Women Lead
March 10, 2021

‘Stand By Me Doraemon 2’ Akan Buat Kamu Jatuh Cinta pada Shizuka

Ada banyak hal dari adegan Nobita dan Shizuka dalam film Stand By Me Doraemon yang membuat saya semakin jatuh cinta pada gadis berkucir dua ini.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Culture // Screen Raves
Stand by Me Doraemon 2
Share:

Siapa pun yang tumbuh besar menonton serial kartun Doraemon tentu kenal Shizuka, kawan dekat Nobita yang menjadi pujaan bocah ceroboh dan pemalas itu sampai dewasa. Gadis cilik ini begitu manis dan baik hati sehingga tak heran Nobita jatuh cinta kepadanya.

Tidak hanya Nobita yang merasakan hal itu, saya pun demikian. Setelah menonton film 3D Stand By Me Doraemon 2 (SBMD 2) yang baru dirilis Februari ini di bioskop, saya jadi makin jatuh cinta pada gadis berkucir dua itu.

Film yang diangkat dari karya almarhum Fujiko F. Fujio ini merupakan lanjutan dari film berjudul sama yang dirilis pada 2014. Dalam SBMD 2, diceritakan lika-liku perjalanan Nobita dewasa menjelang hari pernikahannya dengan Shizuka, dan interaksinya dengan Nobita kecil dan Doraemon.

Nobita sempat galau sesaat sebelum resepsi pernikahannya digelar. Hal ini membuat panik orang-orang sekitarnya mulai dari sang mempelai perempuan, keluarganya dan keluarga Shizuka, Giant dan Suneo, sampai Nobita kecil dan Doraemon yang sedang mampir ke masa depan.

Nobita kecil dan Doraemon saat itu sedang dalam misi memenuhi keinginan nenek Nobita untuk melihat pengantin cucunya itu. Alih-alih langsung mewujudkan hal tersebut, Nobita kecil dan Doraemon mesti bolak-balik dimensi waktu berbeda dan menemukan berbagai kepelikan sebelum akhirnya pesta pernikahan berlangsung sesuai harapan.

Shizuka yang Membuat Jatuh Cinta

Hal pertama yang mengagumkan dari Shizuka adalah karena dia berani menghentikan perundungan terhadap Nobita, terutama dari Giant dan Suneo. Selain itu, dalam SBMD 2, Shizuka juga tidak ragu pasang badan ketika Nobita ditindas anak-anak SMP yang berbadan jauh lebih besar dan kuat. Sering kali, kita mendapati harapan masyarakat atau anggapan maskulinitas toksik bahwa anak laki-laki harus lebih kuat dan bisa berkelahi. Jelas, Nobita tidak memenuhi harapan itu. Namun alih-alih turut mengecilkan Nobita, Shizuka malah tidak mempermasalahkan kepayahan Nobita dalam hal berkelahi. Ia bahkan bilang, “Kamu enggak bisa berantem, enggak usah memaksa buat begitu. Kamu jadi diri kamu apa adanya aja”.

Baca juga: Surat Cinta Buat Doraemon, Karakter Kartun Revolusioner

Adegan itu justru membawa pesan kuat bahwa melawan penindasan tidak harus didominasi gender tertentu. Perempuan bisa sama berani dengan laki-laki dan itu tidak masalah.

Anak laki-laki yang kalah dalam hal kekuatan fisik juga tidak mengurangi kualitas dirinya karena masih ada hal baik lain yang tentunya jadi keunggulannya. Shizuka melihat itu dalam diri Nobita.

Sempat ada kekhawatiran Nobita, sejak di film SBMD 1, bahwa dirinya yang ceroboh dan gagal dalam banyak hal tidak akan bisa membuat Shizuka bahagia. Kekhawatiran ini masih berlanjut pada detik-detik menjelang pernikahannya.

Nobita juga sempat kecil hati mengingat Shizuka (pada SBMD 1) pernah bilang, “Aku mencemaskanmu. Kau butuh orang yang bisa menjagamu” sesaat sebelum Shizuka menerima lamarannya. Dia pikir, Shizuka hanya kasihan kepadanya yang lemah itu sehingga mau menjadi pendampingnya.

Tapi, Shizuka menilai, terlepas dari kekurangan Nobita, teman sejak kecilnya itu adalah laki-laki baik, yang mau berusaha membahagiakan orang sekitarnya. Shizuka juga tidak meninggalkan Nobita yang sedang merasa kecil diri, namun justru bertahan dan tetap menemani Nobita di tengah berbagai kemalangan yang menimpanya.

Shizuka Anak Manis dan Mandiri

Meski setia dan mendukung NObita, bukan berarti Shizuka enggak pernah mengkritik bocah itu. Dia menegur Nobita kecil yang bersikap kasar pada neneknya suatu kali. Gadis itu juga bereaksi tegas waktu Nobita berusaha membuatnya membencinya—yakni saat Nobita menyingkap rok Shizuka. Sedekat dan sesimpati apa pun dirinya dengan Nobita, Shizuka tetap berani melawan saat hal yang tidak diinginkannya terjadi.

Dalam SBMD 1, tergambar bagaimana mandirinya Shizuka. Salah satunya adalah saat ia memutuskan tetap naik gunung di tengah badai salju sendirian setelah Nobita menolak ikut serta. Adegan ini mendorong anak-anak perempuan lain untuk melakukan hal yang mereka hendaki, meski tanpa ditemani siapa-siapa, meski ada tantangan berat di depan mata. Memang pada akhirnya Nobita menyusul Shizuka dengan pintu ke mana saja dan berlagak jadi pahlawan bagi gadis itu. Tapi toh ujungnya gagal dan lagi-lagi, Shizuka tidak mempermasalahkan hal itu. Tidak selamanya perempuan harus bergantung pada pertolongan laki-laki.

Baca juga: Film-film Hayao Miyazaki dan Representasi Kepemimpinan Perempuan

Dalam SBMD 2, Shizuka tampak tidak grusak-grusuk dan gampang panik waktu sesuatu terjadi di luar harapannya, termasuk pada saat menjelang pernikahannya. Sementara yang lain mengira Nobita begitu galau dan memutuskan membatalkan pernikahan, Shizuka bersikap tenang dan tidak langsung bereaksi negatif.

Pesan Lain dari Stand By Me Doraemon 2

Hal lain yang menarik dari SBMD 2 adalah saat Nobita, yang tidak suka namanya sendiri, mencari tahu kenapa dia diberi nama demikian. Jawaban dari orang tuanya: Agar Nobita dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi orang baik. Tidak masalah apabila Nobita banyak gagal di akademik, payah dalam hal olahraga dan kekuatan fisik.

Ini penting karena sering kali orang tua menuntut dan menaruh harapan tinggi-tinggi kepada anak, bahkan sejak anak lahir. Padahal, harapan sederhana seperti yang dipunyai orang tua Nobita ini justru bisa jadi lebih bermakna dan tidak memberatkan anak kelak.

Memang, dalam keseharian kita masih sering melihat ibu Nobita mengomel waktu anaknya mendapat nilai 0 dalam tugas dan ujian. Tapi jauh di dasar hati, ia dan suaminya menginginkan hal sederhana seperti yang mereka ucapkan saat Nobita lahir.

Terakhir, meski hanya sebentar saja, adegan Shizuka mengajak Nobita main rumah-rumahan juga mengesankan. Secara sederhana, film itu berpesan bahwa anak laki-laki boleh kok main sesuatu yang dianggap feminin. Selama mereka bisa mengisi masa kecilnya dengan penuh kesenangan bermain apa pun, kenapa tidak?

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop