September 17, 2020

WFH Tak Berlaku Bagi Semua: Tips Bertahan di Tengah Pandemi

WFH tidak berlaku bagi semua orang, jadi tetap semangat, berpikir positif, dan jalankan tips ini.

by Kanya Suryadewi
Lifestyle
Antibiotics_Virus
Share:

Di tengah pandemi COVID-19 ini, banyak sekali dari kita yang sudah sering mendengar slogan #DiRumahAja. Ajakannya tak jauh dari bekerja dari rumah, sekolah dari rumah bahkan hingga menyarankan untuk berbelanja dari rumah. Awal minggu ini, pemerintah Jakarta juga telah memberlakukan lagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk kedua kalinya.

Lantas bagaimana dengan nasib orang-orang yang pekerjaannya tak memungkinkan untuk dikerjakan dari rumah, seperti saya?

Saya adalah seorang karyawan swasta yang bekerja di bidang retail non-daring, yang mengharuskan saya untuk terus stand by di toko (jika saya harus menyebutnya sebagai kantor). Awal pandemi di bulan Maret, di saat semua orang harus mulai berkegiatan di rumah, perusahaan tempat saya bekerja pun mengeluarkan aturan bekerja dari rumah. Tetapi, tentu dengan jadwal.

Dalam enam hari kerja, saya dijadwalkan berada di kantor dua hari, dan sisanya bekerja dari rumah. Saat itu yang menjadi fokus utama saya adalah bukan tentang tempat saya bekerja, tapi transportasi yang akan saya gunakan menuju tempat kerja.

Tidak ada ojek daring yang beroperasi, dan saya pun enggan menggunakan transportasi massal seperti KRL atau TransJakarta. Maka pilihan yang saya jatuh hanya pada bajaj. Kenapa? Saya tidak mau ambil risiko bertemu dengan banyak orang, dan bajaj pun punya “ventilasi udara” alami. Saya menggunakan moda transportasi tersebut hampir tiga bulan lamanya. Bagaimana keadaan keuangan saya? Menipis. Saya harus mengeluarkan biaya transportasi dua kali lipat dibandingkan biasanya.

Di bulan ketiga, tepat setelah Lebaran, ketika pemerintah mulai melonggarkan aturan PSBB di bulan Juni, kantor saya mulai beraktivitas normal, yang artinya, saya sudah harus sering dinas mengunjungi beberapa toko yang menjadi pegangan saya di beberapa tempat.

Baca juga: Kiat Bertahan di Tengah Pandemi dari Seorang Penyintas

Beruntung, saya hanya harus berdinas ke daerah Bekasi dan Karawang. Tetapi, semuanya tidak kembali normal. Kasus COVID-19 ini setiap hari semakin mengkhawatirkan. Sementara kita masih harus terus bekerja, dan saya masih tidak mau menggunakan transportasi umum.

Di bulan itu pula, gaji saya dipotong cukup besar. Saya memang cukup beruntung dibanding beberapa kawan yang tidak bisa lagi bekerja. Di tengah pandemi yang makin mengkhawatirkan dan potongan gaji, saya mengeluarkan uang tabungan saya untuk menutupi biaya transportasi harian saya.

Dan semuanya berjalan hingga hari ini.

Hanya segelintir orang yang bisa bekerja dari rumah. Sisanya masih harus berjibaku di luar rumah demi mendapatkan gaji yang tidak seberapa, karena masih bersyukur tidak di-PHK.

Selama tujuh bulan ini, yang saya lakukan hanya pergi ke kantor, kunjungan dinas ke beberapa toko, dan pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Hanya tiga kali saja saya pergi bukan ke ketiga tempat itu, yakni ketika saya bertemu dengan teman saya, saat saya piknik, dan ketika saya harus membeli baju kantor. Itu pun saya lakukan dengan waktu sesingkat mungkin dan masker serta hand sanitizer yang terus menempel.

Sudah tujuh bulan lamanya kita semua “berteman” dengan Covid-19 ini. Apakah saya tidak bosan? Tentu sangat bosan. Sama seperti kamu, saya pun ingin sekali berlibur. Biasanya, minimal tiga kali dalam setahun saya berlibur, atau  seminggu sekali saya asyik jalan-jalan keliling kota. Sama seperti kalian pula, saya pun ingin bisa ngopi santai di kedai kopi atau berkumpul dengan teman-teman saya. Atau jalan-jalan di mal dengan orang tua saya. Saya rindu melakukannya.

