05/06/2026
Issues Politics & Society

Ada Bahaya di Balik Latah Kita Pakai Lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) di Medsos

Lagu Mas Bahlil Ganteng sepintas terdengar lucu dan ‘harmless’. Namun, saat terus diulang, satir bisa mengalihkan perhatian publik dari rekam jejak dan kebijakan pejabat.

  • June 5, 2026
  • 5 min read
  • 73 Views
Ada Bahaya di Balik Latah Kita Pakai Lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) di Medsos

MBG

Mas Bahlil Ganteng

Buah apa yang paling manis? 

BUAHLIL

Tambah ganteng aja

My little bolu ketan

Beberapa minggu ke belakang, lagu tersebut santer terdengar di telinga saya. Lagu MBG atau Mas Bahlil Ganteng lewat di linimasa media sosial pribadi, bahkan di gawai-gawai orang asing yang saya temui di ruang publik. Saking seringnya lagu tersebut terdengar, tanpa saya sadari alam bawah sadar saya sudah hafal liriknya. 

Dari penelusuran, lagu tersebut awalnya dipopulerkan oleh pengguna bernama “vokaliz_netizen”, kreator konten di TikTok yang membuat lagu menggunakan akal imitasi (AI). Pengguna mengunggah konten lagu MBG pertama kali pada 29 April 2026.

Mulanya, konten-konten yang lewat di linimasa saya menggunakan lagu MBG dengan nuansa sarkasme. Sampai pada akhirnya lagu tersebut digunakan dengan lebih masif dan beberapa konten dipenuhi oleh komentar positif terhadap Bahlil maupun pemerintahan.

Bahkan, konten tersebut mendapat respons langsung dari partai yang menaungi Bahlil yakni Partai Golkar, hingga Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo melalui akun X miliknya.

“Ya itu kreativitas netizen saja karena menghargai kerja keras Pak Bahlil mengamankan stok BBM di tengah gejolak energi global dan menjaga agar BBM bersubsidi tidak naik,” kata Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji, dilansir dari CNN Indonesia.

Di saat yang sama, muncul gelombang penolakan dari sebagian warganet. Melalui fitur add yours di Instagram, lebih dari 30 ribu pengguna mengunggah cerita yang menyerukan penghentian tren MBG.

Kekhawatiran mereka berangkat dari satu hal. Bahwa viralitas lagu tersebut dinilai berpotensi menggeser perhatian publik dari rekam jejak dan kebijakan Bahlil menuju citra personal yang lebih ringan, lucu, dan mudah disukai. Fenomena serupa pernah terlihat dalam berbagai strategi komunikasi politik yang mengedepankan karakter personal dibandingkan substansi kebijakan.

Baca juga: ‘Nyawit Nih Orang’ hingga ‘Pria Solo itu Lagi’: Kala Bahasa Jadi Cara Aman Sindir Negara

Ketika Satir Kehilangan Konteks

Antropolog Universitas Indonesia, Geger Riyanto, menilai meledaknya konten MBG tidak bisa dilepaskan dari karakter budaya internet yang menyukai hal-hal absurd, receh, dan mudah dibagikan ulang.

Konten yang aneh, lucu, dan mudah ditiru cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan diskusi yang kompleks. Karena terus direproduksi oleh pengguna lain, lelucon dapat berkembang jauh melampaui konteks awal kemunculannya.

“Saya pikir, fenomena Mas Bahlil Ganteng masuk dalam kategori memperlakukan pejabat secara satir dan kocak. Bahlil, yang sering diejek secara fisik, dipuji-puji manis dan menawan,” jelas Geger saat diwawancara Magdalene via pesan teks instan (4/6).

Meski lahir dari kultur satir internet, Geger melihat ada kemungkinan makna tersebut bergeser ketika kontennya semakin masif. Menurutnya, publik sering kali lebih mudah mengingat karakter personal seorang politisi dibandingkan kebijakan yang mereka hasilkan.

“Sangat bisa (menggeser perhatian publik). Dari dulu, kita tak pernah benar-benar mengingat pejabat dari kebijakannya melainkan dari elemen yang melekat pada pribadinya,” ujar Geger.

Karena itu, menurutnya, dampak politik dari MBG tidak bisa diabaikan. Warganet yang kritis mungkin tetap memaknainya sebagai bahan lelucon atau sindiran. Namun bagi publik yang tidak mengikuti konteks awalnya, paparan yang berulang dapat meninggalkan kesan positif terhadap figur yang menjadi objek konten tersebut.

