Women Lead
July 21, 2021

Agar Gairah Seks Tak Terjun Bebas Selama Pandemi

Mengalokasikan quality time bersama pasangan adalah kunci membangun kembali keintiman dengan pasangan saat pandemi.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Lifestyle
menjaga keintiman dengan pasangan masa pandemi
Share:

Situasi pandemi dan kebijakan bekerja dari rumah, membuat gairah seksual banyak orang di berbagai negara di dunia menurun. Stres serta rasa cemas berlebih disebut-sebut jadi biang keroknya. Pemicu stres pun beragam, dari ketidakstabilan kondisi finansial hingga perubahan gaya hidup yang drastis. Klaim ini bukan sekadar pepesan kosong. Riset Justin Lehmiller, psikologi sosial dan peneliti di The Kinsey Institute, Amerika Serikat yang berjudul ‘Less Sex, but More Sexual Diversity: Changes in Sexual Behavior during the COVID-19 Coronavirus Pandemic’ (2020) menyebutkan, COVID-19 membawa dampak yang beracun bagi kehidupan seksual manusia. 

 Hal itu juga diperkuat oleh temuan Rhonda Nicole Balzarini dalam penelitian berjudul ‘Sexual Desire in the Time of COVID-19: How COVID-Related Stressors are Associated with Sexual Desire in Romantic Relationships’ (2021). Ia bilang, stres, depresi, dan hasrat seksual manusia itu saling berhubungan. Pada awal pandemi, katanya, sebagian orang memang mengalami perbaikan dalam hubungan seksualnya dengan pasangan karena banyaknya waktu yang bisa dihabiskan berdua di rumah. Ini disebutnya sebagai fase bulan madu, di mana kebanyakan pasangan cenderung bekerja sama untuk beradaptasi dengan keadaan baru.  Meski begitu, situasi pandemi yang masih berlanjut ini membuat orang-orang mengalami stres yang berkepanjangan. Depresi menjadi hal yang tak terhindarkan.

 "Sumber daya menjadi lebih langka, energi kita habis, rasa kecewa dan stres muncul. Stres berkorelasi dengan depresi, dan depresi berdampak negatif pada hasrat seksual. Itulah yang menyebabkan hubungan seksual kebanyakan orang terganggu pada masa pandemi ini. Pola itu saya temukan di diri banyak orang di 57 negara dari kelompok umur 18 tahun ke atas,” ujar Balzarini dalam penelitiannya.

Baca juga: Seks dan COVID-19: Panduan Berhubungan Seks Saat Pembatasan Sosial

Namun, apakah itu berarti pandemi membuat kita selalu menemui jalan buntu dalam membangun keintiman kembali dengan pasangan? Adakah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Psikolog klinis Inez Kristansi membenarkan, situasi pandemi melahirkan serangkaian tantangan terhadap berjalannya hubungan yang harmonis dan intim dengan pasangan. Meski begitu, keintiman itu tak mustahil untuk kembali dibangun. Bukan cuma dengan hubungan seksual, menurutnya, hal itu bisa diwujudkan dengan quality time yang tak terdistraksi oleh hal-hal lainnya. 

“Karena bekerja dari rumah, sehari-hari sama dia (pasangan) 24 jam, sering kali kita berpikir, ini berarti dekat. Tapi setelah dipikir-pikir, kok kedekatannya enggak terasa? Mungkin ini karena selama berinteraksi, kita tidak benar-benar mendedikasikan waktu untuk menghabiskan waktu bersama dia. Semua disambi, disambi kerja, kirim e-mail, dan lain-lain,” kata Inez dalam diskusi virtual media bertajuk ‘Durex #BreakTime’, (16/7).

“Bekerja dari rumah telah mengaburkan garis pembatas antara waktu kita untuk beristirahat dan bekerja. Solusinya, kita harus tegas mengalokasikan waktu bagi semua kebutuhan kita. Untuk bekerja ada, untuk diri sendiri ada, untuk pasangan ada.”

Menurut Inez, hal itu bisa dimulai dengan diri sendiri. Kita harus terlebih dahulu mengetahui kebutuhan diri kita sendiri agar tetap bisa berada pada kondisi yang prima secara fisik maupun mental. Misalnya, membagi waktu antara bekerja dan istirahat. Ketika istirahat, kita harus benar-benar memanfaatkan itu untuk recharge dan melakukan hal-hal yang kita sukai. 

Kemudian, harus ada juga waktu yang kita alokasikan untuk berinteraksi dan membangun kedekatan dengan pasangan, ujar Inez. Kedua hal itu harus dijalankan secara seimbang dan dengan komunikasi yang jelas antara kedua belah pihak, tambahnya.

Intimacy juga terkait sentuhan-sentuhan kecil. Misalnya, kalau orang baru melahirkan, tidak bisa berhubungan seksual, tapi bisa berpelukan, pegangan, dan sebagainya. Kita juga harus tahu kapan pasangan lagi butuh sendiri dan tidak segan memberikan dia jeda dan waktu.”

Baca juga: Bagaimana Humor Pengaruhi Hubungan Asmaramu

Inez menambahkan, “Kalau ada apa-apa dikomunikasikan dengan jelas. Enggak pakai kode-kode. Kalau kayaknya pasangan kita sedang lelah, bisa kita tanya, ‘Apa ada hal yang bisa dibantu?’ Kita juga harus belajar mengkomunikasikan kebutuhan kita. Kalau butuh waktu berduaan, inisiatif saja ajak duluan. ‘Kayaknya, kita udah lama enggak berduaan nih’, dan sebagainya.”

Bukan tentang seberapa sering, tapi seberapa berkualitasnya quality time yang kita habiskan bersama pasangan, ujar Inez. Kita bisa mengawalinya dengan mengambil waktu sejenak untuk mengobrol dan mengevaluasi perasaan masing-masing. Hal itu juga harus dibarengi dengan keinginan dan usaha kedua belah pihak untuk menemukan aktivitas-aktivitas baru yang bisa dilakukan bersama untuk menghindari rasa bosan. Selain itu, jangan ragu untuk merealisasikannya dalam keseharian. 

“Misalnya, kita tentukan waktu 15 menit untuk diri sendiri dan 15 menit untuk pasangan. Kita evaluasi, udah cukup belum, nih, buat diri sendiri? Kalau belum, besok coba lagi cara lain. Kita atur aja schedule yang cukup fleksibel, lalu kita jalani satu sampai dua minggu ke depan. Tapi, open juga untuk disesuaikan lagi sampai kita menemukan ritme yang enak untuk diri sendiri dan pasangan,” kata Inez.

“Keintiman itu harus dibangun berdua, work as a team. Kita bisa melihat situasi pandemi ini sebagai tantangan atau situasi yang memundurkan. Kalau kita lihat sebagai tantangan, bisa jadi itu melahirkan dorongan untuk jadi lebih kreatif bareng pasangan. Ide-ide kayak dinner di teras rumah, itu kan baru muncul karena ada tantangan.”

Baca juga:  COVID-19 dan Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang Terabaikan

Aktor Chicco Jerikho juga membenarkan hal itu. Menurutnya, membagi waktu dengan baik antara bekerja, istirahat, dan waktu bersama pasangan adalah kunci menjaga kewarasan pada masa pandemi. Meski kadang sulit menemukan waktu karena dia dan pasangannya sama-sama memiliki kesibukan yang padat, Chicco tetap mengupayakan agar quality time selalu ada di setiap harinya untuk menjaga keintiman dengan pasangan. Ditambah lagi, ia percaya bahwa hubungan yang baik dengan pasangan mempengaruhi kondisi psikis diri sendiri dan kondisi yang prima untuk beraktivitas.

“Biasanya, malam bahkan tengah malam baru sempat quality time bersama pasangan. Nonton bareng, dimasakkin, sambil diskusi pandangan masing-masing tentang film yang kami tonton karena kami berada di industri yang sama. Waktu bareng pasangan itu harus ada. Hubungan yang sehat akan membuat kita jadi semajin semangat,” kata Chicco.

Dalam penelitian yang sama, Lehmiler juga mengemukakan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga agar kualitas hubungan seksual tidak mengalami gangguan dan penurunan selama masa pandemi.

“Penelitian saya juga berhasil menemukan, mereka yang mencoba hal-hal baru dalam seks memiliki kecenderungan tiga kali lebih besar untuk mengalami perbaikan dan peningkatan kualitas hubungan seksual dengan pasangan, ketimbang mereka yang tidak melakukannya. Kita bisa mencoba hal-hal baru dalam seks, seperti mencoba posisi seks baru, bermain peran dari berbagai fantasi, dan memberi pijatan bisa menjadi hal yang dicoba.”

“Semakin hidup gairah seks kita dengan pasangan, semakin rendah pula kemungkinan kita untuk merasa kesepian selama masa pandemi ini,” ia menambahkan.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.