Women Lead
January 06, 2021

RUU PKS dan Dampaknya Bagi Iklim Kerja Perusahaan

RUU PKS akan berdampak positif terhadap terbentuknya iklim organisasi dan perusahaan yang lebih ramah gender.

by Selma Kirana Haryadi
Safe Space
Kekerasan Seksual_Pemerkosaan_KarinaTungari
Share:

Sampai saat ini, Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) belum juga disahkan. Perdebatan antargolongan, sampai yang terjadi di dalam pemerintahan itu sendiri mengenai RUU ini masih terjadi, dan itu tak terlepas dari segelintir stigma yang melekat mengenai kekerasan seksual di Indonesia.

Padahal, RUU PKS bukan hanya bermanfaat bagi individu di ranah pribadi, tapi juga berdampak baik terhadap iklim kerja dan kebijakan di ranah publik, khususnya di tingkat perusahaan. Salah satunya untuk mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan perusahaan yang ramah gender (gender-friendly).

Hal itu disampaikan oleh Owner dan Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia, Suzy Hutomo, dalam wawancaranya bersama Magdalene baru-baru ini. Kesadaran Suzy untuk membuat sebuah organisasi atau perusahaan yang ramah gender dan aktif memerangi kekerasan seksual, membuatnya menginisiasi kampanye Stop Sexual Violence, dengan agenda utama mendorong pengesahan RUU PKS.

“Dengan menginisiasi kampanye ini dan mendorong pengesahan RUU PKS, jadi lahir perbincangan mengenai itu (kekerasan seksual) di antara kami dan para karyawan. It is the conversations that you need to have. Itu yang membuat suatu perubahan budaya di dalam organisasi kita tentang masalah ini,” ujar Suzy.

“(Divisi) HRD juga sudah catat tentu saja, bahwa ini sesuatu yang nantinya akan kita buat semacam kebijakan, ya. Bahwa semua orang yang masuk harus ngerti what are the things that you can and you can not do in the organization (dalam konteks kekerasan seksual). It's been sort of a blessing for organization bahwa kita berkampanye, tapi ini menghasilkan suatu dampak yang sangat positif,” tambahnya.

Baca juga: Kawal RUU PKS, Kekerasan Seksual Bukan Hanya Urusan Perempuan

Suzy menggarisbawahi bahwa RUU PKS, apabila disahkan, sebenarnya akan membawa keuntungan ekonomi maupun bisnis bagi perusahaan. Kebijakan yang mengatur soal keramahan gender, juga kekerasan seksual, ujarnya, akan melahirkan lingkungan organisasi yang memberi rasa aman bagi semua orang. Terutama bagi para perempuan, sebagai kelompok yang paling rentan menjadi korban kekerasan seksual, menurut Suzy.

“Perempuan itu persentasenya besar dalam angkatan kerja kita. Jadi kalau kita benar-benar membuat tempat kerja itu nyaman dan aman untuk perempuan, their productivity will go up.  Tidak ada unsur-unsur yang membuat merasa cemas kalau malam-malam mereka harus bekerja sendiri di kantor, atau merasa bahwa ini mungkin ada predator, mereka enggak bisa lapor,” ujarnya.

“Jadi all those things yang biasanya adalah gunung es yang tidak terlihat di dalam organisasi, sekarang dengan kita bahas UU PKS ini, ini semua jadi muncul ke permukaan. Jadi ini yang membuat culture di dalam sebuah perusahaan menjadi positif.”

Berikut adalah cuplikan obrolan Suzy dengan Devi Asmarani dan Hera Diani dari Magdalene.

Magdalene: RUU PKS belum kunjung disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Apa komentar Ibu tentang hal ini?

Suzy Hutomo: Saya rasa, ini satu hal yang serius dan ya, sedih juga, ya. Bahwa hal yang sepenting ini bisa terpental dari Prolegnas (Program Legislasi Nasional) pada tahun ini (2020). Mungkin itu yang membuat kita semua rasa kita perlu berbuat sesuatu, karena kok ini hal yang begitu serius bisa seolah-olah diremehkan oleh DPR. Itu yang membuat saya gelisah sebenarnya. 

