20/08/2026
Health Issues Lifestyle Opini Safe Space

Lebih dari Sekadar Pelupa: Ketika ‘Mom Brain’ Menyembunyikan ‘Mental Load’ Ibu

“Jadi lebih lemot. Kadang kalau mikir atau jawab sesuatu malah ngasal.” Tapi, apa betul sesederhana itu?

  • August 20, 2026
  • 10 min read
  • 14 Views
Lebih dari Sekadar Pelupa: Ketika ‘Mom Brain’ Menyembunyikan ‘Mental Load’ Ibu

Menjadi ibu membuatku akrab dengan lupa, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan kata-kata. 

Ada hari-hari ketika aku duduk di depan laptop, mencoba menyelesaikan pekerjaan, tetapi rasanya otakku tidak sepenuhnya berada di sana. Sebagai ibu yang bekerja dari rumah atau work from home (WFH), batas antara bekerja dan mengurus anak hampir tidak pernah benar-benar jelas. Laptop memang terbuka di depan mata, tetapi telingaku tetap siaga mendengar suara bayi dan memperhatikan gerak-geriknya. 

Di tengah pekerjaan, perhatianku bisa terputus karena harus mengurus anak. Setelahnya, aku kembali menatap layar dan berusaha mengingat: Tadi aku sedang mengerjakan apa ya?

Kadang aku tahu apa yang ingin kusampaikan, tetapi kata-katanya tidak kunjung keluar. Kalimat yang biasanya bisa kususun dengan mudah bisa keluar belibet. Ada pula momen ketika aku keliru melakukan sesuatu yang sebenarnya sederhana, sulit berkonsentrasi, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir bahkan saat mengerjakan pekerjaanku sebagai desainer grafis.

Semakin kupikirkan, persoalannya mungkin bukan sekadar “mom brain” saja. Istilah ini populer untuk menggambarkan kondisi ibu yang jadi lebih pelupa, mudah terdistraksi, mengalami brain fog, atau merasa kemampuan berkonsentrasinya berubah setelah hamil dan melahirkan.

Sebuah ulasan ilmiah oleh Sharon Ettinger dan Pamela A. Geller yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology pada 2025 menyebut mom brain sebagai fenomena yang umum dilaporkan ibu hamil dan postpartum, dengan pengalaman seperti brain fog, mudah lupa, dan mudah terdistraksi. Namun, keduanya mengingatkan bahwa bukti tentang penurunan fungsi kognitif secara objektif masih belum konsisten. 

Mengenal istilah tersebut sempat membuatku merasa tervalidasi, berpikir: “Oh, ternyata bukan cuma aku.” Namun, efeknya buatku bukan hal sederhana. Di balik kabut yang bikin susah fokus itu, ada kepala yang nyaris tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Rasanya seperti ada terlalu banyak tab yang terbuka di kepala secara bersamaan. 

Baca juga: Di Balik ‘Maternity Clothes’: Beri Kenyamanan, Halangi Ekspresi Diri

“Ditanya Nama Anak, Malah Anaknya yang Kusuruh Jawab Sendiri”

Aku membicarakan pengalaman ini dengan seorang teman yang juga baru jadi ibu. Berbeda denganku yang harus membagi konsentrasi antara pekerjaan dan pengasuhan, Dinar (28) adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus bayinya tanpa pengasuh.

Ternyata pengalaman kami memiliki banyak kemiripan. Ia merasa kemampuan berpikir dan berkonsentrasinya berubah setelah jadi ibu.

“Jadi lebih lemot. Kadang kalau mikir atau jawab sesuatu malah ngasal,” katanya.

Ada satu pengalaman yang sekarang terdengar lucu ketika diceritakan ulang. Suatu kali seseorang bertanya siapa nama anaknya. Bukannya langsung menjawab, ia malah meminta anaknya menjawab sendiri. Padahal anaknya masih bayi.

Kekeliruan-kekeliruan kecil juga muncul dalam aktivitas sehari-hari. Ketika mandi, misalnya, ia terkadang memakai sabun dua kali karena lupa apakah sebelumnya sudah menggunakannya. Hal seperti ini semakin terasa ketika ada banyak rangsangan datang bersamaan.

“Kalau anak lagi nangis, terus ada orang yang nanya, aku langsung blank,” cerita Dinar.

Menariknya, ia tidak merasa kurang tidur sebagai faktor terbesar. Justru tantangan semakin terasa ketika anaknya berusia delapan bulan dan mulai aktif merangkak. Perhatiannya harus terus berpindah untuk mengawasi anak sekaligus mengurus kebutuhan rumah tangga. Pada titik inilah aku merasa istilah “pelupa” tidak cukup menjelaskan apa yang kami alami.

Sebab, bagaimana mungkin seseorang diminta fokus pada satu hal ketika pikirannya bertanggung jawab atas begitu banyak hal sekaligus?

Kepala yang Tidak Pernah Benar-Benar Istirahat

Ketika kutanya apa yang paling melelahkan dari mengurus bayi, temanku menyebut hal-hal yang barangkali terdengar biasa bagi orang lain: menyiapkan MPASI, menghadapi anak yang sedang rewel dan terus ingin menempel, pekerjaan rumah yang tertunda, sampai kepusingan ketika anak mengalami GTM atau Gerakan Tutup Mulut.

Namun, pekerjaan menjadi ibu ternyata tidak selesai ketika bayi tertidur. Justru di saat tubuh mempunyai kesempatan beristirahat, kepalanya tetap bekerja. Ia mulai memikirkan menu MPASI untuk esok hari. Apakah anaknya sudah mendapatkan variasi makanan yang cukup? Kegiatan apa yang harus dilakukan besok untuk latihan motoriknya? Apa saja yang perlu disiapkan?

Ketika berencana pergi bersama bayi, daftar itu bertambah panjang: mulai dari menyiapkan pakaian ganti, popok, makanan, minuman, perlengkapan bayi, sampai memperkirakan apa yang mungkin dibutuhkan selama perjalanan.

“Aku lagi tidur atau istirahat saja tetap mikir, besok masak MPASI apa, kegiatan apa lagi, terus kalau mau pergi sama bayi harus menyiapkan apa saja,” katanya. Pekerjaan seperti ini mungkin tidak membuat lantai menjadi lebih bersih atau cucian langsung terlipat. Ia tidak selalu terlihat sebagai “pekerjaan”.

Namun, ia tetap menghabiskan kapasitas otak.

Sosiolog Allison Daminger menyebutnya sebagai cognitive labor, dimensi kognitif dalam pekerjaan rumah tangga yang melibatkan proses mengantisipasi kebutuhan, mencari pilihan, membuat keputusan, dan memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Yang menarik, dalam penelitiannya tentang cognitive labor, Daminger menemukan bahwa perempuan melakukan lebih banyak kerja kognitif dalam rumah tangga secara keseluruhan, terutama dalam hal mengantisipasi kebutuhan dan memantau apakah kebutuhan tersebut sudah terpenuhi. 

Dua proses ini sering kali tidak terlihat, bahkan oleh pasangan mereka sendiri. 

Ada seseorang yang harus menyadari beras hampir habis sebelum benar-benar habis. Seseorang perlu ingat stok popok bayi. Memikirkan menu makan besok. Menentukan kapan harus belanja. Mengingat jadwal anak. Memutuskan barang apa yang perlu dibawa ketika bepergian. Kemudian memastikan semuanya benar-benar dilakukan. Dan pekerjaan kasatmata ini masih sangat bergender.

Beban mental dalam rumah tangga sering kali tidak terlihat karena banyak pekerjaan terjadi di kepala: mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan memastikan semuanya berjalan. Ketika hal-hal ini terus menumpuk, wajar jika seorang ibu merasa pikirannya penuh, mudah terdistraksi, atau kesulitan berkonsentrasi.

Maka mungkin pertanyaannya bukan hanya, “Kenapa ibu jadi gampang lupa?”

Tetapi juga: berapa banyak hal yang sedang diminta untuk diingat oleh seorang ibu pada saat yang sama?

Baca juga: How I Pushed Away My Mother Tongue in Favor of English – And Regret It

Otak Ibu Berubah, tetapi Bukan Berarti Jadi Lebih Bodoh

Istilah mom brain kadang tanpa sadar mengandung nada merendahkan. Ketika seorang ibu lupa sesuatu, sahutan macam: “Maklum, mom brain,” sering dilontarkan.

Seolah-olah setelah melahirkan perempuan secara otomatis menjadi kurang cerdas, kurang rasional, atau kurang mampu menjalankan pekerjaannya. Padahal penelitian tentang otak maternal memberi gambaran yang jauh lebih kompleks.

Istilah mom brain kadang membuat perubahan yang dialami ibu terdengar seperti sebuah kemunduran. Ketika seorang ibu lupa sesuatu, sulit berkonsentrasi, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat kata-kata, mudah sekali menganggapnya sebagai tanda bahwa kemampuan berpikirnya menurun.

Padahal, otak perempuan memang mengalami perubahan selama kehamilan dan setelah melahirkan. Penelitian Elseline Hoekzema dan koleganya (2016) menemukan adanya perubahan pada gray matter di sejumlah area otak selama kehamilan. Sebagian perubahan tersebut bahkan masih terlihat hingga dua tahun setelah melahirkan dan diduga berkaitan dengan proses adaptasi ketika seseorang memasuki peran sebagai ibu.

Sumber: nature neuroscience 

Jadi, betul, memang ada perubahan yang dialami otak. Tetapi, berubah tidak sama dengan rusak.

Pengalaman seperti mudah lupa, sulit berkonsentrasi, atau tiba-tiba blank setelah jadi ibu memang cukup umum. 

Dalam artikel kesehatan Alodokter tentang mommy brain, kondisi ini dijelaskan sebagai perubahan yang dapat terjadi setelah melahirkan dan berkaitan dengan perubahan pada otak, hormon, serta kelelahan dalam mengurus anak. Perubahan itu juga dapat dipahami sebagai bagian dari proses seseorang beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu.

Barangkali otak ibu bukan sekadar menjadi “lebih lemah”. Ia sedang beradaptasi dengan kehidupan yang sama sekali baru—kehidupan ketika ada manusia kecil yang membutuhkan perhatian hampir sepanjang waktu.

Dalam keseharian, perubahan itu juga bertemu dengan berbagai tuntutan lain: mengurus bayi, pekerjaan rumah, kurangnya waktu untuk diri sendiri, distraksi yang datang terus-menerus, serta daftar kebutuhan anak yang berputar di kepala. Masalahnya, di tengah proses adaptasi sebesar itu, ibu sering kali tetap diharapkan bisa berfungsi sama seperti sebelum mempunyai anak.

Dari Mom Brain ke Matrescence

Ada istilah lain yang menurutku membantu menjelaskan pengalaman menjadi ibu secara lebih utuh: matrescence.

Istilah yang diperkenalkan antropolog Dana Raphael pada 1970-an ini merujuk pada proses seseorang “menjadi ibu”—sebuah transisi perkembangan yang melibatkan perubahan biologis, psikologis, sosial, dan identitas. 

Literatur ilmiah tentang matrescence kini melihat motherhood bukan sekadar sebuah peristiwa yang terjadi ketika bayi lahir, melainkan proses transformasi yang bisa berlangsung jauh lebih panjang. Raphael pernah menyebutnya secara sederhana sebagai “the time of mother-becoming”—masa ketika seseorang sedang menjadi ibu. Aku menyukai gagasan itu.

Sebab, ketika seorang bayi lahir, sebenarnya bukan hanya bayi yang sedang mengalami kehidupan baru. Seorang ibu juga sedang lahir dalam identitas barunya.

Tubuhnya berubah. Rutinitasnya berubah. Cara ia melihat dirinya sendiri berubah. Hubungannya dengan pekerjaan bisa berubah. Hubungannya dengan pasangan berubah. Bahkan cara ia menggunakan waktu dan pikirannya juga berubah.

Namun, hampir semua perhatian setelah kelahiran sering diarahkan kepada bayi. Apakah bayi cukup minum? Berat badannya naik? Tidurnya bagaimana? Perkembangannya sesuai usia?

Sementara perubahan besar yang sedang berlangsung di dalam diri ibu terkadang dianggap sesuatu yang harus dilalui begitu saja.

Baca juga: Tak Ada Hari Libur bagi Perempuan, Bahkan Saat Liburan

“Aku Sudah Jadi Ibu yang Baik Belum, Ya?”

Beban yang dibawa ibu ternyata bukan hanya daftar pekerjaan.

Ada juga evaluasi terhadap diri sendiri yang seolah tidak pernah selesai. Dinar mengaku sering bertanya kepada dirinya:

“Aku sudah menjadi ibu yang baik belum, ya?” Kalimat itu sederhana, tetapi aku rasa banyak ibu pernah mengatakannya dalam versi masing-masing.

Apakah makanan anakku sudah cukup bergizi? Apakah stimulasi yang kuberikan sudah cukup? Apakah aku terlalu sering bekerja? Apakah aku kurang bermain dengannya? Apakah tadi aku terlalu emosi? Apakah aku ibu yang baik?

Ketika pekerjaan rumah tidak selesai, kita bisa merasa gagal. Ketika pekerjaan kantor terganggu, kita merasa tidak profesional. Ketika anak rewel dan kesabaran habis, muncul rasa bersalah karena merasa tidak menjadi ibu sebagaimana seharusnya.

Akhirnya, ibu berada di tengah tuntutan yang saling bertabrakan: bekerja seolah tidak punya anak, mengasuh anak seolah tidak punya pekerjaan, menjaga rumah tetap berjalan, sekaligus dituntut menjaga dirinya sendiri agar tetap sehat dan bahagia.

Lalu ketika konsentrasinya buyar, kita memberinya nama lucu: mom brain.

Ketika kutanya seberapa besar bantuan pasangan atau keluarga memengaruhi kesehariannya, jawaban Dinar cepat: “Besar banget.” Bantuan memberinya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya sangat dasar makan dengan tenang dan tepat waktu, berolahraga, mengerjakan pekerjaan rumah, beristirahat, atau sekadar mempunyai me time sambil scroll instagram.

Hal ini membuatku berpikir bahwa support terhadap ibu jangan dipandang sebagai hadiah atau bentuk “memanjakan”. Support adalah kebutuhan.

Sebab kalau seseorang bertanggung jawab mengawasi anak hampir sepanjang hari, mengantisipasi kebutuhannya, merencanakan makanan, memastikan rumah tetap berjalan, sekaligus terus menilai apakah dirinya sudah menjadi ibu yang cukup baik, sangat masuk akal apabila kapasitas mentalnya terkuras. Membantu ibu bukan sekadar berkata, “Istirahat sana, aku jagain sebentar.”

Support juga berarti ikut memikirkan. Ikut mengingat, ikut merencanakan, ikut mengambil keputusan.

Bukan menunggu sampai ibu membuat daftar instruksi tentang apa saja yang harus dilakukan, karena membuat daftar itu sendiri adalah bagian dari mental load.

Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Ibu yang Jago Multitasking

Ketika kutanya apakah istilah mom brain cukup menggambarkan apa yang ia alami, Dinar merasa istilah itu justru terlalu menyederhanakan. Ada perubahan fisik. Ada perubahan hormonal. Ada tanggung jawab baru. Ada hari-hari mengurus anak sendirian ketika pasangan bekerja. Ada pekerjaan rumah. Ada beban berpikir yang terus berjalan meski tubuh sedang mencoba beristirahat. 

Itu pula yang aku rasakan.

Semuanya lalu dirangkum menjadi: ibu sekarang gampang lupa. Padahal, mungkin persoalannya bukan karena ibu kehilangan kemampuan untuk berpikir. Mungkin terlalu banyak hal yang sedang dipikirkan.

Sekarang aku mencoba tidak buru-buru membacanya sebagai kegagalan diri. Karena menjadi ibu bukan hanya tambahan satu pekerjaan baru di atas pekerjaan lama. Menjadi ibu mengubah seluruh cara hidup.

Dan mungkin, dibandingkan terus meminta ibu menjadi semakin hebat jadi multitasking, kita perlu mulai bertanya apa saja yang bisa diangkat dari kepalanya. Dinar merangkumnya dengan kalimat yang sederhana:

“Mengurus anak itu lelah, repot, dan butuh support. Bahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah saja kadang enggak bisa. Lama-lama lelah, stres, enggak bisa mengontrol emosi. Capeknya sulit dijelaskan.”

Barangkali itulah bagian yang sering tersembunyi di balik lelucon tentang mom brain. Bukan sekadar lupa nama, salah mengambil barang, atau masuk kamar lalu tidak ingat hendak melakukan apa.

Tetapi seorang ibu yang kepalanya hampir tidak pernah benar-benar kosong. Dan jika kita sungguh ingin membantu ibu kembali fokus, mungkin jawabannya bukan dengan menyuruhnya lebih berkonsentrasi.

Kita—semua perangkat society: pasangan, keluarga, kantor, masyarakat, sampai negara—perlu membuatnya punya lebih sedikit hal yang harus dipikirkan sendirian.

About Author

Della Nurlaelanti Putri

Muka Della emang default-nya judes, tapi tenang, kepribadiannya kayak badut ulang tahun—nggak jelas tapi menghibur. Hobinya cari meme lucu, katanya salah satu bagian dari cara bertahan hidup.