Ibu Makan Setelah Semua Orang Kenyang, Jangan Lagi Dianggap Romantis
Ada satu adegan harian yang dinormalisasi bahkan dikuduskan di ruang-ruang makan keluarga: Ibu dengan senyum tulus memastikan porsi makanan anak-anaknya kaya nutrisi, protein terbaik tersaji di piring sang suami. Sementara itu, ia sendiri makan terburu-buru, menghabiskan sisa makanan anak, atau baru menyantap sisa hidangan setelah semua orang selesai. Masyarakat kita gemar melabeli pemandangan ini sebagai puncak dari pengabdian suci. Semua orang ia pastikan tenang dan kenyang, kecuali dirinya.
Jika dibedah dengan perspektif sosiologis dan manajemen strategis, pemandangan ini dapat dibaca sebagai manifestasi mikro dari hantu Ibuisme. Doktrin kultural warisan masa lalu ini mendefinisikan perempuan bukan sebagai manusia utuh yang berdaulat atas tubuhnya, melainkan sebagai fungsi biologis dan emosional yang hidupnya dilekatkan pada pelayanan terhadap orang lain. Dalam konteks tersebut, rasa bersalah yang muncul ketika perempuan mendahulukan kebutuhannya sendiri dapat berkembang menjadi Mom’s Guilt.
Baca juga: Anakku Diasuh oleh Ibu yang Juga Meninggalkan Anaknya
Ibu Selalu Jadi yang Terakhir
Dalam studi manajemen, organisasi lazim dilihat dalam bentuk perusahaan, terutama yang berorientasi komersial. Jika ditarik ke unit peradaban secara mendasar, keluarga merupakan bentuk organisasi mikro tertua dan paling fundamental. Dalam manajemen organisasi, terdapat konsep organizational ambidexterity, yakni kemampuan sebuah entitas untuk secara simultan melakukan eksploitasi berupa efisiensi jangka pendek sekaligus eksplorasi berupa inovasi demi keberlanjutan jangka panjang.
Keberadaan ibu merupakan human asset penting dalam keluarga, termasuk dari sudut pandang kesehatan dan ekonomi. Namun, norma patriarki dapat membalikkan logika pengelolaan keluarga ketika tubuh ibu justru diperlakukan sebagai penyerap kerentanan atau shock absorber. Ketika keluarga menghadapi tekanan ekonomi atau kelelahan domestik, rumah tangga dapat mengandalkan tubuh ibu untuk melakukan maternal buffering. Jika keluarga dipandang sebagai organisasi mikro, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai bentuk salah kelola modal manusia dan pengabaian terhadap Key Person Risk utama.
Persoalan kerentanan aset dalam rumah tangga juga dibahas Caroline O. N. Moser dalam The Asset Vulnerability Framework: Reassessing Urban Poverty Reduction Strategies, yang melihat aset rumah tangga bukan sekadar kepemilikan material, tetapi sebagai sumber daya yang menentukan kemampuan keluarga menghadapi kerentanan (1998). Dalam kerangka ini, tubuh dan kapasitas perempuan juga perlu dilihat sebagai bagian dari aset yang memiliki konsekuensi terhadap ketahanan rumah tangga ketika terus-menerus digunakan untuk menyerap tekanan.
Studi Demografi & Pengambilan Keputusan Intra-Rumah Tangga dari UAPS Research Papers juga menunjukkan pentingnya melihat rumah tangga sebagai ruang tempat keputusan dan sumber daya dinegosiasikan. Artinya, keluarga tidak selalu menjadi ruang pengambilan keputusan yang seragam karena pembagian sumber daya di dalamnya juga dipengaruhi relasi antaranggota keluarga.
Kegagalan tata kelola dalam organisasi besar sangat mungkin berakar dari persoalan pengelolaan di tingkat keluarga. Selayaknya organisasi perusahaan perlu mengelola sumber dayanya agar dapat bertahan dalam jangka panjang, keluarga juga membutuhkan pembagian peran dan sumber daya yang memungkinkan seluruh anggotanya menjaga kesehatan dan kesejahteraan.
Baca juga: Kekerasan Anak Aghnia Punjabi, Tak Mudah buat Ibu Pekerja Tinggalkan Anak
Ibu Jangan Menomorduakan Diri
Mengapa jebakan ini begitu kuat mencengkeram? Laporan UNICEF Indonesia, Maternal Nutrition in Indonesia: Landscape Analysis and Recommendations, menyoroti masalah fundamental berupa lemahnya lingkungan pemungkin atau weak enabling environment. Kebijakan dan norma sosial dapat memperlakukan ibu sekadar sebagai wahana reproduksi bagi anak, bukan sebagai individu mandiri yang juga memiliki hak atas kebutuhan nutrisinya sendiri.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika ditempatkan dalam realitas kelas menengah perkotaan yang menghadapi tekanan ekonomi maupun psikologis. Dalam kondisi seperti ini, mengurangi porsi kebutuhan ibu dapat terlihat sebagai pilihan praktis demi memenuhi kebutuhan anggota keluarga lain. Namun, jika pola tersebut terus berlangsung, kesehatan ibu justru berisiko ditempatkan sebagai kebutuhan yang selalu bisa ditunda.
Kelas menengah memiliki posisi penting dalam mendorong perubahan karena akses terhadap informasi dan literasi gizi dapat menjadi modal untuk mempertanyakan kebiasaan yang selama ini dianggap wajar. Ketika maternal buffering terus dilanggengkan dengan dalih pengorbanan, kebutuhan ibu berpotensi tetap berada di urutan terakhir dalam pengambilan keputusan keluarga. Karena itu, perubahan cara keluarga memandang kebutuhan ibu juga berkaitan dengan bagaimana sumber daya rumah tangga dibagi dan diprioritaskan.
Perasaan bersalah yang muncul ketika perempuan mendahulukan dirinya sendiri tidak berdiri di ruang kosong. Selama ini, meja makan dapat menjadi arena pengambilan keputusan rumah tangga yang memperlihatkan bagaimana norma gender bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Keputusan mengenai porsi, jenis makanan, hingga siapa yang mendapat makanan dengan kandungan nutrisi terbaik merupakan bagian dari pembagian sumber daya di dalam keluarga.
Mengambil kembali hak atas porsi pangan terbaik bukan sekadar soal kalori, melainkan juga menyangkut posisi perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Menuntut hak atas porsi nutrisi terbaik dan memprioritaskan kesehatan diri tidak otomatis menjadikan perempuan egois. Selfishness is not egoistic. Dalam konteks ini, selfishness dapat dipahami sebagai bentuk kedaulatan diri atau self-sovereignty.
Rumah tangga dapat dipandang sebagai organisme hidup yang saling bergantung. Ketika tubuh dan kesejahteraan ibu terus dibiarkan berada dalam kekurangan demi memenuhi kebutuhan anggota keluarga lain, keberlangsungan keluarga dalam jangka panjang juga dapat terdampak. Kehidupan keluarga membutuhkan pembagian sumber daya dan beban yang memungkinkan setiap anggotanya menjaga kesehatan serta menjalankan perannya secara berkelanjutan.
Baca juga: Less Sleep and Relaxation, How Much Busier Moms are During the School Year
Untuk merombak struktur tersebut, gagasan tentang ambideksteritas gender atau ambidextrous gender trajectory dapat diterapkan di ruang privat melalui pembagian peran yang lebih setara. Laki-laki, termasuk suami dan anak laki-laki, dapat bergeser dari posisi sebagai pihak yang menerima pelayanan domestik menuju keterlibatan aktif dalam tata kelola rumah tangga. Perempuan, termasuk ibu dan anak perempuan, dapat menegakkan kedaulatan diri dengan menempatkan kesehatan dan batas diri atau boundaries sebagai bagian dari pengambilan keputusan keluarga.
Masa depan keluarga yang berkeadilan dan berkelanjutan sulit dibangun jika organisasi domestiknya bertumpu pada kelelahan sistemik perempuan. Perubahan dapat dimulai dari hal yang paling dekat, termasuk cara keluarga membagi makanan dan menentukan siapa yang lebih dulu mendapatkan porsi terbaik. Melepaskan rasa bersalah ketika memenuhi kebutuhan diri menjadi bagian dari upaya menempatkan kesehatan ibu sebagai kebutuhan keluarga, bukan sisa dari kebutuhan anggota keluarga lainnya.
Ike Noorhayati adalah peneliti doktoral Manajemen dan Teknologi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan fokus riset pada organizational ambidexterity. Berbekal pengalaman profesional di bidang pemasaran dan tata kelola perusahaan, ia kerap menulis esai kritis yang menjembatani teori manajemen modern dengan realitas sosiologis di ruang domestik.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















