July 17, 2020
Queer Love: Mau Melela? Pastikan Dulu Kemandirian Finansial

Melela di Indonesia membutuhkan strategi, jadi pastikan kemandirian finansial terlebih dahulu.

by Paramita Mohamad dan Downtown Boy
Issues // Relationship
Keluarga_Toleran_LGBT_Family_Queer_SarahArifin
Share:

Salam,

Saya D dari Bogor. Saya punya orang tua yang lumayan konservatif dan agresif. Apa yang harus saya lakukan jika nanti saya melela ke orang tua, tapi mereka memaksa saya untuk dibawa ke terapi agamis bahkan melaporkan saya ke pihak berwenang hanya karena saya seorang queer? Padahal saya sudah termasuk dewasa (usia 23 tahun) yang seharusnya orang tua sudah tidak berhak memaksakan kehendaknya terhadap anaknya. 

Terima kasih sudah menyediakan ruang tanya jawab seputar queer. Happy Pride  ðŸŒˆ

Kata Mita:

Dear D,

Saya bisa memahami apa yang membuatmu mengantisipasi reaksi yang cukup ekstrem dari orang tuamu seandainya kamu melela ke mereka. Saya percaya kamu punya data yang lebih banyak tentang orang tuamu sampai kamu bisa memprediksi tingkah laku mereka. Perasaanmu valid, walau tentu kamu tahu tidak ada yang bisa menjamin apakah prediksimu itu bakal benar atau salah. 

Sebagai lulusan psikologi dan pengamat ilmu perilaku, saya tahu sudah banyak sekali bukti ilmiah bahwa terapi konversi orientasi seksual, mau berbau agama ataupun yang versi sekuler, tidak efektif dan bahkan punya efek merugikan kesehatan mental. 

Baca juga: Queer Love: Bagaimana Mengetahui Orientasi Seksual Kita?

Saya bukan ahli hukum, tapi saya tahu umur 23 tahun sudah termasuk dewasa secara legal di Indonesia, sehingga seharusnya secara hukum tidak ada yang bisa memaksamu mengikuti terapi apa pun karena mereka tidak bisa menerima orientasi seksualmu—paling tidak sampai hari ini. Namun kita semua tahu, penegakan hukum termasuk aparat yang bisa “diatur” adalah masalah klasik dan pervasive di Indonesia. Tambahan lagi, teman saya yang lebih paham hukum percaya bahwa jalur legal belum tentu cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. 

Sekali lagi, kecemasanmu tentang reaksi orang tuamu valid, walau prediksimu belum tentu benar. Pertanyaannya sekarang adalah apa yang kamu akan lakukan selanjutnya. Kalau kamu sangat cemas dengan keselamatan fisik dan mentalmu, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk pindah, hidup independen secara finansial dan jauh secara fisik dari orang tua. Ini mungkin jalan tengah kalau kamu belum atau tidak mau melela ke mereka. 

Saya tahu banyak orang berusia 23 tahun di Indonesia yang belum siap hidup mandiri secara finansial. Tapi kemandirian finansial dan kemerdekaan psikologis dari keharusan hidup dalam ketidakjujuran dan rasa takut adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan dengan banting tulang. Saya kenal beberapa orang yang berasal dari kalangan ekonomi rendah akhirnya berani memberanikan diri dan mereka berhasil bebas. Saya ingin menegaskan bahwa ini bukan cerita indah tentang rags to riches seperti Cinderella, tapi a lifetime struggle that makes life worth living.

Baca juga: Queer Love: Tentang ‘Coming Out’ dan ‘Happy Ending’

Sebetulnya tanpa adanya ancaman pun, pilihan untuk melakukan perjuangan dan pengorbanan agar kita bisa hidup dengan jujur pada diri sendiri selalu layak dipertimbangkan, Dicky. 

Jika kamu punya pertanyaan teknis dan detail tentang bagaimana menuju kemandirian finansial dan bisa bertahan hidup jauh dari orang tua, silakan bertanya lagi di sini. We are here to help you.

Mengutip kata Christopher Robin ke Winnie The Pooh, “Promise me you will always remember this: you are braver than you believe, stronger than you seem, and smarter than you think."

Good luck,
PM

Downtown Boy says:

Dear D,

Coming out in Indonesia is a risky business. Not only are you faced with social prejudice, but your safety may also be in jeopardy due to security threats from communities and your own family.   

Firstly, don't come out to your parents until you have a financially secure life. Money is power and when you have money your parents would lose their power over you. In fact, they may depend on you more than before. So, although they remain opposed to your choice, they may turn a blind eye because, “Son, we need the monthly stipend. PS: Make sure you send more money than your siblings.

Baca juga: Queer Love: B, T, V, dan Label dalam Dunia Queer

Secondly, start laying the foundation for your future life. Set a target on when you can leave the house, and, better yet, leave the ‘rainy city of Bogor’—Kebun Raya is getting crowded and Roti Unyil is overrated, get a good job and move somewhere else.

Being gay in Indonesia requires us to be more constantly strategic with our life and future plan. Another tip is to start looking for education opportunities abroad, irrespective of your study background, I hope there's something that matches you now. 

Thirdly, start building your own network of social support. These are the people who accept you unconditionally, and they will be there when you're in trouble. They are going to be your new family for the next decades and beyond. I'm not sure how discreet you are but coming out to select people is paramount to keep your sanity, but I’m obviously not talking about sex buddies and the likes here. 

Best,
DB

Paramita Mohamad bekerja merancang strategi komunikasi agar mereka yang ingin membenahi Indonesia bisa menggugah mereka yang tak peduli. Selain itu, ia mengabdi pada tiga kucing rupawan yang dikenal sebagai Trias Politicats. Diambil dari lagu hit klasik Petula Clark, Downtown Boy alias DB, adalah hipster usia 20an yang terjebak dalam tubuh pria gay berumur 40an. Ia pegawai kantoran biasa di Jakarta dan hobinya termasuk mendengarkan lagu-lagu lama dan olahraga yang menantang secara fisik. Dulu ia suka bela diri tapi terpaksa berhenti karena punggung bawahnya cedera. Semua temannya menduga cedera tersebut akibat sesuatu yang lebih mencurigakan.