October 27, 2020

Serial ‘Valeria’: Krisis Penulis dan Arti ‘Sisterhood’

Serial ‘Valeria’ di Netflix mengisahkan krisis yang dialami perempuan penulis dan arti ‘sisterhood’.

by Andi Cipta Asmawaty
Culture // Screen Raves
Valeria Netflix Sinopsis
Share:

Serial Valeria yang berbahasa Spanyol sempat trending di Netflix berbagai negara baru-baru ini. Diadaptasi dari novel En los zapatos de Valeria (Di dalam Sepatu Valeria) yang ditulis oleh perempuan novelis, Elísabet Benavent, serial ini dikembangkan oleh penulis naskah perempuan, María López Castaño, dan disutradarai oleh dua perempuan, Inma Torrente dan Nely Reguera.

Tayangan dengan delapan episode ini berlatar di Madrid, dengan kisah bermula saat Valeria, perempuan berusia 28 tahun, mengalami krisis sebagai penulis. Ia tidak mampu merangkai satu kata pun padahal ia sedang menghadapi tenggat.

Baca juga: Enola Holmes, Judith Shakespeare, dan Petualangan Perempuan

Valeria pusing bukan kepalang. Tulisannya harus disetor bulan depan ke meja penerbit. Berjam-jam menghabiskan waktu di depan laptop, ia kemudian menyerah pada kepenatan dan mencari tahu gejala apa yang terjadi padanya. Valeria menemukan kata impostor, sebuah kondisi di mana banyak penulis mengalami tidak bisa memproses daya kreativitasnya dan menjadi tidak produktif.

Dalam episode pertama ini pun, kita diantarkan pada peran dan realitas lain Valeria sebagai penulis: Istri yang “tidak didengar” dalam kehidupan perkawinan, anak bungsu yang “tidak dihargai” dalam keluarga, dan pencari kerja tambahan—apa pun—karena desakan ekonomi. Untunglah ia memiliki dukungan sisterhood dari teman-teman perempuan yang selalu mendengarkan rekaman suaranya di ponsel layaknya podcast, dan selalu memberinya motivasi setiap hari.

Serial Valeria di Netflix memperlihatkan bagaimana di negara seperti Spanyol pun, dengan sejarah panjang penghargaan terhadap karya seni, penulis sebagai pekerja kreatif tidak dihargai sebagai pekerjaan utama. Valeria terus bersinggungan dengan keluarganya untuk mempertahankan kariernya sebagai penulis.

Selain Valeria, ada Lola, penerjemah profesional yang tidak mau berkomitmen asmara dengan siapa pun; Carmen, pekerja kreatif di agensi periklanan yang jatuh cinta pada teman kerjanya; dan Nerea, pengacara di firma hukum milik orang tuanya, yang lesbian namun tidak pernah coming out atau melela pada orang tuanya karena takut kehilangan pekerjaan.

Alur yang terkadang maju-mundur menjelaskan bahwa realitas Valeria adalah bangunan pengalaman masa lalunya. Menikah di usia 22 tahun dengan Adri, seorang fotografer, Valeria belakangan menyadari pasangannya ternyata tidak mendorong cita-citanya sebagai novelis.

Baca juga: 'The Half of It': Bukan Kisah Cinta yang Diidamkan Semua Orang

Di tengah keterpurukan, Valeria tetap memiliki Nerea, Lola, dan Carmen. Ketiganya adalah pembaca pertama yang memberikan opini jujur terhadap novelnya dan mendukung keinginannya sebagai penulis, serta menyokongnya saat perkawinannya menghadapi krisis.

Valeria juga memiliki agensi sebagai perempuan. Ia merdeka beropini dengan berdiri sendiri-di tengah keluarganya dan pasangannya. Ia tidak mau memiliki anak meskipun dengan tujuan menyelamatkan perkawinan. Ia menunjukkan her sense of personal is political.

Interpretasi dan pengalaman perempuan tidak seragam dan memberi makna. Memiliki argumen dalam pertemanan itu sah-sah saja, tapi ada ruang aman untuk mendengar narasi lain.

Keragaman pengalaman perempuan

Menarik melihat dinamika Valeria dalam berkonsultasi dengan teman-temannya. Interpretasi dan pengalaman mereka sebagai perempuan tidak seragam dan memberi makna. Bahwa memiliki argumen dalam pertemanan itu sah-sah saja. Di sinilah konsep ruang aman sebagai tempat bercerita itu diilustrasikan. Ia tidak hadir sebagai pengejawantahan narasi tunggal satu arah, namun menjadi ruang mendengar narasi lain tanpa harus mendominasi dan hegemonik.

Hal ini terlihat bagaimana Valeria bercakap dengan Lola. Bagi Lola, memiliki hubungan stabil itu menyenangkan serta menyehatkan jiwa, sementara untuk Valeria, mencintai laki-laki yang bukan pasangannya adalah hasrat terpendamnya. Kejujuran keduanya yang berada dalam situasi pengalaman berbeda justru menciptakan rasa saling memahami tanpa harus menghakimi.

Baca juga: ‘Anne with an E’, Serial Berlatar Abad 19 dengan Isu yang Masih Relevan

Sisterhood yang dibangun dinamis, tidak sepi dari konflik antara teman, namun dilalui dengan klarifikasi, merayakan kebahagiaan serta kesedihan, termasuk menjadi rumah yang terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan cerita. Hubungan ini menyediakan tempat bagi siapa pun yang berani memutuskan atas pilihan hidupnya, baik melela sebagai lesbian, bercerai, tidak berkomitmen dengan siapa pun, atau memperlihatkan konstruksi ideal sebagaimana relasi perkawanan antara perempuan dibangun.

Di sisi lain, ada kisah Nerea dalam kolektif feminis yang ternyata dipenuhi konflik karena ada relasi kuasa dalam organisasi. Ini menarik sebagai kritik terhadap organisasi perempuan. Bagaimana bagi Nerea, ruang klarifikasi yang ia dapatkan di pertemanan lain ternyata absen dalam kolektif tersebut. Pintu penjelasan ditutup rapat sebab Nerea dianggap terlalu menyerang tokoh perempuan di dalam organisasi itu.

Perkembangan plot kemudian lebih seru lagi. Misalnya, saat Valeria diminta penerbit untuk menggunakan nama laki-laki saat menerbitkan novelnya, karena genre yang diambilnya didominasi oleh penulis laki-laki. Atau bagaimana kekasih Carmen yang mendapatkan promosi jabatan, dan bukan dia, di atas kesuksesan kerja sama mereka sebagai tim. Dan Lola yang luluh begitu saja pada laki-laki yang pernah menyakitinya dan memperlakukannya sebagai objek hasrat semata.

Semua kisah dalam serial Valeria ini merangkum bagaimana pergulatan perempuan dalam membongkar konstruksi sosial dan menabrak tabu tidak akan berhenti begitu saja.

Andi Cipta Asmawaty, belakangan menggemari serial TV berbahasa Spanyol sebagai wujud self-care selama pandemi. Bekerja sebagai staf perempuan dan perburuhan di Asia Pacific Forum on Women, Law, Development (APWLD).