28/09/2026
Issues Opini

Cerita tentang Kepala Perempuan Tak Pernah Benar-Benar Istirahat

Pekerjaan rumah tangga bukan hanya menguras tenaga. Di baliknya ada beban mental yang diwariskan antargenerasi dan terus diletakkan di kepala perempuan.

  • September 28, 2026
  • 6 min read
  • 19 Views
Cerita tentang Kepala Perempuan Tak Pernah Benar-Benar Istirahat

Ibu kerap bercerita, dengan nada mengomel sekaligus bangga, tentang masa kecilnya mengurus enam adik. Sambil tetap bersekolah, beliau mengasuh mereka, mengurus dapur, dan memastikan pekerjaan rumah selesai. Baginya, semua itu adalah bukti ketangguhan—sesuatu yang memang sewajarnya dilakukan seorang anak perempuan.

Ketika mendengar cerita itu sekitar 26 tahun lalu, saya bukannya kagum. Dada saya justru terasa sesak dan panas. Saya sedih membayangkan seorang anak harus memikul begitu banyak tanggung jawab, lalu menyebutnya sebagai kewajaran.

Dari kisah-kisah semacam itulah standar tentang perempuan ditanamkan kepada saya: harus penurut, rajin, rapi, dan disiplin. Standar yang begitu tinggi membuat saya merasa selalu gagal dan tidak pernah cukup. Diam-diam, saya juga mempertanyakan keputusan nenek yang membiarkan Ibu mengerjakan semua itu. Namun, tanpa kami sadari, pola yang sama kemudian diwariskan kepada saya.

Sejak kecil, ada garis tegas di rumah kami. Sebagai anak perempuan, saya harus menyapu, mengepel, mencuci piring, menimba air, dan memastikan rumah tetap rapi. Sementara itu, adik laki-laki saya lebih bebas bermain di luar tanpa tanggung jawab serupa.

Perbedaan tersebut membuat saya bertanya: Mengapa jenis kelamin menentukan beratnya beban seorang anak? Mengapa rasa lelah saya dianggap wajar, sementara kebebasan adik saya dirayakan?

Baca juga: Lebih dari Sekadar Pelupa: Ketika ‘Mom Brain’ Menyembunyikan ‘Mental Load’ Ibu

Beban yang berdiam di kepala

Ibu saya adalah akademisi cerdas yang beberapa kali memperoleh beasiswa berprestasi. Saya berbeda. Saya membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pelajaran, ketenangan untuk membaca, dan ruang tanpa distraksi agar dapat berkonsentrasi.

Sayangnya, waktu dan energi belajar saya sudah banyak terkuras oleh pekerjaan rumah. Bukan hanya tubuh yang lelah setelah menyapu atau membersihkan dapur. Pikiran saya pun tidak pernah benar-benar hadir di meja belajar.

Ketika membuka buku, kepala saya sibuk menyusun rencana dan melakukan pemeriksaan tanpa henti: Kapan jemuran harus diangkat? Bumbu apa yang hampir habis? Apakah lantai sudah cukup bersih, atau Ibu akan marah?

Saya bukan hanya melakukan pekerjaan fisik, tetapi juga terus mengingat, mengantisipasi, memantau, dan menilai apakah semua pekerjaan telah diselesaikan dengan benar. Kerja yang tidak terlihat ini menghabiskan energi kognitif dalam jumlah besar.

Kebiasaan selalu bersiaga itu tidak berhenti ketika saya dewasa. Ia mengikuti saya dari sekolah menengah ke bangku kuliah, kemudian masuk ke pernikahan dan keluarga saya sendiri. Bebannya tak kasatmata, tetapi terus bertambah.

Belakangan, melalui sebuah webinar bersama psikolog, saya mengenalnya sebagai invisible mental load: beban mental yang muncul karena seseorang harus terus memikirkan dan mengatur kebutuhan rumah tangga.

Orang lain mungkin melihat seorang ibu atau istri duduk santai sambil menikmati teh. Namun, di dalam kepalanya bisa ada puluhan “tab” yang terbuka bersamaan: stok makanan, jadwal imunisasi, perubahan suasana hati anggota keluarga, cara menenangkan anak yang sedang tantrum, hingga kebutuhan yang harus dipenuhi esok hari.

Kepala yang terus berputar membuat saya tumbuh dengan kecemasan dan kelelahan yang seolah tidak berujung. Saat sekolah dan kuliah, saya merasa tidak pernah mencapai kemampuan terbaik karena ruang di kepala sudah penuh sebelum digunakan untuk belajar.

Beban itu juga perlahan menjauhkan saya dari diri sendiri. Saya merasa bersalah ketika beristirahat dan terus dihantui perasaan tidak cukup baik. Bahkan, saya kesulitan mengingat apa yang sebenarnya saya inginkan karena hampir seluruh energi mental digunakan untuk menjaga kenyamanan orang lain.

Pola asuh yang membebaskan anak laki-laki dari urusan rumah tangga juga membawa akibat panjang. Karena tidak dibiasakan peka terhadap kondisi rumah, ayah dan adik laki-laki saya tumbuh dengan harapan untuk dilayani. Piring kotor dan tempat sampah penuh bisa mereka lewati begitu saja, seolah ada sosok tak terlihat yang akan membereskannya. Ketika saya menolak, ukuran moral digunakan: saya dianggap tidak peduli kepada keluarga.

Bahkan ketika sakit, Ibu masih mengerjakan pekerjaan rumah dan merawat kami. Tak banyak yang bertanya siapa yang merawatnya.

Ketika Ibu menggunakan jasa pekerja rumah tangga (PRT), saya pun tidak langsung merasa lega. Doktrin lama membuat saya merasa gagal sebagai perempuan karena tidak dapat mengurus semuanya sendiri. Saya cemas melihat orang lain mengerjakan hal-hal yang sejak kecil disebut sebagai tugas saya.

Percakapan dengan seorang PRT—sebut saja Mbak S—membuka lapisan lain dari persoalan ini. Saat membersihkan rumah kami, ia juga memikirkan keluarganya sendiri: apakah anaknya sudah makan, bagaimana kesehatan orang tuanya, dan apakah uang belanja cukup hingga gajian.

Saya kemudian menyadari, ketika tanggung jawab domestik tetap dianggap sebagai urusan perempuan, kehadiran PRT berisiko hanya memindahkan sebagian beban dari satu perempuan kepada perempuan lain. Pekerjaan fisik di rumah mungkin terbantu, tetapi kecemasan dan tanggung jawab untuk memastikan semua berjalan lancar tidak otomatis menghilang. Sementara itu, PRT sendiri dapat membawa beban mental dari rumahnya ke tempat kerja.

Baca juga: Tak Ada Hari Libur bagi Perempuan, Bahkan Saat Liburan

Membagi kepemilikan, bukan sekadar membantu

Pekerjaan rumah tidak seharusnya mengorbankan waktu, masa depan, dan energi satu orang. Semua anak perlu belajar merawat diri serta ruang tempat mereka hidup. Adik laki-laki saya seharusnya dibiasakan merapikan kamar dan mencuci pakaian pribadinya. Ayah saya pun seharusnya dapat memasak dan ikut mengurus rumah.

Memutus rantai ini bukan sekadar meminta laki-laki “membantu”. Kata itu menyiratkan bahwa tanggung jawab utama tetap berada di tangan perempuan. Yang perlu dibagi adalah kepemilikan atas pekerjaan: kemampuan mengenali apa yang harus dilakukan, merencanakannya, mengerjakannya, dan memastikan pekerjaan itu selesai tanpa menunggu instruksi.

Sekat gender dalam keterampilan rumah tangga juga perlu dihapus. Merapikan tempat tidur, membersihkan meja makan, mencuci pakaian, dan memasak bukan tugas perempuan. Semua itu adalah keterampilan dasar agar setiap orang dapat tumbuh mandiri dan hidup bersama orang lain secara setara.

Saya sendiri masih belajar menurunkan standar dan melepaskan kendali. Rumah tidak harus selalu serapi foto di katalog. Dunia tidak runtuh karena mainan anak belum dibereskan sore ini. Membiarkan rumah sedikit berantakan agar kepala dapat beristirahat adalah kemenangan kecil. Kadang, kekacauan itu justru menandakan anak-anak sedang aktif dan berkreasi.

Kita juga perlu mengkritik mitos bahwa perempuan secara alamiah lebih pandai melakukan banyak hal sekaligus. Anggapan itu sering menjadi pembenaran untuk menyerahkan seluruh pekerjaan fisik dan kognitif kepada perempuan. Padahal, apa yang disebut multitasking kerap merupakan perpindahan fokus secara cepat yang menguras energi.

Saya menyambut lahirnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga. Setelah penantian panjang, PRT kini memiliki landasan hukum yang mengatur hak atas upah, waktu kerja, cuti, jaminan sosial, serta lingkungan kerja yang aman. Namun, keberhasilan undang-undang tersebut tetap bergantung pada pelaksanaan, pengawasan, dan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pekerjaan domestik.

Baca juga: ‘Mental Load’: Beban Tak Terlihat Perempuan Pemikul Kehidupan

Kehadiran PRT bukan solusi instan yang membebaskan anggota keluarga lain dari tanggung jawab. PRT adalah pekerja yang hak, waktu, dan kehidupannya harus dihormati. Tanggung jawab menjaga keberlangsungan rumah tetap perlu dipikul bersama oleh semua orang yang tinggal di dalamnya.

Menjadi perempuan, istri, atau ibu bukan berarti harus berubah menjadi manusia super dengan ribuan daftar tugas di kepala. Ibu saya mungkin mampu menahan beban itu bertahun-tahun. Beliau adalah produk zamannya, perempuan yang bertahan dengan cara yang dikenalnya. Namun, hanya karena beliau sanggup melaluinya, bukan berarti pola tersebut sehat atau harus saya teruskan.

Saya tidak ingin mewariskan kelelahan yang sama kepada anak-anak saya. Sudah waktunya beban yang tak terlihat itu dibagi, agar setiap kepala di rumah memiliki ruang untuk bernapas—dan benar-benar beristirahat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Rully Restiana

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.