Women Lead
July 07, 2021

Adakah Cara Berduka yang Tepat Saat Pandemi?

Pandemi memaksa kita untuk tetap bertahan sekali pun dunia rasanya runtuh karena kehilangan orang terkasih.

by Aurelia Gracia, Reporter
Lifestyle
The story of grief and guilt
Share:

Dalam dua minggu terakhir, membuka media sosial rasanya seperti masuk ke rumah duka karena berita kehilangan senantiasa menyambut saya, entah itu anggota keluarga, teman, maupun kenalan. Semua penyebab kematiannya sama, yaitu COVID-19.

Pada minggu pertama Juli, secara virtual saya menghadiri upacara pemakaman ibu dari seorang teman dekat. Dengan cepat, peti mati diturunkan ke liang lahad oleh petugas yang mengenakan APD dan tanah pun langsung menguburnya, tanpa ucapan doa maupun kidung pujian yang mengiringi momen itu. Hati saya meringis dan marah dengan keadaan, karena tak ada satu pun manusia yang kepergiannya layak untuk dilepas dengan cara seperti ini.

Sebagai seorang Nasrani, saya menganggap upacara tutup peti dan ibadah pemakaman seperti penghormatan terakhir untuk orang meninggal. Dikelilingi orang terdekat maupun mereka yang pernah mengenal sosok almarhum semasa hidupnya menjadi salah satu sumber kekuatan, sekaligus pengingat kita berada di perahu yang sama untuk berbagi kesedihan.

Sayangnya, situasi ini tak mengizinkan kita untuk melakukannya. Lagi-lagi layar gawai menjadi perantara untuk mendoakan dan memberikan penghiburan. Jahat sekali, saya pikir, sampai-sampai pandemi tak memberikan kita ruang untuk mengucap salam perpisahan dengan pantas.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk berduka di tengah situasi yang memaksa untuk bertahan?

Baca Juga: Pelajaran dari Kematian Ayah

Mengenal Lima Tahap Duka

Dalam bukunya yang berjudul On Death and Dying (1969), Elizabeth Kübler-Ross, seorang psikiater asal Swiss dan Amerika, membagi duka ke dalam lima tahap; penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

Kehilangan orang terkasih tentu membuat perubahan besar dalam hidup dan kita tidak bisa berpura-pura, peristiwa itu sama sekali tidak berdampak. Bahkan, pada saat tertentu kita merasa semua kenangan yang dilakukan bersama seketika muncul ke permukaan, hingga menganggap bahwa sosok yang meninggalkan ini akan segera pulang.

Kemarahan pun akan dialami dengan timbulnya pikiran bahwa hal ini tidak akan terjadi apabila mereka lebih berhati-hati dan memperhatikan dirinya. Pada tahap ini, sesungguhnya perasaan kita yang sebenarnya sedang ditutupi dengan kemarahan. Kondisi seperti itu tidak dapat disalahkan karena kita terlalu emosional untuk mengakuinya.

Baca Juga: Apa yang Akan Terjadi Saat Perempuan Tegarkan Diri

Berbagai skenario di kepala akan tercipta, dengan harapan bisa dilakukan sebelum kehilangan orang terdekat. Mungkin mereka akan baik-baik saja jika hari itu kita tidak memutuskan untuk bepergian, hingga menjadi pembawa virus kepada anggota keluarga. Situasi tawar-menawar dan perandaian ini bagaikan garis pertahanan dalam melawan emosi dan kesedihan yang membantu kita saat merasa bingung, sedih, dan sakit hati.

Walaupun secara perlahan kita belajar untuk memvalidasi perasaan, ada waktunya tahap depresi harus dihadapi. Ini seperti kondisi yang tak bisa dihindari. Mungkin kita merasa hampa, tak berguna, hingga tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya karena menganggap diri tak berarti setelah kepergian seseorang.

