07/07/2026
Culture Issues Opini

Konser ‘Dari Warga untuk Andrie’, Cara ‘Funky’ Kecam Penyiraman Air Keras

Ada banyak cara mengecam kekerasan negara, dari demonstrasi, meneken petisi, hingga mengunggah ulang konten kritis. Tapi ternyata menikmati musik di konser bisa jadi salah satu cara melawan kezaliman penguasa.

  • April 30, 2026
  • 6 min read
  • 563 Views
Konser ‘Dari Warga untuk Andrie’, Cara ‘Funky’ Kecam Penyiraman Air Keras

Foto: Konser Solidaritas “Dari Warga untuk Andrie”

Antrean mengular memenuhi sisi depan M Bloc Live House, Jakarta Selatan, (27/4) pukul 17.50, WIB. Sebagian menyeka keringat dengan kain baju, berbincang dengan teman, kebanyakan menatap kosong terdiam maju sedikit demi sedikit ke meja registrasi ulang. 

“Maaf, Kak, sudah enggak bisa soalnya sudah penuh di dalam,” kata panitia kepada pengunjung yang bertanya apakah masih bisa masuk tanpa mengisi formulir registrasi daring Konser bertajuk ‘Dari Warga untuk Andrie’.

Ia tak mengada-ada. Ruang berbentuk aula seluas 450 meter persegi itu dipenuhi 500 orang penonton, pukul 18.30 WIB ketika break salat selesai. Sementara, kerumunan di luar masih memenuhi halaman. Kaos band dan baju yang bertuliskan kalimat perlawanan dengan foto Munir atau Andrie Yunus seakan jadi seragam para penonton. 

Yang di dalam bersiap-siap menunggu duo Banda Neira yang tampil pukul 19.00 WIB. Sementara, yang di luar berharap masih bisa masuk dan menikmati penampil favorit mereka. Panggung itu diisi berbagai musisi yang tak hanya menyanyi, tetapi juga menyuarakan keresahan terhadap isu sosial, terutama penyiraman air keras kepada Andrie Yunus

Baca juga: Solidaritas “Dari Warga untuk Andrie Yunus”: Suarakan Krisis Ekologi dan Demokrasi di Indonesia

Pengadilan Umum 

Ananda Badudu dan Sasha Saron bernyanyi di depan dua stand microphone yang membentangkan poster kain bertuliskan ‘Untuk Semua Hal Baik yang Kita Perjuangkan Bersama’, menghadap ke penonton. Di bawah tulisan itu, ada ilustrasi Andrie bernuansa cerah. 

Lagu-lagu Banda Neira, baik dari album lama maupun baru, dinyanyikan dengan syahdu. Di sela pergantian lagu, Ananda menceritakan perbincangan saat menjenguk Andrie di RSCM, Salemba, Jakarta Pusat. Andrie menumpahkan kekhawatiran penyiraman terhadapnya akan membuat masyarakat takut untuk bersuara. 

Namun, melihat penonton yang memenuhi M Bloc, Ananda berkata kekhawatiran Andrie terbantahkan. “Apakah kalian akan diam saja saat teman kalian disiram air keras? Apakah kalian akan takut? kita buktikan pada Andrie bahwa kita yang di sini dan di luar sana bukan takut, tapi semakin berani,” ucapnya sebelum memulai lagu ‘Ajariku jadi Berani’. 

Penonton dengan segala baju band berwarna hitam dan ilustrasi garang, nampak seperti sedang berduka menyanyikannya’. Pada satu bagian, mereka terdengar seperti sedang menghormati keberanian nama-nama yang tercantum di dalam lirik. 

Bung dan nona, ajariku jadi pemberani / Seperti Marsinah dan Wiji Seperti Theys, Munir, Bu Sumarsih / Yang tak mati dan tak henti.” 

Setelah menyelesaikan lagu dengan lirik, “Menebar-nebar harapan / Menebar-nebar, tak akan henti di sini,” Ananda mengajak penonton untuk tetap memantau kasus Andrie. Ia membagikan obrolannya dengan koordinator KontraS Dimas Arya yang bilang pengadilan militer tidak final. Masyarakat masih punya kesempatan untuk menggugat pelaku di pengadilan umum. 

Setelah mengucap kalimat untuk saling menguatkan dan terus melanjutkan perjuangan apapun bentuknya, ia menutup penampilan dengan lagu ‘Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti’. Setelah perkawinan antara petikan gitar Ananda dan biola Sasha dalam intro, suara penonton bulat menyanyikan setiap lirik. 

Di antaranya mungkin melengking tak sesuai nada. Namun, tetap terdengar kompak menyanyikan pesan untuk tidak pernah menyerah. “Yang sia sia akan jadi makna / Yang terus berulang suatu saat henti / Yang pernah jatuh kan berdiri lagi / Yang patah tumbuh yang hilang berganti.”