Tapi saya tahu, hidup bukan hanya tentang saya, tapi juga tentang keluarga saya. Pekerjaan saya saja sudah “mewajibkan” saya untuk bertemu dengan banyak orang, maka saya tidak mau mengambil risiko bertemu dengan banyak orang dengan kumpul-kumpul setiap minggu, atau tidak menggunakan masker, atau memilih liburan.

Baca juga: UMKM Indonesia Tahan Banting pada Krisis 1998 dan 2008, Tapi Tidak Saat Pandemi

Maka jika ini bisa disebut tips, berikut tips yang bisa saya berikan untuk kalian yang masih harus bertahan bekerja di tengah pandemi tanpa work from home (WFH):

  1. Minimalisasi kontak/pertemuan dengan orang lain yang tidak perlu. Jika pekerjaanmu mengharuskan kamu harus bertemu banyak orang, maka buat aturan bahwa kamu hanya akan bertemu dengan orang-orang dari kantor kalian saja, tak perlu ambil risiko bersantai di kedai kopi habis pulang kantor.
  2. Bawa hand sanitizer ke mana pun kamu pergi. Akan lebih aman dan nyaman, bawa pula tisu basah serta botol kecil berisi sabun cuci tangan dan disinfektan. Kalau saya bahkan menyiapkan spray
  3. Bawa alat makan dan bekal sendiri. Selain untuk meminimalisasi kontak dengan orang lain, kita juga bisa berhemat. Dan, cari tempat makan yang sepi dari orang sekitar bahkan dengan teman-teman kalian.
  4. Gunakan transportasi yang memungkinkan kita untuk tidak kontak dengan banyak orang. Jika jarak rumah dengan kantor kalian masih tidak terlalu jauh, lebih baik gunakan ojek online (tentu dengan membawa helm punya sendiri ya). Biayanya tentu bisa dua kali lipat, tapi lebih baik. Tapi, jika tidak memungkinkan, maka sebisa mungkin atur jadwal berangkat dan pulang kalian. Dan jangan lupa untuk bawa sarung tangan sendiri.
  5. Tahan untuk tidak melakukan kontak fisik dengan siapa pun, termasuk keluarga sendiri. Di kantor saya harus bertemu dengan banyak vendor, tentu jabat tangan sudah saya hindari, tapi ketika di rumah pun tetap sama. Betapa rindu saya memeluk ibu saya.
  6. Pasang aturan di rumah. Saya memberlakukan aturan bahwa siapa pun yang akan masuk rumah harus cuci tangan terlebih dahulu dan disemprot disinfektan. Saya meminta Ibu dan Ayah saya untuk meminimalisasi kontak dengan tetangga. Keluar rumah seminggu hanya dua kali untuk belanja harian, dan tidak melakukan salat Jumat berjamaah di mesjid.
  7. No coffee shop. No mall. No holiday. Hanya bekerja. Buat aturan untuk diri kamu, berani untuk menolak ajakan semua teman kalian untuk ngopi santai, liburan, bahkan undangan pernikahan. Tolak halus itu semua dan tetap di rumah.
  8. Makan-makanan sehat. Atur waktu istirahat dan berolahraga. Jangan lupa berjemur jika sempat.
  9. Tetap pakai masker. Apa pun yang terjadi jangan pernah lepas masker kalian walau itu membuat kalian sesak nafas dan harus berbicara dua kali lipat lebih kencang dari biasanya. Tetap pakai masker. Pakai masker. Kapan pun. Di mana pun.

Baca juga: Mendampingi Anak Menstruasi Pertama Saat Corona

Work from home memang bukan untuk semua orang. Hanya segelintir kalangan yang bisa merasakan nyaman bekerja dari rumah. Sisanya masih harus berjibaku dengan banyak orang demi mendapatkan gaji yang tidak seberapa karena masih bersyukur tidak diputus bekerja oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Untuk yang masih bekerja dari kantor di situasi yang tidak menentu seperti ini, tetap semangat. Tetap jaga kesehatan. Buat aturan untuk dirimu dan keluargamu. Jangan acuhkan perkataan dan berita-berita negatif yang bisa membuat tubuh dan mental kita lemah. Tetap berpikir positif.

Kita mampu. Kita bisa. Kita tidak sendiri.

Kanya Suryadewi adalah seseorang yang senang membaca buku dan bercita-cita ingin menjadi penulis dan hidup di Yogyakarta. Semua tulisannya bisa dilihat di blog miliknya kutipankanya.wordpress.com.