Women Lead
May 11, 2021

5 Film untuk Bulan Kesadaran Kesehatan Mental

Selain menghibur, film bisa membuka pintu ketidaktahuan, kesalahpahaman, dan prasangka tentang kesehatan mental.

by Teja Janabijana
Culture // Screen Raves
Mental Florinda 40 Thumbnail, Magdalene
Share:

Di Amerika Serikat, Mei diperingati sebagai Bulan Kesadaran Kesehatan Mental, sementara di Uni Eropa, ada Pekan Kesadaran Kesehatan Mental yang tahun 2021 ini berlangsung pada 10-16 Mei. Serangkaian kegiatan diadakan sepanjang minggu tersebut, guna menyebarluaskan pesan penting kesehatan mental, terutama selama masa pandemi ini. Ada pula kegiatan khusus bagi perempuan, anak muda rentan, dan kelompok minoritas seksual.

Di Singapura ada juga Festival Film Kesehatan Mental pada 22-30 Mei 2021. Disebutkan bahwa film berfungsi sebagai katalis guna menganjurkan dan mendukung perbincangan tentang kesehatan mental. Festival film ini disokong lembaga negara dan juga beberapa kedubes asing di negara tersebut.

Di Indonesia, perbincangan tentang kesehatan mental, sayangnya, masih belum meluas. Selain itu, prakarsa dari lembaga negara masih sangat terbatas. Akibatnya, sejumlah permasalahan terkait kesehatan mental menjadi terabaikan dan malah dianggap tidak sepenting kemajuan ekonomi.

Cilakanya pula, berbagai upaya guna mengampanyekan perbincangan tentang kesehatan mental malah dianggap sebagai kegiatan yang terlalu mengada-ada. Tak jarang juga, anak muda yang menyuarakan isu kesehatan mental dianggap kurang kerjaan atau diejek sebagai “generasi lembek.” Imbasnya, perbincangan yang sehat dan positif tentang berbagai sisi kesehatan mental menjadi terhambat, dan seringnya menjadi layu sebelum berkembang.

Di tengah tingkat kesadaran yang belum tinggi, budaya pop bisa menjadi alat untuk mulai mendorong langkah menyebarkan kepekaan dan kepedulian akan isu kesehatan mental. Selain menghibur, film membuka pintu ketidaktahuan, kesalahpahaman, dan prasangka tentang kesehatan mental.

Kita bisa menonton film bersama teman-teman dan mendiskusikan isu-isu yang disinggung dalam cerita film. Apalagi ada Libur Lebaran 12-18 Mei sebagai kesempatan yang lumayan untuk menyaksikan film bertema kesehatan mental.

Berbeda dari kebanyakan film yang kerap menonjolkan peran pria, lima film berikut ini justru melihat permasalahan kesehatan mental dari sudut perempuan (atau anak perempuan). Tentu, ini adalah sudut pandang yang menarik dan penting. Sebab, di dalam banyak kasus, perempuan menjadi penyokong utama yang merawat dan menjaga kesehatan mental di dalam keluarga dan orang-orang terdekatnya.

  1. Paper Spider

Film drama yang baru dirilis awal Mei ini berkisah tentang remaja perempuan bernama Melanie (Stefania LaVie Owen) dan ibunya, Dawn (Lily Taylor), yang adalah orang tua tunggal. Meski tanpa figur ayah, hubungan Melanie dan Dawn tampak baik-baik saja, dan mereka berdua mampu mengurus kehidupan mereka bersama.

Namun, secara perlahan Melanie mulai menyadari bahwa Dawn memiliki rasa cemas yang berlebihan, apalagi ketika ada tetangga baru yang pindah. Dawn menuding tetangga tersebut merusak pohon di pekarangan mereka. Melanie menyaksikan setiap harinya Dawn menjadi semakin yakin dan terobsesi bahwa tetangga tersebut selalu mengganggu, mengawasi, dan mengintai dirinya.

Meski menyadari ada masalah kesehatan mental yang diderita Dawn, Melanie merasa tidak berdaya untuk membantu dan mengatasinya. Terlebih, sebagai remaja yang baru lulus SMA, ia sedang mengalami masa-masa manis jatuh cinta untuk pertama kalinya. Juga, ia punya cita-cita untuk masuk sekolah kedokteran.

