Women Lead
September 27, 2021

‘Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings’ Runtuhkan Stereotip Perempuan Asia

Pertama kalinya Marvel mengangkat representasi Asia secara total di film ‘Shang-Chi’. Tanpa usaha terlalu keras untuk membongkar stereotip, ‘Shang-Chi’ tampil memikat dan terasa humanis.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Screen Raves
Simu Liu
Share:

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, film superhero Marvel Asia pertama ini sudah dinanti oleh penonton sejak mula. Terbukti, selama penayangan di bioskop, film tersebut panen ulasan positif dari penikmat dan kritikus film. Dalam agregator Rotten Tomatoes misalnya,, Shang-Chi mendapatkan skor 92 persen dari para kritikus film dan 98 persen dari penikmat film. Ulasan positif itu juga berbanding lurus dengan laris manisnya tiket film itu. Dilansir dari Deadline, Shang-Chi telah memecahkan rekor box office dengan tetap di posisi teratas selama tiga akhir pekan berturut-turut. Bahkan sekarang, itu diproyeksikan untuk meraup total cuan US$195,2 juta pada akhir minggu. Rekor ini akan menjadikan Shang-Chi sebagai film dengan pendapatan kotor tertinggi selama pandemi 2020-2021.

Namun, di tengah kesuksesan Shang-Chi, film ini ternyata mendapatkan kecaman dari Cina  sebagai negara yang budayanya banyak diangkat di dalamnya. Dikutip dalam artikel Variety, Simu Liu, aktor utama dikecam walau lahir di Harbin, Cina dan fasih berbicara Mandarin, hanya karena ia berkewarganegaraan Kanada. Para nasionalis Cina dengan cepat melabelinya sebagai "pengkhianat” negara. Kendati begitu, Shang-Chi tetap menawarkan kisah yang segar dan karakter-karakter yang menarik.

Baca Juga: 5 Perbaikan Soal Penggambaran Perempuan dalam ‘Snyder Cut’ 

Film Shang-Chi Runtuhkan Stereotip Problematik Orang Asia

Salah satu hal yang membuat Shang-Chi mendapatkan pengakuan dari banyak pihak adalah karena film ini mampu memformulasikan ulang cerita dan karakter yang sebenarnya problematik serta melanggengkan kekerasan pada orang Asia. Hal ini bisa dilihat dari formulasi ulang karakter ayah Shang Chi, Xu Wenwu.

Dalam karya aslinya, Wenwu dikenal dengan nama Fu Manchu. Dikutip dalam artikel Inverse, Fu Manchu adalah ilmuwan gila dan memiliki kekuatan sihir yang bertekad mendominasi dunia yang diciptakan pada 1913 oleh novelis Inggris Sax Rohmer. Ia digambarkan sebagai warga Cina dengan mata sipit, wajah tirus, pakaian sutra, kumis, dan jari-jari panjang. Setelah melisensi karakter ini pun, Marvel tetap mempertahankan karikatur rasis ini untuk menggambar ayah Shang-Chi. Bahkan ia dinarasikan sebagai penghisap darah, memakan darah anak-anak untuk melestarikan keabadiannya. Narasi Fu Manchu ini jelas problematik, karena dibangun atas propaganda yellow peril.  

Washington Post menjelaskan, yellow peril adalah istilah ciptaan Kaisar Jerman Kaiser Wilhelm II untuk membenarkan kolonisasi Cina dan Jepang. Pembenaran kolonialisasi ini sebenarnya berasal dari ketakutan lama bangsa kulit putih terhadap Asia Timur yang dianggap mengancam peradaban Barat. Ketakutan ini kemudian secara bersamaan memunculkan stereotip terhadap bangsa Asia Timur yang memosisikan mereka sebagai bangsa yang lebih rendah secara budaya dan sangat licik. The Chinese Exclusion Act 1882, misalnya, melarang buruh Cina bermigrasi ke AS untuk “mencuri pekerjaan” dari orang kulit putih Amerika. Ini merupakan manifestasi nyata dari propaganda yellow peril tersebut.

Untuk meruntuhkan stereotip problematik dari karya asalnya, sutradara Destin Daniel Cretton memutuskan untuk memformulasikan ulang karakter Fu Manchu ini. Cretton mengubah nama Fu Manchu menjadi Xu Wen Wu dan ia tidak lagi digambarkan dengan penampilan khas propaganda yellow peril. Dengan diperankan oleh Tony Leung, aktor kenamaan Hong Kong, Xu Wen Wu digambarkan sebagai orang Asia pada umumnya yang kita temui sehari-hari dan dinarasikan sebagai karakter penjahat humanis dengan pengalaman hidup yang relevan dengan penonton. Nantinya, karakter ini justru akan menimbulkan simpati bagi para penontonnya.

Sumber: Marvel Studios

Tak hanya mengubah nama Xu Wen Wu dan memformulasikan ulang karakternya, Shang-Chi juga meruntuhkan stereotip perempuan Asia di film Hollywood. Perempuan Asia yang pemberontak, pemberani, dan mandiri kerap digambarkan dengan tokoh perempuan yang memiliki selera fesyen eksentrik dengan hair streak warna ungu atau warna terang lainnya. Dikutip dalam artikel TeenVague, penampilan perempuan Asia dalam film Hollywood dengan hair streak problematik lantaran secara implisit memberi tahu para penonton bahwa mereka “berbeda” dengan perempuan Asia pada umumnya.

