Women Lead
January 13, 2021

Tiktok dan Seks yang Dijadikan Prestasi, Bukan Privasi

Konten seksual yang diunggah sebagian remaja di Tiktok menunjukkan bahwa seks dianggap sebagai prestasi, bukan privasi yang mengandung konsekuensi.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Mitos_Seks_Sex_HavingSex_SarahArifin
Share:

Sudah lama Facebook, YouTube, dan Twitter dipakai sebagian orang untuk  mengekspresikan dirinya, termasuk seksualitasnya. Mulai dari mengunggah foto dan video intim sampai informasi terkait transaksi seksual macam open BO (open booking online).

Seiring dengan kemunculan dan popularitas Tiktok, banyak anak muda yang menggunakan platform ini untuk membuat konten seksual implisit. Lazimnya, mereka memakai tagar-tagar yang menjurus ke hubungan seksual.

Meski sebagian tagar seksual semacam “bokep”, “ngewe”, dan “ngentot” dibatasi di Tiktok—sebagaimana juga di Instagram—beragam tagar menjurus seksual lainnya dan yang dikombinasikan dengan tagar yang dilarang bisa dengan gampang ditemukan di platform itu.

Ini menunjukkan dua hal. Pertama, selalu ada jalan untuk membuka ruang-ruang konten seksual meski sebagian ruang dibatasi aksesnya oleh pihak media sosial. Kreativitas orang-orang memang tanpa batas, mulai dari memakai kata yang gamblang sampai metafora macam “pisang bengkok” dan istilah konotatif seksual lainnya seperti “crot di dalam”.

Kedua, sementara ekspresi seksual dalam keseharian di dunia nyata sangat dibatasi, media sosial menjelma menjadi wadah pelepasan bagi sebagian warganet. Walaupun ada upaya normatif dari platform media sosial, para penggunanya seolah punya kekuatan lebih besar dengan mengklaim apa yang sulit diperolehnya di luar media sosial: ruang untuk ekspresi seksualitasnya yang nyaris tanpa batas.

Mencari Validasi Lewat Video Seks

Dalam studi-studi mengenai pemakaian media sosial, disebutkan bahwa kerap kali remaja melakukannya untuk mendapat pengakuan atau validasi dari orang lain. Pada masa-masa seperti inilah mereka mencari jati diri dan pengakuan dari teman sekitar adalah bensin bagi kepercayaan diri mereka.

Mengikuti tren apa pun yang sedang naik di media sosial seakan menjadi keharusan supaya mereka dikatakan eksis, sekalipun kadang tren yang diikuti tersebut membuat kita menggaruk kepala saking “absurdnya”. Mereka melakukan hal tersebut, salah satunya dengan mengetik tagar tertentu.

Baca juga: Pendidikan Seks di Usia Dini Bisa Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

Dalam konteks konten seksual misalnya, tagar ‘bengkok’ atau sejenisnya pernah dipakai seiring munculnya video intim pasangan remaja di Tiktok. Pada konten-konten yang memang secara seksual implisit dan memang memakai tagar menjurus, kelihatannya seks tidak lagi dianggap sebagai bagian dari privasi seseorang, melainkan prestasi yang mesti digembar-gemborkan. Ada konten yang menampilkan “ekspresi saya waktu ‘keluar di dalam’”, konten dengan audio desahan-desahan dan ekspresi khas pemain bokep, dan masih banyak konten implisit seksual lainnya.  

Sebagian orang mungkin memang masih menjadikan pengalaman seks sebagai trofi yang patut dipamerkan ke orang lain, terutama di kalangan laki-laki. Tapi sampai memamerkannya di media sosial, termasuk ke para orang asing? Biar apa coba? Biar disebut fuckboy nan jago? Cewek hot? Menurut saya sih sudah masuk level cringey, ya.

Konsekuensi dan Bahaya yang Mengintai

Beberapa tahun lalu, dari informasi yang diberikan salah satu teman, saya pernah mendapati seorang anak perempuan usia SD yang mengunggah foto vulvanya di Facebook. Foto itu lantas dihujani ribuan likes dan share. Di halaman profil, terpampang jelas muka anak itu. Buru-buru saya mengeklik report sebagai upaya pertama dan sesederhana mungkin untuk menyetop penyebaran foto itu lebih jauh lagi.

