Women Lead
October 04, 2021

Tingkah Laku Polri-TNI: Dari Flexing sampai Narsistik

Masa depan cerah abdi negara, termasuk polisi dan TNI membuat sebagian anggota muda senang mendekati perempuan dengan memamerkan jabatan mereka.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Share:

Tingkah laku sebagian orang berseragam—polisi dan TNI muda, sering kali bikin geleng-geleng kepala. Buktinya, muncul akun Twitter @txtdrberseragam yang menyuarakan keresahan warganet tentang hal ini. Misalnya, foto berpose memegang senjata dengan caption yang bikin bergidik, video abdi negara bersikap arogan, dan curhatan perempuan didekati laki-laki dari akademi militer.

Alih-alih menuai simpati dari masyarakat, kelakuan abdi negara ini justru bikin heran. Enggak jarang mereka menjadi bulan-bulanan warganet, terutama cara mereka mendekati perempuan yang unik dan sering kali enggak menggunakan etika.

Hal ini terjadi pada seorang perempuan di Tangerang Selatan yang pekan lalu semestinya ditilang, akibat menerobos lampu merah. Namun, polisi berinisial FA itu justru menanyakan status pernikahannya dan meminta nomor telepon, sebelum si perempuan dibiarkan meninggalkan tempat.

Ternyata, kontak itu digunakannya untuk kepentingan pribadi, bukan keperluan melanjutkan kasus. FA menelepon perempuan tersebut dini hari, dan berusaha mengontaknya seharian penuh walau tak menerima respons.

Ada juga yang menggoda dengan memuji kecantikan lawan bicaranya, lalu bertanya, “Ade suka enggak lihat cowok badan bagus gitu, suka olahraga, kayak aa?” dan mengirimkan foto shirtless.

Itu baru contoh-contoh mereka flexing alias menunjukkan sikap pamer atas apa yang dipunyai. Ada juga kasus ketika seorang polisi militer angkatan laut yang menggunakan kekuasaannya saat ia seharusnya ditilang karena ia dan sopirnya tidak menggunakan sabuk pengaman. Sempat-sempatnya kejadian tersebut juga direkam oleh si sopir.

Dalam video yang diunggah pada Februari lalu, polisi lalu lintas hanya menghampiri mobil dan bersalaman dengan sang sopir saat ia melihat sosok yang duduk di kursi penumpang. Pun polisi militer tersebut hanya cengengesan, tampak jemawa memperlihatkan statusnya.

Baca Juga: Penyiksaan oleh Polisi Harus Dihentikan

Walaupun tingkah laku para abdi negara ini jadi hiburan warganet, saya penasaran apa yang bikin mereka hobi flexing dan membanggakan kekuasaannya.

Gaji dan Tunjangan Menjamin Masa Depan

“Lulus pendidikan akmil, udah dijamin negara sampai tua. Mahasiswa lulus pengangguran dulu, kalau kerja belum tentu karyawan tetap.”

Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang abdi negara yang sepertinya sedang menikmati hasil jerih payahnya. Memang, gaji dan tunjangan yang diterima merupakan salah satu alasan mereka membanggakan pekerjaannya. 

Berdasarkan PP Nomor 16 Tahun 2019, gaji pokok TNI berpangkat tamtama terendah berkisar Rp1,6 juta dan tertinggi Rp2,9 juta. Sementara pangkat perwira tinggi, yaitu Brigjen, Laksamana Pertama, dan Marsekal Pertama senilai Rp3,29 juta, dan gaji Jenderal, Laksamana, dan Marsekal yang sudah bertugas 32 tahun sejumlah Rp5,93 juta.

Namun, itu belum mencakup tunjangan kinerja berdasarkan Perpres Nomor 102 Tahun 2018. Pun masih ada beberapa tunjangan lainnya yang diatur dalam Permenhan Nomor 33 Tahun 2017, mencakup tunjangan istri atau suami sebesar 10 persen gaji pokok, tunjangan anak senilai 2 persen gaji pokok dengan maksimal dua anak, dan tunjangan pangan, uang lauk-pauk.

Baik TNI maupun POLRI menerima upah yang setara. Perbedaannya terletak pada nomor peraturan pemerintah yang mengatur.

Baca Juga: Penegakan Hukum yang Berkeadilan Lindungi Perempuan

Sekarang lebih jelas kenapa segelintir abdi negara muda hobinya membesarkan diri sendiri. Wong mereka punya kepastian masa depan cerah, jadi anggapannya bisa menjamin hidupnya sendiri beserta pasangan dan anaknya kelak. Selain itu, pekerjaan ini menuntut profesionalisme yang tinggi.

