Women Lead
December 22, 2020

Ajarkan Anak Sejak Dini untuk Tidak Berperilaku Seksis

Anak-anak adalah pembelajar yang cepat dengan mengamati, sehingga penting bagi orang dewasa di sekitarnya untuk mencontohkan perilaku saling menghormati dan tidak seksis sejak ia kecil.

by Kimberley Norris
Lifestyle
Share:

Pendidikan kesetaraan gender dapat diterapkan sejak usia dini. Hal ini dilakukan misalnya oleh pemerintah negara bagian Victoria, Australia, yang telah menginisiasi pengajaran program Hubungan Saling Menghormati untuk anak-anak prasekolah. Tujuan program ini adalah untuk mencegah anak-anak usia 3 dan 4 tahun berperilaku seksis.

Program ini—sudah berjalan untuk remaja di sekolah—secara umum membahas isu kekerasan dalam keluarga dan dirancang untuk mengembangkan kemampuan sosial anak dan remaja. Dengan mengikuti program itu, mereka bisa memiliki hubungan yang saling menghormati.

Alasan program ini diperluas ke lingkungan prasekolah, menurut dokumen pemerintah, adalah “ketika anak-anak mulai belajar soal gender, mereka juga bisa saja mulai menjalankan nilai-nilai, keyakinan, dan sikap seksis, yang mungkin berkontribusi pada sikap saling tidak menghormati dan ketidaksetaraan gender”.

Baca juga: Magdalene Primer: Perbedaan Misogini dan Seksisme

Tetapi, apakah anak-anak usia semuda itu bisa berperilaku seksis? Kapan sebenarnya anak-anak mulai sadar akan perbedaan gender—dan apa yang membuat mereka bersikap berdasar perbedaan itu?

Kapan Anak-Anak Mulai Sadar Perbedaan Gender?

Para peneliti menunjukkan bahwa saat anak-anak berusia setahun (dan di penelitian lain bahkan sedini usia tiga bulan), mereka telah menunjukkan preferensi mainan yang konsisten dengan gendernya (misalnya, truk untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan). Ini terjadi bahkan saat mereka hanya terpapar dengan mainan yang netral dari segi gender, atau bisa mengakses baik mainan “laki-laki” maupun “perempuan”.

Lantas, apa ini berarti anak semuda tiga bulan sudah sadar gender?

Tidak. Sebelum berumur kira-kira tiga tahun, anak-anak tidak paham identitas gender. Tetapi, bahkan saat mulai paham pun, pemahaman mereka samar-samar saja.

Pada usia ini, ada anak-anak yang masih bingung soal gender—misalnya seorang anak perempuan berpikir dia akan tumbuh menjadi laki-laki, atau seorang anak laki-laki yang memanggil ibunya dengan sapaan untuk laki-laki (him).

Tetapi, kemunculan identitas dasar gender membantu kita menjelaskan mengapa pada usia tiga tahun anak-anak lebih memilih teman yang sama jenis kelaminnya dan terlibat dalam permainan yang diasosiasikan dengan gender tertentu. Para peneliti mengatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa anak-anak mengerti perbedaan gender dan mereka sadar mereka lebih “cocok” dengan satu gender dibanding yang lain.

Pemahaman gender yang konstan—yaitu mengerti bahwa menjadi laki-laki atau perempuan adalah atribut pribadi yang tetap—tidak akan terbentuk secara lengkap hingga usia enam atau tujuh.

Pemahaman konstan akan gender terbentuk sebagai bagian dari perkembangan kognitif (kemampuan yang memungkinkan anak-anak mengerti konsep abstrak seperti gender). Selain itu, hal ini juga merupakan bagian pembelajaran mengenai ekspektasi sosial soal perilaku mereka. Psikolog menyebut ini sebagai “sosialisasi”.

Pendidikan Kesetaraan Gender: Belajar Ekspektasi Gender dari Mengamati

Hanya sedikit orang di Australia sadar bahwa mereka mendorong permainan atau perilaku stereotip gender pada anak-anak. Tapi ungkapan “lakukan seperti yang aku katakan, bukan seperti yang aku lakukan” cocok untuk menjelaskan perihal ini.

Anak-anak meniru perilaku orang-orang yang mereka anggap teladan dalam hidup: Orang tua, pengasuh, dan guru. Ini khususnya lebih berpengaruh ketika sang teladan berjenis kelamin sama. Anak perempuan lebih mungkin meniru orang dewasa perempuan dan anak laki-laki orang dewasa laki-laki.

Maka, meski kita mengatakan, “anak perempuan bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan anak laki-laki”, jika mereka melihat hanya bapak yang mengurus mobil atau motor sementara ibunya tidak, kata-kata yang diucapkan kepada mereka tidak akan terlalu berpengaruh.

Kejadiannya bukan seolah orang tua suatu hari bangun dan memutuskan “hari ini saya akan menunjukkan pada anak saya dengan jelas apa ekspektasi gender saya”. Yang terjadi tidak sedramatis itu. Kenyataannya, kita memperkuat perbedaan gender dan ekspektasi setiap hari tanpa sengaja, melalui proses belajar dan pengamatan.

Pikirkan hidup Anda sendiri. Adakah pekerjaan rumah tangga yang sepertinya khas gender tertentu? Membuang sampah, menyetrika, dan memasak, misalnya.

Saya ragu Anda sungguh pernah duduk membahas pemilahan pekerjaan berdasar gender. Mungkin ini perkara “kebiasaan”. Anda tak pernah sungguh-sungguh mempertanyakannya—sama dengan ekspektasi gender di kalangan anak-anak.

Anak-anak terpapar perbedaan gender dan ekspektasi sejak lahir. Sejalan dengan waktu, informasi ini diinternalisasi dan menjadi dasar pemahaman mereka tentang bagaimana dunia bekerja. Sementara, pemahaman dini mengenai perbedaan gender dan ekspektasi muncul sejak usia tiga tahun.

Mendorong proses ini adalah upaya kita (kerap tanpa sengaja) memperkuat perilaku berdasar gender. Salah satu caranya adalah dengan mendukung perilaku anak yang kita pikir sesuai dengan gender masing-masing (misalnya, memuji anak laki-laki yang tidak menangis ketika kesakitan), dan melarang perilaku yang kita pikir tidak sesuai gender (contohnya, melarang anak perempuan koprol).

Ini artinya, ketika mereka berusia enam atau tujuh tahun—saat pemahaman konstan mereka tentang gender terbentuk lengkap—pemahaman mereka mengenai perbedaan gender dan ekspektasi telah mapan terbentuk.

Anak-anak adalah pembelajar yang cepat, bahkan saat kita tidak sadar bahwa ada proses pembelajaran yang terjadi. Yang membuat lebih rumit adalah anak-anak menyaring informasi menurut apa yang masuk akal di otak mereka.

Pada usia tiga sampai empat tahun, anak-anak masih berpikir “hitam putih"—hal-hal baik atau buruk, benar atau salah. Artinya, untuk gender pun mereka berpikir "perempuan atau laki-laki”, dan mengelompokkan dunia mereka (misalnya, mainan, pakaian, atau aktivitas) sesuai dengan itu.

Jika model pemikiran seperti ini dipertunjukkan orang dewasa, yang pola berpikirnya lebih fleksibel—mereka sudah bisa melihat nuansa abu-abu—maka ini bisa dikatakan seksis. Pada anak usia dini, ini normal.

Baca juga: Stop Jadikan Humor Seksis Wajar

Pada dirinya sendiri, hal tersebut tidak menjadi masalah, tapi merupakan proses perkembangan normal. Masalah akan muncul ketika ekspektasi gender dan perbedaan gender mengarah pada ketidaksetaraan gender. Ketika nilai ketidaksetaraan gender tertanam dan berkembang, hal ini akan berkaitan dengan peningkatan risiko kekerasan yang berbasis gender. Karena itulah, para pendukung program Hubungan Saling Menghormati menganggap penting menerapkan program pendidikan kesetaraan gender tersebut kepada anak.

Dengan menyediakan lingkungan di mana kesetaraan gender diajarkan dan dicontohkan, keyakinan mengenai gender dan perbedaan gender bisa diubah. Hal ini mendorong terciptanya hubungan yang lebih saling menghormati sejak dini. Pada gilirannya, ini akan menurunkan risiko perilaku seksis dan kasar di kemudian hari.

Jika kita membahas tentang bagaimana pendidikan kesetaraan gender kepada anak umur empat tahun soal ini, urusannya lebih banyak soal apa yang mereka lihat ketimbang apa yang kita katakan. Mereka tak perlu tahu apa itu sikap seksis—bahkan mereka pun tak akan paham jika Anda mencoba menjelaskan.

Yang penting adalah kita mendorong rasa hormat pada semua, tanpa membuat proses perkembangan normal seolah penyakit. Boleh-boleh saja anak laki-laki ingin bermain dengan anak laki-laki, dan anak perempuan dengan anak perempuan; tak masalah anak laki-laki main truk, dan anak perempuan main boneka. Ini bukan seksis, ini bagian normal dari perkembangan.

Lantas, Apa Anak Kecil Bisa Sengaja Seksis?

Kenyataan bahwa anak umur empat tahun memiliki pemahaman dasar tentang perbedaan gender dan ekspektasi, dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan ini, tidak sama dengan sengaja bersikap seksis. Ini hanya mencerminkan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka mampu pahami.

Mereka hanya berusaha memahami bagaimana dunia bekerja dan bagaimana bisa menyesuaikan diri—bukan untuk menyakiti atau mengecilkan orang lain.

Kita hidup di dunia di mana tindakan lebih berarti daripada kata-kata. Jadi, bukan apa yang Anda katakan yang akan membentuk ekspektasi gender anak Anda. Jadilah teladan dan doronglah kesetaraan gender.

Saat berusia empat tahun, mereka mungkin belum tahu apa itu perilaku seksis. Tapi dengan teladan yang tepat, peluang mereka berperilaku seksis di usia 14 akan lebih kecil.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Kimberley Norris adalah pengajar senior jurusan Psikologi, University of Tasmania.