Dawn semakin masuk jurang gangguan delusional yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Akhirnya Melanie tidak memiliki pilihan lain selain memasukkan Dawn ke rumah sakit guna memperoleh pengobatan dan terapi medis. Pada akhirnya, Melanie dihadapkan pada kenyataan untuk memilih merawat ibunya atau mengejar cita-citanya. 

  1. La Forêt de Mon Père (Hutan Ayahku)

Film drama berbahasa Perancis ini membawa pemirsa menyelami kehidupan Gina (Léonie Souchaud), seorang remaja perempuan berusia 15 tahun. Ia dan dua adiknya sering menghabiskan waktu bersama-sama ayah mereka, Jimmy (Alban Lenoir), yang gemar tinggal di daerah luar kota dekat dengan hutan. Jimmy memang tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi ia figur ayah yang baik dan paham kebutuhan anak.

Namun, Gina kemudian mulai melihat beberapa perilaku Jimmy yang lumayan aneh. Awalnya, ia menganggap itu sebagai watak Jimmy yang suka bertindak di luar kebiasaan guna menghibur anak-anak. Tapi ia mulai merasa ada sesuatu yang “salah” dari perilaku Jimmy tersebut, meski ia tidak sepenuhnya paham apa yang terjadi. Sampai suatu hari, ketika emosi Jimmy tidak lagi dapat dikontrol, Gina menyadari ayahnya ternyata memiliki “hutan” di dalam benaknya sendiri, dan ia harus bertindak menanggulanginya.

  1. Loco por Ella (Tergila-gila padanya)

Film komedi-romantis ini mengambil latar kota Barcelona, Spanyol, dengan nuansa percintaan orang muda yang dipenuhi bumbu-bumbu humor konyol yang menghibur.

Carla (Susana Abaitua) dan Adri (Alvaro Cervantes) bertemu di sebuah klub malam dan saling menyukai. Adri lumayan kaget mengetahui Carla adalah pasien panti kesehatan mental, dan berbekal surat palsu dari dokter, ia berhasil masuk ke dalam panti guna mendekati Carla.

Selama di dalam panti tersebut, Adri mulai mengenal pasien-pasien dengan beragam gangguan kesehatan mental, dan membangun persahabatan dengan mereka. Ia kemudian mulai menyadari adanya “dunia lain” yang selama ini terabaikan, dan sering disalahpahami oleh dirinya (dan masyarakat umum). Berdasarkan hal itu, sebagai wartawan, ia mulai menulis tentang kesehatan mental.    

Namun, bagaimana halnya dengan Carla?  Film ini mengajak penonton menyadari bahwa orang-orang seperti Carla tidak merasa perlu dikasihani, apalagi sampai mengalami stigma, diskriminasi, dan permusuhan.

  1. Words on Bathroom Walls

Adam (Charlie Plummer) adalah seorang anak SMA yang menderita schizophrenia, yang menghasilkan banyak tantangan, termasuk harus pindah sekolah. Di sekolah baru ini, ia menjadi dekat dengan Maya (Taylor Russell), siswi terpandai. Bersama ibu Adam, Beth, Maya kemudian berperan penting dalam menyokong kehidupan Adam. Selain itu, mereka juga punya inisiatif, pikiran dan kehendak mereka sendiri yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Dengan menampilkan peran aktif mereka sebagai perempuan, film ini menjadi tontonan yang mencerahkan dan membuka mata.

  1. My First Summer

Film dari Australia ini mengangkat kisah Claudia (Markella Kavenagh), seorang remaja berusia 16 tahun yang tinggal sendirian setelah ibunya bunuh diri. Ia kemudian mendapatkan teman dari Grace (Maiah Stewardson), dalam sebuah hubungan yang bukan hanya sekadar pelarian dari keterasingan hidup, namun juga menawarkan harapan apa arti ketulusan cinta.

Film ini juga berhasil mengangkat tema kesehatan mental lewat kaca mata seksualitas perempuan muda, yang membuatnya penting untuk ditelaah lebih jauh.

Teja Janabijana iseng-iseng menulis sambil menjaga toko ATK orang tuanya yang sepi total akibat pandemi. Minder dengan para SJW karena isi medsosnya cuman astrologi.