July 21, 2020
Primadona dalam Arsitektur Masih Laki-laki

Profesi arsitektur selalu mempertanyakan, "Di mana suara perempuan", tapi abai terhadap praktik yang membuat suara-suara itu hilang.

by Sylvania Hutagalung
Issues // Gender and Sexuality
City Women Night_SarahArifin
Share:

Setengah penduduk dunia adalah perempuan, namun di banyak bidang profesi, perempuan masih menjadi minoritas. Tidak terkecuali dalam arsitektur.

Martha Thorne, Direktur Eksekutif Pritzker, penghargaan setara Nobel dalam bidang arsitektur, mengatakan bahwa profesi arsitek masih sangat konservatif dan resisten terhadap perubahan karena arsitek selalu melihat ke “belakang”, bukan ke depan. Dia menyoroti kultur pengkultusan individu-individu tertentu, yang cemerlang dan dianggap seniman, yang membuat arsitektur seperti sebuah cult. Dalam lingkar yang rapat dan tersentral inilah, toleransi yang sangat besar diberikan kepada individu cemerlang tadi, terkait sikap dan keputusan-keputusan desain mereka.

Kekaguman berlebihan ini melahirkan hierarki; ada yang kastanya lebih tinggi dari yang lainnya. Ada satu individu sempurna yang menjadi pusat orbit dari arsitek-arsitek lain yang “lebih tidak cemerlang”. Dan dalam sistem kasta inilah lahir dominasi, eksploitasi, dan akhirnya menubuh menjadi patriarki.

Dennis Scott Brown, menulis sebuah esai penting di tahun 1975 yang menyebut arsitektur sebagai “boy’s club” dan menyamakannya dengan praktik otoriter. Dan dia berkeyakinan bahwa ini terkait erat dengan pengkultusan individu cemerlang tadi, yang dalam tulisannya disebut sebagai “star system.” Saat ini mungkin kita mengenalnya dengan sebutan starchitect. Dia menjelaskan secara lugas:

“Mengapa arsitek suka menciptakan ‘idola’? Karena, menurutku, arsitektur berurusan dengan sesuatu yang tak terukur. Arsitektur memang perpaduan seni dan ilmu pengetahuan, namun arsitek menyandarkan penilaian kompetensi mereka berdasarkan pendapat rekan sejawat mereka (peer review). Dan kriteria-kriteria yang dipakai sering kali adalah kriteria yang ‘pincang’ jika tidak bisa dikatakan ‘tak mungkin didefinisikan’. Ketika berhadapan dengan hal-hal tak terukur seperti ini, kita sering kali jadi lebih mudah percaya pada ‘sihir’. Sama seperti sebelum teknologi navigasi ditemukan, orang-orang memakai patung perempuan cantik pada haluan kapal sebagai panduan arah; dan arsitek memilih untuk percaya pada ‘guru-guru’ mereka dalam mengarungi samudra desain yang tak terukur dan tanpa aturan yang jelas ini. Para ‘guru’ ini selalu hadir dalam sosok ‘bapak” [...]. Aku curiga, bagi para arsitek ini tidak mungkin ada sosok ‘Ibu Arsitek’ atau ‘Guru Pop’ dalam arsitektur. Primadona dalam arsitektur hanyalah laki-laki.”

Baca juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Ketika arsitek membicarakan arsitektur, mereka (hampir selalu) membatasi diri pada persoalan tektonik dan bangunan semata. Arsitek seakan alergi dengan yang lain di luar arsitektur. Profesi ini selalu mempertanyakan, "Di mana suara perempuan", namun abai terhadap realitas praktik yang membuat suara-suara itu hilang.

Pada esainya, Denise menuliskan keheranannya, karena banyak perempuan mengaku tidak mengalami diskriminasi di profesi ini, padahal sejak dari awal karier sebagai arsitek, perlakuan berbeda sudah terjadi antara perempuan dan laki-laki. Dari hal yang paling sederhana saja, seperti prasangka bahwa perempuan lemah dan kurang kompeten yang menyebabkan perempuan jarang dipercayakan tanggung jawab yang besar, hingga hal-hal yang brutal, seperti seksisme, kesenjangan gaji, dan pelecehan di lokasi konstruksi. Keheranannya bertambah ketika diskriminasi ini terakumulasi lalu menjelma menjadi kesenjangan yang besar, rata-rata perempuan malah menyalahkan dirinya karena merasa dia kurang berusaha keras.

Arsitektur sulit paham feminisme

Bagaimana dengan arsitektur di Indonesia? Kecenderungan yang sama juga terlihat jelas. Banyak perempuan arsitek yang melihat bahwa menjadi arsitek yang “bener” dan “diterima” dalam lingkar arsitek menjadi satu-satunya jalan emansipasi. Mereka berlomba-lomba menjadi individu cemerlang, maskulin, dan menenggelamkan dirinya hanya untuk berarsitektur. Ini terbaca ketika dalam sebuah debat terbuka, Irianto Purnomohadi, seorang arsitek papan atas Indonesia, menyerukan agar semua arsitek menyelesaikan masalahnya masing-masing di luar studio, sehingga ketika masuk ke lingkungan praktik semua arsitek hanya akan murni berarsitektur. Pendapat ini khas laki-laki patriarkal yang mengukur segala sesuatunya pada produktivitas.

