September 18, 2019
Melawan Budaya Patriarki Dimulai dari Diri Sendiri

Pengalaman tinggal di negara lain membuka mata penulis bahwa melawan budaya patriarki bisa dimulai dari hal-hal sederhana.

by Nuzhatul Ussak
Issues // Politics and Society
Share:

Baru setelah berumur 24 tahun, saya mulai bisa mengartikulasikan kenapa dari dulu saya selalu merasa tumbuh di lingkungan yang salah. Lingkungan yang membuat saya kurang berkembang dengan baik. Tapi dari dulu saya tidak berani mengungkapkan pendapat saya. Saya takut dibilang tidak bersyukur jika terus menyalahkan lingkungan.

Tapi bagaimana jika benar ada yang salah dari lingkungan saya sejak kecil? Bagaimana jika benar ada sistem yang harus kita rombak dalam masyarakat kita? Kalau saya tetap diam saja, bisa jadi hal yang sama akan terjadi dan dianggap lumrah oleh generasi selanjutnya.

Saya selalu dituntut untuk menjadi seperti ini dan seperti itu oleh lingkungan saya. Tuntutan itu terutama datang dari pihak ibu saya dan keluarga besarnya.

"Cah wadon (anak perempuan) kok selalu minta potong rambut pendek? Punya rambut panjang kan cantik..."

"Cah wadon kok sukanya pakai celana? Memang tidak punya rok?"

"Cah wadon kok petakilan sekali sih? Naik-naik ke pohon kayak monyet! Duduk yang tenang, biar enak dilihat..."

Budaya patriarki dan minimnya kepercayaan terhadap perempuan adalah salah satu sebab kenapa saya sebagai anak perempuan pertama di keluarga kurang bisa berkembang dan mengekspresikan diri. Dampaknya parah sekali. Sampai sekarang pun saya belum bisa sepenuhnya mengambil keputusan sendiri, menjadi sangat tergantung pada orang lain, malas, kurang percaya diri, sampai mengidap depresi.

Sejak kecil saya selalu diajarkan untuk menurut saja apa kata Bapak. Orang tua saya jarang sekali memberikan saya kepercayaan dalam mengambil keputusan. Dari mulai harus sekolah di mana, ikut kegiatan apa sampai kuliah di mana. Pernah suatu waktu saya berdebat dengan Bapak karena dia tidak mengizinkan saya menjadi pengurus OSIS. Alasannya? Karena saya perempuan, Bapak dan Ibu khawatir kalau saya sering pulang malam, tidak berkonsentrasi ke pelajaran yang berimbas pada prestasi akademik. Tak peduli seberapa keras pun saya meyakinkan Bapak, jawabannya tetap tidak.

Setelah Bapak meninggal, Ibu dan keluarga besar dari Bapak masih meminta saya untuk tetap mempertimbangkan pendapat dari kakak laki-laki tertua Bapak saya. Tahun 2016, saya ingin mengikuti program kerelawanan di Jerman. Seperti biasa, setiap saya berkeinginan untuk melakukan sesuatu, saya diharuskan untuk meminta izin ke paman tertua dari keluarga bapak. Awalnya dia sama sekali tidak setuju dengan keinginan saya untuk terbang ke Jerman. Alasannya masih sama, karena saya perempuan. Tidak baik kalau seorang perempuan merantau ke negeri orang. Saya seharusnya menikah saja karena sudah lulus kuliah dan sudah cukup umur. Tidak baik kalau ditunda-tunda, nanti jadi perawan tua, malu sama tetangga. Tapi untungnya pada tahun 2018 saya berhasil meyakinkan mereka, Ibu dan seluruh keluarga besar saya untuk merelakan saya terbang ke Jerman dan tinggal di sini selama satu tahun untuk melakukan kegiatan kerelawanan. Dari sinilah perjuangan saya untuk melawan budaya patriarki dimulai. Saya mencoba memeranginya dengan mengubah pola pikir saya lewat hal-hal sederhana sebagai berikut.