Kenapa Ibu tertarik dengan isu kekerasan seksual di Indonesia?

Pertama, karena angkanya begitu tinggi. Dan kedua, saya terus terang seorang penyintas waktu saya masih kecil. Jadi dari dulu memang saya sangat peka terhadap banyaknya kejadian kekerasan seksual yang ada di sekitar saya. Dan, kalau ajak perempuan ngobrol sebentar aja, mungkin kalau ketemu tiga perempuan, satu dari tiga ya, pasti cerita, “aku juga ngalamin gini-gini (kekerasan seksual)”. Jadi saya rasa, wah, ini adalah semacam gunung es yang tidak kelihatan sebetulnya. Dan melihat angka yang dikeluarkan Yayasan Pulih di masa-masa pandemi ini, rasanya ini benar-benar suatu hal yang serius. 

Menurut Ibu, bagaimana RUU-PKS bisa menjadi jawaban atas masalah tingginya angka kekerasan seksual di Indonesia?

UU yang ada sekarang belum bisa meng-cover semua kasus kekerasan seksual yang terjadi. Jadi kita butuh tuh UU PKS ini, agar all forms of sexual violences itu ter-cover. Dan ini akan menjadi harapan bagi kita semua, agar bisa semua terlindungi dari segala jenis kekerasan. Bagusnya juga, karena dalam urusan kekerasan seksual ini, UU PKS nantinya akan memberikan definisi yang lebih jelas dan adanya pelatihan bagi aparat penegak hukum dan ada rehabilitasi untuk korban dan pelaku. Jadi kita bisa dengan UU tersebut break the cycle of violence. Itu sangat positif dalam rancangan UU ini. 

Pada bulan November lalu, Ibu dan The Body Shop Indonesia meluncurkan Stop Sexual Violence Campaign. Bisa diceritakan tentang itu dan bagaimana penerimaannya di dalam lingkungan The Body Shop?

The Body Shop ini, kita kan, karyawannya 86 persen adalah perempuan. Dan mostly the victims of sexual violance itu perempuan. Jadi kalau dari dalam organisasi, kita juga sudah melakukan beberapa kali webinar, dengan Magdalene, Yayasan Pulih, dengan expert yang lain, maka dalam organisasi kita sudah punya pemahaman, saya rasa, yang cukup bagus. The support has quite been incredible, melebihi ekspektasi saya pribadi.

Baca juga: Tantangan Perempuan dalam Sektor Bisnis HIngga Pemerintahan

Waktu itu, saya masih sedikit berpikir, wah, apakah semua karyawan akan support? Mungkin we have to do a bit more work untuk convince everybody. Tapi kenyataannya tidak begitu. Kenyataannya, selama kita berikan awareness dan penjelasan, edukasi yang cukup komplit, the internal support, partisipasi semua karyawan, has been quite incredible. Ini yang memberi kita semangat sebenarnya untuk benar-benar mau mengumpulkan 500 ribu petisi (tanda tangan pengesahan RUU PKS) dan pada tanggal 25 November kita sudah lakukan silent demo di depan kantor DPR dan MPR dengan menggelar 500 pasang sepatu yang kita dapatkan dari customer, karyawan, saya sendiri juga ikut. Kenyataannya itu cukup efektif membawa isu kekerasan seksual dan RUU tersebut ke teman-teman kita di media. So far kita very hopeful bahwa kita bisa dapat 500 ribu petisi.

The Body Shop lumayan jadi pionir isu kekerasan seksual. Sebenarnya apa saja peran sektor bisnis untuk mencegah kekerasan seksual, terutama di lingkungan kerja, dan mendorong hadirnya UU PKS?

