October 25, 2019
Produk-produk Unik Ramah Lingkungan yang Harus Kamu Coba

Selain sedotan “SJW” atau tas belanja sendiri, ada produk-produk keren ramah lingkungan lainnya yang harus kamu coba.

by Shafira Amalia, Reporter
Lifestyle
Share:

Ada tren menarik saat ini yang mudah-mudahan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan lingkungan hidup. Produk-produk ramah lingkungan seperti sedotan logam (dengan sebutan peyoratif “sedotan SJW”) banyak dijual dan laris, dan sudah banyak yang sadar untuk membawa tempat makan dan tas belanja sendiri.  

Inovasi produk ramah lingkungan tidak hanya berhenti di situ. Masih banyak produk-produk lain yang layak kamu coba demi kelestarian lingkungan. Apa saja kah? Berikut produk-produk unik yang bisa kita gunakan untuk mengurangi kontribusi kita terhadap kerusakan lingkungan.

1. Upcycle Kertas

Punya banyak kertas bekas yang menumpuk? Jangan langsung dibuang ya. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa Jakarta saja dapat menghasilkan hingga 650 ton sampah kertas per harinya, atau 10,37 persen dari seluruh sampah harian.

Kita bisa mendaur ulang kertas bekas pakai agar bisa digunakan kembali, seperti yang dilakukan oleh Rubah Kertas. Toko daring ini mengumpulkan berbagai macam sampah kertas dan memprosesnya ulang menjadi kertas daur ulang yang dapat digunakan kembali.

Langsung saja kirim pesan ke Rubah Kertas jika kamu ingin memberikan sampah kertasmu. Toko ini juga sering berbagi ilmu mengenai sampah-sampah kertas yang bisa atau tidak bisa didaur ulang, dan proses daur ulang kertas yang dapat dilakukan sendiri di rumah.

2. Tisu basah mudah terurai

Air tumpah sedikit? Tisu. Ke toilet? Tisu. Mengelap meja, mengeringkan tangan, membersihkan make-up? Juga tisu. Betapa banyaknya tisu yang kita gunakan untuk berbagai macam kebutuhan, padahal dampaknya buruk bagi lingkungan.

Hasil penelitian WWF Indonesia yang bekerja sama dengan perusahaan solusi pemasaran Hakuhodo menunjukkan bahwa 54 persen penduduk Indonesia di kota besar menggunakan tiga helai tisu hanya untuk mengeringkan tangan. Di seluruh Indonesia, sampah tisu mencapai hingga 25 ribu ton.

Baca juga: Bingung Mengelola Sampah? Ikuti 5 Program Ini!

Pada tahun 2015, surat kabar Inggris The Guardian menobatkan tisu basah sebagai “musuh terbesar tahun 2015” karena satu lembar tisu basah mengandung serat plastik yang tidak dapat mengurai secara alami.

Cara bijak untuk mencegah deforestasi atau penebangan hutan sebagai bahan baku tisu, serta mengurangi sampah plastik adalah dengan menghemat penggunaan tisu atau menggunakan tisu yang terbuat dari bahan kapas, seperti produk yang diproduksi oleh cottontree. Tisu basah semacam ini sangat mudah terurai secara alami dan tidak mencemari lingkungan. Tidak hanya itu, tisu basah yang diproduksi oleh cottontree ini bebas dari bahan alkohol, petrokimia, sabun, dan sulfat.

3. Korek kuping bambu atau kayu

Beberapa tahun yang lalu sebuah foto sempat viral di media sosial yang memperlihatkan seekor kuda laut yang membawa korek kuping, di laut di daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Gagang korek kuping terbuat dari plastik dan tentunya berkontribusi dalam penumpukan sampah plastik di seluruh dunia. Di Inggris, relawan Great British Beach Clean menemukan 17 korek kuping setiap 100 meter di pantai-pantai negara itu. Ini terjadi karena plastiknya yang ringan sering kali terselip ke sistem pembuangan air dan berakhir di pantai.

Inovasi untuk menggunakan kayu atau bambu untuk korek kuping terlahir dari keprihatinan terhadap kontribusi korek kuping terhadap memburuknya kondisi sampah di perairan. Sudah banyak toko daring yang menjual korek kuping dengan gagang bambu atau kayu yang lebih mudah terurai, misalnya Eco Friendly Stuff Bandung (@ecofriend_ly), yang menggunakan kayu dengan warna-warni menarik.

Baca juga: 7 Produk Khusus Perempuan dan Laki-laki yang Cuma Akal-akalan Bisnis

4. Kapas kain

Dalam sehari, untuk menghapus tata rias saja kita memerlukan paling tidak satu atau dua helai kapas sekali buang. Belum lagi kapas ini biasanya dijual dalam kemasan plastik di pasar swalayan. Untuk mengurangi sampah kapas, telah tersedia kapas dari kain, salah satunya yang dijual @ecofriend_ly. Kelebihan utama dari kapas kain ini adalah dapat dicuci dengan menggunakan air dan dapat digunakan berkali-kali. Sudah berapa kapas yang sudah kita hemat dengan menggunakan kapas kain ini? Tidak merasa bersalah lagi, deh.

5. Pembalut kain

Pembalut memang kebutuhan bulanan perempuan, tetapi pembalut sekali pakai sangat berdampak buruk terhadap lingkungan. Menurut lembaga Zero Waste Nusantara, satu orang dapat menghasilkan sekitar 300 sampah pembalut setiap tahunnya. Menyadari ini, terlahirlah inovasi reusable sanitary pads atau pembalut yang terbuat dari kain. Seperti yang dipakai oleh nenek atau ibu kita dulu.

Biyung Indonesia, sebuah komunitas perempuan, sering bekerja sama dengan komunitas lainnya untuk mengadakan lokakarya membuat pembalut kain sendiri. Biyung Indonesia memang sebuah komunitas yang fokus dalam aktivitas dan usaha sosial dengan tema “perempuan bantu perempuan”.

Di dalam lokakarya ini kita tidak hanya dapat membuat pembalut ramah lingkungan sendiri, tetapi kita juga bisa berkontribusi untuk berbagai isu. Seperti baru-baru ini, Biyung mengadakan lokakarya pembuatan pembalut kain bersama untuk menggalang dana untuk gerakan memperjuangkan hak hidup sehat bagi Saudari Perempuan dan Mama Tanah Papua.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Shafira Amalia merupakan lulusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Demi memenuhi hasrat dan kegemarannya dalam menulis, Shafira mengalihkan mimpinya dari menjadi diplomat ke menjadi reporter. Menurut Shafira, berjuang menghancurkan patriarki tak kalah menariknya dengan cita-cita dia bertemu dengan Billie Eilish.

Follow Instagram Shafira di @sapphire.dust.