28/09/2026
Culture Opini

5 Lagu Kritik Bernada ‘Chill’ Agar Tetap ‘Mindful’ saat Mendengar Berita Buruk 

Lima lagu yang cocok didengar saat santai ini bisa mewakili kemuakanmu terhadap negara.

  • September 28, 2026
  • 5 min read
  • 6 Views
5 Lagu Kritik Bernada ‘Chill’ Agar Tetap ‘Mindful’ saat Mendengar Berita Buruk 

Foto: YouTube

Lagu kritik identik dengan kemarahan yang menggebu-gebu. Mulai dari drum yang dipukul secara brutal, gitar berdistorsi yang dengungnya memekakkan telinga, hingga teriakan vokalis yang membayangkannya saja bikin sakit tenggorokkan, jadi ciri khas lagu kritik. 

Lirik-liriknya juga menggambarkan jelas kemuakkan pada pemerintah. Lagu Lima karya .feast dan Skeptikal karya Seringai jadi dua contoh yang tidak bisa dipisahkan dari ciri ini. Dalam lagu Lima, vokalis .feast Baskara Putra memekikkan kekesalan pada pengelola negara. 

“Lima tahun ke depan makan t** / Bеrhadapan dengan partai yang sok suci / Dijebak foto dengan pеjabat tinggi / Minta bedakan oknum dan institusi //” 

Sementara dalam lagu Skeptikal, vokalis Seringai, Arifin Wardiman atau Arian13 melantunkan ketidakpercayaan pada para pengelola negara dengan suara bergemuruh. “Uang dan negara telah menjualmu / Tak salah ketika / kami ragu / kami sinis / pukul balik / pukul balik//” 

Lagu-lagu semacam ini bagus untuk menyalurkan kemarahan yang meledak-ledak pada negara. Namun, beberapa musisi menyalurkan kritik dengan bentuk yang lebih chill. Petik gitar akustik, vokal halus, dan aransemen yang sederhana, disandingkan dengan lirik-lirik kritis yang tak kalah menggugah.  

Ingin menjaga kekritisan dengan lagu-lagu bernada tenang? Berikut rekomendasi Magdalene buat kamu!

Baca juga: Ada Bahaya di Balik Latah Kita Pakai Lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) di Medsos

Bahaya Komunis – Jason Ranti

Saya akan memulai rekomendasi dengan lagu lama yang memiliki konteks baru. Dirilis musisi folk Jason Ranti atau Jeje pada 2017, Bahaya Komunis menggambarkan paranoid berbagai pihak tidak bertanggung-jawab yang menggunakan narasi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk memengaruhi opini publik. 

Saya kira, cerita komunis yang tidak masuk akal, sudah basi dan tak akan digunakan lagi. Saya salah. Hampir satu dekade setelah Bahaya Komunis dirilis, narasi usang itu muncul lagi. 

Sekretaris Jenderal DPP GRIB Jaya, Zulfikar bilang, “ini pola-pola PKI! Orang yang merusuh itu gerombolan PKI.” Pernyataan itu dikatakannya saat mengklarifikasi keterlibatan ormas GRIB dalam “menjaga kondusifitas” pasca-aksi Agustus lalu, dilansir dari kanal YouTube Tribun News. 

Setelah mendengar narasi usang itu berusaha dimainkan kembali, saya mendengar Bahaya Komunis yang lekat dengan petikan gitar akustik dan lirik yang kocak. Jeje menggambarkan penggunaan narasi komunis dengan sangat komikal dan tak masuk akal. 

“Sungguh komunis telah menyusup / jauh ke dalam sekolahan / coba bayangkan palu dan arit / kini diajarkan / dalam bentuk aritmatika / oo ilmu neraka //” 

Ajariku Jadi Berani – Banda Neira (feat. Reruntuh) 

Duo Banda Neira, Ananda Badudu dan Saron Sakina atau akrab dipanggil Sasha merilis ‘Ajariku Jadi Berani’ yang termasuk dalam album Tumbuh dan Menjadi pada 2024. Kombinasi petikan gitar dan instrumen string yang halus membalut vokal Ananda menyanyikan lirik tentang pencarian keberanian. 

