Women Lead
August 12, 2021

Perempuan Korea Selatan Lawan Diskriminasi lewat ‘Hallyu Wave’

Di tengah masyarakat Korea Selatan yang diskriminatif pada perempuan, konten budaya populer Hallyu Wave jadi bentuk perlawanan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Korean Wave
hallyu wave lawan diskriminasi
Share:

Saat penyanyi rap San E merilis lagu “Feminist” tiga tahun lalu, warganet Korea Selatan (Korsel) dan dunia merasa ‘panas’ dengan pesannya. Pasalnya, lagu itu disebut mengkerdilkan gerakan dan meniadakan diskriminasi yang dihadapi perempuan Korea Selatan. Dalam liriknya, San E mengaku sadar secara historis perempuan mengalami penindasan. Namun, perempuan di era modern tidak mengalami tekanan tersebut. Alasannya karena perempuan ‘diistimewakan’ dengan tidak mengikuti wajib militer, tidak harus mengemban beban ekonomi saat menikah, dan ketimpangan upah yang disuarakan aktivis adalah sebuah kebohongan. 

Laki-laki bernama asli Jung San itu juga mengritik gerakan #MeToo karena korban mendapatkan keuntungan materil setelah melakukan hubungan intim dengan laki-laki di posisi strategis. Selain itu, gerakan seperti Escape The Corset yang menolak standar kecantikan mencekik juga harus dihentikan karena lebih menyukai perempuan ‘normal’. Lagu “Feminist” pun menjadi sebuah paradoks ketika San E dalam liriknya mengaku feminis, tapi tidak menyadari di setiap aspek dikritiknya ada sistem yang secara struktural menindas perempuan. 

Warganet tidak ragu melemparkan kritik ke media sosialnya dan menyebut San E sebagai orang yang misoginis. Kritik senada juga dilemparkan dari sesama penyanyi rap, SLEEQ yang langsung membuat lagu balasan berjudul “Equalist”. Dalam liriknya, rapper perempuan itu juga menyampaikan San E berperilaku misoginis dengan memberikan pernyataan yang memang nyatanya menindas perempuan, walaupun dia mengaku ‘mencintai’ perempuan. 

SLEEQ menambahkan dalam lagunya, San E tidak paham opresi perempuan karena pengetahuan yang diterimanya dengan membaca ‘satu’ buku saja tidak menjadi justifikasi ia seutuhnya paham dengan isu perempuan. SLEEQ juga mengatakan secara sarkastik, San E meminta agar perempuan mempercayainya karena ia ‘berbeda’ dari laki-laki lainnya, tapi tetap saja menginternalisasi nilai-nilai misoginis.

“Hal yang saya inginkan agar kamu tidak membunuh, memperkosa, dan memukul saya. Untuk kamu tidak menyalahkan korban setelah pembunuhan, pemerkosaan, dan pemukulan. Untuk kamu tidak mendorong saya keluar dari sistem, sementara menyuruh saya untuk menyalahkan sistem,” bunyi lagu tersebut. 

Jika melihat situasi itu, San E dan SLEEQ sama-sama menyentil dan menyampaikan pendapat yang berseberangan tentang ketimpangan gender dan feminisme di Korea Selatan dengan musik. San E menggunakannya untuk melanggengkan nilai-nilai misoginis dengan menyepelekan masalah perempuan. Sementara, SLEEQ menggunakan musik untuk melawan miskonsepsi yang disematkan pada perjuangan perempuan.

‘Hallyu Wave’ Senjata Lawan Diskriminasi

Riset #PopJustice: Volume 3 Pop Culture, Perceptions, and Social Change (2016) menyebutkan budaya populer, seperti film, buku, musik, selebritas, hingga berbagai bentuk hiburan lainnya memiliki dua sisi: dapat melanggengkan atau membawa perubahan sosial. Hal itu disebabkan karena budaya populer adalah refleksi realitas yang mendefinisikan identitas suatu kelompok, tergantung pihak yang membentuk produknya. Namun, jika fokus pada budaya populer sebagai alat perubahan, sifatnya yang dinamis, mudah diakses, dan memiliki nilai emosional tinggi mengajak masyarakat meredefinisi realitas mereka. 

Senada dengan pernyataan tersebut, artikel How New Media and Pop Culture Shape Social Change Today di laman Project Deep menjelaskan, budaya populer membawa kesadaran kolektif tentang isu sosial untuk perubahan. Budaya populer juga jadi semacam senjata untuk melawan diskriminasi. Pengaruhnya juga dimudahkan dengan peran media yang menyebarkan konten. 

“Dengan penyebaran budaya populer lewat media, publik bisa meningkatkan kesadaran atas suatu isu yang tidak dibicarakan, entah isu rasialis, ketimpangan gender, maupun edukasi seksual,” bunyi artikel yang diterbitkan Project Deep, perusahan digital fokus pada pengembangan keahlian tingkat kerja dari Malaysia itu. 

