Women Lead
December 17, 2020

‘Finding Agnes’: Upaya Anak Mencari Ibu yang Penyintas KDRT

Film Netflix ini menggambarkan tentang perpisahan ibu dan anak selama puluhan tahun dan peliknya situasi perempuan di tengah KDRT.

by Jafar Suryomenggolo
Culture // Screen Raves
Share:

Pada akhir November lalu, Netflix Filipina merilis film Finding Agnes dan memperoleh ulasan baik dari banyak komentator di negara tetangga itu. Ini adalah film drama ibu dan anak yang berpisah selama puluhan tahun dan beragam hal yang terjadi ketika mereka berpisah.

Jauh dari kesan melodrama ala sinetron, Finding Agnes justru mengandung pesan sosial-politik juga, dan termasuk film tentang kekerasan terhadap perempuan. Meski terkesan berliku-liku, alur cerita film karya sutradara Marla Ancheta ini tetap mudah diikuti dan tidak membingungkan penonton.

Virgilio ‘Brix’ Rivero (Jelson Bay) ditinggal kabur oleh ibunya, Agnes, saat masih kecil. Dua puluh lima tahun kemudian, sang ibunda datang menemuinya di kantornya secara tiba-tiba. Sayangnya, sebelum mereka punya kesempatan lebih jauh untuk merajut kembali hubungan ibu-anak yang terputus itu, Agnes meninggal dunia karena stroke.

Baru setelah itu, Brix mengetahui bahwa selama 25 tahun tersebut Agnes selalu mengirim surat tiap bulan kepadanya. Semua surat itu selama ini disembunyikan oleh ayah dan ibu tirinya. Setelah Brix membaca surat-surat itu, ia baru mengetahui bahwa selama ini Agnes menetap di Maroko dan mengelola sebuah penginapan.

Di dalam surat wasiatnya, Agnes ingin ia dikremasikan dan abunya dibawa kembali ke Maroko untuk dikuburkan. Karena itulah, Brix perlu mengunjungi Maroko. Di sana, ia menemui manajer penginapan, Cathy Duvera (diperankan Sue Ramirez), yang dicintai Agnes selayak putrinya sendiri.

Baca juga: ‘The Crown’ dan Serangan terhadap Menantu Perempuan Keluarga Kerajaan Inggris

Brix sesungguhnya tidak begitu tertarik dengan penginapan tersebut dan hanya ingin segera menjualnya agar dapat kembali ke Manila untuk mengurus bisnisnya. Sementara itu, Brix dan Cathy masih harus memenuhi satu keinginan terakhir Agnes untuk mengembalikan patung tertentu kepada salah seorang kawan Agnes di Maroko, Regina Castor. Perempuan tersebut kemudian mengarahkan mereka dalam perjalanan untuk mengenal Agnes lebih jauh.

Satu pertanyaan yang Brix hadapi, dan ini pula yang menjadi pertanyaan utama yang memancing penonton untuk mengikuti drama keluarga ini: Mengapa Agnes kabur?

Finding Agnes: Korban Kekerasan Terhadap Perempuan

Seiring dengan perjalanan Brix mengenal kisah ibunya di Maroko, terkuaklah alasan utama Agnes kabur meninggalkan Brix, yakni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Suatu keputusan yang tidak sederhana dan tentunya, traumatis. Agar tidak mudah ditemukan oleh suaminya, Agnes kabur jauh ke Maroko karena ada satu temannya yang tinggal di negara itu.

Di Maroko, Agnes menetap sementara di rumah aman bagi para korban kekerasan terhadap perempuan yang membutuhkan perlindungan dan pemulihan diri. Di rumah aman tersebut, ia secara perlahan menemukan jati dirinya sendiri dengan mulai melukis. Selama di sana pula, ia membantu perempuan-perempuan lain yang senasib dengan mengajar keterampilan-keterampilan dasar. Sampai akhirnya dengan sesama penyintas, mereka memutuskan mengelola penginapan bersama-sama.

Baca juga: 5 Film yang Menunjukkan Kompleksitas Perceraian

Saat menemukan sejarah kelam keluarganya ini, Brix menyesal tidak mengetahui hal tersebut lebih dulu dan tidak berupaya mencari ibunya selama ini. Persoalan KDRT memang sering dianggap sebagai aib keluarga, sehingga sering ditutup-tutupi, dianggap remeh dan tidak penting. Anak yang tidak mengetahui ibunya adalah korban KDRT hanya bisa menyesal di kemudian hari.

Film ini menggambarkan ayah Brix sebagai seseorang yang berada, dan bagaimana semua kekayaan tersebut terbukti tidak mampu melindungi Agnes dari kekerasan terhadap perempuan. Malah, bisa diduga bahwa itu semua mengurung Agnes dalam isolasi pribadi yang menekan dirinya.

Penonton diajak memahami kenyataan bahwa KDRT tidak mengenal kaya-miskin. Malah mungkin, perempuan dalam keluarga kaya menghadapi tekanan batin yang tidak lebih ringan karena adanya tuntutan menjaga nama keluarga, menciptakan potret keluarga ideal dan harmonis, serta keharusan menutup kelakuan buruk suami. Peluang mereka untuk jujur dan terbuka mengenai pengalaman KDRT memang sangat kecil.  

Finding Agnes adalah sebuah film yang layak ditonton dalam melihat pengalaman perempuan yang mengalami KDRT. Suatu tontonan yang pas dalam mendukung agenda kampanye anti-kekerasan terhadap perempuan.

Jafar Suryomenggolo adalah penerima LITRI Translation Grant 2018 atas terjemahan beberapa cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019). Ia kini menetap di Paris, Perancis.