Hingga akhirnya, sebuah proses panjang itu berujung pada tahap penerimaan. Di sini bukan berarti masa-masa berkabung itu sudah selesai, melainkan lebih menemukan makna atas peristiwa yang terjadi dan mensyukuri kesempatan untuk mengenal orang tersebut, meskipun setelahnya hidup akan tetap terasa berbeda.

Namun, perlu diketahui, tidak semua orang yang berduka akan melewati kelima tahap tersebut atau melaluinya secara berurutan. Tidak apa-apa jika larut dalam duka dan setiap orang akan membutuhkan waktunya sendiri.

Tak Ada Cara yang Tepat

Ada banyak situs di internet yang menawarkan cara berduka setelah kehilangan seseorang. Mulai dari bergabung dengan support group, melakukan aktivitas favorit orang yang dikasihi, merawat diri sendiri, hingga menghabiskan waktu bersama orang terdekat.

Namun, untuk urusan berduka, menurut saya tidak ada sebuah pakem yang menjadi tolok ukur benar atau salah. Setiap orang memiliki caranya masing-masing yang bisa membantu dirinya mencapai tahap penerimaan.

Baca Juga: Transpuan Setelah Kepergian Mira: Dicekam Ketakutan, Diperburuk Pandemi

Dikutip dari Wired, Shaina Garfield, seorang seniman dengan spesialisasi dalam ritual duka cita, menjelaskan bahwa aspek terbesar yang akan membantu diri dalam masa duka ialah bersikap terbuka terhadap diri sendiri dan mengetahui bahwa duka bukan sebuah pengalaman linier. Oleh karena itu, memaafkan diri sendiri dan menghargai perasaan yang muncul menjadi fondasi agar kita dapat menerima keadaan.

Kita bisa mencoba beberapa cara jika merasa sebuah ritual diperlukan untuk berduka sekaligus mengenang. Menurut Garfield, ritual tak melulu berupa upacara resmi yang dihadiri banyak orang, tetapi bisa juga berbentuk aktivitas apa saja dengan intensi mengenang sosok yang meninggalkan kita dan dapat membantu untuk kembali bangkit.

Misalnya, sesederhana mendengarkan musik, menyaksikan film, atau melakukan kebiasaan yang bermakna bagi mereka yang sudah meninggal. Terdengar berat, tapi setidaknya situasi ini mengajarkan bahwa kesedihan bisa diekspresikan dengan tepat menurut diri masing-masing.

Duka yang Berkepanjangan

Melihat angka kematian yang terus bertambah setiap harinya hanya memilukan hati. Ada kesedihan dan berbagai cerita yang patut dikenang dari mereka yang berjuang melawan penyakit ini dengan sekuat tenaga. Mereka bukan sekadar angka.

Salah satu paman saya harus menghadap ke hadirat-Nya setelah mencoba bertahan selama beberapa pekan. Kepergiannya hanya berselang 10 hari dengan sang istri yang juga meninggal karena terjangkit COVID-19. Mereka meninggalkan seorang anak tunggal yang terpaksa harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya kini tinggal sebatang kara.

Kejadian itu merefleksikan kejamnya realitas yang harus dihadapi. Kita masih jauh dari kata “selesai berjuang” dari situasi ini. Bukannya mendoakan, tapi kenyataannya masih ada kemungkinan kehilangan orang-orang terdekat lainnya selama keadaan tak kunjung teratasi.

Mungkin kita tidak perlu melalui kegelapan ini apabila bisa menahan diri untuk tetap beraktivitas dari rumah. Mungkin kita tidak perlu merasa kehilangan jika masyarakat lebih sadar untuk mengenakan masker. Mungkin kondisi ini akan lebih mudah dilalui apabila pemerintah dengan tanggap menyikapi pandemi sejak awal.

Saling menjaga, menguatkan, menghormati yang telah pergi, dan menunjukkan kepedulian terhadap satu sama lain menjadi satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mengobati luka yang tercipta akibat duka.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.