Baca Juga: Captain Marvel: Another Blockbuster, Another Bunch of Misogynist Haters 

Stereotip hair streak ini membangun asumsi mayoritas perempuan Asia adalah orang yang kerap menyerah pada keadaan. Mereka lemah, submisif, dan tidak mampu mandiri karena mereka tunduk pada figur atau norma tertentu di masyarakat.  

Hal inilah yang berusaha ditentang oleh aktris Meng’er Zhang, pemeran Xu Xialing, adik dari Shang-Chi. Dalam wawancara dengan Nancu Wang Yuen, Meng’er Zhang mengatakan pada awalnya karakter Xialing memang digambarkan memiliki hair streak berwarna merah. Setelah satu bulan menjalankan proses syuting, suatu hari ia tersadar telah menjadi korban dari stereotip bermasalah karakter perempuan pemberontak ini. Dari momen inilah ia kemudian ingin menjadi aktris yang mampu membuat perubahan dalam penggambaran perempuan Asia di film Hollywood. Ia lalu memutuskan untuk berbicara dengan Destin selaku sutradara dan bertanya apakah ia bisa mengeluarkan gambaran penuh stereotip ini yang akhirnya disetujui oleh Destin.

Sisi Humanis dari Para Karakternya

Hal lain yang membuat Shang-Chi mendapatkan banyak pujian adalah bagaimana film ini mampu membawakan sisi humanis pada setiap karakternya. Akibatnya, penonton bisa lebih relate dengan pengalaman hidup karakternya dan tidak melihat mereka dari satu sisi hitam putih saja. Misalnya, penggambaran Wenwu sebagai penjahat di film digambarkan berbeda dengan sterotipe jamak. Jika penjahat pada umumnya dinarasikan sebagai karakter yang bengis, haus kekuasaan, dan tidak memiliki rasa cinta sekali dalam hatinya, Shang-Chi justru memformulasikan karakter Wenwu sebaliknya.

Ya, memang ia dahulu merupakan panglima perang yang haus akan kekuasaan, yang menaklukan kerajaan untuk memperluas daerah kekuasaannya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru belajar untuk melepas rasa dahaganya terhadap kekuasaan dan memulai hidup baru dengan seseorang yang ia cintai. Ia menyimpan senjatanya, ten rings dan mulai menjalani hidup sebagai ayah dan suami. Dalam hal ini, ia belajar mengenai bagaimana menjadi manusia yang mampu merasakan dan memberikan cinta juga kasih sayang pada keluarga.

Baca Juga: Why I Can Relate with Villains Like Cruella More Than Princesses

Hal yang kemudian membuat karakter Wenwu menjadi sangat humanis dan digadang-gadang sebagai best villain bagi para penikmat film Marvel adalah bagaimana ia berjibaku dengan kesedihannya. Narasi utama Wenwu sebagai penjahat di di film ini mayoritas dinarasikan dengan bagaimana dirinya ingin mengembalikan istrinya kembali yang ia percaya masih hidup tapi terjebak dalam Dark Gate. Diliputi rasa sedih atas kematian istrinya, jiwa Wenwu pun dengan mudah dirasuki Dweller-in-Darkness yang membisikan pada Wenwu suara mendiang istrinya bahwa ia butuh dibebaskan dari penduduk Ta-Lo.

Dalam perjalannya, kita diperlihatkan sisi kerapuhan Wenwu sebagai manusia biasa. Ia mengalami kesulitan berdamai dengan luka batin yang ditorehkan atas kematian istrinya, sehingga berusaha sekuat tenaga menekan rasa sakit itu dengan cara membuat tameng dalam dirinya sendiri melalui dendam dan kebengisan.

Tidak hanya melalui karakter Wenwu, sisi humanis lainnya terlihat dari perjalanan Shang-Chi sendiri sebagai karakter superhero. Shang-Chi digambarkan sebagai seseorang yang lari dari masa lalunya. Ia menyadari bagaimana ayahnya berusaha menjadikan ia pembunuh, demi memenuhi dendamnya pada pembunuh sang ibu. Oleh karena itu, ia ingin sekali mengubur masa lalunya dan sisi kelamnya ini. Ia lari dari rumahnya, lari dari ayahnya yang berubah semenjak kematian ibunya, serta meninggalkan adiknya. Ia lantas menjalani hidup sebagai Shaun. Namun, takdir berkata lain. Ia harus berhadapan lagi dengan ayah dan adiknya yang mau tidak mau membuat karakternya melewati perjalanan dalam menerima diri sendiri.

Dalam misinya untuk menghentikan sang ayah, Shang-Chi pun menyadari ia tidak bisa selamanya lari dari masa lalunya. Ia tersadar dirinya yang sekarang adalah manifestasi dari fragmen-fragmen masa lalu. Oleh sebab itu, ia mulai berdamai dengan sisi kelamnya ini. Shang-Chi mengajarkan kita bagaimana manusia harus mengakui sisi kelam apa adanya. Pengakuan bahwa diri kita terdiri lembaran hitam dan putih yang tidak terpisahkan inilah yang mengantarkan kita pada proses kontemplasi yang dalam. Dengan demikian, kita akhirnya bisa menentukan hidup seperti apa yang ingin kita jalani.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.