Orang Tua Bisa Cegah ‘Child Grooming’, Begini Caranya
Sebagai ayah dari anak perempuan, Reza, 31, khawatir anaknya mengalami child grooming. Ia pun berusaha melindungi anak dengan mengajarkan otonomi tubuh. Dari menyebut organ tubuh sesuai namanya—seperti vagina dan penis untuk alat kelamin—serta bagian tubuh yang boleh disentuh.
“Kalau mau peluk atau cebokin, aku tanya boleh enggak. Kalau anak enggak mau, aku enggak maksa atau gaslight,” cerita Reza.
Selain itu, Reza membangun keterbukaan dengan anak, dengan saling menceritakan keseharian sebelum tidur. Harapannya akan menghasilkan secure attachment dalam diri anak. Sebab, gaya kelekatan ini terbentuk oleh kejujuran, kepercayaan, rasa aman, dan validasi emosional.
Biasanya, pelaku melakukan grooming terhadap anak yang diabaikan, punya isu ketidakpercayaan, rendah diri, tidak memiliki ruang untuk bercerita maupun bersosialisasi dengan baik. Di sini, pelaku hadir sebagai “pahlawan” bagi anak dengan mengandalkan kepercayaan, hingga anak bergantung secara emosional.
Psikiater dr. Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ menyebutkan beberapa tahapan proses grooming oleh pelaku. Di antaranya, membangun kepercayaan, memberikan perhatian khusus, membuat anak merasa “istimewa”, dan melanggar batasan. Kemudian, pelaku mengarah pada eksploitasi seksual, fisik, atau emosional.
Karena itu, kedua orang tua penting untuk hadir dalam melindungi anak dari risiko mengalami child grooming. Termasuk secara emosional. dr. Zulvia menjelaskan, kehadiran emosional di sini tercermin dengan rasa aman dalam diri anak untuk bercerita, tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
“Anak yang terhubung secara emosional dengan orang tuanya, akan lebih berani bercerita ketika merasa tidak aman,” ungkapnya pada Magdalene.
Keamanan akan membantu anak lebih cepat mengenali rasa tidak nyaman, berani mengatakan “tidak”, dan meminta pertolongan. Sebab, dalam banyak kasus child grooming, yang hilang bukan hanya pengawasan, tetapi kedekatan emosional antara anak dan orang tua.
Hal itu terjadi pada relasi Jan Broberg dengan orang tuanya. Dalam dokumenter Abducted in Plain Sight (2017) ditampilkan, bagaimana relasi Jan dan orang tuanya renggang ketika pelaku, Robert Berchtold, semakin sering hadir dalam hidup mereka.
Berchtold, yang adalah kerabat keluarga Broberg, mendapat kepercayaan orang tua Jan. Dalam interaksi antara Berchtold dan Jan, orang tua Jan melihat perilaku Berchtold mencerminkan kasih sayang, ketulusan. Di saat bersamaan, Berchtold juga memanipulasi dan melakukan kekerasan seksual terhadap orang tua Jan.
Kasus tersebut sekaligus menunjukkan, child grooming tak jarang dilakukan oleh orang terdekat. Sebab, pelaku bisa menumbuhkan kepercayaan orang tua korban, di balik “kepedulian” terhadap anak. Sementara anak merasa diperhatikan, ditemani oleh pelaku.
Selain proses pelaku melakukan grooming, ada hal lain yang penting diperhatikan dari kekerasan seksual ini. Yakni anggapan bahwa child grooming hanya dialami oleh perempuan. Masalahnya, cara pandang ini sering kali menyalahkan laki-laki yang menjadi korban child grooming, saat menceritakan pengalamannya.
Baca Juga: Ini yang Saya Rasakan Usai Baca Memoar Broken Strings
Mitos Hanya Anak Perempuan yang Rentan Child Grooming
Pandangan bahwa child grooming hanya dialami oleh perempuan, dipengaruhi oleh budaya patriarki. Laki-laki diposisikan lebih tinggi, lebih kuat daripada perempuan. Mereka lebih dominan dan berkuasa, mustahil jika mereka mengalami kekerasan seksual.
Stigma lainnya, laki-laki dicap agresif, selalu menyukai seks. Persepsi ini menimbulkan anggapan, mereka “beruntung dan menikmatinya” jika perempuan “meminta” berhubungan seks.
Dampaknya, ketika laki-laki mengalami kekerasan seksual, justru terjadi victim blaming. Pengalaman mereka tak dipercaya, membuat laki-laki enggan mengungkapkannya karena takut dianggap lemah, memalukan, dicap tak maskulin, dan orientasi seksnya pun dipertanyakan. Bahkan laki-laki lekat dengan citra pelaku, sedangkan perempuan adalah korban.
Padahal, kekerasan seksual—termasuk child grooming—bisa terjadi dan dilakukan oleh siapa pun. Seperti penyanyi Michael Jackson, yang melakukan grooming terhadap anak laki-laki berusia 13 tahun. Atau Ghislaine Maxwell, yang terlibat dalam kasus kekerasan seksual oleh Jeffrey Epstein, terhadap anak-anak perempuan. Maxwell mendekati anak-anak tersebut, memainkan figur ibu atau kakak perempuan, dan memperkenalkan anak-anak pada Epstein.
