07/10/2026
Culture Opini

‘Laika, Yang Ditinggalkan’ dan Luka Perempuan yang Tumbuh Tanpa Ayah

Saya ngobrol dengan tiga perempuan pendengar Nadin yang tumbuh dengan pengalaman fatherless. Mereka kompak merasa tervalidasi lewat album ini karena liriknya dekat dengan luka dan pengalaman sendiri.

  • October 7, 2026
  • 9 min read
  • 8 Views
‘Laika, Yang Ditinggalkan’ dan Luka Perempuan yang Tumbuh Tanpa Ayah

Foto: Instagram/cakecaine

Nadin Amizah merilis album barunya Laika, Yang Ditinggalkan, pada akhir Agustus silam. Album tersebut terinspirasi dari sosok anjing bernama Laika, yang merupakan makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi lewat misi Sputnik 2 milik Uni Soviet pada 3 November 1957.

Mulanya Laika adalah anjing liar yang diambil dari jalanan Moskow. Ia dipilih sebagai objek percobaan karena berukuran kecil, dinilai tangguh, dan mempunyai perangai yang tenang.

Mengutip Liputan 6, Nadin menggunakan nama Laika di dalam albumnya untuk menggambarkan sosok di dalam lagu yang mendambakan kasih namun tak kunjung datang.

“Di mataku, Laika adalah sosok yang mendambakan sesuatu yang tak pernah cukup, menginginkan kasih yang tak datang, dan permohonan yang akhirnya berubah jadi amarah,” ucapnya kepada Liputan 6.

Ketika album ini naik, ada tiga lagu yang banyak digunakan sebagai latar belakang suara di berbagai konten dan sering berseliweran di linimasa media sosial saya, antara lain Reservasi Untuk Dua, Tamu Berwajah Itu, dan Amarah. Ketiga lagu tersebut memiliki benang merah, yakni soal fatherless atau ayah yang tidak hadir di dalam pengasuhan.

Nadin sendiri mengatakan album ini turut menggambarkan fenomena fatherless di Indonesia. Menurutnya, dari banyak cerita yang ia dapatkan, masih banyak anak yang merasa ditelantarkan oleh ayah mereka. Namun, di saat yang bersamaan Nadin juga mempertanyakan kenapa selalu anak yang mendapatkan istilah durhaka.

Salah satu lagu yang viral dan menggambarkan hal itu adalah Reservasi Untuk Dua.

Dan jika neraka tempatku durhaka 

Kuyakin kau juga ku temu di sana 

Kita tak berbeda, tak ada yang menang 

Di dunia tak jumpa, kita bersama di sana

Album ini kemudian kembali membuka diskusi terkait isu fatherless di Indonesia. Banyak warganet mencurahkan isi hatinya di media sosial, soal ayah yang absen dalam pengasuhan. 

Saya mewawancarai tiga pendengar Nadin yang memiliki pengalaman fatherless. Mereka membagikan rekomendasi lagu yang relate dengan pengalaman fatherless dari album terbaru Nadin, sekaligus membagikan kisahnya soal ayah yang absen dan dampaknya ke hidup mereka. Ini kisah Nabila, Flo, dan Lita.

Baca juga: Ayah Jarang di Rumah dan Ibu yang Dituntut Bisa Segalanya: Ini Alasan Kenapa Indonesia Masuk Kategori ‘Fatherless Country’

PoV “Nabila”: Amarah yang Bikin Aku Tetap Ingat Ayah

Sepanjang ingatanku sejak kecil, Ayah dan Mama selalu bertengkar meskipun terkadang masalahnya terlihat sepele. Misalnya, dulu Mama sering marah kepada Ayah karena masakan yang sudah Mama buat berjam-jam tidak dimakan olehnya. Ayah selalu memilih untuk membeli makanan di luar. 

Saking seringnya mereka bertengkar, aku sampai berpikir bahwa pertengkaran-pertengkaran seperti itu normal di dalam pernikahan. Sampai saat aku berkuliah, teman-temanku bercerita bahwa orang tua mereka enggak pernah sekali pun bertengkar di depan mereka. Aku terkejut mendengar itu, karena selama hidup aku enggak pernah melihat Mama dan Ayah akur, apalagi saling sayang.

Kukira pertengkaran keduanya sudah menjadi yang terburuk, sampai akhirnya aku menyaksikan mereka berpisah atap pada 2025. 

Saat itu Aku, Mama, dan Ayah sedang pergi ke rumah kami di Bogor. Namun yang kembali ke Jakarta hanya Aku dan Mama. Ayah memilih untuk tinggal di sana, meninggalkan Aku dan Mama. Mereka tidak bercerai, hanya memilih untuk pisah tempat tinggal.

Awalnya aku marah, bertanya-tanya kenapa Ayah seperti melepas tanggung jawab dan menyerahkan aku sepenuhnya ke Mama. Walau sekarang aku sadar, hidup Ayah jauh lebih tenang tanpa Mama, begitupun Mama.

Pengalaman itu banyak memengaruhiku terutama dalam melihat pernikahan. Sampai saat ini aku belum punya standar suami yang baik, karena aku tidak melihat itu dari pernikahan Ayah dan Mama.

Pengalaman ini sejalan dengan temuan Apranda dan Ninawati (2025), yang mengungkap adanya hubungan erat antara fenomena fatherless dan ketakutan akan keintiman. Hal ini karena peran figur ayah saat masa awal kehidupan dapat memengaruhi mekanisme psikologis, yang dapat menentukan perilaku relasional pada masa dewasa.

Ketika album Laika, Yang Ditinggalkan rilis, aku merasa “dilihat”. Seperti divalidasi bahwa enggak apa-apa untuk marah kepada Ayah. Lagu favoritku dari album itu adalah Amarah. Dari lirik “Jangan ambil amarahku, hanya ini yang membuatmu masih hidup di benakku” lumayan relate. Setidaknya tetap akan ada rasa untuk Ayah, walau rasa marah.

Baca juga: 5 Lagu Kritik Bernada ‘Chill’ Agar Tetap ‘Mindful’ saat Mendengar Berita Buruk

PoV “Flo”: Kalau Aku Durhaka, maka Papa Tak Ada Bedanya

Dari luar, keluargaku tampak harmonis seperti “keluarga cemara”. Namun, di balik pemandangan itu, sebetulnya Papa tak pernah hadir secara emosional dan membebankan pengasuhan sepenuhnya kepada Mama.

Di dalam memoriku, tak pernah tersimpan ingatan kalau Papa pernah mendampingi, mengajari, atau membimbingku menghadapi dunia. Malah saat kecil Papa kerap melakukan kekerasan dengan memukulku menggunakan gesper, mengunciku di kamar mandi dengan lampu dimatikan, hingga merusak mainan yang aku pinjam dari teman hanya karena aku terlambat makan. Tak hanya itu, ia juga sering mengomentari tubuhku dan berujung membuatku merasa insecure saat beranjak dewasa.

Selain itu, Papa tak pernah mau membantu Mama melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring atau mengepel. Padahal, selain menjadi ibu rumah tangga, Mama juga adalah perempuan kerja. Alhasil, Mama menanggung beban ganda. Yang menyakitkan, Papa pernah bilang untuk apa punya istri kalau enggak menyiapkan makan saat pulang kerja, atau tidak membereskan rumah.

Aku sadar Papa memiliki pandangan seperti itu karena nilai-nilai patriarki yang sudah tertanam di dalam dirinya, dan Papa tidak sadar bahwa nilai-nilai itu membuat beban rumah tangga lebih banyak ditanggung Mama. 

Sebagaimana argumentasi Zhao (2026) dalam artikel jurnalnya, yang menyatakan pembagian kerja domestik dan norma gender yang mengakar dalam patriarki menciptakan ketimpangan peran di dalam keluarga. Bahkan ketika laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja–seperti Mama dan Papa, perempuan tetap cenderung memikul pekerjaan domestik dan pengasuhan yang tidak dibayar sehingga mengalami beban berganda.

Penelitian ini sejalan dengan temuan Panjaitan dan Damaiyanti (2025), bertajuk “Budaya Patriarki dan Fenomena Fatherless” yang meneliti kaitan antara patriarki dan fenomena fatherless. Dari keluarga yang mereka teliti, ditemukan bahwa nilai patriarki membuat ayah lebih banyak melihat dirinya sebagai pencari nafkah. Sementara kedekatan emosional dan pengasuhan anak dianggap sebagai tanggung jawab ibu.

Atas apa yang dilakukan Papa, kini di dalam diriku berpumpun amarah dan trauma yang mulai aku bereskan satu-persatu lewat sesi-sesi konseling yang juga tak murah. Sambil menyembuhkan diri, perlahan-lahan aku juga mulai mengedukasi Papa untuk berbagi beban di rumah dan hadir secara emosional untuk keluarga. Awalnya tak mudah, tetapi perlahan-lahan Papa belajar.

Meski Papa mulai ingin berubah, tetapi tak bisa ku sangkal luka itu masih ada. Apalagi Papa tidak pernah mengakui kesalahan atau meminta maaf atas trauma masa lalu yang ditimbulkan pada anak-anaknya.

Luka yang hingga kini masih menetap di dalam diriku mengingatkanku pada lagu Reservasi Untuk Dua dari album Laika, Yang Ditinggalkan. Aku merasa relate dengan lirik “Bukan benci, hanya perih / Yang terlalu lama membekas / Mengeras”. 

Lirik itu menggambarkan amarah terpendam atas trauma masa lalu yang tak pernah diakui atau dimintai maaf oleh orang tua. Lagu ini juga memotret fenomena sosial dimana masyarakat sering melabeli anak durhaka, padahal orangtua pun bisa menorehkan luka mendalam. Sebagaimana Papa telah menanamkan trauma dan luka psikologis sejak aku kecil.

Baca juga: Dari ‘Backburner’ sampai ‘The Apartment We Won’t Share’: Kenapa Sosok Ibu dan Ayah Kerap Muncul di Lagu NIKI?

PoV “Lita”: Bapak bak Tamu di Rumah Sendiri

Bapak jarang sekali pulang. Dalam setahun kepulangannya bisa dihitung jari. Kehadiran Bapak yang minim itu aku rasakan sedari kecil hingga saat ini. Saat kecil Bapak selalu beralasan bahwa ia harus menginap karena urusan pekerjaan. Namun, lambat laun aku tahu bahwa alasan sebenarnya adalah tinggal di rumah istri-istrinya yang lain.

Bapak melakukan poligami hingga memiliki lima istri. Namun, ia tak pernah adil terutama ke keluargaku. Ketidakadilan yang dulu aku sering rasakan misalnya ketika Bapak berada di rumah atau berlibur bersama, Bapak tak pernah berinteraksi dan membangun kedekatan emosional. Ia selalu sibuk dengan ponselnya.

Absennya Bapak membuat seluruh urusan rumah tangga dan pengasuhan dipikul sendiri oleh Ibu. Ibu yang mengalami trauma mendalam kerap menceritakan kecemasan, kesedihan, dan kemarahannya kepadaku. Akhirnya, aku juga ikut menyerap beban emosional tersebut.

Aku pernah mempertanyakan dan menegur tindakan Bapak, tetapi berakhir di-gaslight dan dipojokkan. Bapak justru menuduh aku ingin mereka bercerai. 

Pengalaman fatherless itu sempat membuatku berada di dalam keadaan yang penuh dilema. Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan sekolah berbasis agama dan budaya patriarkal yang kuat, aku dituntut selalu berbakti dan tidak boleh marah kepada orang tua. Hal ini membuatku tidak punya ruang untuk mengekspresikan kemarahanku yang besar. 

Selain itu, aku mengalami mati rasa emosional. Amarah besar yang dipendam bertahun-tahun akhirnya bergeser menjadi mati rasa. Aku juga merasa insecure dan sulit dicintai, karena dulu aku berpikir, perempuan seperti Ibu yang cantik dan pintar saja tetap bisa diselingkuhi dan dimanipulasi. Insecurities itu juga bermuara pada perasaan skeptis dalam menemukan pasangan laki-laki yang enggak seksis dan misoginis.

Saat pertama kali mendengarkan album Laika, Yang Ditinggalkan, perasaan marah terhadap Bapak sempat kembali ke permukaan. Ketika mendengar Reservasi Untuk Dua, aku merasa kemarahanku terhadap doktrin agama dan budaya yang menuntut anak untuk selalu berbakti terwakilkan. Rasanya seperti diberi ruang untuk mengekspresikan kemarahan atas kesalahan orangtua.

Lirik “Selamat hari raya, maaf kau tak dimaafkan” merepresentasikan pengalamanku setiap Lebaran. Tradisi maaf-memaafkan saat hari raya terasa seperti formalitas, padahal aku merasa tidak pernah benar-benar bisa memaafkan Bapak yang tak pernah hadir secara utuh.

Kemarahanku juga terwakilkan dalam lagu Tamu Berwajah Itu. Lirik “resah kau genggam erat dalam dekap” menggambarkan bagaimana dulu aku menyerap kesedihan, kecemasan, dan kemarahan yang diluapkan Ibu.

Untuk Semua Laika, Kau Mudah Dicinta

Pengalaman Nabila, Flo, dan Lita menunjukkan bagaimana fatherless sangat berpengaruh bagi hidup mereka terutama dalam hal psikologis. Nabila tumbuh tanpa gambaran seperti apa hubungan yang sehat, Flo dengan luka dan rasa insecure, begitu pun Lita yang sempat merasa sulit dicinta.

Pengalaman mereka tidak berarti semua orang yang tumbuh tanpa ayah mengalami dampak yang sama. Namun, berbagai penelitian memang menunjukkan bahwa ketidakhadiran figur ayah dapat berkaitan dengan rendahnya kesejahteraan emosional, depresi, hingga masalah dalam relasi romantis. Sebagaimana temuan Maharani (2025) atau Hanifah dkk.(2024).

Mungkin inilah yang membuat Laika, Yang Ditinggalkan terasa dekat dengan Nabila, Flo, Lita, dan banyak pendengar lainnya. Album ini memberi ruang untuk mengakui perasaan marah, yang selama ini dianggap tidak pantas dimiliki atau diekspresikan oleh seorang anak kepada orangtuanya.

Seperti sosok anjing Laika yang ditinggalkan, mereka mungkin pernah merasa kasih yang seharusnya diterima justru tak kunjung datang. Namun, Nadin memberikan pesan dalam lagu Laika, Kau Mudah Dicinta.

Tapi sungguh Laika, kamu mudah dicinta

Tak pernah ada yang coba tapi aku yakin

Kau mudah dicinta

*Semua identitas narasumber disamarkan atas permohonan yang bersangkutan.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.