Women Lead
December 14, 2020

Magdalene Primer: Perbedaan Misogini dan Seksisme

Misogini dan seksisme memiliki perbedaan mendasar meski saling berkaitan dalam hal diskriminasi gender.

by Selma Kirana Haryadi
Issues // Feminism A-Z
Patriarki_Seksisme_Misoginis_KarinaTungari
Share:

Bagi orang-orang yang aktif mengikuti perkembangan isu seputar feminisme dan kesetaraan gender, seksisme dan misogini adalah dua terminologi yang sudah sering sekali didengar. Dua istilah ini biasanya dipakai baik untuk mencontohkan perilaku yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, maupun untuk mengidentifikasi kebijakan dan tindakan yang secara sengaja dibuat atau dilakukan untuk melemahkan posisi perempuan.

Secara umum, seksisme dan misogini sama-sama berpondasi pada persepsi dan perilaku yang menomorduakan perempuan di tengah dunia yang maskulin ini. Tapi, ada perbedaan mendasar mengenai apa itu misogini, dan apa itu seksisme, yang jarang disinggung dan dikaji, padahal sangat penting untuk diketahui.

Hal pertama yang perlu diketahui adalah, baik misogini maupun seksisme sama-sama berlandaskan pada sebuah hal yang bernama diskriminasi. Penggunaan kata ini mungkin sudah marak diperkenalkan dalam konteks pembedaan kelompok suku dan ras. Tapi, diskriminasi juga mencakup pembahasan mengenai bagaimana gender dan identitas seksual seseorang, dan bagaima itu bisa dijadikan alat untuk menjustifikasi pembedaan dan pemisahan mereka dari tindakan ataupun kebijakan yang seharusnya berlaku bagi semua orang.

Diskriminasi merupakan segala tindakan atau kebijakan yang berdasar pada prasangka terhadap individu atau kelompok tertentu. Hal ini juga didorong oleh persepsi bahwa ada individu atau kelompok tertentu yang harus mendapatkan perlakuan/kebijakan berbeda agar kelompok lain yang dianggap lebih tinggi bisa menonjol secara sosial. Diskriminasi menolak pemahaman bahwa semua manusia itu setara.

Diskriminasi gender dalam bentuk kebencian yang ekstrem terhadap perempuan sehingga membuat para laki-laki melakukan perilaku buruk yang menekan perempuan sering dikenal sebagai misogini.

Baca juga: Laki-laki Bertanggung Jawab Belum Cukup, Karena Belum Tentu Dia Tak Misoginis

Kebencian terhadap perempuan

Menurut filsuf feminisme Kate Manne dalam bukunya Down Girl: The Logic of Misogyny (2017), misogini merujuk pada sebuah lingkungan atau sistem sosial di mana perempuan menghadapi perlakuan koersif, tak bersahabat, dan yang berbau kebencian, hanya karena mereka adalah perempuan di dunia para laki-laki yang maskulin. Misogini disebut juga sebagai sistem patriarki yang historis.

Yang patut digarisbawahi dari misogini adalah target perlakuan tidak bersahabat itu hanyalah perempuan-perempuan yang dinilai tidak bersikap sesuai “kodrat”, yaitu ada di bawah laki-laki, dan standar dalam budaya patriarkal. Para perempuan yang dinilai berperilaku sesuai kodratnya menghadapi perlakuan tak bersahabat itu.

Pada masa kini, hal itu salah satunya tecermin dari perundungan fisik maupun digital terhadap para perempuan aktivis atau jurnalis. Mereka ini biasanya vokal mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender, anti-pelecehan seksual, serta anti bentuk-bentuk perlakuan laki-laki lainnya yang tidak mengindahkan hak dan otoritas perempuan sebagai manusia seutuhnya.

Pertengahan sampai akhir tahun 2020 ini, perundungan terhadap perempuan aktivis ataupun jurnalis marak terjadi. Ini bisa ditemukan dalam berbagai diskusi dan diskursus mengenai otoritas tubuh, kesetaraan akses dan kesempatan di ruang publik dan pekerjaan, kesetaraan tanggung jawab pekerjaan domestik antara suami dan istri dalam pernikahan, dan sebagainya. Banyak sekali laki-laki yang mengecam dan mengejek para perempuan ini dengan alibi seperti “Perempuan kan memang harus bisa masak. Kalau tidak bisa, jadi apa gunanya kamu di dalam keluarga?”

