June 27, 2020
Queer Love: B, T, V, dan Label dalam Dunia Queer

Dunia queer dipenuhi label yang terkadang membuat jengah sebagian orang.

by Paramita Mohamad dan Downtown Boy
Issues
stereotype_peran_gender_biner_heteronormatif_Sarah Arifin
Share:

Halo, kak PM dan kak DB.

Aku lesbian umur 22 tahun, sementara sahabatku seorang gay berumur 21 tahun. Kami suka bingung kalau ketemu temen-temen L dan G lainnya, selalu ditanya label kami. Temanku dapat pertanyaan "B, T, atau V?" sementara aku sering dibilang butch karena rambutku pendek. Apa sih gunanya label-label itu? Kenapa kalau kami enggak bisa jawab, malah dianggap aneh?

Salam,
Lesbian Sans Labels

Kata Mita:

Dear Lesbian Sans Labels,

Kalau ditanya apa gunanya label dalam komunitas LGBTQ, saya rasa jawabannya sama saja dengan guna label pada umumnya. Label adalah sebutan yang kita berikan pada sebuah kumpulan objek yang kita anggap punya kemiripan, misalnya dim sum, serangga, aparatur sipil negara, dan lain-lain.

Pada awalnya label gunanya untuk mempersingkat (sehingga kita tidak perlu menyebut nama semua anggota kumpulan). Namun label juga membantu menyederhanakan dunia, agar orang bisa bereaksi lebih cepat terhadap suatu objek. Ini karena anggota kumpulan itu dianggap punya sifat atau perilaku yang sama. Juga karena label sering kali jadi titik awal mengecek apakah kamu termasuk dari tipe yang dia biasanya tertarik atau tidak.

Baca juga: Queer Love: Bagaimana Mengetahui Orientasi Seksual Kita?

Jadi jika kamu menyandang sebuah label, itu lebih banyak agar orang yang baru kenal (atau memang tidak tertarik untuk kenal lebih jauh) bisa lebih mudah mengantisipasi apa yang akan kamu lakukan saat berinteraksi dengan mereka. 

Namun namanya saja proses penyederhanaan, nuansa dan keunikan anggota dalam kumpulan itu jadi hilang. Padahal nuansa dan keunikan itulah yang membuat kita jadi kita dan bukan orang lain. Jadi harus bagaimana, dong?

Ada beberapa cara. Satu, kalau memang kamu tidak nyaman menggunakan label karena apa pun, bilang saja dengan langsung. Kalau kamu nyaman tapi memang belum tahu (dan ini wajar, kok. Kita perlu waktu lama untuk kenal siapa diri kita) ya bilang saja juga, misalnya “Wah, masih eksplorasi”. Kalau yang bertanya tidak puas dan kesal, mungkin mereka bukan orang yang benar-benar ingin kenal kamu. 

Baca juga: Queer Love: Tentang ‘Coming Out’ dan ‘Happy Ending’

Cara lain yang juga sering saya lakukan adalah mendeskripsikan sesuatu tidak dengan label (kata benda) atau kata sifat, tapi dengan kata kerja. Misalnya kalau ditanya apakah sebuah film bagus atau tidak, saya lebih senang menjawab, “Cerita filmnya dan akting pemain tidak berhasil membuat saya mengabaikan berbagai kebetulan dan hal tidak logis lainnya.” Lebih jelas, lebih bisa memberi sinyal kamu orang yang seperti apa, dan lebih membuka pembicaraan, kan?

Keep exploring, dear.
PM

Downtown Boy says:

Dear Lesbian Sans Labels,

Let's face it, we all need labels—in one way or another. What do we call people who only eats veggies? Vegetarian. What do we call people who likes to bully? A bully. Labels, suffocating as it sounds, help others to set their expectation on us. It gives others mental security in dealing with us; hence they're not necessarily negative.

Baca juga: Queer Love: Bisakah Kita Membelokkan Orang Jadi LGBT?

If your friend is a vegetarian, you wouldn't take her to an all-you-can-eat Korean BBQ right? Labelling is therefore not confined to the gay community. In the context of sexual identify, I know some of us who reject the labelling business and prefer to have a more fluid liberating concept. I think that's a fair stance because love life in the 21st century has become more diverse and complex than before.

Having said that, you have to stop being too self-conscious with the labelling business. If you can't put yourself in a specific box of sexual preference or mannerism, then you shouldn't be insecure. People are curious beings. They ask you questions and give you labels, but they generally walk away and move on with bigger issues if you reject their labelling assessment.

Be proud of your individual qualities. 

Best,
DB

Paramita Mohamad bekerja merancang strategi komunikasi agar mereka yang ingin membenahi Indonesia bisa menggugah mereka yang tak peduli. Selain itu, ia mengabdi pada tiga kucing rupawan yang dikenal sebagai Trias Politicats. Diambil dari lagu hit klasik Petula Clark, Downtown Boy alias DB, adalah hipster usia 20an yang terjebak dalam tubuh pria gay berumur 40an. Ia pegawai kantoran biasa di Jakarta dan hobinya termasuk mendengarkan lagu-lagu lama dan olahraga yang menantang secara fisik. Dulu ia suka bela diri tapi terpaksa berhenti karena punggung bawahnya cedera. Semua temannya menduga cedera tersebut akibat sesuatu yang lebih mencurigakan.