Women Lead
March 26, 2021

Pelatihan Muslimah Reformis: Tempat Aman Belajar Islam Tanpa Penghakiman

Pelatihan Muslimah Reformis menjadi tempat yang aman bagi mereka yang ingin belajar Islam yang damai, terlepas dari apa pun latar belakangnya.

by Siti Parhani, Digital Media Specialist
Issues
Islam_Progresif_Moderat_KarinaTungari
Share:

Yulia Dwi Andryanti aktif berkegiatan dalam komunitas muslim sejak ia masih siswa SMA di Bandung, namun kolektif itu tidak menjawab keresahannya terhadap tafsir-tafsir Al-Qur’an yang menurutnya menyisihkan perempuan.

Ia kemudian mulai mendalami Islam dari perspektif feminisme, namun hal ini membuatnya berjarak dengn teman-teman dalam komunitas itu karena ia merasa tidak ada ruang untuk mendiskusikan hal itu dengan lingkaran terdekatnya.

“Temanku bilang, sekarang kamu jadi aktivis feminis ya. Padahal aku dan teman-temanku itu janji, kita mau membangun masyarakat yang baik dan ramah. Tapi ya mungkin pemahamannya berbeda,” ujar perempuan berusia 33 tahun tersebut kepada Magdalene di sela-sela acara Pelatihan Muslimah Milenial Reformis yang digagas oleh Yayasan Mulia Raya (11-14/3).

Hubungannya dengan komunitas itu semakin merenggang setelah ia menyatakan diri sebagai queer. Kolektif yang dulu menjadi tempat aman bagi Yulia kini sulit untuk dijangkau, apalagi menerimanya. Ia kehilangan kawan-kawan terdekatnya yang selama ini mendukung dirinya bertumbuh sebagai perempuan yang kritis.

Hal itu cukup membuat Yulia trauma dan mengakibatkan ia menjauhi komunitas muslim. Namun ia merasa bahwa agama adalah bagian dari perjalanan spiritual yang penting dan tidak bisa dilepaskan darinya. Ia pun mulai mencari komunitas yang mengajarkan agama Islam dari perspektif yang ramah dan menerima identitasnya sebagai queer.

“Aku menginisiasi YIFoS (Youth Interfaith Forum on Sexuality) dan membuat program queer camp di Yogyakarta. Queer camp itu membahas isu lintas iman, keimanan dan seksualitas,” ujar Yulia.

Menurutnya, agama dan spiritualitas sering kali jadi topik yang dihindari bahkan oleh komunitas LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, queer). Seolah identitasnya sebagai queer tidak bisa beriringan dengan identitas spiritualnya.

“Padahal, sudah banyak tokoh agama yang menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan lebih inklusif dan ramah terhadap queer,” ujar Yulia.

“Masalah identitas itu kan bukan hanya orientasi seksualnya atau gendernya, tapi bagaimana dia relate dengan spiritualitas dia, atau melihat iman atau agama sebagai sesuatu yang spiritual dalam dirinya. amina wadud jadi salah satu inspirasi buat aku, karena menghadirkan tafsir yang lebih inklusif,” ia menambahkan, menyebut nama perempuan ulama asal Amerika Serikat yang dikenal progresif itu.

Kerinduan untuk berjejaring kembali dengan komunitas muslim pun mendorong Yulia untuk ikut pelatihan Muslimah Milenial Reformis yang digagas oleh cendekiawan Islam Musdah Mulia. Acara yang diadakan perdana untuk wilayah Jakarta tersebut, dengan peserta 36 orang, bertujuan untuk menciptakan komunitas muslimah milenial yang mampu berpikir kritis dan menangkal intoleransi serta kekerasan beragama.

Komunitas Bagi Anak Muda Muslim yang Menerima Keberagaman dan Menghindari Penghakiman

Musdah Mulia mengatakan bahwa salah satu masalah terbesar di Indonesia sebagai negara demokrasi sekarang ini adalah menguatnya intoleransi beragama. Cara ampuh untuk melawan intoleransi adalah membuat orang-orang berbaur dengan mereka yang berbeda latar belakang, ujarnya.

“Satu-satunya cara yang bisa menyembuhkan intoleransi adalah membaur, membuat orang terbiasa melihat perbedaan. Itulah sebabnya kenapa pelatihan Muslimah Reformis ini terbuka bagi siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka,” ujar Musdah kepada Magdalene di acara yang sama.

“Muslimah itu kan tidak hanya bermakna khusus pada label tertentu. Muslimah itu berarti orang yang mau mewakafkan (menjadikan) diri untuk merajut perdamaian, untuk membangun ketenangan, jadi itu bisa siapa saja,” ia menambahkan.