Baca juga: ‘Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?’: Kebaikan yang Dinihilkan

Anehnya pendapat seksis ini juga diamini oleh Ibu Mieke Damayanti, yang merupakan pengajar arsitektur dari sebuah universitas swasta terkemuka. Perempuan seakan tidak menyadari apa yang berbahaya bagi dirinya dan kaumnya, selama mereka bisa masuk dalam lingkar elite arsitek, mereka akan mengikuti apa pun yang menjadi norma di sana. 

Kultur individu cemerlang dan penyembahan starchitect ini menjadi sesuatu yang toksik, karena sistem ini memberi kuasa lebih kepada starchitect yang membuat mereka merebut otoritas atas siapa yang berhak berbicara atas nama arsitek dan tentang arsitektur. Ketika ada pertanyaan, “Di mana suara perempuan arsitek,” seakan hanya perempuan arsitek yang berprestasilah yang berhak bersuara. Jika ini disebut feminisme, maka ini hanyalah feminisme gaya hidup. Feminisme seperti ini hanya menginginkan kesetaraan normatif tanpa “menggoyang” apa pun di dalam sistemnya yang patriarkal.

Memang feminisme merupakan hal yang asing di arsitektur. Semangat feminisme yang kolektif dan berbasis solidaritas juga menjadi hal asing di arsitektur yang punya kultur yang sangat soliter. Arsitek menerima hierarki sebagai sebuah keniscayaan karena arsitek dididik dalam ritus yang hierarkis.

Baca juga: Jalan Terjal Jadi Kepala Sekolah Perempuan di Indonesia

Di masa lalu, arsitek hanya akan lulus sebagai arsitek jika gurunya sudah menyatakan dia layak. Apa pun yang diminta dan diperintahkan oleh sang guru menjadi sebuah kewajiban bagi arsitek untuk melakukannya. Rasanya ini yang membuat feminisme menjadi hal yang sulit dimengerti dalam arsitektur. Karena feminisme adalah sikap politik. Jika feminisme percaya bahwa hierarki melahirkan dominasi, maka feminis seharusnya berjuang membongkar hierarki dan melawan apa pun yang menjadi representasinya.

Untuk mendekonstruksi sistem nilai ini, agensi pada arsitek-arsitek muda, khususnya perempuan arsitek menjadi sebuah urgensi. Mereka harus bisa membayangkan apa itu arsitektur tanpa harus meminta afirmasi dari starchitect. Hal ini juga masih menjadi sesuatu yang jauh panggang dari api, mengingat kultur pendidikan arsitek cenderung “mendoktrin” mahasiswa arsitek untuk menjadi “individu cemerlang” melalui panggung-panggung dan pemberitaan di media yang selalu berintonasi positif dan penuh puja-puji. Hierarki yang ada di dunia praktik juga dikuatkan oleh sistem media yang tidak punya visi.

Menghadapi rangkaian sebab akibat yang rumit ini, perlu ada gerakan perempuan dalam arsitektur yang “keluar” dari lingkaran arsitek. Kita tidak bisa mengkritik arsitektur hanya dengan arsitektur. Arsitektur tidak punya pengetahuan untuk mengerti tentang relasi kuasa, atau seksisme, atau bahkan sistem sirkular ekonomi. Di dalam ruang gerak arsitek sesungguhnya ada banyak kejadian dan pengetahuan di luar arsitektur—yang sayangnya selalu diabaikan arsitek. Untuk bisa berdampak, arsitektur harus ditajamkan dengan yang lain di luar arsitektur. Dan untuk membangun kesadaran akan penindasan dan eksploitasi dalam praktik, feminisme bisa menjadi titik berangkat yang baik.

Perlu ada gerakan perempuan dalam arsitektur yang “keluar” dari lingkaran arsitek. Karena arsitektur tidak punya pengetahuan untuk mengerti tentang relasi kuasa, atau seksisme, atau bahkan sistem sirkular ekonomi.

Ada dua hal mendasar dari isu perempuan yang perlu dibicarakan secara terus-menerus dalam praktik arsitek. Pertama bagaimana merebut kembali otoritas untuk bersuara sebagai arsitek yang selama ini didominasi elite. Lalu, bagaimana mendorong partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok minoritas (baik perempuan dan non-biner), sehingga tercipta inklusivitas yang bisa “mengusik” suara mayoritas dalam wacana arsitektur arus utama.

Tentu, untuk mendudukkan isu gender dalam praktik arsitek, kita perlu mendefinisikan pola-pola relasi antara arsitek dengan orang-orang yang bekerja bersamanya, juga industri yang melingkupinya. Karenanya, sangat penting mendorong adanya penelitian dan diskusi lintas ilmu untuk membangun komunikasi dengan yang lain di luar arsitektur.

Arsitek Perancis Jean Nouvel pernah mengkritik industri arsitektur yang menurutnya malah “terjun bebas” justru ketika industri konstruksi berekspansi. Ini sebuah gejala yang jelas, betapa arsitektur hanya akan melakukan bunuh diri ketika dia tidak siap membuka diri dan berubah. Michál Cohen, Direktur Walters and Cohen pernah berkata, "Changing current practice is important, but changing future practice is fundamental."

Sylvania Hutagalung, perempuan yang belajar arsitektur secara formal dan belajar menulis secara informal. Baginya menulis adalah mencari masalah. Namun dia percaya, itulah tugas seorang terpelajar.