Sebagai ibu dari tiga anak—dua di antaranya laki-laki, Yuska, 39, khawatir anak-anaknya mengalami child grooming. Atau menjadi pelaku. Ia paham, kekerasan terjadi ketika ada relasi kuasa antara orang dewasa dan anak, sehingga pelaku bisa melangsungkan tindakan dengan paksaan dan tanpa persetujuan.
Maka itu, Yuska dan pasangan menekankan pada anak-anak, mereka hanya boleh menjalin relasi romantis dengan orang yang seumuran.
“Aku juga melihat, kasus child grooming ini (yang terjadi pada Aurelie Moeremans) adalah pengingat, untuk membangun relasi dan komunikasi yang baik dengan anak,” tutur Yuska.
Baca Juga: Apa itu ‘Child Grooming’, Semua Fakta yang Harus Kamu Tahu
Yang Dilakukan Orang Tua untuk Mencegah Child Grooming
Memberikan rasa aman pada anak-anak, merupakan kunci bagi orang tua untuk mencegah child grooming. Misalnya membangun komunikasi dua arah, dengan menanyakan kegiatan harian anak tanpa menginterogasi. Lalu memberikan pemahaman bahwa anak boleh melapor tanpa takut dimarahi, sehingga mereka dapat mengenali grooming dan berani melaporkannya. Di sini, orang tua perlu memvalidasi perasaan anak, agar mereka merasa didengar dan dipercaya.
Yuska menerapkannya dalam keluarga. Anak-anak dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat, perasaan, dan apa pun yang sedang dihadapi. Kenyamanan ini dibangun agar anak merasa aman untuk menceritakan apa pun, bahkan ketika melakukan kesalahan atau ada pihak lain yang meminta mereka merahasiakan sesuatu.
Sebagai orang tua, ia memosisikan diri sebagai teman maupun konselor. Terutama pada anak laki-laki yang menginjak usia remaja, dan sedang berusaha untuk mandiri.
“Kami saling bertukar cerita, pengalaman, dan masalah yang dialami waktu remaja. Biasanya aku lebih dengerin, ngasih saran pas diminta, dan memastikan siap ngebantu,” ucap Yuska.
Sementara Reza melakukannya dengan membentuk rutinitas, meski mengaku cukup terbatas dari segi waktu sebagai seorang breadwinner. Ia akan bersama anak setiap berangkat sekolah dan tidur. Kemudian melakukan kegiatan bersama di akhir pekan, suatu kewajiban bagi keluarga Reza walaupun menjalani pernikahan jarak jauh.
“Yang penting anak tahu orang tua hadir dan kita punya rutinitas yang pasti, biarpun jarang ketemu,” kata Reza.
Baca Juga: Dicap Lebih Lemah, Anak dan Perempuan Muda Rentan Alami Pelecehan Daring
Keterbukaan dan keamanan, juga perlu diikuti dengan kepekaan terhadap perubahan perilaku anak. Misalnya tiba-tiba menarik diri, takut pada orang tertentu, perubahan pola tidur atau suasana hati, serta bersikap tertutup atau merahasiakan sesuatu pada gawai.
Yang tak kalah penting, adalah pendidikan seks komprehensif, dengan mengajarkan keamanan, batasan, dan rasa hormat. Contohnya mengenalkan nama anggota tubuh dengan benar—bukan menggunakan istilah tertentu karena tabu, konsep consent, serta memahami area tubuh yang sifatnya privat.
Pada ketiga anaknya, Yuska mengajarkan pendidikan seks sejak mereka bisa berbicara. Ini dilakukan secara bertahap sesuai usia: Mengenalkan area tubuh dan fungsinya, serta consent. Lalu soal pubertas saat anak-anak beranjak remaja, dan menstruasi—meski hanya anak bungsu Yuska yang perempuan.
Reza pun melakukan hal yang sama. Ia menjelaskan pada anak mengapa penggunaan toilet laki-laki dan perempuan harus terpisah, serta membiarkan Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang memandikan anak. Reza juga tak mengganti pakaian sesukanya di depan anak, supaya anak mengerti jika orang lain telanjang di depannya, merupakan praktik yang salah.
Dr. Zulvia mengungkapkan, dengan dibekali pendidikan seks komprehensif, anak akan memahami keberhargaan tubuh dan lebih peka ketika batasannya dilanggar. Selain itu, ia menjelaskan dua hal yang bisa dilakukan orang tua, apabila anak mengalami child grooming.
Pertama, dengarkan anak tanpa menyela, percaya ceritanya, dan menangkan emosi diri sendiri sebelum melakukan langkah selanjutnya. Kedua, mencari bantuan profesional untuk mengatasi trauma anak dan memulihkan rasa aman. Sedangkan hal-hal yang harus dihindari, adalah menyalahkan anak, menginterogasi seperti penyidik, memaksa anak menceritakan kejadian, serta mengancam pelaku di depan anak.
“Respons pertama orang tua itu sangat menentukan, apakah trauma anak bisa diproses dan membaik, atau semakin mendalam,” terangnya.
Ilustrasi oleh Karina Tungari
This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.
Series lainnya bisa dibaca di sini.
