This campaign yang kita dukung sebenarnya sebuah blasting untuk organisasi kita. Kita sudah buat handbook untuk semua karyawan yang mereka bisa akses, tentang apa aja sih sembilan macam kekerasan seksual yang akan di-cover oleh RUU PKS. Dan what is the problem with that? Karena banyak orang yang tidak sadar juga sebenarnya hal-hal apa itu yang defined by sexual violene.

Kalau orang harassment, itu sexual violence bukan? Kalau cat-calling, iya bukan? Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang sebetulnya sangat penting dalam engagement dengan karyawan. Tentu saja waktu kita adakan webinar, sudah muncul juga dari teman-teman di dalam organisasi yang mengaku pernah mengalami, walaupun they are not sure, apakah benar-benar mengalami ya?

The Body Shop Indonesia aktif beberapa kali mengampanyekan isu-isu sosial yang berhubungan dengan perempuan. Bisa digambarkan apa saja dan mengapa ini selalu jadi ketertarikan di The Body Shop, meski isu ini cukup dijauhi oleh brand-brand lain?

Betul. The Body Shop didirikan oleh Anita Roddick, seorang aktivis. Dia pelopor dalam bisnis, bahwa bisnis itu didirikan tidak hanya untuk mencari keuntungan, tapi untuk membawa perubahan yang positif di dalam masyarakat. Dan kalau kami interpretasinya adalah, perusahaan atau unit usaha apa pun, kita adalah salah satu stakeholder sebenarnya.

Pemangku kepentingan di dalam masyarakat. The Body Shop melihat bahwa caring about things that important itu tadi, apalagi tentang perempuan, itu adalah salah satu yang actually quite natural. Selain itu juga tentunya kita care tentang lingkungan ya. But actually it's a very natural things to care about something di society yang benar-benar perlu menjadi fokus. So, I guess the question is, why isn't it a concern of other people?

Yang kedua, mungkin karena kami sudah punya pengalaman, tahun 2004-2008 sama-sama Komnas Perempuan mendorong RUU KDRT, itu sudah berhasil lolos di Prolegnas. Dan pada tahun 2012 mungkin ya, saya lupa, kita juga mendorong diratifikasinya undang-undang tentang child sex trafficking. Jadi the experience has shown us bahwa we can have a voice.

Baca juga: Pelecehan Seksual di Tempat Kerja: Dinormalisasi dan Alat Jatuhkan Perempuan

Dan customer itu sebenarnya mendukung. Itu yang sangat surprising. Awal-awal kita pikir kan RUU PKS ini something yang nobody likes to talk about. Waktu awal-awal mau launching, mungkin ada pertanyaan juga, is this too difficult? Is this too raw? Tapi kenyataannya, if kita kemas dengan baik, kita juga beauty brand, dalam arti kita juga punya ability untuk mengemas suatu isu dengan baik dan kreatif, so, customer kita mendukung. Sampai hari ini kita sudah dapat lebih dari 100 ribu tanda tangan dalam petisi untuk mendorong pengesahan RUU PKS

Apa yang membuat The Body Shop tidak ragu menyebut diri sebagai feminist brand, ketika kata feminis dan feminisme sendiri masih menjadi dirty word di Indonesia? 

Saya rasa, The Body Shop has always wanted to be different. Secara etika, I think it is better that we're clear tentang apa yang mau kita perjuangkan. Dan menyebut diri sebagai feminist brand itu tuh positif, buat kami sih positif. Bukan justru negatif. Karena jelas-jelas kita berdiri di pihak perempuan, di gender equality. Ini justru termasuk dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Jadi buat kami sih mungkin masih ada pihak-pihak yang menentang, but we prefer to be in the front untuk membicarakan kesetaraan gender yang menurut kami sangat penting. So, kepentingan banyak perempuan itu melebihi kepentingan untuk disukai oleh semua orang lah. Bisa dibilang seperti itu.

Kampanye Semua Peduli, Semua Terlindungi #TBSFightForSisterhood adalah kerja sama antara The Body Shop Indonesia bersama Yayasan Pulih dan Magdalene. Petisi untuk mendesak pengesahan RUU PKS dapat ditandatangani di sini.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.