January 23, 2020
Perempuan Simpanan: Korban Atau Tak Bermoral?

Adalah sesuatu yang problematik ketika para feminis mengatakan bahwa perempuan simpanan adalah korban.

by Anita Siregar
Issues // Politics and Society
Share:

Sejak awal Desember lalu, jagat Twitter dihebohkan oleh skandal petinggi-petinggi salah satu badan usaha milik negara. Skandal ini melibatkan beberapa perempuan, yang katanya, jadi simpanan para petinggi tersebut. Beberapa mengiyakan kebenaran skandal ini dalam wawancara TV, sementara oknum-oknum yang merasa dirugikan mengelak habis-habisan.

Ada hal yang menarik ada skandal ini. Akun anonim yang awalnya ingin menguak keburukan petinggi-petinggi BUMN tersebut, justru sempat terlalu fokus membahas perempuan-perempuan di balik punggung mereka. Bukan. Ini bukan tentang istri atau anak perempuan mereka, melainkan simpanan.

Gundik. Begitu warganet menyebut para kekasih gelap ini.

Mereka berparas cantik dan bergelimang harta, yang lagi-lagi katanya, bersumber dari uang negara. Relasi yang mereka punya dengan petinggi-petinggi tersebut menempatkan mereka dalam posisi yang menguntungkan. Power yang mereka dapatkan digunakan dengan sebaik mungkin untuk menyingkirkan orang lain.

Semua tuduhan yang dilayangkan oleh akun anonim tersebut membuat warganet bukan main geram kepada semua pihak yang terlibat dalam lingkaran hitam tersebut, khususnya perempuan-perempuan yang terlibat di dalamnya. Mereka dianggap merusak rumah tangga orang lain dan merusak karier seseorang demi kepentingan pribadi dan golongan. Berbagai hinaan dan celaan diluncurkan kepada mereka, sampai beberapa menutup akun media sosial karena tidak kuat dengan caci maki warganet.

Baca juga: Gundik yang Hidup Lagi

Budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai patriarki selalu menempatkan posisi laki-laki di atas perempuan. Karenanya, beban moral perempuan yang mau menjadi simpanan, lebih berat dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki simpanan. Memiliki simpanan, sama dosanya dengan menjadi pelakor (perebut laki orang) dan pebinor (perebut bini orang). Hubungan keduanya menghasilkan nilai amoral yang sama, dan tidak sepantasnya dijustifikasi dengan alasan perilaku menyimpang atau khilaf. Namun yang terjadi di lapangan, perempuan simpanan layak dicaci maki, sementara laki-laki yang memiliki simpanan berhak atas ampunan.

Tapi di sinilah so-called confused feminist bermunculan.

Dengan konsistensi membela kaum perempuan, narasi bahwa perempuan-perempuan tersebut pantas disebut sebagai korban mulai digaungkan. Berbagai macam teori disebutkan, mulai dari teori relasi kuasa hingga interseksionalitas diseret ke dalam skandal ini. Cocoklogi penindasan finansial dan penindasan secara objektif pun direkatkan. Bahkan pernyataan, “Women have each other’s backs is not true” kembali digaungkan karena hujatan lebih didominasi oleh sesama perempuan.

Menurut saya, pernyataan itu problematik.

Secara rasional, laki-laki atau perempuan yang memiliki power dan finansial akan terlihat lebih menarik bagi lawan jenisnya. Hal ini diamini oleh psikolog Jerman, Jorris Lammers, dkk dalam penelitian mereka yang bertajuk “Power Increases Infidelity Among Men and Women”.

Dalam skandal ini, laki-laki yang memiliki power dan finansial akan dengan mudah memiliki perempuan simpanan dengan hubungan yang saling menguntungkan. Laki-laki akan mendapatkan apa pun dari perempuan simpanannya, dan sebagai imbalan, perempuan simpanan juga mendapatkan apa pun, termasuk power dan finansial. Hal ini akan menempatkan perempuan simpanan dalam kondisi yang sulit apabila ia kehilangan pegangan finansialnya. Namun, hal ini juga akan menyulitkan laki-laki apabila perempuan simpanan membocorkan hubungan mereka kepada istri, atau keluarga laki-laki jika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

Di sinilah bagaimana simbiosis mutualisme bekerja.

Baca juga: De-romantisasi Poligami

Lalu, ketika perempuan simpanan secara sadar mau menjadi simpanan seseorang yang juga secara tidak langsung mengabaikan bahwa laki-laki tersebut sudah menikah dan memiliki anak—apalagi setelah skandal ini terkuak—ada kabar bahwa rumah tangga salah satu petinggi tersebut di ambang kehancuran, maka masihkah pantas perempuan simpanan dikatakan sebagai korban?

Ya, perempuan simpanan dihina, dicela dan dicaci maki dengan rangkaian kata yang sungguh menyakitkan. Tapi bukankah seharusnya perempuan simpanan sudah tahu konsekuensi dari perbuatannya?

Lalu, jika konsistensi pembelaan terhadap perempuan yang dilakukan oleh feminis memang harus betul-betul dilakukan, maka ketika ada perempuan lain--misalnya istri dan anak perempuan dari petinggi ini yang merasa disakiti dengan skandal ini, atau pegawai-pegawai BUMN yang disingkirkan oleh perempuan simpanan dengan power yang ia dapatkan dari laki-laki, maka siapa yang seharusnya kita bela?

Bingung?

Sama.

Tapi mari kita bicara blak-blakan.

Memiliki simpanan atau menjadi simpanan seseorang dengan alasan apa pun adalah perbuatan bermoral rendah tanpa memandang apa gender dan orientasi seksualnya. Ada banyak cara yang lebih baik yang dapat dilakukan untuk mendapatkan power dan memiliki pemasukan finansial. Dan bahkan akan lebih baik apabila kita menggunakan power tersebut untuk mendukung gerakan perempuan dalam penghapusan diskriminasi.

Feminis sesungguhnya tahu mana yang harus dibela. Feminis yang bingung hanya mengikuti arus tanpa tahu akan ke mana arahnya.

Anita Siregar adalah pencinta kucing. Ia banyak bicara jika menyangkut hak asasis manusia dan feminisme. Ia senang berdiskusi jadi silakan hubungi dia di anitaprsrg@gmail.com.