Women Lead
November 23, 2021

Usung Tema ‘Esok’, Jakarta Biennale Kembali Hadir Setelah Absen 4 Tahun

Jakarta Biennale menjadi persembahan bagi kota Jakarta dan penduduknya yang telah begitu menderita selama pandemi.

by Magdalene
Community
Share:

Jakarta Biennale kembali lagi setelah tertunda selama empat tahun pada November ini. Mengusung tema ESOK, Jakarta Biennale menjadi persembahan bagi kota Jakarta dan penduduknya yang telah begitu menderita selama pandemi, sekaligus sebagai sebuah ajakan dan panggilan untuk membangun masa depan yang penuh harapan, lebih lenting, dan lebih kreatif. 

Dolorosa Sinaga, pematung dan aktivis kemanusiaan, berperan sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale, bersama Direktur Program Farah Wardani menggagas tema ini. Tiga kurator, Grace Samboh (Indonesia), Sally Texania (Indonesia), dan Qinyi Lim (Singapura), bergabung untuk menggarap proses kuratorialnya. Proses kuratorial mengenai tema ESOK ini telah dimulai sejak akhir 2019.

ESOK dibayangkan sebagai sebuah tantangan bagi para seniman untuk mewujudkan visi masing-masing. Tantangan ini menyentuh berbagai permasalahan kehidupan hari ini: hak asasi manusia, krisis iklim, keberagaman, pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, diskursus kebudayaan, hingga gangguan digital dan situasi pandemi.

Melalui pendekatan “aktivisme kuratorial”, strategi dan praktik seni dihadirkan lewat beragam medium, platform, ruang fisik dan virtual, seni relasional dan partisipatoris, serta arsip sebagai basis pengaryaan dan produksi pengetahuan. Dengan itu, ESOK ingin mengajak warga, dan semua yang terdampak pandemi, untuk terlibat dalam percakapan tentang apa yang dapat dilakukan bersama dan bagaimana praktik seni bisa berkontribusi terhadap ekosistem seni dan kota sebagai sebuah peristiwa sosial, terutama atas apa yang telah terjadi selama hampir dua tahun terakhir ini.

“Sebagai kegiatan seni kontemporer terpanjang dalam sejarah Indonesia, selama 47 tahun Jakarta Biennale telah mendokumentasikan apa yang dikatakan dan dilakukan tentang seni pada dunia sekitar kita. Jakarta Biennale merupakan tolok ukur dalam dunia seni di Indonesia,” ujar Farah Wardani.

“JB2021: ESOK tidak dimaksudkan sebagai sebuah kegiatan seni ‘Blockbuster’ dan juga tidak mengikuti model seni global yang ‘mapan’, tetapi justru bertujuan untuk membantu perkembangan karya-karya berkualitas tinggi dan punya arti secara sosial, yang dihasilkan oleh para seniman, komunitas, warga, dan kolektif. Banyak karya yang hadir pada penyelenggaraan kali ini merupakan kolaborasi jarak jauh dan terpencil. Karya-karya ini adalah kemenangan atas kesulitan, sebagai kado bagi kota yang telah sangat menderita karena pandemi,” imbuh Farah.

Baca juga: 16 RUPA: Beda itu Biasa, Ruang Ekspresi untuk Perempuan

Kata ESOK berasal dari bahasa Indonesia “besok” yang artinya mengacu pada hari berikut; memandang ESOK sebagai masa depan, dengan rasa urgensi yang kuat bersifat segera. ESOK adalah harapan, harapan bersama, adalah doa untuk semua manusia untuk kehidupan yang baik bukan untuk ditindas atau tersiksa. Kita semua terikat dalam sejarah, pribadi, kelompok, bangsa di mana hak asasi manusia, melekat dalam diri kita semua, bahwa nilai-nilai kemanusiaan bagian yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia.

Opening bersama Dirjen Hilmar Farid

ESOK adalah komitmen bagi kita semua untuk bertindak dan berbicara tentang perubahan, sebagai respon etis bagi masalah yang kita hadapi hari ini; ekonomi, sosial, politik dan ekologi. ESOK adalah perjuangan menguatkan solidaritas lintas batas, lintas gender, lintas sejarah untuk kemajuan bersama menuju masa depan yang lebih baik.

ESOK adalah peluang bagi institusi seni seperti Jakarta Biennale melakukan reposisi diri dan mampu menginspirasi, memfasilitasi dan berkontribusi bagi perubahan sosial. Bahwa seni bukan hanya instrumen platform ekspresi artistik tapi juga platform aktivisme yang mengaktivasi seni untuk perubahan. ESOK adalah percakapan antar generasi yang membahas isu-isu kontemporer yang disebabkan oleh kebijakan, tindakan, dan sistem yang diwarisi pendahulu kita. ESOK adalah membangun sejarah kemanusiaan dari sekarang.

Baca juga: Pameran Seni Tunjukkan Tak Ada Kaitan antara Pakaian dan Kekerasan Seksual

ESOK adalah tantangan bagi seniman, bagi kita semua, untuk temukan alasan mengisi alam semesta melalui kekuatan seni, melalui taktik dan strategi produksi seniman dalam mengeksplorasi tentang nilai-nilai kemanusiaan. ESOK adalah perubahan dalam semua lini kegiatan manusia agar menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bagi kebahagiaan umat manusia di bumi. Mari kita mulai perjalanan kita menuju ESOK!” ajak Dolorosa Sinaga.

Bagi Grace Samboh sebagai kurator, “Apa yang kami tawarkan dengan ESOK adalah mengajak semua orang untuk bersama dalam sebuah spektrum kerja artistik yang memungkinkan adanya berbagai kesempatan untuk semua orang, seniman, kolaborator, penonton, publik, untuk terlibat dan mengaktifkan isu-isu masa lalu, sekarang, dan mendatang – konsolidasi berbagai konteks sosial yang berbeda, tingkat kesadaran, dan toleransi lewat cara-cara alternatif dan bermakna.

Selain pameran, dalam Jakarta Biennale juga terdapat program-program yang melibatkan publik, seperti Guided Tour untuk masyarakat, berbagai workshop seni, simposium dan pemutaran film.

MAGDALENE is an online publication that offers fresh perspectives beyond the typical gender and cultural confines. We channel the voices of feminists, pluralists and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual preferences. We aim to engage, not alienate.