Baca juga: TAUD Tetapkan Kasus Andrie Yunus Sebagai Tindakan Terorisme

Lawan Kekerasan Seksual 

Setelah mendengarkan petikan gitar, biola, dan harmonika dari Banda Neira, konser dilanjutkan dengan penampilan rapper bernama panggung Yacko atau Yani Octaviana. Ia sempat terkendala teknis saat memulai penampilan dengan lagu Unbreakable Me. Namun, kendala itu ditangani dengan sangat apik. 

Beat berhenti sebelum Yacko menyelesaikan lagu. Ia hanya mempertanyakan mengapa beat-nya berhenti, untuk kemudian mengajak penonton ikut menyanyikan hooknya. Mengeja kata per kata hook Unbreakable Me untuk mengajarkan penonton yang belum tahuupayanya berhasil. 

Penonton secara kompak menyanyikan lirik: “No more silence / No more hiding / We are rising, We are fighting / It’s the unbreakable Me.” Setelah menyelesaikan lagu, ia berpesan, Andrie dan masyarakat Indonesia memiliki semangat yang unbreakable, untuk kemudian meneriakkan yel-yel, “semakin ditekan,” yang dijawab penonton dengan, “semakin melawan.”

Interaksi Yacko dan pengunjung tak berhenti pada menyanyikan lirik dan yel-yel, ia juga mengajak mengangkat tangan ketika menampilkan Hands Off. Sambil menunjukkan telapak tangan terbuka, ratusan mulut berteriak hands off mengikuti Yacko, sebagai bentuk menolak segala kekerasan, termasuk kekerasan seksual

Lagu ini bercerita tentang budaya pemerkosaan dan pelecehan yang langgeng. Melalui rima, Yacko mengajak perempuan untuk melawan balik kekerasan seksual. “My short skirt is not to attract you because what I wear is my rule / My fitted shirt or pants are not an invitation too / I am my own, you’ll never own me, don’t act like you do.” 

Baca juga: Orde Baru Jilid II dan Cara Memaknai Pesan #KamiTidakTakut

Mencela Sistem 

Masih dengan rima, rapper Tuan Tigabelas memulai pertunjukan dengan menyanyikan lagu Move. Ia memuntahkan lirik tentang perkenalan diri sebagai Harimau Sumatera dengan sangat ekspresif. Penonton ikut meneriakkan setiap kalimat dengan suku kata yang efektif, sesuai dengan beat dan catchy. 

Kick dan snare serta bass dengan tempo sedang, dilengkapi synthesizer ala boom bap 1990an, mampu menggerakan tubuh, minimal menciptakan ayunan tangan turun-naik. Di lagu ini, Muhammad Syaifullah atau Upi memamerkan kemampuannya mengolah bahasa jadi permainan kata yang ciamik. 

“Ku dari barat Jakarta bawa segudang amunisi / Tembakan lirikku ke rapper yang gak nulis sendiri / Lalu mereka kan bilang ku ini Illuminati / Karena tak percaya skill ini ada di human body.” 

Tapi ia tak berada di panggung itu hanya untuk pamer. Upi mencela sistem dengan berbagai lagu, seperti Fought the System dan Awas Ada Setan. Ia bercerita tentang alam yang dirusak korporasi dan negara, mengorbankan masyarakat tanpa pilihan untuk bertahan dalam Fought the System. 

Ketukan kick dan snare yang tak terlampau cepat membalut setiap kritik kepada penguasa dari sisi orang yang kalah melawan sistem. “Ibuku bilang, nak kebenaran selalu menang / Tapi bu, banyak orang benar sampai sekarang hilang / Salim Kancil dibunuh karena dia menentang / Di tanah kami mungkin nyawa tidak semahal tambang.”

Sedangkan, Awas ada Setan cukup unik. Ia menembak rima dari sudut pandang pengusaha kotor yang suka menyuap pejabat dan aparat. Dentuman bass dan kick dibalut suara piano halus, membungkus setiap perilaku koruptif yang tak asing di media massa. 

“Ambil tanahmu tanpa perlu kata sepakat / hukum aku buat cacat / suap semua pangkat, dari pak RT, pak camat, aparat, sampai pejabat.” 

‘Konser dari Warga untuk Andrie’ ditutup dengan penampilan Efek Rumah Kaca. Setelah mendengar Cholil Mahmud menyanyikan Mosi Tidak Percaya, Putih, dan di Udara, penonton bubar dengan tertib. Beberapa dari mereka duduk melingkar di sekitar M Bloc untuk sekadar beristirahat sebelum menempuh perjalanan pulang. 

Keringat yang dihasilkan dari bernyanyi, bergoyang, dan berdesakan dengan ratusan penonton lainnya boleh saja membasahi tubuh yang lelah. Namun, setidaknya hari ini mereka sudah ikut mengecam kekerasan negara dengan cara yang paling funky: Menikmati lirik kritis yang memotret kezaliman penguasa dari berbagai genre. 

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.