Ia mengatakan, pengalamannya mengunjungi 42 negara Islam dan berdialog dengan masyarakat muslim di berbagai negara, semakin mengukuhkan keyakinannya bahwa Islam itu diekspresikan dengan bentuk yang beragam di banyak tempat. Untuk itu, bagi Musdah, tidak ada yang bisa mengklaim diri paling Islami hanya dari simbol-simbol yang kita pakai, tambahnya.

“Perjalanan spiritual saya mengunjungi banyak tempat semakin membuat sadar bahwa Islam itu enggak seragam, kita itu berbeda-beda. Misalnya, perempuan muslim di Somalia, Nigeria, Kenya, itu kan pakai tutup kepala turban itu ya. Itu kan dia sudah merasa Islami,” ujar Musdah, yang meluncurkan Ensiklopedia Muslimah Reformis tahun lalu.

Credit: Yayasan Mulia Raya

Menurut Musdah, akar intoleransi berawal dari rasa ingin menyeragamkan segala sesuatu yang dianggap benar, padahal itu melanggar kebebasan orang lain. Hal tersebut yang menjadi alasan Musdah ingin menciptakan tempat yang aman bagi orang-orang belajar agama tanpa penghakiman.

“Di dalam pelatihan ini, saya menjaring banyak orang supaya teman-teman yang biasa berjilbab, terbiasa melihat teman-teman muslim yang memilih tidak berjilbab,” ujarnya.

Tempat Aman Bagi Muslimah yang Berbeda Pandangan

Diah Cempaka Sari merasa menemukan tempat yang aman dalam kajian yang diadakan Musdah, sehingga ia langsung mendaftar pelatihan Muslimah Reformis. Ia mengatakan, akibat tato di tubuhnya dan gaya berpakaian yang seksi, membuatnya sering dipandang jauh dari ajaran agama. Padahal, sejak dulu ia selalu tertarik dengan topik-topik agama Islam yang humanis, mendukung pluralisme, serta kesetaraan.

Selain itu, Diah, yang juga menikah dengan pasangan beda agama, merasa resah dengan peningkatan konservatisme Islam di negara ini, yang membuat suaminya kerap melihat Islam sebagai ajaran yang negatif. Padahal, menurut Diah, Islam adalah agama yang membawa kedamaian dan persatuan.

“Pasanganku kadang suka melihat Islam itu sebagai agama perusak, mungkin karena dia melihat berita di TV atau di media sosial. Tapi kita sering diskusi, aku bilang kalau Islam itu enggak kayak begitu,” ujarnya.

Yulia mengatakan Musdah Mulia adalah salah satu tokoh agama yang berusaha menghadirkan Islam yang inklusif dan tidak menghakimi manusia karena latar belakangnya.

“Salah satu ingatan kuat dari komunitas muslim itu tentang momen kolektif atau kebersamaan dalam Islam, dan atmosfer itu kembali saya dapatkan di pelatihan Milenial Reformis ini. Kalau materi soal gender aku sebetulnya sudah enggak asing, cuman yang bikin senang itu bagaimana aku bergabung dengan teman-teman, mengobrol dengan komunitas muslim perempuan,” ujarnya.

Baik Diah maupun Yulia merasa bahwa komunitas ini bisa menjadi tempat aman bagi mereka untuk belajar agama tanpa ada rasa takut dihakimi karena penampilan serta identitasnya.

“Sebagai orang yang penampilan fisiknya tidak mencerminkan muslimah normatif seperti standar masyarakat, enggak pakai hijab, aku sih merasa sangat diterima. Teman-teman di sini enggak judgemental. Kita bisa ngobrol banyak, karena di lingkunganku, aku enggak menemukan orang-orang yang sepemikiran. Pas ikut pelatihan ini serasa ada di habitat yang sudah lama aku incar tapi baru kesampaian,” ujarnya.

Musdah mengatakan, inti dari ajaran Islam adalah spiritualitas atau kedekatan diri kepada Tuhan. Sekarang ini, menurutnya, banyak orang yang justru menitikberatkan agama pada simbol-simbol kebudayaan, padahal spiritualitas itu tercermin dari perilaku.

“Saya tidak melihat mereka yang berlomba-lomba memakai baju panjang sebagai yang paling Islami, tapi ya fashion saja,” ujarnya.

“Rasullullah SAW selalu mengatakan bahwa akhlak mulia itu adalah inti dari ajaran agama. Dia diutus ke dunia untuk membangun perilaku yang mulai dan penuh dengan spiritualitas.” kata Musdah.

Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.