Membawa pemahaman itu ke ranah sosial di Korea Selatan, Hallyu Wave atau Korean Wave yang makin marak digemari dan mudah diakses menjadi medium sempurna menyampaikan realitas masyarakat. Mulai dari yang baik sampai buruk. Belakangan ini produk hiburan yang disuguhkan kekuatan kultural berjuta won itu banyak mengangkat isu feminisme atau diskriminasi sosial yang dialami perempuan. Singkatnya, Korean Wave menjadi bentuk perlawanan dari perempuan. 

Mengambil contoh K-drama Miss Hammurabi, di episode awal pemeran utamanya Park Cha Oh-reum melawan laki-laki yang mengangkang lebar dan mempersempit tempat duduk atau manspreading di kereta api dengan cara yang komikal. Selain itu, karakter yang diperankan Go Ara itu juga menunjukkan realitas menyakitkan menjadi penyintas pelecehan seksual di tempat kerja yang tidak bisa mendapatkan keadilan di jalur hukum. 

Ada juga Hospital Playlist yang mengangkat isu perempuan di ranah kesehatan hingga isu kekerasan dalam rumah tangga. Pemeran utama Chae Song-hwa (Jeon Mi-do), dokter ahli bedah saraf sempat diremehkan kredibilitasnya hanya karena dia perempuan. Selain itu, dalam satu ceritanya menyentuh isu melahirkan dengan operasi caesar yang ditabukan. Sang ibu sedang dalam kondisi kritis, namun si mertua keukeuh menolak sebab melahirkan secara normal ‘katanya’ membuat anak lebih cerdas. 

Cerita-cerita tentang lika-liku kehidupan perempuan juga disampaikan dalam novel feminis yang sangat ditabukan, Kim Ji-young, Born 1982 (2016) kemudian diangkat menjadi film pada 2019. Sebagai anak perempuan, Kim Ji-young mendapatkan perlakuan berbeda dari saudara laki-lakinya yang lebih disayang oleh ayah hingga tantenya. Anak perempuan disudutkan dan harus mengubur impian mereka untuk menyesuaikan diri dalam tatanan masyarakat patriarkal. Ada juga mikro agresi ketika perempuan yang disalahkan saat mereka menjadi korban ancaman kekerasan seksual. 

Produk musik atau industri K-pop juga semakin gencar dengan grup generasi keempat memboyong konsep girl crush yang menjunjung tinggi pengalaman dan rasa percaya diri perempuan. Musiknya pun memberikan dukungan sesama perempuan. Penyanyi solo Jessi dengan “What Type of X” yang menentang standar kecantikan dangkal yang menuntut perempuan harus kurus, putih, dan berwajah tirus. Selain itu, “Hip” dari grup idola MAMAMOO yang menjadi simbol ‘feminis’ tidak resminya Korsel dengan menekankan perempuan bisa menjadi apa saja, pemimpin, seniman, aktivis, juga seorang ibu yang berdaya. 

Namun, produk K-pop yang paling besar pengaruhnya adalah lagu “Into The New World” dari grup idola Girls’ Generation yang menjadi simbol tuntutan perubahan sosial. Lagu tersebut sering digunakan dalam pride parade Korea Selatan melawan masyarakat homofobik. Tidak hanya itu, “mahasiswa Ewha Womans University juga menyanyikannya saat melakukan demonstrasi keputusan kampus untuk membuka program penjurusan baru yang dinilai elitis. Demonstrasi mahasiswa itu juga mengantar pengunduran diri mantan Presiden Park Geun-hye dari posisinya karena kasus korupsi. 

“SNSD merasa bangga dengan momen itu. Sekarang adalah generasi untuk feminis dan era pesan pemberdayaan dari perempuan untuk perempuan lain menjadi penting. Saya merasa lagu kami berperan dalam hal itu dan saya bahagia sekali,” ujar Tiffany anggota Girls Generation dalam wawancara bersama majalah W Korea 2017 silam. 

Meskipun begitu, budaya populer tidak lepas dari kritik ada upaya mengkomodifikasi gerakan feminisme. Kim Suk-Young akademisi dari University of California menyampaikan hal senada karena dalam K-pop pemberdayaan tidak lepas dari cara menggaet pasar.

“Tidak ada jalan tengah antara perubahan sosial besar yang terjadi secara global dan parade K-pop ini adalah strategi marketing,” ujarnya dikutip dari Billboard.  

Dengan demikian, perlawanan dari selebritas yang tidak sekadar di atas punggung sangat didukung, seperti Hwasa dari MAMAMOO yang bersikap bodo amat dengan cacian body shaming. Ryujin dari ITZY yang secara tipis-tipis mengkritik perilaku misoginis industri K-pop ketika perempuan dinilai tidak ‘sekuat’ laki-laki dalam menari. Atau sekaligus menjadi galak layaknya Yeeun dari Wonder Girls yang tidak terima masyarakat menghina feminisme. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.