Baca juga: 5 Cara Dobrak Stereotip Peran Gender dalam Keluarga

Siapa saja boleh main bola

Tidak ada yang salah dengan perempuan bermain sepak bola dan laki-laki yang suka menari

Pada program kerelawanan saya ini, saya ditempatkan di tempat penitipan anak. Setiap hari ada kegiatan berbeda yang ditawarkan di sini, seperti jalan-jalan ke taman setiap hari Senin, menari dan bermain sepak bola setiap Selasa, musik setiap hari Kamis dan anak-anak diperbolehkan membawa mainan dari rumah setiap hari Jumat.

Saat rekan saya menjelaskan kegiatan tersebut, secara spontan saya bertanya,"Oh, berarti semua anak laki-laki nanti akan ikut bermain sepak bola setiap hari Selasa?"

Saya sendiri juga kaget kenapa pertanyaan seperti ini keluar dari mulut saya secara spontan. Kemungkinan besar karena budaya patriarki kental yang melekat pada diri saya menyebabkan saya secara otomatis mengidentikkan sepak bola sebagai olah raga yang biasanya dilakukan oleh laki-laki (saja). Seperti halnya menari yang identik dengan perempuan.

"Bukan hanya anak laki-laki saja yang ikut bermain sepak bola, ada juga anak perempuan. Beberapa anak laki-laki di sini juga ikut kelas menari. Dan anak-anak tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan tersebut, hanya mereka yang mau dan berminat saja yang ikut,” ujar rekan saya.

Dari pengalaman tersebut, saya dapat melihat bagaimana sistem pendidikan usia dini di sini memberikan kebebasan dan kepercayaan sepenuhnya kepada anak-anak untuk mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dengan perempuan bermain sepak bola dan laki-laki yang suka menari. Bagi mereka itu hal yang sangat wajar.

Baca juga: Peran Laki-laki dalam Isu Kesetaraan Gender

Masak dan bersih-bersih rumah bukan hanya tugas perempuan

Di Jerman saya tinggal satu flat dengan empat orang relawan dari negara lain. Kami berlima terdiri dari dua orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Di sini kita membagi tanggung jawab secara rata. Tugas bersih-bersih rumah dilakukan secara bergantian. Semua orang yang tinggal bersama saya di sini bisa masak. Bahkan salah satu teman laki-laki saya di sini lebih jago masaknya ketimbang saya. Dia juga lebih rajin bersih-bersih dibandingkan dengan saya dantiga orang relawan lainnya.

Apa lantas kita mempermasalahkan hal tersebut? Toh masak dan bersih-bersih rumah bukan hanya tugas perempuan saja kan? Saya rasa pintar memasak dan rajin bersih-bersih rumah tidak lagi harus menjadi kriteria seorang istri idaman.

Biar saya yang bayar, kita gantian tidak apa-apa bukan?

Waktu masih kuliah dulu saya pernah membagikan pendapat seseorang teman perempuan dengan nada setuju. Intinya teman tersebut mengatakan kalau dia tidak mau pacaran dengan laki-laki yang tidak mau menanggung biaya kencan mereka. Biaya kencan maksudnya adalah uang dikeluarkan pada saat kegiatan kencan misalnya saat makan di luar atau menonton film di bioskop. Kalau sekedar bayar makan sama menonton bioskop saja tidak mampu, bagaimana nanti kalau harus menanggung kebutuhan hidup keluarga setelah menikah? Begitu pikir saya.

Pendapat tersebut dibantah mentah-mentah oleh teman perempuan saya yang lain. Teman saya ini mengatakan secara terang-terangan kalau dia tidak keberatan kalau misalnya dia membayar makanan atau tiket bioskop saat dia makan atau menonton berdua dengan pacarnya. Dia juga menambahkan analogi lain seperti, kalau kita menuntut pacar untuk selalu membayar biaya kencan kita, berarti pacar kita boleh, dong, menuntut kita untuk selalu menuruti kemauannya saat ingin berhubungan badan, misalnya?

Kira-kira hal sederhana apa lagi ya yang bisa kita lakukan untuk melawan budaya patriarki? Bagikan jawaban kamu di kolom komentar yuk!

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Nuzhatul Ussak, sarjana pendidikan bahasa Inggris yang sedang melakukan FSJ di Jerman dan aktif membagikan ceritanya di akun twitter @Dhe_Ujha serta blog pribadinya di https://gayeman.com.