Perilaku Narsistik Abdi Negara

Mengutip WebMD, perilaku abdi negara ini dapat dikategorikan dalam tiga narcissistic behavior. Pertama, sense of entitlement atau rasa berhak. Ini merupakan keyakinan orang-orang dengan narsisisme yang merasa dirinya lebih unggul dari orang lain, dan pantas menerima perlakuan khusus.

Perilaku tersebut berkaitan dengan yang perilaku kedua, yakni arogan. Orang-orang narsistik melihat diri mereka superior dibandingkan orang-orang di sekitarnya, tapi hal ini berdampak pada perilakunya yang tidak sopan atau abusive, karena tidak menerima perilaku yang menurutnya pantas diterima.

Baca Juga: Pencabutan Tes Keperawanan TNI AD Saja Tak Cukup

Dalam konteks menggoda dan mendekati perempuan melalui pesan teks misalnya. Biasanya, polisi dan TNI laki-laki merasa tersinggung dan mengancam ketika perlakuan lawan bicaranya menurut mereka tidak sopan dan tidak sesuai ekspektasi. Mungkin yang diharapkan adalah sikap manut, menghargai, dan bangga karena termasuk “perempuan terpilih.”

Enggak sedikit dari laki-laki ini yang menunjukkan marah dan kekecewaannya dengan tutur kata kasar dan merendahkan, seperti beberapa contoh berikut ini.

“Usia berapa kamu? Kok berani memanggil saya pakai ‘kamu’?”

“Aku bukan sombong, hanya berpangkat calon taruna Tk I jadi tinggal milih cewek. Daripada mahasiswa susah milihnya.” 

Yang ketiga adalah need for admiration atau kebutuhan untuk dikagumi. Biasanya, mereka yang narsistik cenderung ingin dipuji dan dikagumi, membutuhkan validasi dari orang lain, dan sering membual tentang dirinya sendiri.

Tampaknya ini salah satu alasan mereka senang pamer lewat status WhatsApp maupun saat berkenalan dengan seseorang. Mungkin bekerja sebagai abdi negara memperbesar martabat dan kebanggaan mereka mengingat proses rekrutmen yang panjang dan melelahkan. Jadi, wajar kalau ia mau pencapaiannya diakui orang lain.

Contohnya, Instagram story seorang tentara yang menampilkan foto kelompoknya sedang berjalan menuju sebuah tempat, lengkap dengan caption berbunyi, “Kami memang bukan lulusan S1, tapi banyak S1 yang pengen seperti kami, tapi tidak kesampaian.”

Entah disadari atau tidak, kalimat-kalimat flexing yang bertujuan menyanjung diri sendiri itu sebenarnya memuat sindiran dan berpotensi menyakiti orang lain.

Melansir Verywell Mind, perilaku narsistik dapat berujung pada narcissistic abuse, yaitu manipulasi dan sikap penyalahgunaan yang berdampak terhadap orang-orang di sekitarnya. Jika melihat polisi dan TNI yang narsistik, dampak yang ditimbulkan berupa kekerasan verbal berbentuk criticism.

Criticism didefinisikan sebagai komentar kasar yang dilakukan untuk membuat orang lain merasa buruk tentang dirinya sendiri, yang sengaja dilakukan untuk menyakiti perasaannya.

Mungkin mereka yang pernah berkomunikasi, atau membaca status media sosial polisi dan TNI berkepribadian demikian, tidak begitu menanggapi perkataan yang diucapkan dan unggahan yang dilihat. Namun, bukan berarti mereka sepenuhnya mengabaikan ini. 

Enggak ada yang tahu kalau ternyata mereka menginternalisasi ke dalam dirinya. Masih dari curhatan warganet ke Twitter @txtdrberseragam, seorang abdi negara enggak rela ditolak perempuan. Sebagai balasan, ia meremehkan perempuan tersebut dengan mengatakan dirinya belum tentu masih perawan.

Dari kasus ini, saya punya tiga poin yang semoga dimengerti dan direfleksikan abdi negara. 

Pertama, keperawanan perempuan bukan urusan siapa pun, selain dirinya sendiri. Kedua, perlu dipahami enggak semua orang menilai laki-laki berseragam lebih menawan dan mendambakan. Ketiga, enggak ada yang melarang untuk bangga—bahkan flexing atas pencapaian. Namun, coba pertimbangkan, sepertinya enggak perlu kok sampai merendahkan orang lain.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.