Tak sedikit dari mereka yang melecehkan perempuan itu, seperti mengirimi foto/video porno, melakukan teror melalui pesan dan komentar di media sosial, dan sebagainya. Ini termasuk misogini. Alasan pertamanya, karena ini mengandung tindakan koersif dari laki-laki terhadap perempuan. Kedua, karena ini mengandung usaha untuk mengekang perempuan untuk tidak memberontak dari sistem sosial yang patriarkal ini, yang ditandai oleh ketidaksetaraan peran dalam pernikahan.

Baca juga: 5 Pemikiran Filsuf Terkenal yang Sungguh Patriarkal

Hal itu sekaligus menggarisbawahi bagaimana perempuan selalu berada di bawah bayang-bayang standar semu tentang sikap dan penampilan yang seharusnya. Selain itu, hal tersebut juga lahir semata dari perspektif para laki-laki yang ingin tetap menjadi sosok dominan dalam keluarga dan masyarakat. Caranya, dengan mengungkung mereka dalam penggambaran karakter perempuan ideal yang submisif dan cantik bak perhiasan.

Seksisme anggap perempuan inferior

Berbeda dengan misogini yang jelas-jelas menyertakan tindakan-tindakan koersif dan represif terhadap perempuan, seksisme adalah ideologi yang mendukung relasi sosial yang patriarkal. Seksisme menitikberatkan pada kekuatan pemikiran dan ideologi yang mempercayai dan menjustifikasi bahwa laki-laki superior, sementara perempuan inferior. Justifikasi itu kemudian mengidealisasi sebuah perbedaan yang hierarkis dalam gender.

Berbagai dimensi dalam seksisme mengandung nilai-nilai yang berusaha meyakinkan banyak orang bahwa perempuan itu subordinat, sementara misogini cenderung hanya tercermin lewat perilaku yang koersif dan tak bersahabat tadi. Seksisme bisa digunakan untuk memvalidasi misogini ketika alasan seksis digunakan sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang menyakiti perempuan. Secara singkat, misogini adalah manifestasi moral dari ideologi seksis.

"Saya pikir, misogini dan seksisme bekerja sama, bahu membahu, dalam mewujudkan relasi sosial yang tidak setara. Seksisme adalah ideologi yang berbunyi, 'Pengaturan sosial [yang patriarkal] ini memang benar dan masuk akal, karena sifat-sifat seperti mengasuh, merawat, dan empati, memang ada di diri perempuan,’” kata Kate Manne dalam sebuah wawancara bersama Vox.com mengenai ulasan bukunya.

Baca juga: Femisida: Perempuan-perempuan yang Dibunuh karena Gendernya

Ketika seorang laki-laki melecehkan kolega perempuannya di kantor karena merasa posisinya terancam oleh ambisi dan kompetensi kolega perempuannya itu, yang ia nilai seharusnya berada di posisi lebih rendah darinya, berarti itu adalah misogini. Tapi ketika seorang atasan laki-laki memberikan pekerjaan administrasi yang relatif mudah tapi kurang berpeluang dalam mendapatkan promosi kepada pegawai perempuan, hanya karena berpikir bahwa perempuan tidak terlalu berdedikasi di kantor karena harus mengurus keluarga, berarti itu adalah seksisme.

Contoh lain yang lebih sederhana, ketika laki-laki menganggap bahwa perempuan hanya boleh memakai pakaian yang tertutup dan tidak mempertontonkan lekuk tubuh dengan alasan tubuh perempuan adalah milik suaminya, dan laki-laki tidak diberikan beban yang sama, berarti itu adalah seksisme.

Pasalnya, perlakuan itu berbasis pada stereotip dan pemikiran bahwa perempuan harus selalu mengikuti standar dan nilai kecantikan yang submisif dan memisahkan dia dari tubuhnya sendiri. Hal itu juga tidak disertai dengan kecaman fisik atau verbal, tapi hanya berpusat di pemikiran dan kepercayaan.

Namun ketika laki-laki membuat candaan kotor mengenai seorang perempuan aktivis feminisme yang berpakaian terbuka, misalnya dengan mengolok-olok bentuk tubuhnya dan menyebutnya tidak sedap dipandang, berarti itu adalah misogini. Alasannya, para laki-laki itu merasa tersinggung atau terancam dengan keyakinan sang perempuan mengenai otoritas tubuh, yang menyiratkan ketidakpatuhan perempuan terhadap laki-laki di mata mereka.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.