“Bahlil sendiri bukan politisi populis, sehingga membangun citranya sebagai sosok yang dielu-elukan seperti Jokowi di 2014 atau mungkin (seperti) Prabowo sendiri tidak mudah. Yang bisa dilakukan pada titik ini untuk citra Bahlil baru di titik meninggalkan kesan-kesan positif, kecuali nanti ada perubahan yang lebih drastis lagi kedepannya, yang bukan tidak mungkin terjadi.”

Baca juga: Menertawakan Nasib Jadi WNI

Dari Gemoy ke MBG

Fenomena MBG mengingatkan pada sejumlah tren politik digital yang lebih dulu muncul dalam Pemilu 2024. Geger melihat adanya kemiripan dengan narasi “gemoy” maupun “oke gas”, meski ketiganya lahir dalam konteks yang berbeda.

“Sama tapi beda,” sebut Geger.

Menurutnya, MBG memiliki karakter yang unik karena dapat dinikmati oleh kelompok yang memuji maupun mengkritik Bahlil. Sementara itu, istilah “gemoy” sejak awal lebih jelas diarahkan untuk kepentingan kampanye politik.

Meski berbeda, keduanya menunjukkan pola yang serupa: citra menggemaskan dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk membangun kedekatan emosional dengan publik.

“Persamaannya adalah dia mengangkat elemen menggemaskan dari pejabat dan menunjukkan ke kita bahwa framing menggemaskan ternyata bisa digunakan sebagai framing yang netral ke menguntungkan secara politik,” papar Geger.

Penelitian Fahruz, Nugraha, dan Nurfalah (2025) menunjukkan branding “gemoy” berhasil diterima oleh Gen Z. Temuan tersebut turut menjelaskan bagaimana citra personal dapat menjadi instrumen komunikasi politik yang efektif dalam menarik perhatian pemilih muda.

Bagi Geger, fenomena tersebut memperlihatkan persoalan lama dalam demokrasi yang kini menemukan bentuk baru di media sosial. Ketika perhatian publik semakin diperebutkan, popularitas sering kali lebih mudah menonjol dibandingkan perdebatan mengenai kebijakan.

“Ini dari dulu menjadi persoalan dari demokrasi. Demokrasi pada dasarnya merupakan kontes popularitas. Warga, yang sudah dirumitkan dengan kehidupan, lebih mudah mengonsumsi informasi yang sudah dikunyah dan dikurasi,” jelasnya.

Temuan serupa juga muncul dalam riset Munawar (2025). Penelitian itu mencatat meme politik membantu menyederhanakan isu yang kompleks sehingga lebih mudah dipahami publik. Namun, penyederhanaan tersebut juga berisiko mengaburkan kompleksitas persoalan yang sebenarnya perlu diperdebatkan secara kritis.

Meski begitu, Geger tidak melihat fenomena ini sebagai alasan untuk meninggalkan humor dalam ruang publik. Baginya, tantangannya bukan menghilangkan budaya receh di internet, melainkan mencari cara agar kritik tetap hidup di dalamnya.

“Mungkin konten kritis juga perlu menjadi receh. Kebiasaan receh itu tak terhindarkan dan membantu kita menghadapi lelahnya kehidupan. Menjadi kritis bukan berarti kita selalu marah tapi bisa disampaikan dengan cara yang lebih gembira dan kreatif,” pungkasnya.

Baca juga: Sepele pada Nalar dan Kekuatan Rakyat: Dosa di Balik Komunikasi Politik Buruk Pejabat Kita

Bagamana menyikapinya?

Pada akhirnya, sulit untuk menyalahkan warganet yang ikut-ikutan menyanyikan MBG. Hidup sebagai warga negara Indonesia hari ini tidak mudah, penuh himpitan ekonomi dan berita buruk yang datang silih berganti. 

Konten receh seperti MBG, dalam banyak hal, dapat menjadi hiburan sejenak di tengah kelelahan hidup menjadi WNI. Yang perlu diwaspadai bukan tawa itu sendiri, melainkan ketika tawa berhenti menjadi jarak kritis dan berubah menjadi fanatisme yang membutakan.

Kalau sudah sampai di titik itu, mungkin saatnya ganti playlist . Tidak ada salahnya beralih ke lagu-lagu lain yang sama catchy -nya, tidak dibuat oleh AI, dan lebih menggigit. Misalnya lagu-lagu oleh grup .Feast, Hindia, Efek Rumah Kaca, dan banyak lagi.

Seperti kata Geger, Humor dan Kritik tidak harus berseberangan. Keduanya bisa satu panggung asal kita yang pegang kendali, bukan algoritme.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.