“Bung dan nona ajariku jadi pemberani / Seperti Marsinah dan Wiji / Seperti Theys Munir Bu Sumarsih / Yang tak mati dan tak henti //” 

Banda Neira memang tidak bilang apa-apa soal menggulingkan rezim atau menghancurkan tirani yang semena-mena. Duo ini berbicara tentang warga negara yang ingin menjadi penebar kebaikan. Keberanian yang kritis dipotret sebagai harapan yang tak surut meski ada ketakutan dalam lagu ini. 

“Meski ada takut tapi takkan surut / Penebar-nebar kebaikan / Menebar-nebar harapan / Menebar-nebar tak akan henti di sini //” 

Baca juga: Konser ‘Dari Warga untuk Andrie’, Cara ‘Funky’ Kecam Penyiraman Air Keras

Eastern Man – Oscar Lolang 

Solois Oscar Lolang menggambarkan pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua dalam lagu Eastern Man. Dengan lirik bertutur, lagu ini menceritakan seorang warga Papua yang kehilangan anggota keluarga dan rumahnya karena kekerasan yang tak kunjung usai. 

“There goes a song from an Eastern Man / With his Tifa and a mouth like flower / There goes a song comes from deep within / His feeling ’bout his murdered family / By a loyal army //” 

Warga Papua dalam lagu ini diceritakan membagikan nestapanya dengan melodi indah. Meski ditulis dalam bahasa Inggris, Oscar menggunakan dialek Indonesia Timur untuk mencontohkan cara warga Papua tersebut menceritakan kelam dengan nyanyian. 

“Sa pu mama mati karena tentara / Sa pu rumah hancur karena tentara / Sa su lama marah deng pemerintah / Dong su buat Papua menjadi merah //”

Kritik terhadap kekerasan negara di Papua dibungkus dengan tenang. Pendengar diajak untuk berduka dalam haru ketika mendengarkan denting gitar dan piano yang membungkus vokal Oscar yang berat bak Bob Dylan. 

Bola Raya – Silampukau 

Jika Jason Ranti berbicara tentang penggunaan narasi yang tidak tepat dan Oscar Lolang menceritakan kekerasan di Papua, duo Silampukau, Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening mengkritik pembangunan yang tidak memerdulikan rakyat kecil di kota besar. 

Mereka menjadikan anak-anak yang suka bermain bola sebagai subjek cerita dalam lirik yang dibalut aransemen balada. Anak-anak ini dikisahkan kehilangan tanah lapang dan harus menyewa lapangan dengan harga tinggi. Ini semua disebabkan oleh pembangunan gedung-gedung tinggi yang justru menyesakkan. 

“Kami rindu lapangan yang hijau / Harus sewa dengan harga tak terjangkau / Tanah lapang kami berganti gedung / Mereka ambil untung, kami yang buntung // Memang kami tak paham soal akta / Sertifikat tanah dan omong kosong lainnya / Kami hanya ingin main bola / Zonder digugat, zonder didakwa //”

Baca juga: ‘Artwashing’ Pestapora dan Sistem Pendanaan Skena Musik yang Belum Ideal

Matilah Kau Mati – Efek Rumah Kaca dan Knogg

Meski dibuat untuk soundtrack, bagi Vokalis ERK, Cholil Mahmud, Matilah Kau Mati tak hanya menggambarkan kisah Biru Laut dalam Laut Bercerita. Lagu itu juga terasa dekat dengan situasi sosial politik hari ini, ketika ruang warga untuk menyampaikan pendapat dinilai semakin rentan.

“Matilah engkau mati / Kau lahir berkali-kali / Matilah engkau mati / Kau lahir berkali-kali // Segala luka beralih rupa / Segala daya untuk merdeka / Segala murka jadi tenaga / Segala doa jadi cahaya / Tak mungkin kita tak bersuara / Tak mungkin kita tak menyala-nyala //”

Menurutnya, rasa takut merupakan hal yang wajar. Seperti lirik Matilah Kau Mati, ia percaya suara warga akan terus lahir, meski berkali-kali dibungkam.

“Jadi kita mau bilang takut itu wajar, enggak apa, berhenti atau mati sejenak, tapi nanti kita akan lahir berkali-kali, bersuara lagi,” katanya kepada Magdalene, (28/7).

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.