku narsistik. 

Sebagai contoh, pada satu momen, seseorang begitu bangga dengan pencapaiannya dan kemudian berlagak bagai bos, tetapi berlangsung pada waktu tersebut saja. Ini lebih masuk perilaku narsistik. Sementara, orang narsistik yang patologis akan terus berlagak bagai bos, memicu lingkungan yang toksik dengan mengeksploitasi orang-orang lain atau relasi demi kepentingannya karena selalu merasa dirinya superior.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tentu tidak mudah menjalani relasi dengan orang narsistik. Dalam PsychAlive dinyatakan, pasangan narsistik biasanya sulit benar-benar mencintai orang lain karena ia tidak atau kurang mencintai dirinya sendiri. Mereka begitu fokus pada dirinya sehingga tidak bisa melihat pasangan sebagai individu terpisah dan sejajar. Sering kali, mereka juga melihat dan menilai pasangannya dari bagaimana pasangannya itu bisa memenuhi kebutuhannya saja.

Akan sulit untuk mewujudkan relasi sehat jika pasangan kita ternyata teridentifikasi klinis sebagai seorang dengan kepribadian narsistik. Pasalnya, potensi terjadinya kekerasan seperti Fraser alami sangat besar. Hanya jika pasangan narsistik mau berusaha mencari pertolongan profesional dan perlahan-lahan mengontrol tindakannya, harapan bisa muncul. Kita hanya bisa mendukungnya pulih, bukan benar-benar memperbaikinya sebagaimana pengalaman Amber Rose.

Dukungan tersebut bisa diawali dengan upaya untuk mengenali jenis narsisisme pasangan dan dari mana sumbernya. Menurut Susan Krauss Whitbourne, profesor emerita bidang Psychological and Brain Sciences di University of Massachusetts Amherst dalam Psychology Today, bila ternyata pasangan masuk jenis vulnerable, kita tidak perlu terus memberinya afirmasi karena ini hanya memenuhi egonya. Alih-alih, kita perlu menguatkan dia secukupnya saja dalam menghadapi insecurity-nya.

Whitbourne juga menyarankan, bagaimanapun, kita perlu tetap fokus pada tujuan dan kebutuhan kita dan tidak terjebak untuk memenuhi kepentingan pasangan semata. “Jika pasangan masuk jenis grandiose, kamu butuh mengakui perasaannya tetapi tetap jalan terus tanpa terpengaruhi oleh itu,” kata Whitbourne.

Pasangan narsistik bisa menghalangi kita meraih tujuan tertentu dan hanya mau perhatian kita diarahkan padanya. Kita perlu mengakui perasaan terganggu karena sikapnya ini dan kemudian berusaha menyetop pasangan kembali melakukan hal sama dengan membicarakan keluhan kita kepadanya. Seiring dengan itu, kita perlu menetapkan batasan agar pasangan narsistik tidak semena-mena mengabaikan kebutuhan kita.

Jika kita sudah memberi dukungan tetapi pasangan narsistik tetap melakukan kekerasan, membuat kita merasa tak berdaya, ketergantungan akibat manipulasinya, kita perlu juga mencari sistem pendukung dan melepaskan diri darinya. Ini bertujuan untuk menghindarkan kita dari kerusakan lebih parah secara emosional, sehingga harus melewati proses pemulihan sangat panjang.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop