#HororPanasBumi: Perempuan di Kaki Ijen Tanggung Ongkos Energi Hijau
Suara ledakan dari lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Blawan Ijen memecah pagi di Desa Kalianyar, Bondowoso, Jawa Timur, pada 26 April 2020. Dentuman yang disusul semburan uap, kepulan asap, dan kobaran api hitam membuat warga berlarian meninggalkan ladang maupun rumah. Ledakan saat pengeboran sumur eksplorasi itu menyisakan trauma yang masih membekas di ingatan warga.
“Rany”, 50, sedang berada di ladang sekitar pukul 09.30 WIB ketika ledakan terjadi. Ia melihat asap hitam membumbung dari lokasi pengeboran sebelum petugas membagikan masker kepada warga yang berada di sekitar lokasi. Suasana yang mencekam membuatnya mengira telah terjadi kecelakaan pesawat.
“Pas di ladang ada api hitam pekat, kaget dikasih masker. Kayak pesawat mau jatuh,” kenangnya.
Di Dusun Curah Macan yang berada di Ring 1 proyek PLTP Blawan Ijen, “Silvi”, 28, baru saja melewati proses persalinan ketika dentuman terdengar. Tanpa sempat memulihkan kondisi tubuhnya, ia membungkus bayinya lalu bergegas keluar rumah untuk mengikuti evakuasi bersama warga lain. Pengalaman itu masih membayanginya hingga kini.
“Takut aja bakal meledak (lagi) sampai sini,” tutur Silvi.
Ledakan tersebut bukan satu-satunya sumber kekhawatiran warga Desa Kalianyar. Sejak proyek panas Bumi berjalan, sebagian warga mengaku menghadapi penurunan hasil pertanian, perubahan kualitas sumber air, hingga bau gas yang sesekali tercium dari arah proyek. Perubahan tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari warga yang tinggal di sekitar area operasional PLTP Blawan Ijen.
Dampak itu juga dirasakan perempuan di Desa Kalianyar. Selain bekerja di sektor pertanian, mereka tetap menjalankan pekerjaan domestik, seperti memastikan ketersediaan air bersih, mengurus anggota keluarga yang sakit, dan mengelola kebutuhan rumah tangga ketika pengeluaran meningkat. Pengalaman mereka menjadi bagian dari rangkaian dampak yang muncul sejak proyek panas Bumi beroperasi.
Baca juga: #HororPanasBumi: Menggadai Hidup Layak Warga Lingkar Panas Bumi demi Mimpi Energi (Part 1)
Kopi yang Tinggal Jadi Kenangan
Desa Kalianyar menjadi pusat berbagai aktivitas proyek sejak PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) memulai eksplorasi PLTP Blawan Ijen pada 2020. Desa yang dihuni sekitar 1.384 kepala keluarga itu menjadi lokasi pembangunan sumur pengeboran sedalam 2.500 hingga 3.000 meter, akses jalan, penginapan pekerja, serta infrastruktur utama lainnya. Perubahan bentang alam tersebut ikut mengubah ruang hidup warga yang selama puluhan tahun bergantung pada sektor pertanian.
Mayoritas masyarakat Kecamatan Ijen bekerja sebagai petani. Selain kubis dan kentang, kopi telah menjadi sumber penghidupan yang diwariskan lintas generasi sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Bagi banyak keluarga, kebun kopi bukan sekadar menghasilkan panen, melainkan menjadi tabungan untuk membiayai pendidikan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, hingga menopang kehidupan pada masa tua.
Laporan CELIOS pada 2025 mencatat pembangunan seluruh infrastruktur PLTP Ijen beserta jaringan transmisinya membutuhkan lahan seluas 2.822,2 hektare. Seluruh lahan tersebut bersifat permanen, kecuali lahan seluas 0,0905 hektare yang digunakan sebagai akomodasi pekerja di kawasan hutan produksi. Pembangunan jalur transmisi seluas 2.781 hektare berdampak pada 31 rumah tangga atau sekitar 110 orang, sedangkan pembangunan Right of Way (ROW) seluas 24,2 hektare berdampak pada sekitar 250 rumah tangga.

“Donny”, 35, perangkat Desa Kalianyar, mengatakan pembukaan lahan, termasuk pelebaran jalan, mengorbankan tanaman kopi milik warga. Ia mendampingi sedikitnya empat warga yang terdampak pembangunan proyek tersebut. Menurutnya, ada tanaman kopi yang ditebang ketika sudah memasuki usia produktif, tetapi pemiliknya tidak memperoleh kompensasi.
“Ada salah satu warga yang ia dampingi sudah menanam kopinya yang usianya umur empat tahunan. Sudah waktu produksi kan kopinya. Terus mau dibuat untuk lahan proses pengeboran waktu itu di Ijen 2, kayu-kayunya dipotongin semua, tapi enggak dapat kompensasi.”
Lahan kopi tidak bisa digantikan dalam waktu singkat. Untuk membuka satu hektare kebun, petani harus menanam sekitar 3.000 hingga 5.000 bibit. Dengan harga sekitar Rp5.000 per bibit, modal awal mencapai Rp15 juta hingga Rp25 juta, belum termasuk biaya pembukaan lahan dan tenaga kerja.
Investasi tersebut juga membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan. Petani harus menunggu tiga hingga empat tahun hingga pohon kopi memasuki masa panen. Saat tanaman ditebang sebelum menghasilkan atau ketika sudah memasuki usia produktif, kerugian yang ditanggung petani tidak hanya berupa hilangnya pohon, tetapi juga waktu, tenaga, dan modal yang telah mereka keluarkan selama bertahun-tahun.
Donny mengatakan hasil panen kopi selama ini menjadi penopang ekonomi banyak keluarga di Desa Kalianyar. Dalam kondisi panen yang baik, petani dapat menghasilkan lima hingga enam ton kopi dengan harga sekitar Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram. Penghasilan tersebut menjadi biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, sekaligus tabungan keluarga.
“Kopi itu bisa menyejahterakan masyarakat. Tabungan untuk hari tua dan anak kita nantinya. Sisa mengantarkan anak-anak sampai nyantri, sekolah, kuliah. Tapi kalau begini situasinya, warga jadi khawatir (terhadap kemungkinan perluasan).”
Urat Nadi Pertanian yang Jadi Taruhan
Sekitar 200 meter dari sumur eksplorasi IJN-6, “Firman”, 63, memperlihatkan perubahan yang ia temukan di kebun cabainya. Medio April lalu, ia mengajak Magdalene berkeliling menggunakan pickup untuk melihat kondisi tanaman yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Menurut Firman, perubahan tersebut mulai terlihat setelah aktivitas proyek panas Bumi berlangsung di kawasan itu.
Tanaman cabainya tidak lagi tumbuh seperti sebelumnya. Area rambatan mengecil, dari yang semula mampu mencapai sekitar 100 sentimeter kini hanya sekitar 50 sentimeter. Sebagian tanaman juga menunjukkan gejala variegata atau daun belang hijau kekuningan yang jarang ditemukan pada tanaman sehat.
Perubahan tersebut berdampak pada hasil panen. Firman bilang produksi cabainya turun drastis dibandingkan beberapa tahun lalu. Ukuran buah pun menjadi lebih kecil dari biasanya.
“Dulu itu (panen) bisa 5 kg, sekarang 1-2 kg aja dan kerdil-kerdil begini,” tutur Firman sambil memperlihatkan tanaman cabainya.
Kondisi serupa ia temukan di kebun kubis yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pengeboran. Daun kubis tidak lagi tampak hijau segar, melainkan dipenuhi bercak kekuningan dengan batang yang mengering. Menurut Firman, perubahan itu baru muncul sejak 2024.
“Semenjak 2024 kayak gini. Enggak pernah kejadian sebelumnya. Pupuknya mengendap, akar lalu batangnya mati sendiri jadinya pupuk ini tidak sampai ke daun,” jelasnya.
Penurunan produktivitas memaksa petani mengubah cara bertani. Firman mengatakan kebutuhan pupuk kimia meningkat hingga satu ton setiap musim tanam. Frekuensi penyemprotan pestisida juga bertambah dari dua kali menjadi enam hingga 15 kali selama masa tanam.
Kenaikan penggunaan pupuk dan pestisida ikut mendongkrak biaya produksi. Dengan harga pestisida mencapai Rp285.000 per liter untuk satu hektare lahan, pengeluaran petani meningkat tajam. Firman memperkirakan kerugian yang ia alami kini mencapai lebih dari 40 persen dari modal awal sekitar Rp35 juta.
Penurunan hasil panen tidak hanya mengurangi pendapatan petani. Kondisi tersebut ikut memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama ketika biaya produksi terus meningkat. Bagi rumah tangga yang bergantung sepenuhnya pada sektor pertanian, setiap musim panen kini menjadi penuh ketidakpastian.
Bambang Catur Nusantara, peneliti sekaligus pengurus Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), menuturkan, perubahan vegetasi seperti yang ditemukan Firman dapat berkaitan dengan paparan hidrogen sulfida atau H₂S pada konsentrasi tertentu. H₂S merupakan gas yang secara alami terkandung dalam uap panas Bumi dan dapat dilepaskan selama proses produksi maupun pelepasan non-condensable gases. Gas tersebut tidak berwarna, memiliki bau menyengat seperti telur busuk, serta berpotensi membahayakan kesehatan pada kadar tertentu.
Bersama Magdalene, Bambang melakukan pemantauan kualitas udara pada (19/4) di lima titik di sekitar Kawah Wurung, Ijen. Pengukuran menggunakan dua alat, yakni Gastec GSP-400FT dan Dräger X-am 3500 yang mampu mendeteksi berbagai jenis gas. Pengujian dilakukan untuk melihat ada tidaknya paparan H₂S maupun parameter lain di sekitar kawasan proyek.
Hasil pemantauan tidak mendeteksi H₂S maupun parameter lain seperti SO₂, CO, PAH, dan CH₄ pada seluruh titik pengambilan sampel. Namun, Bambang mengingatkan hasil tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan kawasan proyek sepenuhnya bebas dari paparan gas. Kondisi cuaca, arah angin, hingga waktu pengukuran sangat memengaruhi hasil pembacaan alat.
“Kalau misalnya menggunakan alat ukur, ya kita harus berada pada momentum yang paling tepat. Itu banyak sekali faktornya. Bisa jadi dari angin dan cuaca,” sebutnya dalam wawancara terpisah (19/5).

| Lokasi Sampling | Titik Koordinat | |
| Lintang | Bujur | |
| Sumber Macan 1 | 8o3’6.548″S | 114o10’7.471″E |
| Sumber Macan 2 | 8o3’6.982″S | 114o10’7.603″E |
| Sumber Macan 3 | 8o3’6.128″S | 114o10’8.571″E |
| Gending Waluh 1 | 8o3’33.728″S | 114o10’32.808″E |
| Gending Waluh 2 | 8o3’35.028″S | 114o10’32.981″E |
Ia menjelaskan setiap alat memiliki batas deteksi yang berbeda. Gastec tube 4S mampu mendeteksi H₂S mulai 10 ppbatau setara 0,01 ppm, sedangkan Dräger X-am 3500 baru dapat membaca gas tersebut pada konsentrasi 400 ppb atau 0,4 ppm. Perbedaan sensitivitas tersebut membuat paparan dalam konsentrasi sangat rendah belum tentu terbaca oleh seluruh alat.
Penelitian National Institutes of Health (NIH) pada 2024 menyebut manusia dapat mencium bau H₂S pada kisaran 0,0005 hingga 0,3 ppm. Selama peliputan, aroma telur busuk beberapa kali tercium di luar waktu pengukuran, terutama di titik yang berdekatan dengan manifestasi uap panas Bumi. Bau menyengat juga tercium sekitar pukul 21.00 WIB di Jalan Kawah Ijen.
Firman menjelaskan, bau tersebut umumnya muncul saat perusahaan melakukan pelepasan uap. Menurut Bambang, aroma telur busuk menjadi indikasi awal keberadaan H₂S pada konsentrasi yang sudah bisa dideteksi indra penciuman manusia, meski kemungkinan masih berada di bawah ambang deteksi sebagian alat ukur. Karena kadarnya dapat berubah-ubah, pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui fluktuasi paparan.
“Jadi pada level yang sangat rendah, kita sebenarnya sudah bisa mencium. Itu indikator paling awal sebenarnya.”
Magdalene telah meminta tanggapan PT Medco Energi Internasional terkait berbagai temuan dalam liputan ini, termasuk insiden ledakan sumur eksplorasi pada 2020, dugaan paparan H₂S, pemantauan kualitas udara, dugaan pencemaran sumber air, pengelolaan limbah, pemantauan kesehatan warga, serta pelibatan masyarakat dalam proyek. Permintaan konfirmasi telah dikirimkan melalui surat elektronik dan WhatsApp dalam beberapa kesempatan. Namun hingga artikel ini diterbitkan, perusahaan belum memberikan tanggapan.
Baca juga: #HororPanasBumi: Menggadai Hidup Layak Warga Lingkar Panas Bumi demi Mimpi Energi (Part 2)
Hidup Berdampingan dengan Gas Beracun
Setiap pagi, sebelas buruh tani asal Bondowoso menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan truk sewaan untuk bekerja di lahan pertanian milik Firman di kawasan Ijen. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan berusia 40 hingga 60 tahun yang berstatus janda. Mereka berangkat sejak pukul 07.00 WIB demi memperoleh upah harian bersih sekitar Rp42.000 setelah dipotong biaya transportasi.
Ladang tempat mereka bekerja berada sekitar 400 meter dari sumur pengeboran IJN-6. Meski lokasinya masuk kawasan yang dianggap rentan, para buruh tani tetap datang setiap hari karena tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan. Bagi mereka, berhenti bekerja berarti kehilangan penghasilan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di bawah terik matahari, mereka menanam bibit kentang dan menaburkan pupuk yang telah disiapkan Firman. Pekerjaan itu sudah menguras tenaga sejak pagi, tetapi tantangan yang mereka hadapi tidak berhenti pada pekerjaan fisik. Aroma menyengat yang menyerupai telur busuk kerap muncul ketika mereka berada di ladang.
Tiga buruh tani perempuan yang diwawancarai Magdalene sama-sama mengaku beberapa kali mencium bau tersebut saat bekerja. Mereka menyebut aromanya muncul sesekali dan cukup menyengat hingga mengganggu aktivitas di ladang. Meski begitu, pekerjaan tetap harus diselesaikan karena penghasilan harian bergantung pada kehadiran mereka.
“Aisyah”, 40, mengaku pernah mengalami pusing setelah menghirup bau tersebut. Ia berusaha memakai masker ketika bekerja, tetapi masker justru membuatnya semakin sulit bernapas saat harus terus bergerak di ladang. Kondisi itu membuatnya berada dalam situasi yang serba sulit.
“Tapi mau gimana lagi. Dibawa kerja, (harus) dipaksa lantaran ekonomi itu kurang,” ungkapnya seraya menanam benih kentang di ladang yang baru digarap pagi itu.
Firman mengatakan ia hanya dapat menyediakan masker, air minum, dan waktu istirahat ketika para pekerjanya mengeluhkan bau menyengat. Selebihnya, aktivitas pertanian tetap berjalan seperti biasa karena pekerjaan harus selesai sesuai musim tanam. Tidak ada pilihan lain bagi pemilik lahan maupun buruh tani selain tetap bekerja.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga Dusun Curah Macan yang tinggal paling dekat dengan proyek PLTP Blawan Ijen. Mereka mengaku bau gas menyengat beberapa kali tercium hingga ke permukiman, terutama pada malam hari atau setelah hujan reda. Dalam beberapa kesempatan, kemunculan bau tersebut diikuti pengumuman melalui masjid yang mengimbau warga tidak pergi ke ladang.
Imbauan itu tidak selalu dapat dipatuhi. Sebagian warga tetap memilih bekerja karena tidak memiliki sumber pendapatan lain maupun kompensasi yang dapat menggantikan penghasilan mereka. Risiko menghirup gas akhirnya menjadi bagian dari keseharian yang mereka hadapi untuk mempertahankan penghidupan.
Paparan yang dikhawatirkan warga tidak hanya berhenti pada rasa tidak nyaman akibat bau menyengat. Data rekam medis Puskesmas Sempol menunjukkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat pada wilayah terdampak. Penyakit yang tidak masuk dalam sepuluh besar kasus terbanyak pada 2024 melonjak menjadi peringkat kedua pada 2025 dengan total 640 kasus.

Lonjakan tersebut belum dapat disimpulkan memiliki hubungan sebab akibat langsung dengan aktivitas proyek panas Bumi. Namun, pola peningkatan gangguan pernapasan di sekitar kawasan PLTP juga ditemukan dalam liputan Magdalene di wilayah lain. Kondisi serupa muncul di sekitar PLTP Sorik Marapi, Mandailing Natal, Sumatera Utara, serta PLTP Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur, tempat warga mengeluhkan batuk berkepanjangan dan gangguan pernapasan.
Secara medis, keluhan pernapasan warga ini sejalan dengan karakteristik H₂S. Epidemiolog Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, menjelaskan bahwa H₂S memiliki sifat asam yang dapat mengubah struktur kimia. Gas ini bisa mempengaruhi sirkulasi oksigen yang justru dibutuhkan oleh tubuh untuk bahan bakar energi. Sehingga dampaknya bisa menimbulkan sesak nafas. Dalam intensitas yang tinggi, konsentrasi gas H₂S ini bisa melemahkan fungsi paru-paru.
“Dampaknya bisa memicu kejang, pingsan, hingga sesak nafas berat yang berujung kematian,” terang Laura.
Di Desa Kalianyar, kekhawatiran warga bertambah karena belum ada pemantauan kesehatan yang dilakukan secara berkala setelah berbagai insiden yang mereka alami. Tanpa pemeriksaan rutin, mereka tidak mengetahui kondisi kesehatan masing-masing maupun potensi dampak jangka panjang yang mungkin muncul. Ketidakpastian itu ikut memunculkan rasa cemas yang terus bertahan hingga sekarang.
Beban Ganda Perempuan akibat Pencemaran Air
Ancaman terhadap ruang hidup warga tidak hanya datang dari udara. Pada Maret 2024, warga Desa Kalianyar mendapati Gending Waluh, salah satu sumber air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, berubah warna menjadi kehijauan menyerupai campuran bensin. Air yang sebelumnya jernih juga meninggalkan rasa getir dan sensasi kering di tenggorokan ketika diminum.
Perubahan tersebut berdampak pada sedikitnya 200 kepala keluarga yang tersebar di Dusun Watucapil, Margahayu, dan Kebunjeruk. Selama bertahun-tahun, ketiga dusun itu menggantungkan kebutuhan air bersih pada sumber mata air tersebut. Ketika kualitas air berubah, aktivitas sehari-hari warga ikut terganggu.
Warga menduga pencemaran berkaitan dengan aktivitas pengeboran PLTP yang dioperasikan PT Medco Cahaya Geothermal. Dugaan itu muncul karena perubahan kualitas air terjadi ketika aktivitas proyek berlangsung di sekitar kawasan tersebut. Mereka juga menduga limbah cair dari lokasi pengeboran IJN-2 mengalir ke arah sumber mata air yang menjadi tumpuan kebutuhan warga.
Tidak lama setelah kualitas air berubah, laporan gangguan kesehatan mulai bermunculan. Donny mengatakan sejumlah warga mengalami mual dan diare setelah mengonsumsi air dari sumber tersebut. Anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak dikhawatirkan karena beberapa di antaranya harus menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
“Anak-anak itu mual dan diare, ada 3-4 orang yang opname. Masyarakat meyakini ini dari air yang kita konsumsi,” kata Donny.
Warga kemudian meminta pertanggungjawaban perusahaan agar mengembalikan akses mereka terhadap air bersih. Sebagai respons, PT Medco sempat mencari sumber mata air alternatif yang dapat dialirkan ke tiga dusun terdampak. Salah satu lokasi yang dipertimbangkan berada di kawasan Gunung Ranti.
Upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Kondisi medan yang berat dan lokasi sumber air yang berada jauh di dalam hutan membuat pembangunan jaringan distribusi dinilai tidak efektif. Rencana tersebut akhirnya tidak dilanjutkan.
Perusahaan kemudian menyalurkan bantuan air bersih menggunakan truk tangki sebagai langkah darurat. Selain itu, saluran pembuangan limbah yang diduga menjadi sumber pencemaran ditutup. Bantuan tersebut berlangsung sekitar satu hingga dua bulan hingga warga kembali menggunakan sumber air yang sama.
“Untuk tiga dusun ini, waktu kejadian itu dapat bantuan tanki truk kurang lebih berjalan 1-2 bulan lah,” katanya.
Secara fisik, kondisi air kini sudah kembali jernih dan tidak lagi berbau. Namun, kekhawatiran warga belum hilang. Banyak di antara mereka masih ragu mengonsumsi air langsung dari sumber mata air karena khawatir pencemaran kembali terjadi.
Untuk mengetahui kondisi terkini sumber air warga, Magdalene melakukan uji laboratorium terhadap lima titik mata air di Desa Kalianyar pada (22/4), termasuk Gending Waluh yang sebelumnya dilaporkan tercemar. Hasil pengujian menunjukkan Sumber Macan dan Gending Waluh masuk kategori tercemar ringan. Penilaian tersebut mengacu pada standar mutu air Kelas 1 dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Nilai indeks pencemaran berkisar antara 2,29 hingga 3,38. Dari 39 parameter yang diperiksa, 30 parameter memenuhi baku mutu, sedangkan sembilan parameter melampaui ambang batas, yakni Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), nitrat, nitrit, amonia, total nitrogen, total fosfat, fluorida, dan bakteri faecal coli.
Rifnida Azmi Fitratian, akademisi sekaligus peneliti kimia lingkungan yang menganalisis hasil uji tersebut, menilai penurunan kualitas air dipengaruhi kombinasi faktor alam dan aktivitas pertanian di sekitar sumber mata air. Menurutnya, sumber air di kawasan itu masih memiliki kemampuan melakukan pemulihan alami atau self purification. Meski demikian, pemantauan tetap perlu dilakukan secara berkala.
“Soalnya kan itu (sumber air) banyak dipakai sama warga di sana kan. Dari yang buat pertanian sama untuk yang cuci, pokoknya sanitasinya mereka. Dan lagi, lokasinya deket sama PLTP. Jadi perlu diperiksa misalnya ya setahun dua kali,” kata Rifnida kepada Magdalene (19/5).
Tabel 1. Status Mutu Air di 5 Titik Berdasarkan PP No. 22 Tahun 2021
Baku Mutu Kelas 1
| Sampel | Lokasi Sampling | Nilai IP | Status | Parameter Pencemar |
| Sampel 1 | Sumber Macan 1 | 3.38 | Cemar ringan | BOD, COD, nitrat, nitrit, amonia, total nitrogen, total fosfat, dan fluorida |
| Sampel 2 | Sumber Macan 2 | 2.29 | Cemar ringan | BOD, COD, nitrat, amonia, total nitrogen, fluorida, dan faecal coli |
| Sampel 3 | Sumber Macan 3 | 2.93 | Cemar ringan | BOD, COD, nitrat, amonia, total nitrogen, dan fluorida |
| Sampel 4 | Gending Waluh 1 | 3.09 | Cemar Ringan | BOD, COD, nitrat, amonia, total nitrogen, dan total fosfat |
| Sampel 5 | Gending Waluh 2 | 2.55 | Cemar Ringan | BOD, COD, nitrat, amonia, total nitrogen, dan total fosfat |
Bagi warga, hasil uji laboratorium tidak serta-merta menghilangkan rasa khawatir. Trauma akibat pencemaran membuat sebagian keluarga mengubah cara mereka memenuhi kebutuhan air minum. Air yang sebelumnya langsung dikonsumsi kini harus direbus berulang kali atau diganti dengan air kemasan.
“Utari”, 38, mengatakan keluarganya mulai membeli air minum kemasan sejak pencemaran terjadi. Sebelumnya, ia terbiasa mengonsumsi air langsung dari mata air yang mengalir ke rumah. Kini, ia memilih membeli satu kardus air kemasan seharga Rp19.000 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ada juga yang dulunya enggak pernah beli (air mineral kemasan) jadi beli itu sekarang,” ceritanya.
Sebagian keluarga memilih menggunakan air galon sebagai alternatif. Untuk rumah tangga beranggotakan empat orang, kebutuhan air minum dapat menghabiskan sekitar Rp20.000 setiap empat hari. Pengeluaran baru tersebut menjadi tambahan beban bagi keluarga yang sebelumnya tidak perlu membeli air minum.
Perubahan pola konsumsi air paling terasa bagi perempuan. Mereka menjadi pihak yang harus memastikan air layak diminum, merebus air lebih lama, atau mengatur pengeluaran tambahan untuk membeli air kemasan maupun air galon. Ketika biaya rumah tangga bertambah, perempuan juga menjadi pihak yang lebih sering menyesuaikan anggaran agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, hal yang juga dilakukan Utari.
Baca juga: #GeothermalHorror: Lives Disrupted at Clean Energy Project Sites
Nihil Transparansi
Ironisnya, sebagian warga Kalianyar bercerita sulit memperoleh informasi mengenai perkembangan proyek maupun potensi risiko yang mungkin mereka hadapi. Bahkan sejumlah perempuan yang ditemui Magdalene di Dusun Curah Macan tidak pernah dilibatkan dalam sosialisasi maupun pertemuan yang membahas proyek panas Bumi. Mereka mengetahui aktivitas perusahaan lebih banyak dari informasi yang beredar dari sesama warga atau pengumuman melalui masjid. Akibatnya, banyak warga tidak memahami potensi dampak lingkungan maupun kesehatan yang mungkin muncul.
“Ninik”, 34, mengatakan informasi yang mereka terima selama ini hanya berkaitan dengan pengumuman ketika perusahaan akan melakukan pelepasan uap. Di luar itu, warga mengaku tidak pernah mendapat penjelasan mengenai kemungkinan risiko kesehatan jika menghirup gas maupun langkah yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan darurat.
“Paling dikasih tahunya kalau ada bukaan itu pengumuman di masjid, tapi enggak dikasih tahu itu kalau ngehirup dampaknya bakal gimana,” ucap Ninik.

Hal ini sangat disayangkan mengingat menurut epidemiolog Laura gas H₂S berdampak spesifik kepada perempuan. Bagi ibu hamil, penurunan kadar oksigen ini berisiko menghambat pertumbuhan janin, memicu kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), hingga potensi keguguran. Selain berdampak pada kehamilan, kandungan sulfur dalam gas tersebut juga memengaruhi sistem reproduksi perempuan.
“Sulfur ini ada kajian yang menyebutkan bahwa dia bisa memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi. Akibatnya, siklus menstruasi dan masa ovulasinya bisa terganggu,” ungkap Laura.
Keterbatasan informasi juga dirasakan warga ketika pencemaran sumber air terjadi pada 2024. Meski kondisi fisik air kini telah kembali jernih dan tidak lagi berbau, warga mengaku belum pernah menerima penjelasan mengenai hasil pemantauan lingkungan maupun pengelolaan limbah setelah saluran pembuangan yang lama ditutup. Ketidakjelasan tersebut membuat kekhawatiran mereka belum sepenuhnya hilang.
Donny mengatakan warga hingga kini tidak mengetahui ke mana aliran limbah dari lokasi pengeboran dialihkan. Menurutnya, perangkat desa pun tidak memperoleh informasi yang cukup mengenai pengelolaan limbah maupun langkah mitigasi yang dilakukan perusahaan. Kondisi itu menyulitkan pemerintah desa ketika harus menjawab pertanyaan masyarakat.
“Jadi masyarakat lokal sendiri enggak tahu buangannya ke mana, jangka panjangnya gimana, enggak tahu. Perangkat desa pun enggak tahu,” pungkas Donny.
Purnama Ayu Rizky berkontribusi dalam peliputan di lapangan dan penyuntingan artikel.
Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan khusus Magdalene tentang dampak pengembangan panas Bumi di Ijen, Mandailing Natal, dan Mataloko. Baca serial #HororPanasBumi lainnya di sini.
Tim Proyek Geothermal
Pemimpin Redaksi:
Devi Asmarani
Redaktur Pelaksana:
Purnama Ayu Rizky
Editor:
Aulia Adam, Devi Asmarani, Purnama Ayu Rizky
Koordinator Proyek:
Jasmine Floretta V.D
Tim Lapangan:
Andrei Wilmar, Aulia Adam, Jasmine Floretta V.D, Syifa Maulida, Purnama Ayu Rizky, Rose Hendrika
Reporter/ Periset:
Andrei Wilmar, Jasmine Floretta V.D, Syifa Maulida
Videografer/Dokumentasi:
Andrei Wilmar, Aulia Adam, Rose Hendrika
Fixer:
Antony Anu, Ahmad Royhan, Muhammad Husnudin
Desainer Grafis:
Della Nurlailanti Putri
Ilustrastor:
Karina Tungari
Media Sosial:
Amanda Andina Nugroho, Allaam Faadhilah, Sonia Kharisma Putri
SEO:
Kevin Seftian
Sekertaris Redaksi:
Chika Ramadhea
Product and Program Development Coordinator:
Siti Parhani
Community Engagement:
Siti Hajar
Visualisasi Data:
Azaria Laras





