Kita bisa menduga anak kecil itu disuruh atau diiming-imingi hal tertentu supaya mau mengunggah foto vulvanya, atau dia memang ikut-ikutan orang dewasa lain dalam video porno. Yang jelas, ada konsekuensi panjang yang mengikuti si anak tersebut sampai dewasa, kalau tidak seumur hidup.

Baca juga: Perempuan dalam Perkara Video Intim di Ranah Digital

Kita tahu, apa yang ada di internet akan tinggal lama atau selamanya di sana. Bayangkan bagaimana peliknya dia menjalani hari-hari berikut setelah dikenal sebagai pengunggah foto porno, entah untuk urusan sekolah, kerja, atau soal berpacaran dengan seseorang.

Belum lagi risiko remaja diciduk aparat karena video intim diunggah media sosial. Bukan sekali dua kali saja hal ini kejadian. Kalau kita mengetik “video mesum remaja” di Google, akan muncul beragam berita soal ABG dari macam-macam daerah yang ditangkap Satpol PP atau polisi seiring dengan viralnya konten seksual mereka. Berurusan dengan aparat saja sudah bikin repot, belum lagi omongan orang sekitar setelah mereka ketahuan membuat video mesum sampai tertangkap.

Dan jangan lupa, public shaming biasanya tidak hanya ditujukan kepada pihak-pihak dalam konten intim saja. Orang tua, saudara, keluarga besarnya turut kecipratan penghakiman masyarakat. Tidak semua orang sanggup loh, menghadapi efek public shaming ini. Baik pemeran video intim maupun keluarganya sama-sama rentan stres, depresi, bahkan sampai kehilangan akses dan pekerjaan sebagai alat penyambung hidupnya.  

Pendidikan Seksualitas dan Literasi Digital

Sejak dulu, saat fenomena remaja terlibat video intim merebak, banyak orang yang lantas berfokus pada wacana minimnya moralitas, kurang ibadah, atau dampak jelek pemakaian internet dan media sosial. Lantas buru-buru mereka berupaya membatasi akses ke media sosial, termasuk pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Informatika beberapa tahun lalu. Tindakan itu dipicu oleh munculnya konten-konten yang dianggap berbahaya untuk anak.

Efektif? Tentu tidak. Lihat saja bagaimana bermacam video porno masih bisa gampang diakses masyarakat terlepas dari usaha pemerintah memblokir situs-situs porno sejak lama.

Baca juga: Jika Konten Intim Tersebar, Ini yang Bisa Dilakukan

Bagaimana dengan mencekoki anak dan remaja dengan nilai agama banyak-banyak, lalu mengatakan semua hal terkait seks itu tabu? Masih diragukan juga keberhasilannya. Yang ada malah remaja mencari sumber informasi soal seks diam-diam, tanpa mengetahui kredibilitas sumber tersebut. Makin langgenglah ketidaktahuan soal seksualitas dan risiko-risiko di depannya.

Kembali lagi ke nature anak muda yang sedang senang-senangnya bereksplorasi dan mencari tahu, yang diperlukan untuk menghadapi fenomena remaja mengunggah video implisit seksual adalah menerapkan pendidikan seksualitas yang komprehensif.

Ini tak hanya meliputi apa yang mungkin terjadi akibat aktivitas seksual seperti kehamilan dan penyakit kelamin, tetapi juga membicarakan soal consent dan risiko perilaku seksual seperti memvideokannya. Bahkan mungkin bisa berkaitan lebih jauh lagi soal aspek psikis seksualitas: gambaran dan kepercayaan diri seseorang yang dipengaruhi dari pengalaman seksualnya.

Seiring dengan itu, penting juga membicarakan soal literasi digital kepada remaja: Tentang apa yang aman dan tak aman diunggah serta informasi yang benar dan salah soal seksualitas. Ini yang masih sering luput dilakukan mulai dari lingkup keluarga, pertemanan, sampai sekolah. Padahal, dengan memiliki literasi digital, konsekuensi buruk yang bisa dihadapi akan dengan cepat remaja sadari dan hindari di kemudian hari. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop