Women Lead
July 02, 2021

Histeria Anti-Vaksin Perempuan dan 4 Mitos di Baliknya

Kebanyakan mitos ini menyesatkan dan berpotensi menghambat vaksinasi massal untuk perempuan di Indonesia.

by Jasmine Floretta V.D.
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Tak jelas siapa yang memulai “gerakan” anti-vaksin Covid-19 di Indonesia. Beberapa hari lalu, teman saya bercerita, pembantunya menolak didaftarkan vaksin karena inokulasi vaksin pada perempuan, kata dia, bisa memicu kemandulan hingga kematian. Teman saya langsung mengecek sumber informasi yang diakses asisten rumah tangganya. Sumbernya dari unggahan tangkapan layar Facebook yang menyertakan judul berita dari blog. Ia juga sempat menunjukkan pesan berantai yang beredar di grup keluarga bahwa Covid-19 cuma akal-akalan agar jualan vaksin negara, laku di pasaran. Stempel agama pun dilekatkan agar lebih meyakinkan.

Pengalaman teman saya ini jadi ironis ketika kita dihadapkan pada kasus pandemi yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Kasus harian tembus di atas 20 ribu, kapasitas sejumlah rumah sakit nyaris penuh hingga pasien berjejalan dirawat di tenda darurat, lorong rumah sakit, dan di atas mobil bak terbuka. Kabar kematian jadi kebiasaan, dan kita makin sering mendengar orang teriak minta tolong di media sosial karena terjangkit Covid-19.

Kegentingan situasi pandemi di Indonesia inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk melakukan berbagai cara. Salah satunya menggalakkan target vaksinasi satu juta dosis untuk mencapai target 70 persen hingga akhir 2021. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan tertulis, (27/6), mengatakan vaksinasi penting demi mengurangi laju penyebaran virus.

Namun, vaksinasi massal ini terjegal keengganan dari sejumlah kalangan dengan pelbagai alasan. Mayoritas mereka yang menolak divaksin, merujuk informasi dari pesan berantai di aplikasi pesan singkat WhatsApp sampai artikel dari sumber tak jelas, yang menggemakan mitos-mitos soal vaksin Covid-19 untuk perempuan.

Salah satunya yang paling sering adalah bagaimana vaksin Covid-19 berpengaruh pada kesehatan dan tubuh perempuan. Berikut empat mitos Covid-19 pada perempuan dan fakta di baliknya:

Baca juga: Pemerintah, Bio Farma Kembangkan Vaksin Merah Putih untuk COVID-19 

1. Vaksin COVID 19 Bikin Mandul

Dalam artikel John Hopkins Medicine yang terbit pada 12 Mei 2021, dijelaskan mitos dampak vaksin COVID 19 terhadap kesuburan perempuan. Artikel yang merujuk pendapat dua ilmuwan Lisa Maragakis, MD, MPH dan Gabor Kelen itu menerangkan, mitos tersebut bermula dari sebuah laporan palsu yang muncul di media sosial. Bahwasanya, protein lonjakan pada virus Corona sama dengan protein lonjakan lain yang disebut Syncitin-1--yang berkelindan dengan pertumbuhan dan perlekatan plasenta selama kehamilan. Laporan palsu ini lantas viral di media sosial dengan narasi besar: Vaksin Covid-19 bikin perempuan mandul.

Kendati laporan palsu ini sudah beredar luas termasuk di Indonesia, hingga kini, belum ada penelitian jangka panjang mengenai pengaruh vaksin COVID 19 terhadap kesuburan perempuan. Kedua protein lonjakan ini sangat berbeda, dan vaksinasi Covid-19 tidak akan memengaruhi kesuburan perempuan, termasuk melalui metode bayi tabung. Hal ini bisa dilihat dari klaim Lisa Maragakis dan Gabor Kelen bahwa selama tes vaksin Pfizer, 23 sukarelawan perempuan yang terlibat dalam penelitian ini masih dapat hamil dan dan satu-satunya yang mengalami keguguran justru perempuan yang belum menerima vaksin Covid-19.

Baca juga: Kisah Perawat COVID-19: Terpisah dari Keluarga, Jadi Teman Curhat Pasien

2. Picu Keguguran

Sama halnya dengan mitos mengenai kesuburan perempuan, mitos vaksin Covid-19 memicu keguguran juga bertebaran di jagat maya. Beberapa ahli telah membantah mitos menyesatkan itu.

D'Angela Pitts, dokter kandungan dari Henry Ford Health System dalam wawancaranya bersama The Washington Post menerangkan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) telah melacak lebih dari 35.000 perempuan yang menerima vaksin Covid-19 dan tidak ada peningkatan keguguran atau hasil buruk bagi perempuan maupun bayi mereka. Sebaliknya, D'Angela Pitts justru menyarankan perempuan yang sedang hamil atau sedang merencanakan kehamilan, untuk segera melakukan vaksinasi. Pasalnya, jika mereka terkena virus Covid-19, risiko untuk mereka akan jauh lebih besar.

Hal ini senada dengan imbauan Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Dr Ari K Januarto SpOG(K)-Obginsos. Ia menyarankan perluasan cakupan vaksinasi Covid-19 kepada ibu hamil. Melalui keterangan tertulis pada 25 Juni 2021, ia menyatakan, perlindungan terhadap ibu hamil merupakan hal penting, sehingga perlu diambil langkah pencegahan agar tidak terjadi peningkatan kasus secara signifikan.

3. Perempuan Menyusui Dilarang Vaksin

Elizabeth Beatriz, Ahli Epidemiologi Kesehatan Remaja dan Reproduksi di Departemen Kesehatan Masyarakat Massachusetts menegaskan, tidak ada penelitian yang mendukung klaim ini. Faktanya, justru ada beberapa penelitian yang menunjukkan perempuan yang divaksinasi saat menyusui sebenarnya dapat melindungi anak-anak mereka dari Covid-19, dengan membagikan antibodi melalui ASI. Misalnya, penelitian yang dirilis oleh Center of Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS.

Memang lebih banyak data diperlukan untuk menentukan perlindungan apa yang dapat diberikan antibodi ini kepada bayi. Melansir Kompas.com, (26/6), Kepala Peneliti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Soumya Swaminathan menjelaskan, tidak ada alasan vaksin Covid-19 membahayakan ibu hamil. Hal ini menurut WHO didasarkan pada bahan baku vaksin, di mana platform yang digunakan adalah mRNA, virus yang tidak aktif, vektor virus, atau protein subunit. Dengan demikian, tidak satu pun dari mereka memuat virus hidup yang dapat berkembang biak di dalam tubuh manusia dan berpotensi menimbulkan masalah.

Baca juga: Kiat Bertahan di Tengah Pandemi dari Seorang Penyintas

4. Jangan Vaksin Saat Menstruasi

Healthywomen.org melakukan penelusuran terhadap mitos yang beredar di dalam masyarakat mengenai beberapa perempuan yang mengklaim, siklus menstruasi mereka berbeda setelah divaksinasi. Mereka pun bertanya kepada Dr. Nora Doyle, spesialis OB-GYN AS. Ia menyebutkan, belum ada penelitian ilmiah substansial yang menyebutkan, vaksin Covid-19 memengaruhi siklus menstruasi perempuan.

Dr. Frank Tu, seorang profesor rekanan klinis di Universitas Chicago berasumsi, alasan perempuan mungkin mengalami periode yang tidak biasa setelah vaksin kedua adalah karena potensi vaksin itu sendiri. Vaksin apa pun yang begitu kuat, bisa memicu respons imun dengan efek sangat besar pada tubuh.

Orang-orang berbicara tentang bagaimana setelah vaksin mereka mengalami kelelahan dan gejala seperti flu di mana efeknya dapat memengaruhi lapisan rahim dan tingkat endokrin. Dr. Doyle mengatakan, sejumlah tekanan fisik dan mental yang terkait dengan pandemi Covid-19 telah memengaruhi semua orang selama setahun terakhir, termasuk kondisi mental dan fisik perempuan. Ujung-ujungnya “kelelahan” ini berimbas pada ketidakteraturan siklus menstruasi. Namun, bukan berarti vaksin otomatis disalahkan jadi biang kerok kondisi tersebut.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Jasmine adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI dan memiliki minat mendalam pada kajian tentang penggemar dan isu terkait peran ibu.